Ketika Mahkota kesucian wanita telah terenggut lebih dahulu sebelum pernikahan, menyisakan duka lara yang luar biasa untuk Jasmine.
Tak disangka Kejujuran dan keberaniannya menceritakan yang sebenarnya pada suaminya di saat malam pertama, menjadi awal mala petaka kehidupan rumah tangganya.
Tetapi seorang Jasmine telah berjanji didepan penghulu untuk menjadi istri Riko dalam keadaan apapun dan apapun yang terjadi.
Sanggupkah Jasmine menerima perlakuan tidak baik dari suaminya selama hidup bersama dengan Riko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vera zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teka-Teki
Jasmine terus berjalan menyusuri hutan yang gelap gulita, sesekali berhenti ketika mendengar lolongan anjing entah itu suara serigala.
Jasmine merapikan hijabnya yang sepertinya sudah tidak beraturan sebab di gudang itu tikus-tikus yang menjijikan melompat ke kepalanya, tangannya dan terus mengganggu kaki Jasmine. Pantas saja dia tidak berhenti minta tolong.
Walaupun keselamatan Jasmine sekarang masih terancam karena berada di hutan sendirian.
***
"Apa? Bodoh kamu! Kenapa kamu kurung Jasmine di gudang itu? Di situ hampir tak ada udara, dia bisa mati!" Pak Burhan
"Ayah, dia itu pembawa sial!" teriak Riko.
"Sebenarnya apa yang terjadi Riko? Kenapa kau sangat marah pada jasmine? Ibumu kenapa sampai pingsan?" Pertanyaan dari ayahnya yang bertubi-tubi menghantam Riko.
"Ayah tidak akan percaya bila ayah tahu yang sebenarnya!" ucap Riko sambil menarik nafas panjang.
Memang Riko pecundang sejati, dia sendiri yang bilang didepan Jasmine bila Jasmine mau memutuskan jari manisnya pakai benang dan pisau, dia tidak akan memberitahukan aib istrinya itu pada orang tuanya dan keluarganya .
"Jangan berbelit-belit Riko, bicara saja, ceritakan semuanya!" pinta Pak Burhan
"Jas-Jasmine s-sebenarnya sudah tidak perawan!" jelas Riko terbata-bata.
"Apa?" Pak Burhan kaget, entah pura-pura kaget.
"Bukankah, dia anak teman ayah Kiyai Dahlan yang tersohor pemimpin pesantren yang melahirkan santri-santri agamis dan berpendidikan, serta berakhlak luhur!" papar ayahnya.
"Ayah, kenapa sih bisa-bisanya ayah menjodohkan aku dengan gadis yang luarnya berhijab tapi kesuciannya telah terenggut?" pekik Riko.
"Riko, sekarang kamu pergi ke rumah dulu, keluarkan Jasmine dari gudang, jangan sampai kamu berurusan dengan polisi karena menghilangkan nyawa istrimu sendiri!" suruh Pak Burhan.
"Kenapa gak biarin aja dia mati, biar aku bisa membalaskan rasa sakit hatiku!" teriak Riko.
"Jangan bodoh kau! Kau sendiri yang akan rugi. Nama baik mu dan nama baik keluarga kita akan hancur!" jelas Pak Burhan.
"Oke, Oke!" Riko akhirnya pasrah.
Riko bergegas menuju parkiran rumah sakit, ia menancap gas mobilnya dan menjalankan mobil dengan kencang. Meninggalkan ayahnya yang sedang menunggu ibunya yang belum juga sadar dari pingsan.
***
"Bu, ibu kenapa kok pingsan?" tanya Pak Burhan, ketika melihat istrinya mulai siuman.
"Ayah, ibu dimana ini?"
Matanya menerawang sekitar ruangan yang penuh dengan alat kesehatan.
Bu Salma sesekali batuk karena pernafasannya belum kembali sempurna. Bau obat yang menyengat juga mengganggu penciuman wanita paruh baya itu.
"Ayah, Riko dimana? Ayah kok tega menikahkan dia dengan wanita yang sudah tidak suci lagi?" Bu Salma terisak.
" Bu, sudahlah! Jangan pikirkan soal itu dulu, yang penting sekarang ini kesehatan ibu. Kata Riko tadi dokter bilang, jantung ibu itu lemah, jangan berpikir macam-macam dulu!" papar Pak Burhan.
"Tapi ayah, Riko mungkin terasa ditipu, dan kita juga sekeluarga merasa sudah sangat diinjak harga diri kita, suruh Riko untuk menceraikan Jasmine, sekarang juga!" tukas Bu Salma.
"Riko mengurungnya di gudang rumah, dan Ayah sekarang menyuruh dia untuk mengeluarkan Jasmine dari gudang itu, karena bila dia sampai mati, anak kita akan berurusan dengan pihak yang berwajib"
"Apa? Itu gudang tidak ada udara sama sekali, yah! Dia sebentar saja di sana bisa langsung diserang tikus-tikus!" pekik Bu Salma.
