Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Keturankan kaca mobil secara berlahan seketika angin masuk menerbangkan anak rambut. Udara segar mengelitik hidungku. Burung-burung menari diangkasa. Terbentang pepohonan sepanjang perjalanan yang diiringi kicauan burung menambah kedamaian hati.
Tujuanku ke Cafe FREE di dekat bukit. Guru lesku memintaku untuk belajar di luar, biasanya di rumahku. Katanya ada urusan mendadak jadi tidak bisa datang. Kenapa tidak diliburkan saja? Dengan senang hati aku menerimanya. Lagi pula aku capek jadi anak rajin gegara perjanjian waktu itu. Selama pembelajaran berlangsung aku memperhatikan tanpa tertidur. Hah... kebiasaan tidur yang diajarkan Melisa asli sudah jadi jandu.
Sampailah dicafe yang telah ditentukan. Aku masuk dengan berlahan disungguhkan suasana cafe yang tenang. Desain cafe yang klasik dengan hiasan tanaman hias menambah kesan natural. Interior ruangan yang simple dan sederhana tapi tetap multifungsi dengan warna pastel. Sungguh mengagumkan, sekali lagi aku harus bersyukur jadi Melisa bisa pergi ketempat seperti ini. Aku mencari beradaan guru lesku tidak butuh waktu lama untuk menemukannya. Karena suasana cafe yang tidak terlalu ramai. Ditambah ia berada dipojok cafe dengan berpakaian coklat muda ditambah topi merah manambah kesan modis dan rapi.
Aku menghampirinya “ sudah lama kak?” sapaku pada guru lesku. Aku memanggil "kak" karena ia masih muda dari pada aku. Dihitung dari umurku dan umur Melisa yang ditambah.
“tidak terlalu lama...maafkan aku Melisa,kita harus bertemu disini?” katanya dengan nada menyesal.
“tidak papa kak, pemandangan disini sangat bagus, mari kita belajar” kataku. Ayo belajar dan pulang mari kita rebahan. Ia mengangguk membenarkan perkataanku.
“ sebelum kita mulai mari kita pesan makanan kau pasti lapar. Pulang sekolah langsung kemari” kata guru lesku. Inilah alasanku mengapa aku suka dia. Ia peka banget apa yang aku inginkan. Guru lesku langsung memangil pelayan sementara pelayan menuju kemari. aku sibuk membaca daftar menu. Aku speechless melihat harga tertera dengan banyak nol dibelakangnya. Nama cafe dan harganya kok beda banget kayak langit dan bumi. Untung Melisa holkay alias holang kaya jadi sangguplah bayar gak perlu cuci piring.
“ mau pesan apa kak? Tanya pelayan itu dengan ramah seketika membuyarkan lamunanku “manggo pineapple smoothies bowl”. Aku memesan manggo pineapple smoothies bowl alasannya Melisa menjaga bentuk tubuhnya dan aku suka makan sedangkan orang didepanku orang yang peka. Guru lesku bernama kak Elisa sudah mengajari Melisa dari kelas 8 SMP bisa dibilang ia seperti kakak bagi Melisa. Sayangnya Melisa tidak menyukainya karena sikap yang dimilikinya. Jadi manggo pineapple smoothies bowl pilihan yang tepat sehat, banyak dan tidak ketahuan.
“ apa ada lagi” tanya pelayan itu, kami mengeleng “ tunggu sebentar pesanan akan segera datang” katanya sambil pergi.
“ sambil menunggu mari kita mulai sesi belajarnya” kata guru lesku. Aku mengangguk, kami memulai pelajaran tanpa adanya hambatan. Yang jadi hambatan hanyalah otakku yang kesulitan mempelajari matematika. Dari
dulu sampai sekarang sulitnya akar kuadrat ditambah intergral dikurangi devired dibagi cosinus. Sampai akhirnya pesananku pun tiba. Seluruh penderitaanku sirna sudah terganti kebahagiaan.
Kami berhenti sejenak untuk mendinginkan otak sambil menikmati manggo pineapple smoothies bowl. Capek belajar mulu gak dikehidupan dulu, sekarang sama aja yang namanya belajar pasti sulit. Hah..Sudah saat kami melanjutkan belajar.
Tiba-tiba seorang kakak yang menghampiri guruku dalam keadaan menyedihkan “ Elisaaa” nama guru lesku dipanggil. Aku mengikuti arah suara tersebut menampilkan gadis cantik berkulit sawo hitam yang eksotis dengan ramput kriting. Sungguh pesona luar biasa.
