GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer
Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.
Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.
Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 "Makhluk Pasir"
Chapter 5
Beberapa minggu setelah misi itu tim Grey Wings melakukan latihan fisik diwaktu senggang. Semua personil memakai battle suit kecuali Belial. Zhou dan Huah sengaja memancing emosi Belial. “hey! Nona bertanduk.. mana Battle Suit mu?” ucap Zhou dengan nada mengolok. “ahh pasti belum dicuci ya” ucap Huah yang terdengan mengejek. Belial yang tak tahan berdiri dan mendekat. Sua dan Lei mulai khawatir. “apa?!” ucap Zhou dengan nada menantang. “aku telah menolongmu.. dan ini balasan kalian padaku? Dasar manusia tak tau malu” ucap Belial dengan nada rendah namun kesal. “heh! Kau itu kuat karena Gear milikmu! Kami terbantu oleh Gear mu bukan kamu!” ucap Huah dengan nada mengejek. “bisakah kalian memiloti Eagle dengan kesadaran penuh? Tanpa rasa sakit?” mendengar ucapan Belial semua terdiam. Shin membela Belial. “seharusnya kalian berterima kasih pada Belial, tanpanya kita mungkin tidak akan berdiri disini dengan selamat..” ucapan itu menjadi renungan untuk mereka. Belial menatap Shin dengan campuran heran dan kagum “kenapa orang ini.. begitu baik padaku” gumamnya.
Bukannya ikut merenung Sei malah menantang Belial berduel. “begini saja Belial.. kami berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan kami.. tapi.. untuk validasi.. ayo kita bertanding.. buktikan jika kau layak dihormati..” ucap Sei dengan nada sombong. Belial pun mengiyakan ajakan Sei, hal itu membuat Shin khawatir. Belial berduel dengan Sei tanpa battle suitnya, masih dalam seragamnya. Sei mengayunkan pisau kearah Belial namun Belial menghindari semua serangannya dengan mudah. Belial menendang dada Sei merebut pisaunya dan menjatuhkan Sei dengan mudah. Duel dimenangkan Belial dengan mudah. Membuat semua orang tercengang. Di Garage Belial mendangak menatap Gear Eagle miliknya.
Shin mendekat, suaranya lembut seakan takut memecah jarak di antara mereka. “Belial… tombak Eagle terlihat unik… berbeda dengan tombak pada umumnya…” ucapnya pelan. Belial menoleh singkat, sorot matanya dingin namun sarat pengetahuan. “Tombak itu didesain bukan untuk menusuk… tapi merusak…” jawabnya datar. “Kurasa itu cara eksekusi yang mengerikan,” ucap Shin, alisnya berkerut. Belial menarik napas tipis. “Justru kebalikannya… dengan tombak biasa butuh tiga sampai empat detik untuk mencapai core, itu pun belum tentu membunuhnya… namun tombak itu hanya butuh nol koma tiga empat satu detik hingga paling lama dua detik. Begitu tombol pada gagang kutekan, energi ledakan merambat ke ujung tombak, dan dalam sekejap core hancur. Cataclysm bahkan tidak menyadari jika dirinya sudah mati…” katanya, suaranya seperti bisikan yang dingin. Hening sesaat, lalu Belial menatap Shin penuh tanya. “Ngomong-ngomong… kenapa kamu tidak takut, atau setidaknya membenciku?” Shin tersenyum tipis, namun matanya jujur. “Takut? Kenapa aku takut? Aku justru suka melihatmu… setiap aku melihatmu, rasanya seperti aku lebih tenang… dan jantungku berdebar kencang.” Belial terdiam, tangannya perlahan menyentuh dada Shin, merasakan getaran yang nyata. “Ya… aku merasakan detak jantungmu… bukan karena rasa akan segera mati… tapi karena sesuatu yang asing…” ucapnya dengan heran, seolah tak mengerti emosi yang mulai tumbuh. Mereka berdua duduk di atas pundak Eagle.
“Ngomong-ngomong… apa di sini pernah hujan?” tanya Belial tiba-tiba. “Yeah… namun hanya beberapa kali saja,” jawab Shin. Tatapan Belial menerawang jauh. “Aku… ingin berdiri di tengah hujan,” ucapnya lirih. Shin memandangnya heran. “Kenapa begitu?” Belial menghela napas panjang. “Karena hujan adalah bagian dari alam… dan alam selalu mengingatkanku pada sesuatu yang tak pernah kulupakan…”.
