NovelToon NovelToon
New World

New World

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Petualangan / Game
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: AF

Pahlawan?

Satu kata itu identik dengan suatu sosok yang begitu disegani. Dengan iringan pujian dan nyanyian akan namanya.

Namun apa itu berlaku untuk semua? Satu bentuk kata Pahlawan bagi setiap orang akan selalu berbeda sosoknya. Tidak semua yang dianggap Pahlawan oleh satu orang, dianggap Pahlawan juga oleh orang lain.

Sosok ini tidak pernah mengharapkan dirinya dianggap sebagai Pahlawan. Kata itu terlalu besar maknanya untuk disematkan kepada dirinya.

Namun itu hanya pikirannya seorang, orang orang yang berjumpa dan bersama dengan dirinya akan selalu menganggap dirinya sebagai seorang Pahlawan. Meskipun sisi gelap menyelimuti dirinya, semua orang tidak akan pernah ragu untuk menyebut dirinya sebagai seorang Pahlawan.

Pahlawan bisa berasal darimanapun, tidak peduli itu berasal dari suatu bentuk kegelapan. Seperti itulah yang dipikirkan oleh semua orang yang menganggap dirinya pahlawan.

Tanpa terkecuali dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pergi untuk kembali

Crriiittt...

Mobil yang di tunggangi Alan dan keluarganya berhenti karena ada orang di tengah jalan yang menghadang.

Hari ini adalah hari keberangkatan alan ke kota Mediteran. Dia berhasil diterima di universitas berkat jalur prestasi sebagai atlet memanah.

"Ivan... Apa yang kamu lakukan?" Kepala Alan keluar dari kaca pintu mobil.

"Tentu saja mengantarkanmu seperti mengantar Rea dulu. Mana mungkin aku melewatkan kepergianmu." Balas Ivan dengan nafas yang masih ngos ngosan.

Rea sudah berangkat 2 minggu lalu. dan kini Alan menyusul Rea. walapun sebenarnya tidak bisa dikatakan menyusul. karena Rea kuliah di luar negeri. sedangkan Alan masih satu negara dengan Middlemist.

"Ok... Masuklah! Nanti keretanya keburu berangkat. kita sedang dikejar waktu."

Ivan masuk ke dalam mobil. meminta ijin kepada kedua orang tua alan juga untuk ikut mengantarkan kepergian Alan.

Sepanjang perjalanan ke stasiun benar benar menjadi perjalanan paling tidak menyenangkan. Suasana begitu kalut dan suram. Meskipun supir mobil sudah memutarkan lagu lagu bernuansa gembira. Tetap saja suasana hati tidak bisa dibohongi.

Sesampinya di stasiun waktu masih menunjukan pukul 08.34. Masih ada selang 30 menitan sebelum kereta datang. Alan langsung mengurus penukaran tiket, Sedangkan kedua orang tuanya dan Ivan menunggu di kursi tunggu.

"Minum Van?" Tawar Alan sebotol air mineral pada Ivan untuk memecah keheningan.

"terima kasih Lan..."

"Ahh... Sebentar lagi aku berangkat... Kamu jangan kangen sama aku ya..." Canda Alan.

"Hah? jangan suka ke ge er an deh kamu Lan." Sewot Ivan.

"Hahaha... Van..." Alan memasang muka serius ketika menyebut nama Ivan.

"Apaan? Mukamu kaya muka ***** gitu..."

"Tolong jaga ayah ibu ku ya... hanya kamu yang benar benar aku percaya untuk menjaga mereka."

"Ooohhh.... Ok... Ada wasiat yang lain?" Ivan memasang muka cuek sambil meminum air dari botol.

"Sialan kamu... Memang aku mau mati pa?"

"Hahaha... Habisnya kamu juga... Perkataanmu kaya wasiat terakhir."

"Yah.... Kamu tahu kan mereka berdua adalah harta ku yang paling berharga di dunia ini. Tanpa mereka apalah aku. Butiran debu yang tertiup angin."

"Sok puitis amat ini anak."

"Serius ini Van... Janji padaku kalau kamu akan menjaga mereka selama aku pergi."

"Tenang... Serahkan padaku. Kamu bisa belajar dengan tenang disana."

Alan merasa lega mendengar perkataan Ivan. meskipun Ivan sedikit ceroboh dan lemotnya minta ampun. Tapi kalau soal ketekunan belum tentu alan bisa mengalahkan Ivan.

"Ting tong.... Kereta menuju amediteran City telah tiba. Bagi para penumpang silahkan bersiap siap. Pastikan barang bawaan anda aman dan tidak tertinggal."

asuara pemberitahuan dari mikrophone stasiun berbunyi. Kereta akan berhenti 15 menit untuk menunggu penumpang naik. Alan mengambil tas dan kopernya dan berpamitan ke ayah dan ibunya.

