Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterangan Saksi (part 1)
"Aku nggak apa-apa, Bang. Kemarin cuma ditanyain polisi aja, denger sesuatu yang mencurigakan nggak dari unit sebelah," kata Misty pada Alex via panggilan telepon.
"Trus? Kamu nggak denger apa-apa?" tanya Alex penasaran.
"Sayangnya —atau untungnya?—, aku nggak denger apa-apa. Aku pake earbuds. Kebangun terus gara-gara petir," jawab Misty sambil membuka pintu kaca geser yang menuju balkon.
"Wah iya! Pas malem kejadian itu badai petir dari sore sampe malem. Tempat aku aja sampe blackout," komentar Alex.
Hening. Misty coba mengingat kejanggalan sekecil apapun yang mungkin dia lewatkan.
"Bang,"
"Hm?"
"Aku pernah ngasih lihat kamu naskahku yang judulnya The Novelist belum?" tanya Misty.
"The Novelist? Udah belum ya? Garis besar ceritanya gimana?" tanya Alex. Misty menarik napas dalam-dalam.
"Inti ceritanya tentang seorang penulis novel yang dapet teror dari penggemar fanatiknya," kata Misty.
"Mmm... seinget aku sih belum pernah. Yang udah pernah kamu kasih lihat tuh yang korban ternyata bunuh diri tapi bikin bunuh dirinya itu terlihat menyudutkan seseorang yang dia benci, aku lupa apa judulnya. Sama... wah banyak! Aku sampe lupa. Tapi seingetku yang itu belum pernah," kata Alex yakin.
Misty terdiam setelah yakin bahwa dia belum pernah memperlihatkan naskah itu pada siapapun.
"Kenapa emang?" tanya Alex.
"Eh? Oh... Nggak apa-apa,"
"Ya udah kalau gitu. Jangan lupa tiga hari lagi aku cek naskah kamu," kata Alex mengingatkan.
"Oke. Siap, Bang!" kata Misty semangat.
Panggilan telepon dari Alex sudah terputus. Misty masih berdiri di balkon sambil menatap pusat kota yang sibuk siang itu. Semalam Misty kembali sulit tidur. Bukan karena takut unit sebelah adalah bekas tempat pembunuhan, melainkan karena penasaran siapa pengirim naskah lamanya.
"Ting... Tong..."
Lamunan Misty terhenti mendengar bel pintunya berbunyi. Misty segera menuju pintu depan lalu mengintip dari peep hole siapa tamunya. Misty mundur satu langkah lalu menghela napas perlahan.
"Selamat siang, Nona Misty," sapa Anjas ramah saat Misty membuka pintu apartemennya. Misty tersenyum tipis.
"Saya mengganggu?" tanya Anjas melihat ekspresi Misty yang terlihat malas.
"Ah! Tidak. Silakan masuk," kata Misty kemudian sambil membuka lebar pintu apartemennya. Anjas tersenyum lebar.
"Maaf kalau saya datang tiba-tiba. Semalam saya lupa meminta nomor ponsel Nona, jadi saya tidak bisa menghubungi Anda saat akan datang," kata Anjas sambil berjalan menuju ruang tamu. Misty tersenyum.
"Tak masalah. Bagaimana hasil wawancara Anda?" tanya Misty sopan, sambil mempersilakan Anjas duduk dengan gerakan tangannya.
"Saya hanya berhasil mewawancara tujuh dari sepuluh pemilik unit di lantai dua ini," kata Anjas.
"Dua orang sedang bekerja di pusat kota dan satu orang lagi tidak bisa memberikan kesaksian apapun karena dia, sama seperti Anda, terganggu dengan suara petir dan memakai earbuds sepanjang malam hingga ia terbangun pagi harinya," lanjut Anjas. Misty mendengarkan dengan seksama.
"Yang pertama saya wawancarai adalah penghuni kamar dua kosong empat —kita sebut saja Saksi A—, seorang pria, lajang, seorang desainer freelance," kata Anjas memulai laporannya sambil mengeluarkan buku catatan kecil dari tas selempangnya.
"Saat malam kejadian, kebetulan Saksi A sedang begadang karena mengejar deadline dari klien," lanjut Anjas sambil membaca buku catatan kecilnya.
"Saksi A menuturkan bahwa dia memang sempat mendengar langkah kaki berhenti di unit dua kosong lima. Langkah kakinya berat. Saksi A menduga, itu adalah langkah kaki seorang pria berbadan tinggi besar. Saksi A sempat memperhatikan langkah kaki itu, karena terdengar seperti langkah kaki pada film-film horor —berat, pelan, dan menyeramkan," kata Anjas.
