NovelToon NovelToon
INVESTASI CINTA YANG SALAH

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:586
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Oleh: AwandaMw

"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."

Sinopsis:

Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.

Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.

Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 5 Bisikan Racun

🌸🌸🌸

Lampu gantung berbentuk kristal menggantung elegan di atas meja makan bernuansa marmer hitam di salah satu restoran fine dining paling eksklusif di kawasan SCBD. Denting dentangan alat makan berbahan perak dan dentang halus gelas anggur mengiringi suasana malam yang temaram dan intim.

Di sudut meja paling privat, Reno duduk berhadapan dengan Sella. Reno mengenakan kemeja hitam berbahan sutra yang dipadu dengan jam tangan mewahnya, sementara Sella tampil memikat dalam gaun satin dress berwarna merah bata yang mengekspos leher dan bahunya dengan sempurna.

Di atas meja, terhidang dua porsi wagyu ribeye kelas atas dan sebotol anggur merah vintage bernilai puluhan juta rupiah. Semuanya dipesan atas nama anggaran jamuan relasi bisnis Apex Media.

"Gimana ruangan baru kamu, Sel? Semua perabot impornya udah terpasang, kan?" tanya Reno seraya menyesap anggur merahnya, menatap Sella dengan binar mata sarat kekaguman.

Sella menyunggingkan senyum manja, memutar-mutar tangkai gelas anggurnya dengan gerakan anggun. "Sudah, Reno. Sempurna banget. Aku suka banget sama meja kerja kayu walnut yang kamu Pilihin. Terasa beda banget auranya kalau dipimpin sama CEO yang punya taste tinggi kayak kamu."

Reno terkekeh pelan, dadanya membusung penuh rasa bangga. "Buat Direktur Pemasaran baru kita, nggak ada kata setengah-setengah. Yang penting kamu nyaman dan bisa fokus bawa brand Apex Media ke level internasional."

"Soal itu, kamu tenang aja," bisik Sella, matanya menatap Reno tajam dan intens. "Jaringan relasiku di Singapura dan Hong Kong udah mulai lirik portofolio kita. Tapi... ada satu hal yang bikin aku agak kepikiran dari kemarin, Reno."

Reno mengernyitkan dahi, sedikit memajukan tubuhnya. "Kepikiran soal apa, Sel? Ada masalah di kantor?"

Sella mendesah pelan, raut wajahnya berubah menjadi sendu dan prihatin—sebuah akting yang dipoles dengan sangat rapi. Ia meletakkan gelasnya, lalu menopang dagu dengan kedua tangannya seraya menatap Reno lembut.

"Ini bukan soal kantor, tapi soal kamu... dan citra kamu sebagai Top Entrepreneur," ujar Sella pelan, suaranya halus bagai bisikan racun yang mengalun manis.

"Citra aku? Kenapa sama citra aku?" tanya Reno penasaran.

"Reno, kamu sadar nggak sih? Di level bisnis kamu yang sekarang, setiap gerak-gerik kamu itu disorot sama media, investor, dan pejabat tinggi," kata Sella seraya memiringkan kepalanya.

"Kemarin waktu perayaan lima tahun Apex Media, beberapa kolega bisnisku dari asosiasi pengusaha sempat bisik-bisik ke aku.

Mereka nanya... siapa cewek bergaun hitam kusam yang berdiri sendirian di dekat pilar belakang?"

Wajah Reno mendadak mengencang. Otot rahangnya mengeras saat menyadari siapa yang dimaksud Sella.

"Nadia..." gumam Reno dengan nada ketus yang mulai tersulut.

"Iya, istri kamu," sambung Sella cepat, memanfaatkan momen ketika ego Reno mulai goyah. "Mereka kaget banget waktu tahu itu istri dari CEO muda tersukses tahun ini. Penampilannya kaku, nggak ada aura wanita karier atau sosialita sama sekali, dan maaf ya... penampilannya bener-bener merusak estetik keberhasilan kamu malam itu."

Reno mengepalkan tangannya di bawah meja. Kata-kata Sella menghantam tepat di titik harga dirinya yang paling sensitif. Selama ini, Reno memang kerap merasa canggung jika harus membawa Nadia ke acara-acara besar yang dihadiri oleh para pebisnis papan atas. Penampilan Nadia yang selalu sederhana dan enggan memamerkan kekayaan membuat Reno merasa "kurang bergengsi" dibanding rekan-rekan pengusaha lainnya.

"Aku udah berulang kali nyuruh dia dandan yang bener, Sel," dengus Reno gusar. "Aku udah tawarkan uang buat beli baju mahal atau perhiasan, tapi dia selalu menolak. Alesannya selalu sama: hemat, nggak penting, dan mending uangnya disimpan. Pikirannya kaku banget, mirip orang zaman dulu!"