Kuperhatikan guruku terkejut dengan kedatangan temannya. tanpa butuh waktu lama kakak tadi menangis hebat. Dengan berlahan guru lesku mengusap punggung temannya, berniat menenangkannya “modelnya tidak datang padahal kurang lima hari lagi iklannya harus jadi. Kita harus gimana?” kata kakak-kakak berambut kriting. Kuperhatikan guru lesku menampilkan raut wajah terkejut sekaligus binggung.
“ kak aku apa pulang saja?” pamitku tidak mau mengganggu momen mereka. Mereka bersamaan menoleh ke arahku “ Sempurna “ kata kakak kriting alias teman guru lesku langsung tersenyum bahagia melihatku. “ maukah kau jadi model kami?” lanjutnya.
Aku binggung antara menerima dan menolak. Ingin menolak tapi kasihan dengan penampilannya yang membuat siapapun merasa tak tega. Bila menerimanya apakah aku bisa bergaya didepan kamera? apa aku mengubah alurnya karena Melisa tidak pernah ikut seperti ini?. Aku bimbang untuk memutuskan ini, semua pilihanku ada konsekuensinya.
“ dia tidak memiliki pengalaman menjadi model lagi pula ia masih sekolah, aku tidak ingin dia kecapean” guru les ku tidak menyetujui pendapat temannya.
“ terus nasip kita gimana kita bakal dipecat dan kita mau makan apa?” tanya kakak kriting yang tampak naik pitam “ gaji lesmu hanya cukup membiayai ibumu yang sakit sedangkan biaya kuliah dan kehidupan kita bergantung pada pekerjaan ini” kata kakak kriting. Kulihat guru lesku langsung lemas senyuman yang selalu menghiasi wajahnya sirna berganti wajah murung” kemana model kita” katanya dengan nada tercekat.
“ dia membatalkan kontrak dengan alasan ada pemotretan dari tempat lain. Padahal kita duluan yang mengontraknya. Mentang-mentang dapat bayarannya lebih mahal dari kita. Langsung putus kontrak awas saja” kata kakak kriting.
Guru lesku dan temannya tempak sangat frustasi. Aku hanya bisa menghelan nafas “ aku bersedia menjadi model penganti kalau itu bisa sedikit membantu kalian”. Aku berharap dengan keputusanku tidak akan berdampak bagi alur cerita. Agar rencana yang sudah kususun berjalan dengan lancar.
Guru lesku dan temannya seketika wajahnya bersinar “apa ayahmu tidak keberatan?” tanya guru lesku tampak mengkhawatirkan aku.
Aku menggeleng “ ini darurat kak ayah pasti mengerti” jawabku menengkan guru lesku. “baiklah tapi kalau kau capek harus bilang nanti kami akan menghentikan sesi pemotretannya “ kata bu guru lesku sedikit khawatir. Aku mengangguk “ kalau begitu mari tempat pemotretan” kata kakak kriting yang dihadang oleh kak Elisa alias guru lesku “ selesaikan les kali ini baru pergi” kata kak Elisa yang tampak seperti beruang kutub ngamuk.
Tempat pemotretannya tidak jauh dari cafe kami belajar. Seumur hidupku baru kali ini memasukki studio foto. Jadi jangan salahkan aku kalau kepo. Asalkan tidak merugikan orang lain. Kulihat dari kejauhan ada tujuh orang yang berkumpul dengan wajah yang sama murung, stress dan frustasi. Kakak kriting menghampiri mereka dengan semagat“ kita sudah punya model penganti, ini dia” Kakak kriting menari lenganku dan memposisikanku ditengah-tengah mereka. Ayah, ibu aku sangat malu rasanya ingin menutupi wajahku dengan karung goni menjeritan hatiku. Untung wajah Melisa gampang dikondisikan. Jadi aku bisa pasang wajah datar untuk menutupi rasa maluku. Lumayan punya topeng gratis dan praktis.
“ Ana apa yang kau lakukan?” kata kak Elisa menarikku kesampingnya seakan-akan melindungiku. Terimakasih kak Elisa guru lesku kau memang yang terbaik lindungi aku dari beruang grizzly “ aku hanya memperkenalkannya” kata kakak kriting yang bernama kak Ana. Andai nama guru lesku Elsa maka lengkaplah pemain utama film frozen.
