Tina dan Vivi adalah saudara kandung, anak dari
pak Budi dan bu Lasma. Kehidupan mereka cukup teramat susah dan menderita. Dikarenakan ketidak mampuan mereka, pada akhirnya mereka hanya tinggal disebuah gubuk
kecil tepat diarea persawahan. Bukan hanya itu saja, mereka tinggal disebuah desa yang sangat
pelosok sekali, jauh dari kecamatan apa lagi dari kota. Bayangkan saja, sekolah SMP dan SMA
saja harus menempuh jarak waktu sekitar 3 jam lebih dari desa mereka. Hingga anak pedesaan itu, setelah lulus dari SD harus ngekos dikecamatan demi melanjutkan pendidikan mereka. Mereka diusia dini sudah harus mandiri dan rela berpisah dengan orang tua, tetapi mengabdi pada pemilik kos yang terkadang pemilik kosnya tidak memiliki perasaan.
Budak, iyah budak, kata-kata itulah cocok dirasakan dan dialami Tina selama ngekos dikecamatan. Dirinya sungguh menderita dan tidak hentinya mengerjakan pekerjaan rumah,
dan malah sering dapat hinaan dan omelan.
Semua itu terjadi demi dikarenakan ngekos gratis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maminya nathania bortum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 6 mencoba bunuh diri
Tok tok tok
ketukan kamar Vivi yang terdengar begitu jelas.
Vivipun takut langsung membuka pintu kamarnya.
Dirinya sangat berjaga-jaga dan memastikan terlebih dahulu, siapa yang datang lalu berani membukakan pintu kamarnya.
Dengan siapa?
"Dengan Saya Vi, Angel sahut Angel lembut".
"Kamu, silahkan masun Angel!" sahut Vivi sembari
membukakan pintu kamarnya.
"Vivi, dari tadi kok belum makan ?" tanya Angel sembari duduk disamping Vivi tepat ditepi kasurnya.
Bagaimana saya mau makan? saya belum terbiasa dengan situasi rumah ini, Angel. Saya juga tidak mengerti lingkungan rumah ini dan tidak mengenal
siapa-siapa dirumah ini selain dirimu, Angel.
"Baiklah, kali ini saya akan kasih kamu kejutan. Saya sudah pesan berbagai menu makanan, sudah tersedia dimeja makan diruangan lantai ini. Mari kita makan dulu dan saya akan temanin kamu", ujar Angel sembari menarik tangan Vivi menuju ruang makan diruangan itu.
Tra da daa-aa-aa
Ini menu makananya, apakah kamu suka Vi? semoga saja dirimu menyukainy, mari duduk
jangan bengong begitu, dong Vi!
"Terima kasih Angel, walaupun hati ini dilanda
kecemasan dan kebingungan setidaknya kamu sudah peduli dan pengertian buat saya", jawab Vivi
sambil duduk lemas seperti tak selera makan.
Vivi, kamu tidak perlu cemas, macam tidak kenal
saja siapa saya. Kita ini kan sudah sahabatan lama dan satu desa lagi, mana mungkin saya melukai sahabatku sendiri, terlebih menghianatinya.
Tetapi, jika kamu bingung dengan sikap saya mungkin ada benarnya saya mengerti itu.
Untuk itu saya minta maafsaya padamu, Vivi.
Suatu saat dengan bergulirnya waktu kamu akan tahu sendiri jawabanya", ujarAngel sambil menatap wajah Vivi untuk menyakinkannya.
"Ok fine, tetapi sampai kapan kamu mau ceritakan
semuanya Angel ? kasih saya kepastian biar saya
tidak cemas begini. Saya kesini tidak ada siapa-siapa, selain kamu.Tujuan saya kesini kamu tau sendiri ingin cari pekerjaan bukan penasaran
terlebih kecemasan. Saya ingin cepat-cepat bekerja, biar bisa bantu ayah ibu dikampung.
