NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Tidur

Sebelum Sephia sempat membuka suara untuk bertanya apa maksud kalimat Alan, suara langkah kaki Mama dari arah dapur langsung memutus ketegangan di antara mereka. Sephia bernapas lega, merasa terselamatkan, walau kepalanya mendadak pening memikirkan ucapan Alan.

​"Nah, ini minumnya. Diminum dulu, Nak Alan. Cuma ada sirup aja nih di rumah," ucap Mama ramah sambil meletakkan nampan berisi dua gelas sirup marjan dingin dan stoples camilan ke atas meja tamu.

​Alan langsung memundurkan posisi duduknya secepat kilat. Cowok itu kembali memasang senyum sopannya yang rapi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Aktingnya benar-benar mulus.

​"Eh, iya, Tante. Makasih banyak, jadi ngerepotin begini," sahut Alan dengan nada suara yang dibuat sesopan mungkin. Tipe-tipe suara cowok penurut yang bakal langsung disukai oleh para ibu.

​"Halah, kayak sama siapa aja. Orang tetangga deket kok," Mama kemudian mendudukkan diri di sofa panjang, tepat di sebelah Sephia. Begitu menoleh ke samping, Mama mengerutkan alis melihat muka anak gadisnya yang tegang. "Pia, kok mukanya ditekuk gitu sih? Ngobrol dong sama Alan, katanya kalian satu sekolah? Satu kelas malah, kan?"

​"I-iya, Mah, ini juga mau ngobrol kok," jawab Sephia gagap. Karena salah tingkah dan bingung harus menaruh mukanya di mana, Sephia buru-buru meraih gelas sirupnya dan meminumnya sampai setengah, demi membasahi tenggorokannya yang mendadak kering kerontang.

​Sepanjang sisa obrolan malam itu, Sephia benar-benar tidak bisa fokus. Pikirannya melayang entah ke mana. Kebanyakan yang mengobrol seru justru Mamanya dan Alan. Mereka berdua asyik membicarakan soal lingkungan kompleks, rute angkutan umum, sampai urusan tukang sayur yang biasa lewat setiap pagi. Sephia cuma jadi pajangan sambil sesekali mengangguk terpaksa kalau namanya disebut.

​Otak Sephia sibuk bekerja keras, memutar kembali memori masa lalunya. Dia mengingat-ingat setiap sudut tempat yang pernah dia kunjungi, teman-teman masa kecilnya, atau cowok-cowok menyebalkan yang pernah berurusan dengannya. Tapi hasilnya tetap nihil. Memorinya tentang wajah Alan benar-benar kosong. Dia yakin seratus persen kalau mereka baru pertama kali bertegur sapa ya pas adegan senggolan di koridor sekolah tadi siang.

​Sampai akhirnya, jam dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Alan melirik jam tangannya, lalu bersiap untuk pamit.

​"Tante, Alan pamit pulang dulu ya, udah kemaleman. Takut dicariin Mama juga di rumah," pamit Alan sambil berdiri dan menyalimi tangan Mama Sephia dengan takzim.

​"Oh iya, iya, Nak Alan. Udah jam sembilan lewat juga ternyata. Salam ya buat Ci Oliv. Bilang makasih kuenya enak banget. Nanti kapan-kapan main ke sini lagi ya, jangan kapok."

​"Pasti, Tante," jawab Alan sambil tersenyum. Sebelum cowok itu berbalik menuju pintu keluar, dia menyempatkan diri melirik Sephia yang berdiri dengan malas di samping Mamanya. Alan menatapnya lekat, lalu menyunggingkan senyuman tipis—jenis senyuman misterius yang sukses bikin Sephia merinding sekaligus gemas. "Duluan ya, Pia. Jangan lupa dipikirin pertanyaannya."

​Sialan nih bocah, batin Sephia, mati-matian menahan diri agar tidak melempar stoples keripik di dekatnya.

​Malam itu, kamar Sephia menjadi saksi bisu sebuah penderitaan. Sephia sukses tidak bisa tidur sama sekali. Kamarnya sudah gelap, AC sudah disetel dingin, tapi matanya masih melek segar menatap langit-langit kamar yang gelap.

​Dia berguling ke kanan, lalu berguling lagi ke kiri sampai selimutnya berantakan. Kalimat "Lo gak inget gue?" terus terngiang-ngiang di telinganya layaknya kaset rusak.

​"Gue pernah ketemu dia di mana, sih? Perasaan kagak pernah!" dumel Sephia frustrasi dengan suara berbisik, takut kedengaran orang tuanya di kamar sebelah. Dia menjambak rambutnya sendiri pelan, benar-benar gemas dengan otaknya yang mendadak lemot. "Awas aja ya besok di sekolah. Bakal gue pojokin tuh anak sampai mau ngomong!"

​Karena baru bisa memejamkan mata menjelang subuh, akibatnya bisa ditebak. Pagi harinya, Sephia bangun kesiangan. Dia mandi bebek, memakai seragam dengan grasak-grusuk, dan langsung berlari keluar rumah tanpa sempat sarapan.

