Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
“Lucien, Darius adalah anak dari kakakmu, kau tidak bisa melakukan itu padanya,” kata Jean dengan suara yang berusaha terdengar tegas.
Lucien berdiri tegak, wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun perubahan. Tatapannya dingin, seolah kata-kata Jean sama sekali tidak menyentuhnya.
“Ini caraku mendidik anak buahku,” jawabnya tegas, nada suaranya rendah namun penuh tekanan. “Tidak dewasa, tidak bertanggung jawab… harus menerima hukuman.”
Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah Vanessa. Sorot matanya tajam seperti pisau.
“Pergi sendiri… atau anak buahku yang akan bertindak?” kecamnya dingin.
Suasana langsung membeku.
Vanessa menelan ludah, dadanya naik turun menahan emosi dan ketakutan yang bercampur. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, kukunya hampir menancap ke telapak tangan.
Darius di sampingnya juga terdiam. Rahangnya mengeras, namun tidak ada keberanian untuk membalas.
Beberapa detik yang terasa sangat panjang berlalu.
“Aku akan pergi bersama Vanessa, Kakek. Lain waktu aku akan pulang,” ujar Darius akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya, seolah menahan sesuatu.
Mike yang sejak tadi diam langsung mengangkat kepala. Tatapannya tajam dan penuh kekecewaan.
“Bawa istrimu ke sini,” ucapnya dingin. “Jangan membawa wanita yang rela menjadi pihak ketiga.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Vanessa langsung menegang. Wajahnya memerah, matanya berkilat menahan amarah. Namun di hadapan tekanan keluarga Fan… ia tidak berani melawan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Darius berbalik. Vanessa mengikuti di belakangnya.
Langkah mereka meninggalkan ruang makan terasa berat.
Di luar rumah mewah itu…
Vanessa berhenti sejenak, lalu berbalik menatap Darius dengan kesal. Alisnya berkerut, bibirnya mengerucut.
“Lihat sikap pamanmu terhadapku?” katanya dengan nada tinggi yang tertahan. “Bagaimanapun aku dulu adalah bunga kampus. Banyak pria mengantri mengejarku!”
Darius menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke mobil.
“Pamanku tiba-tiba pulang… aku juga baru tahu,” jawabnya, nada suaranya datar namun terdengar sedikit frustrasi.
Vanessa mendengus pelan. Ia melangkah mendekat, menatap langsung ke mata Darius.
“Aku tidak peduli,” ucapnya tegas. “Sebagai balasannya… kau harus membawaku pulang ke rumahmu.”
Darius langsung menoleh, jelas terkejut.
“Ke rumahku?” ulangnya, alisnya berkerut dalam. “Alyssa akan tahu tentang hubungan kita. Aku masih menginginkan anaknya. Kalau dia tahu hubungan kita… saat perceraian nanti dia bisa menuntut hak asuh dan aset.”
Vanessa tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi manis—melainkan licik dan penuh rencana.
“Tenang saja,” katanya lembut. “Kita bisa beri dia alasan lain.”
Ia sedikit mendekat, suaranya semakin pelan namun menusuk.
“Kecuali… kau memang tidak berani membawaku pulang?”
Darius langsung terdiam. Rahangnya mengeras, matanya menyipit. Jelas egonya tersentuh.
Beberapa detik kemudian, ia membuka pintu mobil dengan senyum
“Baiklah,” ucapnya singkat. "Kalau dia berani membantah…” lanjutnya, suaranya penuh kesombongan, “maka dia yang harus tidur di luar.”
***
Mansion tempat tinggal Alyssa dan Darius terasa sunyi.
Dapur yang biasanya hangat kini justru dipenuhi ketenangan yang aneh—terlalu tenang, hingga menimbulkan rasa tidak nyaman.
Alyssa berdiri di depan kompor.
Perutnya yang membesar tampak jelas di balik gaun longgar yang ia kenakan. Satu tangannya menopang pinggang, sementara tangan lainnya menggenggam botol kecil berisi serbuk halus.
Tatapannya kosong… namun di balik itu, ada sesuatu yang perlahan berubah.
“Darius…” bisiknya pelan, hampir seperti hembusan napas.
Ia menatap panci berisi sup ayam yang sedang mendidih perlahan. Uap hangat naik ke udara, menyamarkan ekspresi di wajahnya.
“Selama ini aku mencintaimu sepenuh hati,” lanjutnya lirih. “Walau ibumu selalu menyakiti perasaanku… aku tetap bertahan.”
Tangannya perlahan membuka tutup botol kecil itu.
Suara kecil “klik” terdengar jelas di dapur yang sunyi.
“Tapi tidak untuk kali ini…” gumamnya, nadanya berubah—lebih dingin.
Serbuk putih itu ia miringkan perlahan ke atas panci.
“Kau telah mengkhianatiku…” bisiknya.
Butiran halus jatuh, larut ke dalam kuah tanpa bekas. “Bagi yang mengkhianati…” ia berhenti sejenak, matanya menyipit tipis. “…akan aku balas.”
Tangannya berhenti.
Hanya sedikit yang ia tuangkan.
Sangat sedikit.
Tiba-tiba…
Sebuah suara terngiang di kepalanya.
“Nyonya, kalau obat ini dikonsumsi terlalu banyak… maka akan langsung memperlihatkan dampaknya.”
Alyssa terdiam.
Lalu…
Senyum tipis perlahan terangkat di sudut bibirnya.
“Waktuku masih banyak,” ucapnya pelan.
Ia menutup kembali botol itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya.
“Aku akan mencampurnya… sedikit demi sedikit.”
Tatapannya kembali ke panci.
Uap hangat kini terasa seperti kabut tipis yang menyembunyikan niatnya.
“Darius…” bisiknya lagi, “Setelah kau sadar dengan kondisimu…” lanjutnya pelan.
Ia mengaduk sup itu perlahan, gerakannya tenang, hampir lembut.
“…maka saat itu… sudah terlambat.”
Sendok berhenti.
Senyumnya perlahan melebar.
“Wanita berubah saat dia tersakiti…” ucapnya.
Matanya berkilat tipis.
“Dia baik saat dia dicintai…”
Suara mobil terdengar mendekat.
Lampu depan menembus jendela, memotong kegelapan malam.
Darius… telah pulang.
Dan kali ini ... Ia tidak datang sendirian.
ayooooo