Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Kediaman Liem
Sore itu, Sekar belajar bahwa rasa sakit bisa memakai pakaian yang sangat rapi.
Blus lengan panjangnya menutup punggung yang masih berdenyut. Kerahnya tinggi, kainnya lembut, warnanya putih gading seperti perempuan baik-baik dari keluarga baik-baik. Jika ia berdiri cukup tegak, tidak ada seorang pun di Kediaman Liem yang akan tahu bahwa di balik kain itu ada garis-garis panas yang membuat napasnya tertahan setiap kali mobil melewati jalan berlubang.
Di sampingnya, Kevin sibuk menatap ponsel.
Ia tidak bertanya kenapa Felicia datang terlambat dari rumah Tan. Tidak bertanya kenapa wajahnya pucat. Tidak bertanya kenapa ia duduk terlalu hati-hati di dalam mobil.
Sesekali layar ponselnya menyala.
Celine.
Sekar menatap jendela.
Pintu gerbang Kediaman Liem terbuka perlahan. Rumah besar itu berdiri di tengah tanah luas Menteng seperti sisa zaman kolonial yang menolak tua. Pilar putih, jendela tinggi, atap gelap, halaman yang dipangkas terlalu sempurna. Bukan rumah. Lebih seperti wilayah kekuasaan.
Mobil berhenti di depan tangga utama.
Seorang kepala pelayan membuka pintu. "Nona Felicia. Koh Kevin. Tuan Besar sudah menunggu."
Sekar turun. Punggungnya menjerit saat kakinya menyentuh lantai batu, tetapi wajahnya tidak berubah.
Kevin berjalan lebih dulu, seolah ia datang sendiri. Sekar mengikuti setengah langkah di belakang. Di dalam aula utama, udara terasa dingin karena pendingin ruangan dan sesuatu yang lebih sulit dinamai. Semua benda di ruangan itu mahal, tetapi tidak ada yang terasa hangat. Vas antik, meja kayu gelap, lukisan tua, lampu kristal. Setiap sudut seolah memiliki mata.
Engkong duduk di kursi utama.
Liem Boen Hwa tampak lebih kecil daripada kekuasaan yang mengelilinginya, tetapi ketika ia mengangkat mata, seluruh ruangan seperti berhenti menunggu izinnya untuk bernapas. Di sisi kanan ada seorang pria di kursi roda, tubuhnya kurus rapi, selimut tipis menutupi kakinya. Wajahnya tenang dan pucat.
Darren Liem.
Di belakang Darren berdiri seorang perempuan bergaun biru muda. Senyumnya lembut, hampir menenangkan.
Jesslyn Yun.
Sekar menunduk mengikuti Kevin. "Engkong."
Sapaan itu terasa asing di mulutnya, tetapi ia sudah dilatih. Sebagai calon menantu keluarga Liem, ia harus memanggil patriarki itu seperti keluarga.
Engkong tidak segera menjawab. Tatapannya turun ke wajah Sekar, lalu ke tangan, lalu ke cara ia berdiri.
"Kamu tampak lelah, Felicia."
Kevin akhirnya menoleh sekilas, seolah baru ingat calon istrinya punya wajah.
Sekar tersenyum kecil. "Acara semalam cukup panjang, Engkong."
"Panjang untuk semua orang." Engkong mengetuk ujung tongkat ke lantai. "Tapi tidak semua orang terlihat seperti baru pulang dari perang."
Darah Sekar berdesir.
Jesslyn tersenyum lebih lembut, tetapi Darren mengamatinya dengan mata yang terlalu jernih.
Kevin tertawa ringan. "Felicia memang mudah gugup, Engkong. Maklum, belum terbiasa dengan acara keluarga besar."
Engkong tidak melihat Kevin. "Aku bertanya pada Felicia."
Kevin terdiam.
Sekar menahan napas. Ada sesuatu yang tajam sekaligus anehnya melindungi dalam kalimat itu, tetapi ia tidak berani memercayainya.
"Saya akan belajar," jawabnya. "Saya tidak ingin mempermalukan keluarga Tan maupun keluarga Liem."
"Belajar," ulang Engkong. "Kata yang bagus."
Ia memberi isyarat kepada kepala pelayan. Dua pelayan masuk membawa kotak kayu panjang. Kotak itu diletakkan di meja rendah di depan Engkong. Ketika tutupnya dibuka, aroma kayu tua dan kertas lukisan yang disimpan lama perlahan keluar.
Di dalamnya ada sebuah gulungan lukisan.
Pelayan membukanya dengan hati-hati.
Sekar melihat cabang plum tipis di tengah salju, tinta hitam yang dingin tetapi hidup, bunga-bunga kecil yang seperti bertahan melawan musim. Ia tidak mengerti barang antik, tetapi tubuhnya mengenali keindahan sebelum otaknya sempat menilai harga.
"Lukisan Mei Dingin," kata Engkong. "Hadiah untuk calon pengantin."
Kevin tampak terkejut. "Engkong, itu koleksi..."
"Aku tahu milikku sendiri."
Kevin langsung menutup mulut.
Engkong menatap Sekar. "Orang bilang bunga plum bagus karena mekar saat dingin. Tapi banyak orang lupa, yang membuatnya mahal bukan karena ia cantik. Melainkan karena ia tidak mati ketika seharusnya mati."
Sekar menatap lukisan itu.
Kalimat itu menyentuh sesuatu yang terlalu dalam. Ia ingin percaya bahwa Engkong hanya sedang bicara tentang lukisan. Tetapi di rumah ini, sepertinya tidak ada satu pun kalimat yang hanya berarti satu hal.
