NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 "LOH?! KAMU MASIH ADA DISINI?!"

Entah kenapa, siang ini, aku seperti enggan untuk pulang duluan ke rumah saat Harum masih mengaji di pendopo bersama Nada.

Rasanya...

Aku benar-benar ingin melihat anak angkatku itu mengaji.

Rasanya...

Terlalu mahal nilainya kalau sampai aku melewatkan kesempatan seperti itu.

Bisa melihat Harumku belajar ngaji, menimba ilmu agama bersama teman-temannya, bertambah pengetahuannya, adalah sebuah anugerah besar bagiku.

Sekali lagi, meski aku ini bukan ibu kandung Harum, tapi aku merasa seperti ibu kandungnya.

Akhirnya, aku duduk saja di kursi teras rumah Bu Fatimah, sambil terus memperhatikan anakku itu belajar.

Toh, mengajinya mereka juga tak terlalu lama. Hanya sekitar satu jam saja. Sama seperti dulu saat aku yang masih mengajar di pendopo itu.

.....

.....

"Nis, bengong aja kamu!"

Aku kaget sedikit, mendengar suara Bu Fatimah yang keluar dari dalam rumahnya.

"Eh, Ya Alloh, maaf Bu, saya duduk disini tapi belom izin sama Ibu." kataku.

Aku pun langsung berdiri, mencium tangan kanannya dengan penuh rasa hormat.

"Ah, enggak apa-apa. Kamu tuh, masih aja kayak dulu Nis."

"Hehehe... Maafin Nisa ya Bu, udah gak sopan, duduk sembarangan." kataku.

"Udah, kamu kayak siapa aja sih disini? Kan kamu udah seperti keluarga Ibu sendiri loh dari dulu Nis..." kata Bu Fatimah, dengan wajahnya yang tersenyum penuh keteduhan.

"Lagi anter Harum ya?" tanya Bu Fatimah kemudian.

"Iya Bu..." jawabku.

"Masya Alloh... Hehehe..."

Bu Fatimah malah memandangiku dengan tatapan yang amat bahagia. Dan aku jadi sedikit heran dibuatnya.

"Kenapa toh Bu? Liatin saya kayak gitu..."

"Hehehe... Hebat kamu Nis!"

Aku semakin heran, apa maksudnya?

"Hebat kenapa toh Bu?" tanyaku akhirnya.

Bu Fatimah pun duduk di kursi, dan aku juga ikut duduk lagi di sebelahnya.

"Ya hebat dooong..." kata Bu Fatimah.

"Ya hebat? Maksudnya gimana sih Bu?"

Bu Fatimah mengalihkan pandangannya dariku.

Ia menatap ke arah pendoponya itu.

Terdengar suara Nada yang mengajar, bercampur suara anak-anak yang sesekali sambil bercanda.

Lalu, Bu Fatimah berkata, "Kamu tuh hebat Nisa."

Aku diam saja, menunggu ucapan Bu Fatimah selanjutnya.

"Dulu... Waktu kamu masih ngajar di sini, kamu tuh gadis yang polos. Gadis yang tulus. Gadis yang ikhlas." katanya.

Aku masih memandangi wajah istri Ustadz Furqon itu.

"Terus, semua yang udah terjadi di masa lalu, kamu berkembang jadi gadis yang berbeda Nisa." tambahnya.

Kini, Bu Fatimah memandangku.

"Kamu bisa melewati semuanya sampai detik ini Nis. Hebat!" katanya lagi.

Aku sebenarnya paham dengan maksud dari ucapan istri Ustadz Furqon itu.

Tapi aku dengan sopan, hanya mengangguk saja.

Tak menjawabnya.

Tak membantahnya.

"Sampai kamu bisa bantu suami saya mengurus pondok putri di Kediri, sampai kamu mengalami semua kejadian di masa lalu itu Nis. Kamu hebat!" tambah Bu Fatimah menyanjungku.

