"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 06 - Malam Saat Aku Pergi
Alina pulang ke rumah Wicaksono pukul tujuh malam.
Bukan karena ia berubah pikiran.
Ia hanya perlu mengambil barang-barangnya.
Rumah itu terang seperti biasa. Lampu taman menyala, air mancur kecil di depan berkilau, dan aroma bunga sedap malam dari vas besar di foyer menyambutnya seperti tidak ada apa pun yang berubah.
Tapi bagi Alina, rumah itu sudah berbeda.
Atau mungkin ia yang berbeda.
Sari membuka pintu dengan wajah tegang. "Bu Alina..."
"Pak Adrian sudah pulang?"
"Belum, Bu. Mas Arka ada di kamar. Ibu Ratna di ruang keluarga."
Alina mengangguk. "Saya ke kamar sebentar."
Ia naik tangga tanpa berhenti. Di lorong lantai dua, foto keluarga terpajang rapi. Adrian dalam jas hitam, Alina dalam kebaya putih, Arka saat masih bayi di gendongannya. Di foto itu, Alina tersenyum kecil, matanya penuh harapan yang sekarang terasa asing.
Ia masuk kamar utama.
Kamar itu dingin.
Terlalu dingin.
Tempat tidur besar rapi, sisi Adrian hampir tidak pernah berantakan karena pria itu lebih sering tertidur di ruang kerja atau pulang ketika Alina sudah tidur. Lemari mereka terpisah. Adrian di sisi kiri, Alina di sisi kanan.
Alina membuka koper kecil yang ia ambil dari gudang.
Ia tidak membawa banyak.
Beberapa pakaian kerja.
Dokumen pribadi.
Laptop.
Sketsa lama.
Foto ibunya.
Ia berhenti ketika menemukan kotak kain berwarna biru tua di laci paling bawah. Kotak tempat kalung bintang dulu disimpan.
Kosong.
Alina menyentuh bagian dalam kotak itu.
Dulu ibunya berkata, "Kalau suatu hari kamu merasa tidak punya siapa-siapa, ingat, kamu selalu punya dirimu sendiri."
Saat itu Alina masih terlalu muda untuk mengerti.
Malam ini, ia mengerti dengan cara paling pahit.
Pintu kamar terbuka tanpa diketuk.
Ratna Wicaksono berdiri di ambang pintu, memakai kaftan mahal, wajahnya kaku.
"Apa yang kamu lakukan?"
Alina tidak berhenti memasukkan pakaian. "Mengambil barang."
"Kamu mau pergi?"
"Iya."
Ratna tertawa pendek. "Drama apa lagi ini?"
Alina menutup ritsleting kecil di dalam koper. "Tidak ada drama, Bu."
"Kalau tidak drama, kenapa pergi malam-malam? Kamu ingin Adrian mengejarmu? Ingin keluarga ini memohon?"
Alina menatap mertuanya. "Saya hanya ingin keluar sebelum terlalu malam."
Ratna berjalan masuk. "Alina, Ibu tahu kamu marah. Tapi perempuan menikah memang harus banyak menelan. Ibu juga dulu begitu. Jangan karena Vania, kamu merusak rumah tangga sendiri."
"Saya tidak merusaknya sendirian."
"Adrian laki-laki. Laki-laki kadang punya tanggung jawab di luar rumah."
"Tanggung jawab pada cinta pertamanya?"
Ratna mengerutkan kening. "Jaga bicaramu."
"Saya sudah terlalu lama menjaganya."
Ratna menatap koper itu, lalu wajahnya mengeras. "Kalau kamu pergi sekarang, jangan berharap mudah kembali."
Alina tersenyum tipis. "Itu tujuan saya."
"Kamu pikir hidup di luar rumah ini mudah? Selama lima tahun kamu hidup nyaman karena nama Wicaksono. Makanan, mobil, dokter, pakaian, semuanya dari Adrian."
Alina menutup koper.