Di perpustakaan yang sunyi hanya terdengar suara lembut lembaran kertas yang dibalik. Elas duduk dengan tenang, matanya fokus pada buku tebal di hadapannya. Tak lama, langkah pelan terdengar mendekat. “Elas? Sedang menghabiskan waktu dengan buku-buku itu?” ucap Lei dengan nada geli sambil menyandarkan bahunya ke rak. Elas menoleh singkat, alisnya terangkat sedikit. “Lei… ada apa? Tumben sekali kau ke perpustakaan…” tanyanya heran. Lei terkekeh kecil. “Hey… bukan berarti aku tidak suka membaca buku, ya,” jawabnya sambil menyapu pandangan ke sekeliling rak yang sunyi. Hening beberapa saat, hingga Elas tiba-tiba menutup bukunya setengah jalan dan bertanya dengan suara lirih. “Apa itu… cinta?” Pertanyaan itu membuat Lei terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. “Cinta? Yeah… saat di mana seseorang menganggapmu lebih dari sekadar sahabat, teman, atau keluarga…” jawab Lei pelan. Elas menggeleng tipis, matanya menatap kosong ke arah jendela. “Itu lebih seperti kasih sayang…” katanya lirih. Lei menarik napas, kini ikut bimbang. “Kau benar… lantas… apa bedanya cinta dan kasih sayang?” gumamnya, suara mereka berdua tenggelam dalam kesunyian perpustakaan.
Tiba tiba alaram bahaya berbunyi. Semua anggota masuk keruang Brifing. “Cataclysm kelas Archangles bertipe Worm muncul disebelah utara menuju Station 5” ucap komandan Ace “Belial.. walau Eagle belum mendapat ijin.. tapi karena ini misi yang berbahaya tolong awasi mereka dilapangan” awalnya Belial terlihat enggan namun begitu ia melihat Shin sulit untuk mengatakan tidak Belial.
Kini semua personil turun ke lapangan dan segera menyebar dalam formasi. Deru mesin Neo Gear mengguncang tanah ketika Phoenix, Feng Huang, Red Kite, Sparrow, dan Pigeon bergerak ke sisi belakang, menahan bagian ekor Cataclysm agar makhluk itu tidak bisa berbalik. Sementara Stork, Swan, Cassowary, Raven, dan Eagle meluncur ke sisi depan, melilitkan tali dan menekan bagian kepala yang terus meronta liar. “Target terkunci… Zhou, sekarang!” suara Sua menggema dari dalam kokpit Swan, tajam memberi aba-aba. Feng Huang melompat tinggi, cahaya baja tombaknya berkilat saat menembus daging Cataclysm, namun hanya melukai—tidak mencapai core. Makhluk itu meraung murka, suaranya mengguncang udara, lalu ekornya bertransformasi menjadi capit raksasa yang menjepit tubuh Feng Huang dengan keras. “Zhou!!” teriak Huah panik dari kokpit Phoenix, dadanya berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, Phoenix melompat maju, tombaknya menghantam deras dan menebas ekor Cataclysm, suara logam beradu dengan daging menggelegar di udara. Jepitan pun terlepas, dan Feng Huang terbebas dari maut. Zhou yang masih terguncang hanya sempat bergumam lirih, “Eh… eumm… terima kasih…” ucapnya gugup, nafasnya terengah. “Dasar bego!!” bentak Huah keras dari dalam Phoenix, suaranya penuh amarah bercampur lega.
Cataclysm itu tiba-tiba menggali tanah dengan tubuh raksasanya, meninggalkan pusaran debu dan tanah berhamburan ke udara. Swan segera melompat mendekat, tombaknya siap menusuk, namun langkahnya mendadak terhenti ketika Eagle menahan dengan kokohnya. “Apa?!” teriak Sua dari dalam kokpit, wajahnya menegang karena tak terima langkahnya dihentikan. Belial, berbeda dari biasanya, suaranya terdengar waspada dan dingin. “Itu jebakan…” katanya pelan namun penuh tekanan. Sua terdiam sejenak, matanya menyipit. “Apa maksudmu?” tanyanya, nada heran bercampur kesal. Holo-sensor Eagle menyorot ke tanah, memperlihatkan peta samar lapisan pasir di bawah mereka. “Tujuh puluh persen daerah yang kita pijak adalah pasir longgar. Cataclysm itu membuat rongga… jebakan raksasa. Jika kau masuk ke lubangnya, pasir di sekitarnya akan runtuh, menelanmu hidup-hidup. Tidak ada jalan keluar di antara celah rongga itu.” Suara Belial datar, namun di baliknya terasa tajam seperti peringatan maut.