"Makanya itu Bu, Ayah tadi menyuruh Riko untuk membuka gudang nya! Soal Jasmine nanti kita urus!"
"Sudah, sekarang ibu istirahat ya!"
"Baik, yah!" Bu Salma menurut.
Pak Burhan keluar ruangan, dan menelepon seseorang dengan setengah berbisik, sepertinya tidak boleh diketahui oleh Bu Salma.
" Gara-gara kamu yang rakus, sekarang Riko menderita! Kau juga malah kabur ke Perancis, pokoknya Jasmine jangan sampai tahu, kalau kamu yang telah menodainya!"
"Baik" suara diujung telepon itu seolah menurut saja pada perkataan Pak Burhan.
Jasmine dinodai oleh seseorang yang dia pun sendiri tidak tahu, karena lelaki misterius itu masih menjadi teka-teki sampai sekarang.
Lelaki yang berpakaian serba hitam di malam terkutuk itu juga memakai penutup wajah. Dia tidak menampakan wajahnya setelah menodai Jasmine, bahkan ketika merapihkan kembali pakaiannya pun ia berbalik badan, membelakangi Jasmine.
Hanya senyuman sinis dari dua sorot mata yang tajam, mata yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Jasmine.
Sepasang sepatu pantofel yang terakhir dikenakan laki-laki itu serta sapu tangan hitam yang ketinggalan di ranjang hotel itu, sampai saat ini masih disimpan baik-baik oleh Jasmine.
Sepertinya ada dendam kesumat antara laki-laki itu dengan Jasmine. Tapi, bagaimana bisa Pak Burhan kenal dengan laki-laki itu? semuanya masih menjadi teka-teki.
"Pak, Pak!"
Suara seorang dokter mengejutkan Pak Burhan dan melepas lamunan panjangnya.
"I-iya dokter! Ada apa ya?" tanyanya.
"Obatnya sudah dibelikan, Pak!"
"Obat! Obat apa ya? Oh mungkin anak saya tadi sedang membeli obatnya, dokter!" tandas Pak Burhan.
"Baik, Pak! Segera ya pak, karena Bu Salma harus meminum obatnya!"
Dokter memeriksa keadaan Bu Salma yang sudah mulai membaik. Hanya badannya saja yang masih lemah.
Syok yang luar biasa membuat Ibunya Riko terganggu kembali kesehatan jantungnya. Tidak disangka memang yang menjadi menantunya telah kehilangan kesuciannya sebelum menikah, tetapi tidak jujur diawal pernikahan.
"Kiyai Dahlan harus mempertanggung jawabkan ini semua, karena memberikan menantu yang bagus luarnya tapi busuk dalamnya. Mereka sudah menghina keluarga besar saya!" gumam Bu Salma didalam hatinya.
Pak Burhan meletakan telunjuknya di dahinya, tanda sedang berpikir keras tentang permasalahan Jasmine sang menantu.
"Bagaimana kalau Kiyai Dahlan sampai tahu siapa yang telah menodai anaknya, bisa-bisa aku pun akan terseret ke penjara!" bisik nya dalam hati.
Suara dering telepon mengejutkan Pak Burhan ditengah pikirannya sedang sibuk memikirkan sebuah teka-teki silang yang dia buat sendiri.
"Gimana Riko? Jasmine sudah kau keluarkan dari gudang?" tanyanya.
"Ayah, gimana ini Jasmine kabur!" teriak Riko.
"Bagaimana bisa? kamu kunci kan gudangnya? tanya semua pembantu yang di rumah!" pekik Pak Burhan, sekarang bukan kaget lagi, tapi sangat ketakutan.
"Ini bahaya, Riko!" sungutnya lebih lanjut.
"Ayah ini, kok bahaya! Ya Bagus lah, dia sudah tidak ada di rumah ini, besok aku urus perceraian dengannya!" jelas Riko, merasa sudah terbebas dari makhluk yang bernama Jasmine.
"Bodoh kau, kau akan diseret ke penjara, kalau Jasmine melarikan diri ke kantor polisi, dan memberi tahukan kau mengurungnya di gudang. Itu termasuk KDRT, Riko!" bentak Pak Burhan.
"Ayah, kita punya banyak uang, kita sogok saja polisinya, gampang kan?" ucap Riko santai, seolah tidak memikirkan hal yang telah diperbuatnya pada Jasmine.
"Riko, kau itu bodoh atau pura-pura bodoh, Jasmine akan ketahuan sudah tidak suci dan ini membahayakan ayah!" Pak Burhan hampir keceplosan bicara.
Riko termenung di ujung telepon, memikirkan apa yang terjadi dengan ayahnya.
***
Bersambung