Sella tersenyum tipis di balik sapuan lipstiknya, tahu betul bahwa usahanya menghasut mulai berhasil sepenuhnya.

"Itu dia masalahnya, Reno," bisik Sella seraya mengulurkan tangannya di atas meja, menyentuh punggung tangan Reno dengan lembut. "Nadia itu bukan cuma kaku, tapi dia adalah beban citra buat kamu. Dia wanita dari masa lalu kamu, masa di mana kamu masih belum jadi siapa-siapa."

Reno menatap jemari Sella yang mengelus punggung tangannya, merasakan sensasi hangat yang membuat logikanya makin tumpul.

"Wanita seperti Nadia itu cocoknya hidup di masa lalu kamu yang serba prihatin, Reno. Tapi di level kamu yang sekarang... kamu butuh wanita yang bisa terbang sejajar sama kamu," lanjut Sella dengan tatapan memikat. "Kamu butuh sosok pendamping yang bisa jadi aset kemewahan kamu, bukan wanita rumah tangga yang cuma tahu dapur dan selalu membatasi ambisi besar kamu dengan alasan 'hemat'."

"Beban citra..." ulang Reno pelan, kata-kata itu seperti terpatri kuat di dalam pikirannya.

"Coba kamu pikir baik-baik," desak Sella lagi, memiringkan tubuhnya lebih dekat. "Setiap kali kamu mau melangkah lebih tinggi, mengambil risiko bisnis besar, Nadia pasti selalu ngomongin soal risiko, ketakutan, dan hemat, kan? Dia nggak punya visi sebesar kamu. Secara nggak langsung, dia itu menahan laju kesuksesan kamu sendiri. Dia bikin kamu kelihatan lambat!"

Reno menarik napas panjang, menghembuskannya dengan kasar.

Pikiran Reno kini sepenuhnya teracuni. Mengingat bagaimana Nadia tadi pagi mengingatkannya soal risiko dan teori keuangan, Reno merasa bahwa pesan Sella sangat masuk akal. Di mata Reno yang sedang buta oleh kesombongan, Nadia bukan lagi istri yang setia menemani dari bawah, melainkan penghalang utama bagi kejayaannya untuk melesat lebih tinggi.

"Kamu benar, Sel," aku Reno dengan suara berat dan mata berkilat dingin. "Nadia emang nggak pernah paham seberapa besarnya nama aku sekarang. Dia cuma tinggal di rumah menikmati fasilitas dari aku, tapi pikirannya tetep cupet."

Sella tersenyum amat manis, membalas tatapan Reno dengan binar penuh kepuasan.

"Makanya, Reno... kamu harus mulai tegas. Jangan biarkan pola pikir Nadia yang kaku itu merusak apa yang sudah kamu bangun. Kamu itu pemimpin, kamu penguasa di Apex Media. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik di hidup kamu... termasuk pendamping yang sepadan."

Malam itu, di bawah keremangan lampu restoran mewah dan pengaruh anggur mahal, benteng moral Reno runtuh sepenuhnya. Bisikan Sella telah berhasil mengubah rasa hormat Reno yang tersisa untuk istrinya menjadi rasa jijik dan penyesalan karena telah menikahi wanita yang ia anggap "tidak sederajat".

Sementara itu, di kediamannya yang sunyi, Nadia masih duduk di depan layar laptopnya.

Layar monitor menampilkan pemberitahuan transaksi real-time dari kartu kredit korporat atas nama CEO Apex Media.

> Transaksi Berhasil: Rp28.500.000 - Le Grand Restaurant SCBD.

> Kategori: Jamuan Operasional & Marketing.

>

Nadia menatap layar itu selama beberapa detik. Ia tidak perlu menebak siapa yang duduk bersama Reno di restoran paling romantis di Jakarta pada pukul sembilan malam.

Nadia mematikan layar laptopnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, menatap langit malam Jakarta yang pekat tanpa bintang. Udara dingin berhembus lembut, membelai wajahnya yang tenang tanpa ekspresi.

Tidak ada air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Rasa sakit di hatinya telah mengkristal menjadi tekad yang bulat.

"Beban citra, ya?" bisik Nadia pelan pada angin malam, seolah ia bisa mendengar setiap bait percakapan Reno dan Sella di restoran itu.

Nadia menyunggingkan senyum paling dingin yang pernah ia miliki.

"Kita lihat saja nanti, Reno... siapa yang sebenarnya menjadi beban, dan siapa yang memegang kendali atas seluruh napas hidupmu."

🌸🌸🌸

1
falea sezi
lanjut
Arieee
laki" mokondo yang terlalu percaya diri🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!