NovelToon NovelToon
Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:897
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

"Harum sudah menyiapkan semuanya nak?" Tanya Ardian ikut membantu persiapan putrinya yang kembali masuk sekolah setelah beberapa minggu libur.

Ardian kembali mengantar putrinya ke kota S karena Harum harus kembali bersekolah. Ia bisa saja memindahkan putrinya ke kota B, tapi karena sebentar lagi Harum mengikuti ujian akhir dan tidak bisa dipindahkan, Terpaksa Ardian membiarkan putrinya sekolah di kota S sampai hari kelulusan nanti. Setelah Harum lulus barulah Ardian menyekolahkan Harum di kota B.

Hanya satu bulan saja ia berpisah dengan putrinya setelah selesai, Ardian akan kembali berkumpul dengan putri nya lagi. Untuk sementara ia tinggal berdua bersama istrinya di kota b.

Fazar sendiri tidak menolak permintaan Ardian, karena Fazar sudah menganggap Harum seperti anaknya sendiri, seperti apa sang istri menyayangi Harum.

"Sudah pa. Aku nggak bawa pakaian banyak, soalnya di rumah kak Wiyahmpakaian ku ada. Aku hanya membawa beberapa oleh-oleh untuk Rafa, Rafi dan Vanessa. Mereka pasti senang saat melihat nya." Jawab Harum menatap paper bag berisi beberapa hadiah untuk sahabat-sahabatnya di kota S.

"Papa lihat, Harum sangat menyayangi Rafa dan Rafi?"

"Iya pa, soalnya Rafa dan Rafi temannya Harum dari dulu. Papa tau. Saat Harum tidak memiliki teman hanya Rafa dan Rafi yang mau berteman dengan Harum. Walaupun Harum punya teman di luar, itu hanya kak Fazri."

"Kak Fazri?"

"Iya pa, kak Fazri. Kak Fazri banyak membantu Harum, hanya saja Harum tidak mau menerima semua pemberian kak Fazri dan menganggap kak Fazri sebagai teman Harum saja yang menjaga Harum." Jelas Harum yang mata nya terlihat berbinar-binar saat menceritakan mengenai Fazri."Sebenarnya bukan saja kak Fazri Pa, tapi ada kak Fadil dan kak Wiyah. Sama seperti kak Fazri Harum menolak pemberian mereka, tapi berbeda dengan kak Wiyah yang membiayai sekolah Harum secara diam-diam, makanya Harum bisa sekolah."

"Sampai Harum harus berhenti sekolah selama berbulan-bulan karena ikut mama ke kota B, karena kami di usir dari perkampungan itu. Tapi setelah sampai di kota B mama malah meninggal dan bibi....."

"Sssttt nggak usah di ingat." Ardian langsung memeluk putrinya saat Harum kembali mengingatkan nya mengenai penderitaan remaja perempuan itu di kota B. Ia tidak melihat tapi mendengar cerita Fazar bagaimana tersiksanya putrinya itu membuatnya sering merasa bersalah."Maafkan papa sayang."

"Tidak papa, Harum hanya mengingat nya saja, dan Harum sudah melupakan nya. Harum hanya ingin mengingat kebaikan kak Wiyah, almarhum kak Fadil dan juga kak Fazri. Mereka sudah banyak menolong Harum dan mama, Pa." Ungkap Harum melepaskan pelukannya lalu menatap wajah papa nya.

Mendengar cerita kebaikan orang-orang yang menyayangi putri nya, Ardian merasa bersyukur karena keluarga Wiyah dan juga Fazar banyak membantu anaknya. Jika di ceritakan mungkin akan panjang karena kebaikan orang-orang itu tidak bisa diceritakan secara detail.

Ia mungkin tidak akan bisa mengganti kebaikan Wiyah dan juga keluarganya, tapi ia akan terus mendoakan yang terbaik untuk keluarga Fazar dan Wiyah. Allah yang akan membalas semua kebaikan yang mereka berikan untuk putrinya, Ardian percaya itu.

"Papa, bolehkah aku bertemu dengan Tante?" Ardian mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Harum yang menanyakan Tante nya.

Apakah wanita yang Harum sebutkan itu. Wanita yang menjual Harum ke Nadila?

"Tante? Harum memiliki Tante?" Tanya Ardian memastikan kalau wanita itu saudara dari almarhumah Mayla.

"Iya pa. Tante kakak dari mama. Boleh ya Harum ketemu sama Tante?"

"Harum nggak marah atau membenci Tante, sayang?" Tanya Ardian lembut menatap manik putri nya tapi malah mendapatkan gelelengan kecil dari Harum

"Kata mama kita tidak bisa merah atau membenci Tante, karena Tante satu-satu kakak mama. Walaupun dulu Tante banyak menyakiti Harum maupun mama, tapi kami sudah memaafkan nya. Kata mama, Harum harus mendoakan Tante agar dilembutkan hatinya. Sudah lama Harum tidak mendengar kabarnya lagi, papa. Harum hanya ingin melihat Tante sebentar. Harum merindukannya." Ungkap Harum dengan perkataan bijk.

Ardian yang mendengar seluruh perkataan Harum seketika di buat terharu. Putrinya terlalu baik sampai mau memaafkan orang yang sudah menyakiti dan hampir saja merusak masa depannya. Tapi dengan baik hati Harum malah memaafkan orang itu.

