Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Yang Dingin
Cahaya matahari fajar menyusup malu-malu di balik gorden beludru abu-abu yang tebal, memotong kegelapan kamar utama Mansion Moretti. Badai semalam telah berlalu, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang di Wilayah Maldav.
Di atas ranjang besar itu, Batara Moretti membuka matanya terlebih dahulu. Sifat alaminya sebagai seorang pemimpin mafia membuatnya selalu terbangun pada detik pertama cahaya fajar menyentuh bumi. Ia tidak pernah lengah, bahkan di ranjangnya sendiri.
Batara bangkit bertumpu pada sikunya, membuat otot-otot dadanya yang bidang menegang. Saat ia bergerak, rasa perih yang membakar menyengat punggungnya. Pria itu mendesis pelan, teringat akan lima jalur luka cakaran yang dihadiahkan oleh wanita di sampingnya semalam.
Ia menoleh, menatap Sonya Munic yang masih terlelap dalam posisi meringkuk, memeluk dirinya sendiri seolah dunia sedang mencoba menghancurkannya. Wajah gadis itu sangat pucat, kontras dengan kelopak matanya yang membengkak parah dan memerah karena menangis semalaman. Sisa-sisa air mata yang mengering meninggalkan jejak samar di pipinya yang halus. Di bawah selimut sutra yang berantakan, Sonya tampak begitu rapuh, seperti boneka porselen yang retak dan siap hancur jika disentuh terlalu keras.
Batara menatap wajah itu dalam keheningan yang panjang. Ekspresinya yang sedingin es tidak berubah, namun matanya yang sehitam malam sedikit meredup. Bibirnya bergerak, membentuk sebuah kata yang teramat asing bagi seorang iblis dari The Inferno.
“Maaf.”
Tak ada suara yang keluar. Hanya sebuah gerakan bibir yang samar, yang langsung hilang disapu oleh angin pagi yang berembus dari celah jendela. Seorang Moretti tidak pernah meminta maaf, dan dunia tidak boleh tahu bahwa ia memiliki secercah rasa bersalah.
Batara mengulurkan tangannya yang besar dan penuh kapalan, berniat menyibak selimut dan mengangkat tubuh Sonya untuk membawanya ke kamar mandi. Ia tahu tubuh gadis itu pasti sangat menderita setelah malam pertama mereka yang intens. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh bahu polos Sonya, sebuah getaran keras memecah keheningan.
Ponsel di atas meja nakas bersering, memancarkan cahaya biru yang terang. Batara menarik kembali tangannya, mengambil ponsel itu dengan gerakan cepat sebelum suaranya membangunkan wanita yang sedang tidur. Layar menampilkan nama Jevan Romano.
Batara menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. Ia tidak mengucapkan salam.
"Bicaralah," ucap Batara, suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur, namun penuh dengan otoritas yang mutlak.
"Tuan, pengiriman alkohol dari Kota Rugunda menuju perbatasan Negara Laviata dihadang oleh kelompok Scattershot. Adam Maherson mencoba bermain api lagi. Kami membutuhkan keputusan Anda segera," suara Jevan di seberang telepon terdengar tegas, dingin, dan efisien tanpa basa-basi.
Batara memejamkan matanya sejenak. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tegas yang mengerikan pada wajah tampannya. Sisi mafianya kembali mengambil alih sepenuhnya dalam hitungan detik.
"Tunggu di ruang meeting. Aku turun dalam sepuluh menit," jawab Batara singkat, lalu langsung memutus sambungan telepon sepihak.
Ia melempar ponselnya kembali ke nakas. Gerakan kasar itu, bersamaan dengan suara gesekan seprai saat Batara bangkit dari ranjang, akhirnya mengusik tidur nyenyak Sonya.
Sonya melenguh pelan. Detik berikutnya, kedua matanya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang luar biasa hebat yang menghantam kepalanya. Kepalanya terasa sangat berat, seolah-olah dihantam oleh batu besar. Namun, rasa sakit yang paling dominan berada di bagian bawah tubuhnya rasa nyeri, panas, dan perih yang menusuk akibat regangan paksa semalam.
Sonya mencoba bergerak sedikit, namun ia langsung meringis kesakitan, refleks menggigit bibir bawahnya yang masih membengkak. Air mata baru hampir saja menetes saat ingatan tentang malam mengerikan itu berputar kembali di otaknya.
Ia menoleh dengan takut-takut dan melihat Batara sedang berdiri di depan lemari besar, membelakanginya. Pria itu sedang mengenakan kemeja hitamnya dengan gerakan yang efisien. Melalui pantulan cermin, Batara tahu bahwa Sonya sudah terbangun. Pria itu berbalik, mengancingkan manset lengannya tanpa melepaskan tatapan matanya yang tajam dari Sonya.
Sonya langsung menarik selimutnya hingga ke batas dagu, menyembunyikan tubuh polosnya yang dipenuhi tanda kemerahan. Ia memandang Batara dengan tatapan murni penuh ketakutan, tubuhnya bergetar di balik selimut.