Dan aku semakin paham apa maksud ucapannya.

Kini, aku jadi memandang ke arah pendopo.

Aku melihat semua anak-anak itu.

Termasuk juga, aku melihat Harumku.

Dan, Bu Fatimah kembali berkata, "Sampai kamu bisa bertemu anak itu Nisa.."

Masih dengan pandanganku ke arah Harum, aku menjawab, "Iya Bu..."

Tak terasa, mengembang juga senyuman di bibirku.

"Nisa..." panggil Bu Fatimah.

Aku memandangnya lagi.

"Semoga, kamu benar-benar jadi sosok Ibu yang baik buat anak itu ya Nis." ucapnya sambil membelai tangan kananku.

Aku semakin tersenyum.

Kusentuh juga tangan Bu Fatimah.

"Iya Bu, Aamiin..." jawabku.

.....

.....

Singkat waktu, akhirnya kegiatan mengaji di pendopo pun selesai.

Aku berjalan mendekat ke pendopo.

Bahkan, aku ikut masuk.

Nada menutup semua kegiatan mengaji itu dengan meminta Harum untuk membaca doa bersama.

"Hah? Kok aku Bu?" respon Harum kaget.

"Biasanya Haris yang pimpin doa..." keluhnya lagi.

Aku yang melihat tingkah Harum seperti itu, jadi tertawa kecil di belakang.

"Iya dong Harum, kan gantian. Biar semuanya bisa baca doa." kata Nada.

"Yaaah... Jangan aku dong Bu Nadaaa... Aku maluuu..." kata Harum.

"Yeeeh... Jangan malu dong Rum!" kata Haris.

"Aaah... Gak mau aaah... Kamu aja Ris!" kata Harum.

Semua teman-teman Harum mulai meledek anakku itu.

Aku tak marah melihatnya.

Malah, aku merasa itu adalah tantangan yang bagus buat Harum.

Dan akhirnya, aku menyela mereka.

"Ayok Nak! Kamu pasti bisa kok baca doa buat temen-temen kamu!" kataku dari belakang.

"Naaah... Bener tuh! Ayok! Harum! Harum! Harum!" Farhan memberikan semangat.

"Harum! Harum! Harum! Harum!" ucap teman-temannya yang lain menyemangati anakku itu.

Akhirnya, dengan ekspresi agak manyun, mau tak mau, anakku pun belajar untuk membaca doa penutup selesai mengaji.

Dan semuanya tenang.

Dan, mereka semua, termasuk aku, mengangkat kedua tangan saat anakku itu mulai membaca doa.

Setiap kalimat doa, diucapkan dengan baik, walau ada beberapa kali anakku itu seperti terlupa dengan doanya.

Aku mengucapkan "Amin" di setiap baris doa yang diucapnya.

Kembali hadir rasa haru dalam hatiku.

Ternyata, Harum, kini sudah hafal doa penutup pengajian.

"Robbanaaa... Aatinaa... Fidunyaaa... Hasanah. Wafil aakhiroti hasanah. Waqinaa... Adzabannaar... Walhamdulillah hirobbil alamiin..." ucap anakku, selesai doa.

Semuanya mengucapkan "Amin" serentak, sambil mengusap wajah.

"Naaah... Kamu bisa kaaan?" kata Nada.

"Hehehehe..." anakku malah cengengesan.

Akhirnya, semua anak-anak berdiri rapi. Dan mulai satu persatu, bersaliman dengan Nada.

Sebagian besar mereka pulang dengan berjalan kaki. Ada juga yang dijemput oleh orang tuanya.

Dan, aku serta Harum, kembali pulang sambil berjalan kaki.

.....

.....

Singkat cerita, aku pulang bersama Harum. Melewati jalan desa yang biasa dilewati sejak dulu saat aku masih mengajar. Sama seperti tadi saat berangkat.