Saya sudah berjanji juga pada Tina, bahwa biaya sekolah dan keperluan biaya-biaya lainnya biar
menjadi tanggung jawabku saja", imbuh Vivi
dengan mata berkaca-kaca memandang wajah Angel.
Vivi tenang dulu, nanti saya akan masukkan kamu kerja yg bisa mewujutkan impianmu dan membahagiakan orang tuamu, tetapi tidak sekarang Vi, kasih saya waktu yang tepat.
Trus kapan, Angel? kamu tahu sendiri bagaimana kondisi orang tuaku didesa, saya ingin cepat-cepat bekerja, mereka sangat butuh saya, Angel.
"Iya Vi, saya mengerti itu, tetapi kamu harus perawatan dulu, nanti saya ajarin kamu perawatan
supaya terlihat lebih cantik dan lebih menarik, Vivi. Setelah itu, saya masukkan kamu kerja diperusahaan tempat kenalan saya. Ya sudah, kamu istirahat dulu saya lagi banyak pikiran, saya naik keatas mau istirahat", imbuh Angel sembari beranjak menaiki lift.
Tetapi, mengapa kamu harus membawa saya
kerumah megah ini, sebenarnya ini rumah apa hotel? dan ini milik siapa Angel?
kenapa penjagaanya sangat ketat dan banyak pelayan-pelayan disini? saya benar-benar bingung,
Angel please jelaskan semua kebenaranya!
"Saya pamit mau istirah, Vivi. Setelah selesai makan kembalilah kekamarmu dan pintu kamarnya dikunci", sahut Angel dan memasuk lift dan lift itupun terkunci otomatis.
Vivipun semakin penasaran dan ingin mencari tau,
dengan menyapa beberapa asisten rumah tangga dirumah besar itu. Vivi merasa tidak enak sepertinya mengganggu para asisten tersebut yang sedang melakukan aktifitas masing-masing.
Vivipun memutuskan untuk keluar kehalaman rumah, terlihat jelas beberapa penjaga duduk di pos jaga percis di depan rumah itu.
"Permisi pak! bisakah Vivi gabung ikut ngobrol?
"Ohhh bisa non, silahkan duduk", ujar salah satu
securiti disitu.
"Tidak perlu panggil nonlah pak, panggil saja saya
Vivi biar lebih enak", imbuh Vivi sembari duduk
bergabung dengan mereka.
Oh ya pak, saya kan baru datang dari desa, saya kurang mengerti situasi disini, dan kurang paham
tempat ini sebenarnya", imbuh Vivi memulai pembicaraan.
"Baiklah Vi, kalo ada yang mau ditanya atau ada perlu sesuatu disini kamu tinggal bilang ke kita atau asisten-asisten didalam rumah ini", jawab salah satu securiti itu sembari memandang wajah Vivi yang terlihat pucat.
Pak kalo boleh tau, ini rumah atau apa?
"Rumahlah Vi, masa kuburan", sahut salah satu securiti lagi penuh keheranan.
Rumah siapa pak?
Yah, rumah pak boslah sama ibu Angel.
Pak Bos itu siapa ya pak? dan apa hubunganya
dengan Angel?
Maafkan kami Vi, itu bukan kapasitas kami untuk
menjawab, tanya sendiri ke bu Angel.
"Tetapi pak, saya sudah bertanya ke Angel tetapi belum ada jawaban. Sepertinya Angel ada menyembunyikan sesuatu dari saya. Makanya itu, saya bertanya kesini uuntuk mendapatkan jawabanya. Please pak, bantu Vivi saya mohon", imbuh Vivi dengan wajah melas.
"Sekali lagi kami minta maaf Vivi, kami tidak bisa
sembarangan memberitahu informasi yang bukan
kapasitas kami, terkecuali atas izin Pak bos dan ibu Angel", jawab tegas para securiti dengan menatap tajam Vivi.