"Bu... alan berangkat ya... ibu jaga selalu kesehatan selama Alan pergi." mata Alan mulai berkaca kaca saat berpamitan dengan ibunya.

"Ya nak... Berhati hatilah kamu di jalan dan disana. Sering sering kirim kabar. Jangan lupa makan yang teratur."

Mata Liliyana berair menandakan akan menangis. Tapi dengan kuat hati Liliiyana menahannya. Dia tidak ingin terlihat rapuh saat keberangkatan anaknya. Kalau dia terlihat rapuh pasti alan akan selalu kepikiran dengan orang tuanya di desa.

"Baik ibu... Alan pasti akan ingat nasihat ibu."

Selesai memeluk ibunya, mencium kedua pipinya. Alan menuju ke ayahnya untuk berpamitan.

"Ayah... Alan berangkat ya?"

Julian tersenyum memandang anaknya. Tidak dia sangka, anak yang dulu dari bayi dia gendong, dia ajari berjalan, bicara. Sekarang akan meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh.

"Ya Alan... Kamu berhati hati lah disana. Ingat selalu pesan pesan ayahmu, suatu saat mungkin akan berguna. Ingat! Di kota belum tentu semua orang baik, selalu berhati hati. Tapi pastikan dimanapun kamu berada harus selalu menjadi orang yang baik di mata orang." Pesan julian pada Alan.

"Baik ayah... Terima kasih banyak nasihatnya."

"Sudah... Naiklah... Nanti kamu tertinggal kereta." Julian mencoba untuk tersenyum di depan anaknya, walaupun hatinya merasakan kepedihan.

"Tapi ayah..."

"Ada apa lagi? Kamu tidak mau jadi berangkat?" Tanya Julian.

"Bukan begitu... Boleh Alan minta uang saku? Bagaimana Alan bisa hidup disana kalau tidak punya uang."

"Hahahaha.... hampir saja lupa..." Julian tertawa sendiri.

"Ini Lan... Bawalah kartu ini. Ayah rasa di dalam kartu ini ada cukup uang untuk kamu hidup satu bulan. Gunakanlah dengan bijak. Ayah usahakan setiap bulan ayah akan mengirimi uang untukmu."

"Terima kasih banyak ayah..." Wajah Alan langsung lega setelah menerima kartu dari ayahnya.

"Ayah, Ibu, Ivan... Alan berangkat dulu." Alan membawa tas dan kopernya naik ke kereta.

"Hati hati di jalan Alan. Jangan lupa kirim kirim kabar." Liliyana melambaikan tanganya. Tangisnya sudah tidak bisa dia tahan. Anak yang dari kandungan di perutnya, bayi dia susui sendiri. Digendong kesana kemari, sekarang pergi dari pelukanya.

Tuuut... Tuuut...

Kereta mulai berjalan, semakin lama semakin cepat dan makin menjauh sampai tidak terlihat.

Liliyana yang merasa lemas jatuh ke pelukan Julian. Julian pun memeluk Liliyana dengan erat.

"Apakah Alan akan baik baik saja disana sayang?" tanya Liliyana ke Julian.

"Hem.... Anak itu selalu bisa di andalkan. Dia sudah besar, saatnya dia menentukan langkahnya sendiri. Kita hanya bisa mendoakanya dari sini." abalas Julian.

Alan mendapat kursi di samping jendela. Tatapanya kosong menatap ke luar. Pikirannya masih tertinggal di tengah tengah ayah, ibu dan semua warga Middlemist.

"Aaahhh....." Alan menghela nafas panjang untuk menenangkan pikiranya.

"Dari sini perjalananku dimulai. Ayah, Ibu, semuanya. Tunggu aku kembali!"

1
Al^Grizzly🐨
Baca kembali Novel ini👍👍
Carsinah 1408: lanjut dong
total 1 replies
Yongzi
tinaaa..
Yongzi
tiiinnnnnnnn
Blue
lamaaa
Agung Sri wahyudi
di tunggu kelanjutannya
Ikmal Hamzah
up lg
Perfect memory
sudah 1thn,sampai lupa sama alur ceritanya
Gedabang free
💪
Gedabang free
oke semangat tor
Arkan Kori
saya masihh setia menunggu thorr
Atha 12
semoga cepat revisinya thor
Ikhsan Icha
tdk ada cerita lain yg dibuat kah thor
Yudha
tetap semangat thor, seperti saya yg msh tetap setia menunggu update nya 👍👍👍💪💪💪
Niass
dikira dah mo lanjut lagi, kecewa sih, tapi semangat aja lah, slalu ditunggu
Cars1001
woi..... tanggung jawab dong.... bikin penasaran az....
Mr. Viper
waduh. pantes. alan sugiono inih
Lina Liana
pantau dulu
Lina Liana
ane tengok2 ja dulu
oioi siapa
ahaha keren juga
Pak Wo
pp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!