Pikiran bijaknya mengalahkan dirinya yang selalu terbawa akan dendam dan rasa benci.

"Nanti papa tanyakan ke kak Fazar, di mana Tante nya Harum, siapa tau kak Fazar mengetahuinya. Soalnya papa tidak tau di mana Tante Harum sekarang." Ucap Ardian jujur seraya mengusap dan mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia sangat bersyukur diberikan putri yang baik dan memiliki hati lembut seperti Mayla.

"Terima kasih papa."

"Iya sama-sama sayang."

❄️❄️❄️❄️❄️

Jidan duduk di depan rumahnya seraya menghisap nikotin di tangan nya. Rasa tenang dan damai itu terasa menenangkan pikirannya, tapi ada rasa sapi yang mengganjal nya.

Suara ponsel berdering mengalihkan pandangan pria itu ke ponselnya. Jidan menaruh nikotin di tangan kedalam asbak. Wajahnya yang tadi murung seketika berubah menjadi cerah saat melihat nama sang penelepon.

Nada, sih gadis cerewet

"Assalamualaikum, Nada." Sapa Jidan dengan bibir terangkat.

"Waalaikumsalam, kak. Sibuk nggak?"

"Nggak Nada. Emangnya kenapa kamu tanya kayak gitu? Jangan bilang kamu mau ngajakin aku jalan-jalan lagi? Ingat aku lagi kerja di kota B." Ucap Jidan mengira kalau Nada menelpon nya karena ingin mengajaknya jalan kembali.

"Bukan kak, bukan itu." Jawab Nada di seberang sana dengan cepat.

"Terus apa?"

"Aku mau minta tolong sama kak Jabir, buat carikan kosan yang bagus. Soalnya Minggu depan aku mau magang di perusahaan NALTAN GRUB. Aku minta tolong sama kak Jabir buat Carikan kosan yang dekat dari perusahaan itu." Jelas Nada di seberang sana.

Deg

Jantung Jidan seketika berdetak, dia seperti Dejavu saat mendengar kata kosan. Jidan teringat tiga tahun yang lalu di mana gadis, yang ia cintai meminta nya untuk mencari kos-kosan sama seperti Yaya waktu itu.

"Kak Jabir, masih disana kan?"

"Ah, iya Nada, kakak masih disini." Jawab Jidan gelalapan."Nanti kak Jabir carikan, kamu tenang saja."

"Terima kasih kak Jabir. kak Jabir."

"Iya sama-sama, Nada."

"Kalau gitu Nada matikan ya kak, soalnya ada beberapa tugas yang harus Nada urus sebelum kembali pindah ke sana."

"Iya Nada. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." Jidan menaruh ponselnya kembali ke atas meja. Ia menatap taburan awan hitam menandakan kalau langit akan turun hujan malam ini. Lantaran tidak ingin berdiam diri terus di sana, Jidan memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya.

"Aku berharap dengan adanya Nada, aku bisa melupakanmu Yaya."

Baru saja Jidan ingin membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang lembut dan menenangkan, harus terganggu dengan suara dering ponsel.

"Siapa lagi yang mengganggu waktu istirahat ku? Bisakah mereka tidak menggangguku sehari saja." Geram Jidan kesal kembali mengambil ponselnya dan dengan malas mengangkat panggilan telepon itu tanpa melihat nama sang penelepon.

"Hallo!" Ucap Jidan dengan ketus karena kesal.

"Astaghfirullah, Jidan. Kamu membentak ku!"

Mengenali suara diseberang sana, Jidan membulatkan matanya dan dengan cepat memeriksa ponselnya ke depan. Melihat nama bos nya yang tertera di sana, jantung Jidan berdetak tidak karuan, bahkan tubuhnya sudah berubah menegang.

"Jidan kamu mendengarku atau tidak!"

"Maaf tuan, saya kira tadi siapa." Jawab Jidan gelalapan karena terkejut bercampur takut kalau sampai ia dipecat.

"Kamu kira aku ini mantan atau pacar mu. Lain kali lihat dulu siapa yang menelepon!"

"Iya tuan, maafkan saya." Ucap Jidan merasa tidak enak karena kecerobohan nya.

"Sebagai hukuman, kamu harus menghandle kantor selama tiga hari kedepan dan merubah jadwal meeting saya tiga hari kedepannya, tapi kalau tidak bisa, alihkan ke zoom Meeting." Ucap Ardian membuat Jidan menghela nafasnya dengan.

"Ya Allah bertambah lagi pekerjaan hambamu ini. Bolehkan bosku itu tidak selalu izin dan memberikan seluruh pekerjaan nya padaku." Jerit Jidan hanya bisa dalam hati nya. Sedangkan aslinya dia dengan pasrah mengiyakan."Baik tuan, akan saya kerjakan."

"Baiklah kalau begitu, Jidan. Aku matikan sambungan telepon nya. Assalamualaikum."

"Iya tuan. Waalaikumsalam."

Jidan menatap ponselnya dengan tatapan nanar penuh dengan kekesalan."Ya Allah, rasanya aku ingin mengambil cuti selama seminggu saja." Jerit Jidan langsung melempar tubuhnya ke kasur dan dengan perasaan kacau memejamkan matanya.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!