Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tikus Kecil dan Sangkar Emas
Detik ketika jemari Axel Steel yang dingin menyentuh kulit wajah gadis kesayangannya, Sesilia Kira. Suasana yang tadinya riuh mendadak hening. Seluruh kebisingan di Grand Ballroom Hotel Diamond seolah tersedot ke dalam pusaran lubang hampa.
Musik nyaring yang mengalun lembut kini hanya terdengar seperti dengungan samar di telinga Sesilia.
Waktu seolah berhenti berputar saat dua insan yang terjerat benang merah takdir, akhirnya bertemu kembali.
Gadis itu bisa merasakan sentuhan sang monster dengan sangat baik. Jemarinya yang dingin, kontras dengan wajah gadis itu yang hangat. Tatapan mata monster itu tidak berpaling sedikitpun dari buruannya yang cantik. Sedangkan Sesilia yang ditatap begitu intens oleh makhluk yang dihindari seumur hidupnya itu merasa kikuk. Bola mata gadis itu terlihat bergetar samar, ada aliran dingin yang menjalari punggung hingga leher belakangnya. Mata kelabu sang monster seakan menelanjanginya, dan dari ekor mata gadis itu, ia bisa melihat dengan jelas senyum tipis kemenangan itu timbul.
Axel tanpa aba-aba, Segera menarik pergelangan tangan gadis miliknya itu, mencengkeram lembut. Gerakannya tenang dan terkendali, namun kekuatan seorang Steel tidak dapat dibantah. Sesilia mencoba peruntungan dengan menarik tangan kecilnya dari cengkeraman itu, namun usahanya berhasil sia-sia. Tenaganya tidak bisa dibandingkan dengan milik Axel
"Ikut aku, tikus kecil" perintah Axel. Itu bukan ajakan, melainkan perintah dari seorang penguasa kepada sesuatu miliknya.
Axel menariknya melintasi lantai dansa, membelah kerumunan sosialita dan pengusaha yang kini ternganga. Sesilia merasa seperti sebuah piala yang sedang dipamerkan oleh pemenang perang. Gadis itu kembali menarik tangannya, mencoba menanamkan kakinya ke lantai marmer, tetapi berakhir sia-sia. Axel terus melangkah dengan otoritas penuh yang tidak bisa dibantah. Pria itu membawanya tepat ke titik pusat ruangan, tempat dimana semua orang bisa melihat mereka dengan leluasa. Tepat di bawah lingkaran lampu kristal raksasa yang menyiram mereka dengan cahaya emas yang tajam.
Di sana, di hadapan ratusan pasang mata dan lensa kamera yang haus akan skandal, Axel memutar tubuh Sesilia dan menarik pinggangnya hingga menempel erat pada tubuh tegapnya.
Sesilia terengah, telapak tangannya mendarat di dada Axel yang keras seperti dinding baja. Aroma whiskey tua dan sandalwood yang maskulin mengepung indranya, memicu memori traumatis empat tahun lalu yang kini berkelindan dengan sensasi asing yang lebih berbahaya.
"Lepaskan aku, Axel! Apa kau gila?!" desis gadis itu, suaranya tertahan di antara gigi yang merapat. Ia melirik ke sekeliling, melihat Uni yang tampak membeku di kejauhan, terhalang oleh barisan pria bersetelan hitam yang jelas merupakan orang-orang Axel.
Axel justru semakin merapatkan pelukannya, sama sekali tidak peduli dengan pemberontak tikus kecilnya. Lengannya yang kekar melingkar di pinggang Sesilia, mengunci gadis itu dalam ruang gerak yang sangat sempit. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan bibirnya berada hanya beberapa sentimeter dari daun telinga Sesilia, mengirimkan embusan napas yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
"Empat tahun. Aku sudah memberikan waktu empat tahun, membiarkanmu bermain menjadi ratu di kerajaanku, Si," bisik Axel, suaranya rendah dan dalam, bergema di dada Sesilia. "Kau sudah cukup bersenang-senang. Sekarang, waktunya kau kembali ke tempat seharusnya kau berada, gadis kecil"
"Aku bukan milikmu!" Sesilia menatap mata kelabu itu dengan amarah yang membara. "Aku punya hidupku sendiri, karierku, masa depanku dan..."
"Masa depanmu adalah apa yang aku izinkan untuk terjadi," potong Axel tanpa emosi. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah barisan pers yang sudah bersiap dengan mikrofon dan kamera.
