5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Bola Sakti
Setelah serangan mendadak itu berhasil diredam, Profesor Elian membawa mereka menuju Aula Pengujian (Testing Sanctum). Di sana, sudah berkumpul puluhan siswa lain dari berbagai penjuru Euthopia yang menatap mereka dengan tatapan penasaran sekaligus ragu.
Di tengah aula, terdapat sebuah podium tinggi dengan Bola Sakti (Orb of Aether) yang melayang. Bola itu jernih seperti kristal, namun di dalamnya terdapat pusaran energi yang terus berubah warna.
"Setiap siswa baru harus menyentuh Bola Sakti ini untuk mengukur skala kekuatan murni kalian," jelas Profesor Elian.
"Beberapa penyihir hebat hanya bisa membuat bola ini bersinar redup. Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh 'Putri dari Bumi' ini."
Satu per satu siswa lain maju. Ada yang membuat bola itu berwarna hijau redup, ada yang kuning terang. Hingga tiba giliran kelima sahabat ini.
Ujian Kekuatan Murni
Vera Vera maju dengan ragu. Saat tangannya menyentuh permukaan dingin bola itu, ia membayangkan pegunungan yang kokoh. Seketika, bola itu berubah menjadi cokelat tua yang pekat dan bergetar hebat.
Lantai aula berguncang pelan, dan seekor burung hantu yang hinggap di langit-langit tiba-tiba terbang berputar di atas kepala Vera seolah memberi hormat.
"Kekuatan Tanah yang sangat stabil... dan koneksi alami dengan makhluk hidup," gumam salah satu penguji.
2. Olivia
Selanjutnya Olivia. Begitu jemarinya menyentuh kristal, warna hijau zamrud yang sangat cerah memancar keluar. Tanaman merambat kecil tiba-tiba tumbuh dari sela-sela podium, melilit kaki bola tersebut dan menumbuhkan bunga-bunga cantik yang mekar seketika.
"Energi Kehidupan yang luar biasa," puji para penyihir lain yang menonton.
Luna maju dengan wajah tenang. Saat ia menyentuh bola, udara di sekitar podium mendadak turun drastis. Bola sakti itu membeku sepenuhnya, dilapisi kristal Es yang indah dan memancarkan cahaya putih perak. Penonton di aula sampai harus merapatkan jubah karena kedinginan.
"suhu disekitar jadi berubah drastis"ucap murid yang lain
Rachel Rachel melangkah maju. Begitu ia menyentuh bola, air di dalam wadah penguji di dekat sana terbang melayang, membentuk naga air kecil yang mengitari bola sakti. Warna bola berubah menjadi biru laut yang sangat jernih, diikuti dengan hembusan angin kencang yang meniup rambut semua orang di aula.
"Dua elemen dalam satu raga, Air dan Udara," bisik para siswa senior dengan nada iri.
5. Azzura
Terakhir, Azzura. Ruangan menjadi sunyi senyap. Begitu Azzura menyentuh bola itu, terjadi reaksi yang belum pernah dilihat sebelumnya. Bola itu tidak hanya berubah warna, tapi meledak dalam perpaduan warna merah membara, emas yang menyilaukan, dan kilatan biru petir.
CRAAAK!
Percikan Listrik menyambar-nyambar di permukaan bola, sementara api yang panas namun tidak membakar menyelimuti tangan Azzura. Cahaya yang memancar begitu murni hingga beberapa orang harus menutupi mata mereka. Bola Sakti itu berdenging kencang seolah tidak sanggup menampung kekuatan Api, Listrik, dan Cahaya yang keluar sekaligus.
Profesor Elian dan para penguji terpaku. Bola Sakti itu retak sedikit di bagian tengahnya—sesuatu yang hanya terjadi jika kekuatan yang masuk berada di level "Legendary".
"Cukup, Azzura! Lepaskan tanganmu!" seru Profesor Elian.
Azzura menarik tangannya, napasnya tersengal. Aula masih sunyi sebelum akhirnya riuh dengan bisik-bisik kagum dan ketakutan dari para siswa lain.
"Mereka bukan sekadar murid baru," bisik seorang siswa senior. "Mereka adalah ancaman bagi siapa pun yang mencoba mengganggu Euthopia."
Setelah ujian selesai, Profesor Elian mendekati mereka berlima. "Kalian telah membuktikan identitas kalian. Namun, kekuatan besar mengundang musuh yang besar pula".
Setelah ujian yang menggetarkan seluruh akademi, Profesor Elian mengantar mereka menuju Asrama Paviliun Astra, sebuah asrama megah yang terletak di puncak bukit akademi. Meskipun berada di lingkungan yang sama dengan murid lain, paviliun ini memiliki penjagaan khusus dan fasilitas yang jauh lebih lengkap.
"Kalian akan tetap bersosialisasi dengan murid lain di ruang makan dan area publik," jelas Elian saat mereka melewati gerbang asrama yang dijaga oleh dua patung singa bersayap. "Namun, kamar dan ruang latihan kalian berada di sayap khusus. Tempat ini dirancang untuk menahan tekanan energi dari elemen-elemen besar agar tidak menghancurkan gedung."
"Apa kita akan langsung belajar mantra?" tanya Vera antusias.
"Bukan hanya mantra, Vera," jawab Elian serius. "Kalian akan belajar bagaimana menjadi satu kesatuan. Karena jika salah satu dari kalian goyah, keseimbangan Euthopia akan runtuh."