"Ibu Yooka akan membantumu bersiap," ucap Batara datar, memecah keheningan kamar yang mencekam.
Sonya menelan ludahnya yang terasa kesat. Suaranya bergetar hebat saat ia mencoba memberanikan diri untuk menjawab, "A-Aku bisa sendiri, Tuan... Tidak perlu merepotkan orang lain."
Gerakan tangan Batara yang sedang merapikan kerah kemejanya langsung terhenti. Pria itu melangkah mendekati ranjang, menatap Sonya dari ketinggian tubuhnya yang intimidatif. Matanya menyipit berbahaya, memancarkan aura kegelapan yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun.
"Aku tidak suka dibantah, Sonya," desis Batara dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman. "Apa yang kukatakan di rumah ini adalah hukum. Patuhi, atau kau tahu konsekuensinya."
Sonya langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata elang itu. Rasa takutnya yang berlebih membuat dadanya kembali terasa sesak. Jantung bawaannya berdenyut tidak beraturan, menimbulkan rasa nyeri yang akrab di ulu hatinya. "B-Baik, Tuan..." bisiknya pasrah.
Batara tidak membuang waktu lagi. Ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan keheningan yang kembali menyergap.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Ibu Yooka masuk bersama tiga orang pelayan muda. Di antara mereka tidak ada Jenna. Ibu Yooka tersenyum lembut menatap Sonya yang masih meringkuk di atas ranjang.
"Selamat pagi, Nyonya muda," sapa Ibu Yooka dengan nada yang sangat sopan dan hangat. "Mari, saya bantu Anda untuk mandi dan bersiap. Tuan Batara meminta Anda untuk segera sarapan setelah ini."
Sonya hanya bisa mengangguk lemah. Dengan dibantu oleh dua orang pelayan, Sonya perlahan bangkit dari ranjang. Rasa perih di selangkangannya membuat kakinya gemetar saat menapak di lantai marmer, hampir saja ia terjatuh jika para pelayan tidak memegangi lengannya dengan sigap. Mereka kemudian menuntun Sonya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat yang telah disiapkan.
Sementara Sonya mandi, Ibu Yooka mulai membereskan ranjang utama yang berantakan. Saat ia menarik seprai beludru hitam dan menggantinya dengan seprai putih yang baru, gerakan tangan wanita tua itu terhenti. Di atas permukaan kain putih yang bersih, terdapat beberapa bercak darah segar yang telah mengering, berbaur dengan kelopak mawar yang hancur.
Ibu Yooka menatap bercak darah itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebagai wanita yang membesarkan Batara, ia tahu betul bagaimana sifat dingin dan kejam anak asuhnya itu jika sudah menginginkan sesuatu. Namun, ia juga tahu ada sisi lain dari Batara yang tidak pernah diperlihatkan kepada dunia.
Setelah selesai mandi, Sonya dituntun kembali ke meja rias. Ibu Yooka sendiri yang mengambil alih tugas untuk menyisir rambut panjang Sonya yang halus dan mengoleskan salep lembut pada bagian kulit bahu Sonya yang kemarin sempat terluka karena ulah kasar Jenna.
Ibu Yooka menatap pantulan wajah Sonya di cermin besar. Sambil merapikan rambut gadis itu, ia tersenyum tulus. "Nyonya muda memiliki wajah yang sangat cantik. Sangat lembut dan anggun. Anda mengingatkan saya pada mendiang Ibu Tuan Batara."
Sonya hanya diam, menatap kosong pada bayangannya sendiri di cermin. Pujian itu tidak mampu mengobati luka di hatinya.
Ibu Yooka terdiam sejenak, lalu dengan suara yang lebih pelan dan hati-hati, ia bertanya, "Jika saya boleh tahu... bagaimana malam pertama Anda dengan Tuan Tara semalam, Nyonya? Apakah beliau... memperlakukan Anda dengan baik?"
Mendengar pertanyaan itu, ingatan Sonya langsung terlempar pada kejadian semalam. Wajahnya yang semula pucat mendadak memerah sempurna hingga ke telinga. Jantungnya berdebar kencang. Sonya mengingat bagaimana ia berteriak kesakitan, bagaimana ia menangis memohon agar Batara berhenti, dan bagaimana ia dengan nekat mencakar punggung pria itu hingga berdarah.
Namun, di balik semua kepanikan dan rasa takutnya yang luar biasa semalam, ada satu kebenaran yang tidak bisa ia pungkiri. Rasa sakit yang ia rasakan sebenarnya lebih banyak dipicu oleh rasa takutnya yang berlebihan dan kondisi fisiknya yang lemah. Batara... pria itu sebenarnya melakukannya dengan sangat lembut untuk ukuran seorang ketua mafia yang kejam. Sentuhan tangan Batara semalam, meski menuntut, selalu menahan tubuhnya agar tidak terluka lebih dalam. Pria itu tidak sekasar yang ia bayangkan sebelumnya.
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