Dan seperti biasa, beberapa warga yang berpapasan dengan kami, menyapa singkat dengan hangat.

Dan...

Akhirnya...

Sampailah kami berdua di sebuah jalan.

Sebuah jalan, yang tepat melewati area pemakaman desa.

Kini, kondisi pemakaman itu sudah jauh lebih rapi dari pada waktu dulu.

Seluruh area pemakaman itu sudah dipasangi pagar tembok yang cukup tinggi. Sehingga barisan makam-makan di dalamnya tak bisa terlihat dari luar.

Namun, ada satu bangunan di sana, yang berada tepat di sebelah pintu gerbang pemakaman itu.

Bangunan itu...

Adalah pos area makam.

Meski bangunannya juga sudah permanen, akan tetapi...

Saat aku melihatnya...

Seketika ingatanku kembali lagi ke masa lalu.

"Bu? Kok jadi pelan sih jalannya?" tanya Harum.

"Enggak apa-apa Nak." jawabku.

"Ibu liat apa?"

"Emm... Liat makam." jawabku dengan sembrono.

Aku juga jadi tak mengerti, kenapa bisa aku malah menjawab enteng seperti itu pada Harum?

"Hah? Liatin makam? Emang kenapa Bu makamnya? Rusak?" tanya Harum dengan polosnya.

"Enggak kok, enggak rusak Rum."

"Terus kenapa malah Ibu liatin? Ayok ah! Jalannya cepetan Bu! Takut aku jadinya!" kata anakku, sambil menarik tanganku yang menuntunnya agak keras.

"Eh, iya-iya... Pelan-pelan ah jalannya! Nanti kesandung loh kamu Rum!" kataku.

Akhirnya, aku pun sedikit mempercepat langkah, mengikuti irama langkah anakku.

Dia masih berjalan dengan tongkatnya di tangan kanan, dan tangan kirinya aku tuntun.

Namun...

Terjadi dengan sangat cepat...

Dan aku seperti tak menyadarinya...

"Gubrak!!!" anakku tersandung sesuatu di depannya.

"Aduh!!!" respon Harum spontan.

"Eh?! Astaghfirulloh!! Aduh, kan udah Ibu bilang Rum, pelan-pelan aja jalannya..." kataku.

Aku membangunkannya.

Kubersihkan rok gamisnya yang sedikit kotor.

Akan tetapi, ada sebuah keanehan di pandangan mataku.

Tepat di antara kedua kaki anakku itu, ada sebuah kayu ranting agak besar.

"Loh? Dari kapan ada kayu disini?" gumamku.

Sontak, aku jadi mendongak ke atas.

Kulihat barisan cabang-cabang pepohonan di atas sana.

"Perasaan, gak ada kayu jatoh dari tadi deh?" gumamku lagi.

Harum, masih berusaha membersihkan rok gamisnya sendiri.

Kuacuhkan saja keanehan itu.

"Kamu gak apa-apa kan Nak?" tanyaku.

"Enggak apa-apa Bu, aku cuma kayak kesandung sesuatu aja barusan." jawabnya.

"Ya udah, ayok, jalan lagi. Pelan-pelan aja ya. Kan ada Ibu disini." kataku.

.....

.....

Namun...

.....

.....

Ketika baru saja kaki kami berdua hendak berjalan lagi...

.....

.....

Tiba-tiba, aku menahan tangan anakku.

Harum tak jadi melangkah, sama sepertiku.

.....

.....

Aku menarik napas, dan menghembuskannya dengan agak kesal.

Tapi, bukan kesal karena Harum.

.....

.....

Melainkan kesal, karena...

Di depan kami, berjarak beberapa meter saja, telah berdiri satu sosok.

.....

.....

Sosok itu...

GILANG.

.....

.....

Dengan mendengus sedikit kesal, aku berkata spontan pada sosok Gilang itu.

"Loh?! Kamu masih ada disini?!"

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!