Benar saja, tanah di sekitar mereka tiba-tiba ambruk, menciptakan retakan besar yang bergemuruh hingga debu menutup pandangan. “Kapten… ada tanah keras berjarak tiga kilometer dari titik ini!” seru Elas dari kokpit Cassowary sambil memantau sensor. “Pancing dia ke sana!” perintah Sua cepat, suaranya penuh tekanan. “Baik, Kapten!” jawab tim serentak, hanya Belial yang tetap diam, matanya tajam mengamati pergerakan makhluk itu. Feng Huang melaju cepat, memancing Cataclysm agar mengikutinya. Gerakan monster itu terhambat oleh tali tombak Phoenix yang melilit tubuhnya, setiap hentakan menghasilkan suara logam yang menegang. Saat Cataclysm itu berusaha keluar jalur, Sparrow segera menembakinya bertubi-tubi, rudal meledak menahan langkahnya. Menyadari dirinya sedang dijebak, makhluk itu meraung murka dan mencoba berbalik, namun jalannya telah dihadang oleh Swan dan Raven. Kedua Gear itu menekan keras, mendorong tubuh raksasa itu ke wilayah tanah keras, membuatnya tak lagi mampu menggali. Stork dan Cassowary maju serentak, menahan rahang Cataclysm agar tetap terbuka. Dalam detik berikutnya, Eagle meluncur dengan kecepatan penuh, tubuhnya menembus daging dan lapisan keras makhluk itu, menerobos lurus ke dalam hingga mencapai core. Sebuah cahaya menyilaukan meledak dari dalam, menghancurkan tubuh Cataclysm itu dari pusatnya. Ledakan darah oranye Cataclysm menghujani tanah. Hening menyelimuti medan, hanya suara napas berat para pilot yang masih bergema di dalam kokpit masing-masing. Misi pun berakhir.
Di Garage, Huah tiba-tiba berlari dan langsung memeluk Zhou erat-erat. “Dasar bodoh… jangan seperti itu lagi… aku khawatir tau?!” ucapnya dengan suara bergetar, air mata menetes di pipinya. Zhou sempat kaku, namun akhirnya membalas pelukan itu dengan canggung. “Iya deh… lain kali aku akan lebih berhati-hati,” katanya, suaranya gugup namun tulus. Anggota tim lain yang melihat momen itu hanya tersenyum hangat, seolah rasa lega mereka menemukan wujudnya di dalam kebersamaan kecil itu. Shin ikut tersenyum tenang melihat pemandangan tersebut, hingga tiba-tiba Sua menepuk punggungnya. “Kerja bagus… adik…” ucap Sua, wajahnya agak memerah karena malu. Shin menoleh sambil tersenyum lembut. “Terima kasih… kakak,” jawabnya tulus. Sua tersipu, menunduk sedikit untuk menyembunyikan rona wajahnya. Dari kejauhan, Belial hanya berdiri diam, menatap mereka tanpa ekspresi, namun dalam hatinya suara itu bergema. “Profesor… apa ini yang kau maksud dengan kasih sayang? Lalu… apa bedanya dengan cinta…” gumamnya lirih, seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Di ruang briefing, Komandan Ace menghela napas lega setelah misi berakhir sukses. “Meluncurkan Eagle tanpa izin The Hawk? Keputusan yang berani,” suara asing tiba-tiba terdengar, membuat Komandan Ace terlonjak kaget hingga hampir menjatuhkan tab di tangannya. Ia menoleh cepat, mendapati Profesor Jing berdiri di ambang pintu tanpa aba-aba. “Aku terkejut orang sepenting anda mampir kemari lagi… ngomong-ngomong, apa di Highlander tidak ada budaya mengetuk pintu?” ucap Ace, mencoba melucu, meski nadanya tetap tegas. Profesor Jing tersenyum samar, tatapannya tajam menembus layar holo. “Aku hanya heran… emosi Belial bisa terkontrol semenjak bergabung dengan kalian. Itu… sesuatu yang sekaligus mengagumkan dan mencurigakan.” Komandan Ace menyilangkan tangan, pandangannya tak lepas dari layar. “Dilihat-lihat… personil Shin menunjukkan rasa ketertarikan pada spesimen itu.” Nama Belial ia sebut dengan nada berat. Jing mendekat, matanya menyipit penuh minat ketika menatap rekaman gambar Shin dan Belial duduk di pundak Eagle. “Hmmm… menarik…” gumamnya. Senyumnya tipis, hampir tak terlihat, sebelum lirih ia menambahkan kata-kata yang menebarkan hawa dingin. “Kisah lama… akan terulang kembali.” Ace menatap balik Profesor Jing seakan mengingat sesuatu kejadian lama.