"Benar. Dan sebagai gantinya, saya mengurus rumah ini, anak Adrian, jadwal Ibu, acara keluarga, tamu bisnis, reputasi sosial, semuanya. Kalau Ibu ingin menghitung, mari kita hitung dengan adil."
Ratna terdiam sejenak.
Ia tidak terbiasa mendengar Alina menjawab.
"Kamu berubah sejak bertemu pengacara itu."
"Tidak. Saya berubah sejak sadar bahwa tidak ada yang akan membela saya kalau saya terus diam."
Ratna menatapnya tajam. "Kamu tidak akan mendapatkan Arka."
Kata itu tepat mengenai tempat sakit.
Namun Alina sudah menyiapkan dirinya.
"Untuk sementara, Arka tinggal di sini."
Ratna tampak terkejut. "Kamu benar-benar akan meninggalkan anakmu?"
"Saya tidak meninggalkannya. Saya berhenti berebut dengan orang-orang yang sudah mengajarinya membenci saya."
"Kamu ibu macam apa?"
Alina menggenggam pegangan koper.
"Ibu yang masih ingin hidup."
Ratna membuka mulut, tapi suara kecil dari pintu membuatnya berhenti.
"Mama?"
Arka berdiri di lorong dengan piyama bergambar dinosaurus. Rambutnya basah, mungkin baru mandi. Matanya menatap koper di tangan Alina.
"Mama mau ke mana?"
Alina merasa napasnya tersangkut.
Ratna langsung berkata, "Lihat? Anakmu mencari."
Arka masuk ke kamar, matanya mulai basah. "Mama mau pergi karena aku tadi marah?"
Alina berjongkok di depan anaknya.
Ia ingin memeluk Arka. Tubuhnya hampir bergerak otomatis. Tapi ia berhenti ketika melihat ekspresi anak itu: takut, marah, bingung, dan masih menunggu ibunya menyerah.
"Mama pergi karena Mama dan Papa perlu berpisah."
"Berpisah itu apa?"
"Artinya Mama tidak tinggal di rumah ini dulu."
Arka langsung menangis. "Nggak mau! Mama jangan pergi!"
Ratna menyela, "Alina, jangan kejam. Anakmu menangis."
Alina menahan air mata. "Arka, Mama tetap Mama kamu."
"Kalau Mama tetap Mama, kenapa pergi?"
"Karena orang dewasa juga bisa terluka."
"Tante Vania juga terluka, tapi dia nggak pergi."
Nama itu datang lagi.
Alina menutup mata sebentar, lalu membukanya. "Tante Vania tidak tinggal di rumah ini sebagai istri Papa."
"Tapi Papa sayang Tante Vania."
Kalimat itu membuat Ratna terdiam.
Alina menatap Arka. "Kamu tahu itu?"
Arka mengangguk sambil menangis. "Papa kalau sama Tante Vania senyum. Kalau sama Mama, Papa diam. Aku pikir kalau Tante Vania tinggal di sini, Papa nggak marah-marah lagi."
Jadi itu yang dipikirkan anak lima tahun itu.
Ia tidak hanya jahat.
Ia juga bingung.
Dibentuk oleh rumah yang salah.
Alina mengulurkan tangan dan menyentuh rambut Arka. "Arka, kebahagiaan Papa bukan tanggung jawab kamu. Bukan tanggung jawab Mama juga."
"Aku mau ikut Mama."
Ratna langsung berkata, "Tidak bisa. Besok kamu sekolah."
Arka menoleh ke neneknya, lalu kembali pada Alina. "Aku mau ikut Mama sekarang."
Alina hampir goyah.
Satu kalimat itu hampir membuat semua keputusan runtuh.
Tapi ia tahu, jika ia membawa Arka malam ini, keluarga Wicaksono akan menyebutnya menculik anak. Adrian akan menyeretnya ke perang hukum lebih brutal. Arka akan mendengar semua orang berkata ibunya egois.
Ia menelan rasa sakit.
"Tidak malam ini."
Wajah Arka berubah. "Mama nggak sayang aku."
"Mama sayang."