"Saksi A sempat mendengar pintu unit dua kosong lima dibuka dan tertutup lagi,"
"Apa Saksi A ingat berapa kali pintu unit dua koson lima dibuka dan tertutup lagi?" tanya Misty. Anjas menggelengkan kepala.
"Sayangnya tidak. Saksi A mengatakan dia tidak yakin berapa kali dia mendengar pintu dibuka dan ditutup," jawab Anjas.
"Tapi, dia yakin bahwa sekitar tengah malam, pintu unit sebelah sempat dibuka dan ditutup satu kali sebelum suara petir yang menggelegar terdengar. Jadi, meski korban berteriak, Saksi A merasa tak dapat mendengarnya karena suara petir cukup keras malam itu," kata Anjas. Misty terdiam, berpikir.
"Yang kedua, penghuni unit dua kosong delapan —Saksi B—, unit yang berhadapan dengan unit dua kosong lima," lanjut Anjas.
"Unit ini dihuni sepasang suami isteri muda. Keduanya freelance translator yang bekerja di rumah. Keduanya mengaku tak di rumah saat kejadian,"
"Pagi hari, di hari kejadian, keduanya memutuskan untuk pergi staycation ke sebuah motel di tepi pantai karena sama-sama tidak ada proyek. Tapi mereka segera menyesali keputusan mereka setelah tiba disana karena cuaca mendadak berubah drastis dan mereka terjebak tak bisa pulang karena hujan disertai angin kencang," kata Anjas.
"Hujan deras cukup merata kemarin," komentar Misty. Anjas mengangguk.
"Di beberapa tempat juga terjadi badai petir sama seperti disini," kata Anjas. Misty manggut-manggut.
"Keduanya sampai di apartemen sekitar pukul tujuh pagi ini dan mendapati pintu unit dua kosong lima tidak tertutup rapat," lanjut Anjas.
"Tidak tertutup rapat? Artinya..."
Anjas mengangguk.
"Kemungkinan pembunuh melarikan diri tanpa memastikan pintu benar-benar tertutup," kata Anjas.
"Jadi, mereka berdua yang pertama kali menemukan mayat korban?" tanya Misty. Anjas mengangguk.
"Sepertinya pintu unit korban hanya kurang rapat sangaaat sedikit sekali. Tak ada yang menyadarinya kecuali sepasang Saksi B," kata Anjas.
"Saat saya menanyakan tentang pintu itu ke penghuni unit dua kosong tujuh yang berjalan melewati unit dua kosong lima saat menuju lift, dia mengatakan tidak terlalu memperhatikannya karena dia terburu-buru mengejar bus agar tidak terlambat sampai di tempat kerja. Tapi, penghuni dua kosong tujuh yakin kalau pintu unit dua kosong lima dalam posisi tertutup," lanjut Anjas.
"Apakah ada saksi lain yang menguatkan alibi sepasang Saksi B?" tanya Misty. Anjas tersenyum, seolah menanyakan Misty menanyakan hal itu.
"Anda tidak heran saya baru menemui Anda setelah tengah hari padahal saya hanya bertanya di sekitaran tempat tinggal Anda?" tanya Anjas pada Misty. Misty memiringkan kepalanya ke kanan.
"Anda pergi ke motel tempat sepasang Saksi B menginap?" tanya Misty.
"Tepat! Mendiskusikan kasus dengan orang yang paham memang lebih menyenangkan," komentar Anjas. Misty tersenyum tipis.
"Lalu, apa yang Anda temukan?" tanya Misty.
"Sayangnya, mereka memang tercatat check-in di Sea-side Motel dua hari yang lalu, dan check-out kemarin pagi," kata Anjas.
"Kata petugas resepsionis, pasangan itu terlihat keluar sebentar, sepertinya ke pantai, tapi tak lama mereka kembali karena cuaca mendadak berubah drastis," lanjut Anjas.
"Sepanjang waktu hingga check-out, pasangan itu hanya ada di dalam kamar dan hanya turun untuk makan," tutup Anjas.
Misty menghela napas panjang. Penemu pertama mayat korban biasanya yang paling dicurigai sebagai tersangka. Namun, dalam kasus ini, penemu pertama mayat korban benar-benar bersih.
Misty teringat naskah lamanya. Dia hanya membaca hingga bagian pembunuhan itu berlangsung lalu melemparnya ke bawah tempat tidurnya.
'Apa ada petunjuk disana?'
***