Seketika hati dan pikiran Vivipun semakin kacau dan gelisah Vivi semakin takut terjadi hal buruk akan menimpanya. Vivi juga takut terjadi seperti diberita-berita ada penyekapan dan penjualan wanita terhadap para hidung belang sebagai pemuas birahi. Karena mendengar pak bos dan ibu Angel ada hubungan, Vivipun semakin curiga pak bos ini adalah dalangnya yang bekerja sama dengan Angel. Hati Vivipun mulai gelisah tak karuan dan akhirnya Vivipun bermohon kepada securiti kembali.
"Pak, saya kesini ingin bekerja untuk membantu orang tua saya didesa, mereka butuh saya pak, saya sudah janji sama ayah dan ibu untuk membahagiakan mereka. Tolong saya pak, saya mau keluar dari sini, biar saja saya diluar sana
keliling cari kerja yg penting halal", imbuh Vivi dengan kecemasan dan wajah pucat.
Vivipun berlari mau keluar dan membuka gerbang
tetapi pagar gerbang rumah terkunci, Vivipun semakin dilanda kepanikan.
"Pak tolong bukakan pintu gerbangnya! Vivi mohon tolonglah pak kasihani Vivi", imbuh Vivi sambil bersujud dihadapan para securiti itu.
Securitipun mendirikan Vivi dan berkata:
"Vivi, apa yang sedang kamu lakukan? bukankan
ibu Angel sahabatmu? bermohonlah kepada beliau
dan minta izinlah ke beliau jika mau keluar dari sini, bukan main kabur aja. Kami tidak bisa melakukan apa-apa disini, selain perintah dari pak bos dan ibu Angel . Kami disini hanya melakukan tugas kami sesuai aturan disini," imbuh securiti sembari mendirikan Vivi.
Vivipun berlari sambil menangis naik kelantai dua, dirinya ingin menemui Angel yang berada dilantai tiga. Tetapi Vivi tidak mengerti masuk dan naik kelantai tiga melalui jalur lift, Vivipun memutuskan menemui salah satu asisten rumah tangga yang
kebetulan lagi bersihin ruangan lantai dua itu.
Permisi mbak , bisa mengganggu sebentar?
Ya, ada yang bisa saya bantu non?
Ibu Angel suruh saya menemuinya diruanganya,
tetapi saya tidak mengerti naik keatas menggunakan lift. Tetapi ibu Angel berpesan menyuruh diantar keruanganya oleh salah satu asisten yang berada disini. Percayalah mbak,
ini telepon saya gemgam baru saja usai bicara dengan Angel.
Asisten tersebut pun langsung percaya mengingat Vivi adalah sahabatnya Angel. Tidak menunggu lama Vivipun dibawa menghampiri ruangan ibu
Angel. Lift pun terbuka dan mereka sampai di lantai tiga. Vivi semakin terkejut karena ruangan
lantai tiga jauh lebih megah dan mewah lagi diantara ruangan lainya. Setelah mereka gerak beberapa langkah diruangan tersebut, tiba-tiba langsung dihalangi pria tinggi, besar, berotot dan kekar.
"Mbak kenapa bawa orang laen masuk keruangan ini tanpa izin dulu?" tanya salah satu bodyguard
ke asisten itu.
Ini mbak Vivi sahabat ibu Angel, mereka juga satu desa. Dan non Vivi ini berada dilantai dua, atas izin bu Angel Vivi ingin bertemu dengan nyonya mereka sudah janjian.
Mbak kamu tau sendiri peraturan disini, kan? jika tidak ada konfirmasi langsung dari beliau ke pihak kita, tidak ada yang bisa masuk keruangan ini, siapapun itu.
"Non Vivi, jangan-jangan kamu tipu saya yah ? tanya sang asisten dengan mengerutkan dahinya".
Vivi kalo ibu dan pak bos marahin saya dan memecat saya karena ulahmu, kamu yg harus
bertanggung jawab, saya sangat kecewa terhadapmu , mari kita turun saja.
sudah mbak, kali ini saya ampuni dan tak lapor ke bos, sekarang bawa wanita itu keluar dari ruangan ini.