"Terima kasih, Engkong," katanya.
"Simpan baik-baik."
"Saya akan menjaganya."
Dari sisi ruangan, Darren tertawa kecil. "Engkong memberi hadiah sebesar itu pada orang yang baru masuk keluarga. Felicia pasti sangat istimewa."
Suaranya lembut. Tidak ada hinaan di sana. Justru itu yang membuat kulit Sekar meremang.
Engkong menoleh. "Kamu keberatan?"
"Mana berani." Darren tersenyum. "Saya hanya iri."
Jesslyn meletakkan tangan di bahu suaminya. "Darren bercanda, Engkong."
"Di rumah ini," kata Engkong, "orang bercanda dengan wajah terlalu serius."
Tidak ada yang tertawa setelah itu.
Kepala pelayan kemudian membawa Sekar berkeliling Kediaman Liem. Kevin menghilang setelah menerima telepon, dengan alasan menemui orang bagian akuisisi. Sekar tidak bertanya. Ia mengikuti pelayan melewati lorong panjang, ruang makan keluarga, perpustakaan, dan taman dalam yang dikelilingi paviliun.
"Itu Paviliun Mei, tempat Nona akan tinggal sementara," kata kepala pelayan.
Sekar melihat bangunan kecil di sisi taman, dikelilingi pohon dan batu jalan setapak. Tidak jauh dari sana, melewati rumpun bambu, terlihat paviliun lain yang lebih tertutup.
"Paviliun Bambu?" tebak Sekar.
Pelayan menatapnya sejenak. "Tempat Koh Dua saat berada di rumah besar."
Renard.
Hanya mendengar tempat tinggalnya disebut membuat punggung Sekar berdenyut dengan cara yang bukan hanya karena luka.
"Nona Felicia?"
Sekar menoleh.
Jesslyn berdiri di dekat kolam kecil, sendirian. Dari dekat, kelembutannya terasa lebih nyata. Mata perempuan itu tidak setajam Celine, tidak sedingin Lilian. Ia membawa sapu tangan kecil di tangan, dan ketika melihat Sekar menahan gerak bahu, alisnya bergerak sedikit.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jesslyn.
Kepala pelayan mundur memberi jarak.
Sekar tersenyum hati-hati. "Hanya lelah, Ci Jess."
Panggilan itu keluar setelah Sekar mengingat urutan sapaan yang diajarkan Lilian. Jesslyn adalah istri Darren, menantu senior. Ci Jess terdengar aman.
Jesslyn tersenyum. "Di sini semua orang mudah membuat orang baru lelah."
Kalimat itu terdengar seperti lelucon, tetapi Sekar tidak tahu apakah ia boleh tertawa.
"Kalau butuh teman bicara," lanjut Jesslyn, suaranya pelan, "aku ada."
Sekar hampir lupa cara menerima kebaikan tanpa takut ada tagihan di belakangnya.
"Terima kasih, Ci."
Jesslyn menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu matanya bergerak ke arah jauh.
Sekar mengikuti tatapan itu.
Di bawah pohon besar, Darren berada di kursi roda. Ia tidak mendekat. Tidak bicara. Hanya menatap Sekar dari jarak yang cukup untuk membuatnya merasa seperti benda yang sedang diukur sebelum dibeli.
Jesslyn berkata lembut, "Jangan terlalu takut. Darren memang seperti itu pada semua orang baru."
Justru karena dikatakan lembut, kalimat itu tidak menenangkan sama sekali.
Saat mereka kembali ke aula, beberapa anggota keluarga sedang berbicara dengan Engkong. Sekar hanya menangkap potongan kalimat.
"Keluarga Ong sudah memberi kabar..."
"...perwakilan mereka datang ke Jakarta..."
"...kemungkinan pembicaraan aliansi..."
Langkah Sekar berhenti.
Ong.
Nama itu membuka pintu tua di kepalanya. Suara hujan di Surabaya. Wajah Papa Ardy yang pucat di meja makan. Buku catatan yang pernah ia lihat sekilas sebelum semuanya dirampas, satu halaman dengan nama keluarga itu tertulis terlalu tebal untuk dilupakan.
Keluarga Ong.
"Nona?" Kepala pelayan menoleh.
Sekar memaksa napas masuk. "Tidak apa-apa."
Di aula, Engkong meliriknya. Sekilas saja. Tetapi Sekar merasa lelaki tua itu melihat perubahan warna di wajahnya.
Ia cepat-cepat menunduk.
Ketika akhirnya ia masuk ke Paviliun Mei, matahari sudah condong. Lukisan Mei Dingin dibawa pelayan ke ruang kecil di dekat meja tulis. Sekar berdiri sendirian di kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya, memandangi dinding bersih, lemari baru, meja rias, tempat tidur yang terlalu besar untuk satu orang yang tidak pernah benar-benar punya kamar aman.
Di atas meja rias, ada sebuah paket kecil.
Tidak ada nama pengirim.
Sekar mendekat pelan. Di dalamnya ada satu tube salep luka dan secarik kertas putih. Tulisan di kertas itu tajam, rapi, dan tidak perlu tanda tangan.
Ini bukan kebaikan. Ini investasi.
Sekar membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Punggungnya masih berdenyut. Nama Ong masih berdiri di tenggorokannya. Di luar jendela, rumpun bambu bergerak tertiup angin sore, seolah Paviliun Bambu sedang bernapas dari kejauhan.
Sekar menggenggam tube salep itu.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, rasa takutnya tidak sendirian.