“ hentikan pertengkaran kalian, siapa namamu gadis kecil?” tanya seorang pria berumur sekitar 45 tahun dengan ramah. Aku memperkenalkan diri “Melisa Abbriana Claviana bisa dipanggil Melisa”
“ halo Melisa salam kenal pangil saja aku paman Ramos. Sebenarnya aku ingin memperkenalkanmu kepada kita satu persatu, tapi berhubung kita tidak punya banyak waktu bisakah kita memulai pemotretan? . Kalau ada kesulitan katakan saja” kata paman Ramos. Aku membalas dengan anggukan. “ Elisa kau ikut aku untuk mengurus administrasi Melisa” kata paman Ramos pada kak Elisa “Sandra akan mendadanimu serta Faiz yang akan memotretmu. Ikuti arahannya bila kurang paham kau bisa bertanya” kata paman Ramos dengan lembut. Sepertinya paman Ramos menganggapku anak kecil.
Kakak yang disebutkan tadi mendekatiku “ Melisa saya Sandra dan ini Faiz, ayo, aku dadanimu” kata kak Sandra. Aku mengucapkan salam kenal singkat kepada kak Faiz, yang langsung diseret kak Sandra. Aku mengekori kak Sandra seraya kak Sandra menjelaskan seluk beluk studio ini semacam tur dadakan. Bila kalian bertanya apakah aku paham? Dengan senang hati aku menjawab tidak. Penjelasnya kak Sandra seperti orang ngerep.
Selesai mengintari studio secara singkat. Aku mulai didandani oleh kak Sandra baik dari segi rias maupun pakaian yang akan kugunakan. Intinya sekujur tubuhku didandani oleh kak Sandra. Hasilnya luar biasa, tidak heran kak Sandra perias profesional. Aku memakai gaun putih polos dengan kalung mewah. Peranku disini menonjolkan kalung yang aku pakai.
Sambil menunggu kak Faiz, kak Adit dan kak Jerry yang menata ulang tempat pemotretan supaya masih masuk konsep dan juga masuk umurku alias tidak terlalu dewasa. Aku menghabiskan waktuku bermain Hp sambil
sesekali kak Sandra membenarkan rambutku. Aku bermain berbagai aplikasi sesekali membalas kiriman mereka. Sampai Elgartara menelfonku dengan terpaksa aku mengangkatnya.
“ Aku sudah bilang berhenti membully” kata Elgartara dingin
Aku yang tidak mengetahui apapun hanya diam. Apa sih tiba-tiba marah marah PMS ya? “aku tidak membully” balasku
“ tidak usah mengelak ada anak yang kau kunci digudang” kata Elgartara marah
Oh... ada anak yang kekunci digudang terus itu salahku? Dia yang kekunci aku yang disalahin dasar makluk suci tak berotak “ aku tidak melakukannya” bantahku.
“ anak itu sendiri yang mengatakan bahwa kau memintanya bertemu di gudang belakang sekolah kemudian kau mengurungny” balas Elgartara
Ngapain bertemu dengan anak orang yang jelas bukan artis? Aku memutar mataku“ untuk apa aku bertemu dengannya” balasku “Melisa sudah siap, ayo” kata kak Faiz menghentikan obrolan kami. " apa kau bukti atau melihatku melakukannya? lagi pula siapapun bisa melakukannya" tanpa menunggu jawabnya aku memutuskan sambungan telepon.
Aku berjalan ke depan kamera “ Melisa kamu disini sebagai model perhiasan. Kamu hanya perlu berpose untuk menonjolkan perhiasan yang kamu pakai kamu mengerti" kata kak Faiz sambil bersiap mengarakkan kamera kearahku. Aku mengangguk ke kak Faiz berbekal wajah Melisa pasti bisa. Apapun yang Melisa kenakan pasti menonjol. Cahaya flash kamera diarahkan terus menerus kepadaku.
Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 9 malam lebih. Menyadari waktu sudah larut kak Elisa sang guru lesku bergegas menyuruhku pulang. Dengan terpaksa aku menurutinya, takut beruang kutub marah. Pak mamat meminta paman Ramos untuk memulangkan aku dengan alasan besok sekolah.
Diperjalanan, aku teringat kata-kata Elgartara. Siapa anak yang dikurung digudang? Aku terus berfikir hingga aku menginggat alur novelnya. Ceritanya tetap berjalan walaupun aku melakukan hal lain. Aku bersyukur, Olive tetap dikunci di gudang tapi siapa yang menguncinya. Kalau dulu Melisa sekarang siapa?. Yah... siapapun itu kalau tidak merugikanku, aku tidak masalah. Aku mengirimi pesan pada Rini untuk mencari pelakunya. Bila Rini tidak berhasil maka uang yang mencarinya.
****