Tidak, saya tidak mau pergi dari sini sebelum bertemu Angel, dia itu sahabat saya. Saya ingin membicarakan seseatu hal penting terhadapnya.
Vivipun berusaha berjalan mencari keberadaan
Angel dan menerobos halangan para bodyguard-bodyguard itu. Dengan sigap para
bodyguard itupun lengsung menahan Vivi,
tetapi Vivi berusaha melawan tanpa rasa takut sedikitpun.
Lepaskan saya, beraninya kamu menghalangiku, saya hanya ingin bertemu sahabatku, Angel.
Bodyguard itu pun tidak peduli dan menyeret kasar tubuh Vivi untuk keluar dari ruangan tersebut, Vivipun menangis dan menjerit.
Angelll ...Angel, Angel! ini saya Vivi, lihatlah mereka sangat kasar terhadapku.
Angel keluarlah, tolong saya, mereka menyeretku dengan kasar! Angel, saya hanya ingin bicara denganmu Angeeeeel.
Kemudian para bodyguard tersebut berhasil membawa Vivi keluar dan menyeretnya sampai kelantai dua tanpa mempedulikan jeritan dan tangis Vivi. Setibanya dilantai dua, para bodyguard itu mendorong kencang tubuh Vivi dari pintu hingga menuju kamarnya. Tubuh mungil Vivipun
dihempaskan kuat hingga jidatnya terbentur mengenai sudut meja buah yang ada dikamarnya. Kening Vivipun memerah, akibat dari benturan pinggiran meja itu. Vivi semakin histeris mendapatkan perlakuan buruk dari para bodyguard itu.
Bukanya hanya itu aja, bodyguard itu merampas
ponsel Vivi dan membawanya keluar, Vivipun berlari kencang ingin mengambil dan meraih kembali ponselnya, tetapi pintu kamarnya keburu dikunci dari luar. Vivipun semakin menangis histeris dan menjerit sekuat mungkin.
Buka pintunya! bukaa! tolong dibuka, siapapun kamu disana tolong bukakan pintunya, kalian semua jahat. Kenapa kalian juga mengurungku?
Tiba-tiba Vivi ingat perkataan Angel ada tombol dekat tempat tidurnya untuk memanggil para asisten rumah tersebut, berulang kali ditekan tombolnya, tetapi tidak ada siapapun yang datang. Vivipun kembali lagi berusaha mendobrak pintunya tetapi tidak berhasil. Wanita itupun sangat frustasi duduk dan bersandar dipintu kamarnya sambil mencambak-cambak rambutnya. Vivi benar-benar putus asa, dirinya takut dijadikan budak **** seperti ditelevisi dan berita disosmed lainya. Tiba-tiba terlihatnya sebuah pisau buah dimeja kamarnya, Vivi langsung bangkit dan meraih pisau tersebut. Vivi mengangkat pisau buah itu dengan kedua tanganya, ingin menancapkanya menuju perutnya.
Tiba-tiba, Vivi langsung mengingat wajah ayah dan ibunya dan adik-adiknya, nekat tesebut pun terhenti dan Vivi kembali duduk dilantai menangis
histeris.
Ayah, ibu maafkan Vivi, kalian baru saja hampir
kehilangan saya. Ya Tuhan, ampunilah saya ini berikanlah jalan keluar dari masalah ini.
Tidak, tidak seharusnya saya menyerah dengan semudah ini. Saya harus tepati janji saya terhadap
orang tua dan adik saya. Jika saya menyerah dan mati mereka pasti sedih dan sangat kecewa.
"Saya harus mengikuti alur mainya mereka dulu, sampe dimana hebatnya mereka", gumam Tina
sembari menatap langit-langit kamarnya.
bersambung.......
jangan lupa tinggalkan komen, like, vote dan beri
hadiah y, untuk mendukung novel ini
sungguh menarik ceritanya
pagi menyapa tur
good job dekq
seperti sinetron ahhhh