​Beruntung dia masih bisa mengejar angkot tepat waktu. Begitu sampai di gerbang sekolah, napasnya sudah ngos-ngosan. Dengan langkah terburu-buru, Sephia berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, Kelas 11-B.

​Begitu melangkah masuk ke dalam kelas, suasana masih agak sepi karena bel masuk baru akan berbunyi sepuluh menit lagi. Di pojok kelas, Hana sudah duduk manis sambil memainkan ponselnya. Melihat sahabatnya datang dengan lingkaran hitam di bawah mata dan rambut yang sedikit berantakan, Hana langsung menurunkan ponselnya.

​"Astaga, Pia! Lo kenapa? Muka lo kenapa kusut amat kayak baju belum disetrika gitu?" tanya Hana heboh saat Sephia menjatuhkan tasnya ke atas meja dengan kasar.

​Sephia mendengus, langsung duduk di bangkunya dan menelungkupkan kepalanya di atas meja, berbantalkan kedua tangannya yang lemas. "Gue gak tidur semalaman, Han. Kepala gue mau pecah rasanya."

​"Lah, tumben? Lo nonton maraton drakor ya? Atau begadang mikirin si anak baru?" goda Hana sambil menyenggol bahu Sephia jahil.

​Mendengar kata 'anak baru', Sephia langsung menegakkan badannya. Matanya melotot menatap Hana, membuat Hana sedikit tersentak kaget.

​"Han, lo tahu gak? Ternyata si Alan sialan itu..." Sephia menggantung kalimatnya, melirik ke pintu kelas untuk memastikan orang yang dibicarakan belum datang. "...dia pindah ke kompleks rumah gue! Dan parahnya lagi, rumah dia cuma beda tiga rumah dari rumah gue!"

​Mata Hana langsung membelalak sempurna. Mulutnya menganga saking syoknya. "Demi apa?! Lo gak lagi ngigo kan, Pia? Demi apa si ganteng Alan tetangga baru lo?!"

​"Sssttt! Gak usah teriak-teriak, Malih! Nanti anak-anak lain denger!" bisik Sephia gemas sambil membekap mulut Hana yang kelewat lebar. Setelah Hana mengangguk paham, Sephia melepaskan tangannya. "Iya, semalem dia dateng ke rumah gue anter kue bolu titipan nyokapnya. Terus nyokap gue malah nyuruh dia masuk dan berakhir kita berduaan di ruang tamu."

​Hana langsung memegang dadanya, memasang tampang iri tingkat akut. "Gila, beruntung banget hidup lo! Terus, terus? Lo berduaan ngapain aja? Modus gak dia?"

​"Modus palamu peyang!" Sephia sewot. "Dia malah nanya hal aneh yang bikin gue gak bisa tidur semalaman. Dia nanya ke gue: 'Lo gak inget gue?' gitu, Han!"

​Hana mengerutkan keningnya, ikut berpikir. "Hah? Maksudnya? Kalian berdua pernah ketemu sebelum ini?"

​"Ya itu dia masalahnya! Gue bener-bener gak inget pernah ketemu dia di mana! Gue tanya dia, tapi dia malah jual mahal gak mau ngasih tahu dan langsung pulang," adu Sephia penuh dendam.

​"Wah, misterius banget..." gumam Hana, yang sekarang malah senyum-senyum sendiri. "Jangan-jangan... kalian itu jodoh masa kecil yang terpisahkan, Pia! Duh, makin kayak cerita di novel-novel deh!"

​"Jodoh-jodoh, gue hantem ya lo!" ancam Sephia kesal.

​Tepat saat Sephia selesai berbicara, suasana kelas yang tadinya agak bising mendadak senyap selama beberapa detik. Sephia dan Hana otomatis menoleh ke arah pintu kelas.

​Di sana, Alan baru saja melangkah masuk. Seperti biasa, penampilannya rapi, tas ranselnya tersampir di satu bahu, dan wajahnya datar tanpa ekspresi. Benar-benar berbeda 180 derajat dari cowok tengil yang tadi malam duduk di sofa rumah Sephia.

​Saat berjalan melewati meja Sephia untuk menuju bangkunya di belakang, langkah Alan sempat melambat. Cowok itu melirik Sephia sekilas, menyadari mata panda di wajah gadis itu.

​Sebuah senyuman super tipis, yang hampir tidak kentara bagi orang lain, terukir di sudut bibir Alan. Dia menatap Sephia seolah sedang berkata: Kan, beneran dipikirin sampai gak bisa tidur.

​Sephia yang peka dengan lirikan meledek itu langsung mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa kantuknya mendadak hilang, digantikan oleh rasa gemas yang membuncah. Oke, awas lo ya, Alan. Jam istirahat nanti, lo gak bakal bisa lari dari gue! batin Sephia bertekad.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!