Suasana ballroom mendadak sunyi senyap, jenis kesunyian yang mencekam sesaat sebelum badai menghantam. Axel Steel tidak pernah bicara pada media tentang kehidupan pribadinya. Lelaki itu adalah misteri yang terbungkus dalam saham dan akuisisi. Sebagian orang menyebutnya teka-teki hitam yang tampan. Namun malam ini, sang Monster memutuskan untuk membuka mulutnya, membuka sedikit teka-teki yang dipertanyakan banyak orang.
"Perhatian semuanya," suara Axel menggema, tanpa perlu berteriak, suaranya memenuhi setiap sudut ruangan dengan otoritas alami seorang penguasa.
Ia mengeratkan pelukannya pada Sesilia, memastikan semua kamera menangkap kedekatan mereka yang intim dan bersifat memaksa.
"Banyak spekulasi tentang kembalinya saya ke Jakarta. Malam ini, saya ingin mengakhirinya. Wanita dalam pelukan saya ini, Nona Sesilia. Dia bukan hanya sahabat baik dari adik sepupu saya. Dia adalah alasan saya kembali." Axel berhenti sejenak, membiarkan efek kata-katanya meresap ke dalam audiens yang terpaku. "Dia adalah tunangan saya. Dan mulai malam ini, setiap urusan yang melibatkan dirinya adalah urusan saya dan Steel Group."
Kilatan lampu blitz meledak seperti kembang api yang membutakan. Sesilia merasa dunianya runtuh. Klaim itu bukan sekadar pengumuman asmara biasa, itu adalah barikade yang dibangun Axel di sekeliling hidupnya. Dengan satu kalimat itu, Axel baru saja mengusir setiap pria di kota ini, menutup setiap pintu peluang yang tidak ia setujui, dan menjaring Sesilia dalam jaring kekuasaan yang tak tertembus.
"Kau bohong..." gumam Sesilia lemas, matanya berkaca-kaca karena rasa frustrasi yang luar biasa. "Kita bahkan tidak pernah bertunangan."
Axel menatapnya kembali, sebuah senyum kemenangan yang tipis muncul di sudut bibirnya. Ia memutar tubuh Sesilia untuk memulai sebuah tarian lambat di tengah sorotan lampu, mengabaikan fakta bahwa gadis dalam pelukannya itu nyaris tidak bisa menggerakkan kakinya.
"Dunia tidak peduli pada kebenaran, sayangku. Mereka hanya peduli pada apa yang aku katakan," bisik Axel sambil memutar tubuh Sesilia dengan anggun. "Dan aku baru saja mengatakan pada dunia bahwa kau adalah milikku. Kau bisa mencoba membantahnya, tapi siapa yang akan mempercayai kata-kata seorang mahasiswi kedokteran biasa dibanding kata-kata seorang Steel?"
Saat tarian paksa itu berlanjut, Sesilia menyadari kengerian yang sebenarnya. Pria-pria yang tadinya mengaguminya kini menundukkan kepala saat Axel lewat. Para wanita yang iri kini menatapnya dengan rasa hormat yang dipaksakan. Axel telah mengubahnya dari seorang individu bebas menjadi sebuah aset berlabel Steel.
Setiap putaran di lantai dansa terasa seperti lilitan rantai yang semakin kencang. Axel mengendalikan setiap gerakannya, setiap arah pandangnya. Pria itu adalah koreografer dari kehancuran privasinya.
"Kenapa, Axel?" tanyanya, suaranya hampir hilang ditelan musik yang kembali mengalun. "Kenapa kau begitu terobsesi merusak hidupku?"
Axel berhenti sejenak, menatap sang gadis dengan intensitas yang begitu kuat hingga Sesilia merasa seolah jiwanya sedang dipreteli.
"I'm not ruin your life, baby girl. Aku menyempurnakannya," jawab Axel, jemarinya mengusap tengkuk lembut itu dengan keposesifan yang brutal. "Kau adalah masterpiece-ku yang sangat berharga. Dan seorang seniman tidak akan pernah membiarkan karyanya dimiliki oleh orang lain."
Axel membungkuk, mencium kening Sesilia di hadapan semua kamera. Ciuman itu adalah sebuah segel terakhir yang mengunci nasib sang gadis. Malam itu, di bawah kemegahan Hotel Diamond, Ratu Kampus telah kehilangan mahkotanya, digantikan oleh borgol emas tak kasat mata yang ditempa langsung oleh tangan Axel Steel.
Malam klaim telah berakhir, dan bagi Sesilia, penjara paling mewah di dunia baru saja dibuka pintunya.
bau bau bucin😍😄