"Bohong! Kalau sayang, Mama bawa aku!"
Ratna memeluk Arka dari belakang. "Sudah, sayang. Mama kamu sedang emosi."
Alina berdiri.
Jika ia tetap di sana satu menit lagi, ia mungkin akan menyerah.
"Mama akan menghubungi kamu," katanya.
"Aku nggak mau!"
Arka menangis keras, memukul lengan Ratna. "Mama jahat! Mama pergi aja! Aku nggak butuh Mama!"
Alina menggenggam koper lebih kuat.
Kalimat itu tidak lagi baru.
Tapi tetap sakit.
Ia mengangguk pelan. "Baik."
Arka berhenti menangis sesaat, seolah tidak menyangka ibunya tidak akan membujuk.
Alina berjalan melewatinya.
Di tangga, setiap langkah terasa seperti menarik akar dari daging sendiri.
*****
Hujan turun ketika Alina keluar dari rumah.
Tidak deras, tapi cukup membuat udara Jakarta berbau aspal basah. Sopir pribadi keluarga berdiri bingung di dekat garasi.
"Bu, mau saya antar?"
"Tidak perlu, Pak Joko."
"Tapi hujan."
Alina tersenyum kecil. "Saya pesan mobil."
Ia berdiri di depan pagar dengan koper di samping kaki. Aplikasi taksi menunjukkan pengemudi masih tujuh menit lagi.
Tujuh menit terdengar singkat.
Malam itu terasa seperti seumur hidup.
Ponselnya bergetar berkali-kali.
Adrian.
Ia tidak mengangkat.
Pesan masuk.
Adrian:
Kamu di mana?
Adrian:
Mama bilang kamu membawa koper.
Adrian:
Jangan pergi sebelum aku pulang.
Alina menatap layar.
Dulu, kalimat jangan pergi mungkin akan membuatnya menunggu.
Sekarang tidak.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar sebelum taksi online-nya datang.
Pintu belakang terbuka.
Seorang anak laki-laki turun lebih dulu, memegang payung besar yang hampir menutupi wajahnya.
"Tante Alina?"
Alina terkejut. "Nara?"
Di belakang Nara, seorang pria tinggi keluar dari mobil. Damar Adhitama, ayah Nara, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung. Wajahnya tenang, tapi matanya langsung menangkap koper di samping Alina dan pipinya yang basah.
Basah karena hujan.
Mungkin.
Nara berlari mendekat, mengangkat payung setinggi yang ia bisa. "Tante kehujanan."
Alina menatap anak itu.
Anak yang bukan darah dagingnya.
Anak yang tidak pernah ia masakkan bekal setiap hari.
Anak yang tetap tahu bahwa seseorang yang berdiri di tengah hujan perlu dipayungi.
Pertahanan Alina runtuh sedikit.
Damar mendekat, mengambil koper tanpa bertanya terlalu banyak. "Kamu mau ke mana?"
Alina membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang keluar.
Ia tidak punya rumah.
Tidak malam ini.
Nara menggenggam ujung bajunya. "Ikut kami dulu, Tante. Rumah kami dekat. Papa bisa masak mie."
Damar menatap anaknya. "Papa bisa pesan makanan."
"Tapi Tante lagi sedih. Kalau sedih harus makan yang hangat."
Alina tertawa kecil.
Tawa itu pecah bersama air mata yang akhirnya jatuh.
Damar tidak bertanya kenapa. Ia hanya berkata, "Masuk mobil dulu. Kamu kedinginan."
Alina menoleh ke rumah besar di belakangnya.
Lampu-lampunya masih menyala.
Di sana ada anaknya, mertuanya, suaminya, lima tahun hidupnya.
Tapi pintu itu tidak lagi terasa seperti jalan pulang.
Ia masuk ke mobil Damar.
Ketika mobil bergerak menjauh, ponselnya kembali bergetar.
Adrian menelepon.
Alina menatap nama itu sebentar.
Lalu ia menekan tombol senyap.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia benar-benar pergi.
ternyata di luar ekspektasi