NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Wajah yang selalu dingin dan kaku itu semakin tampak menyeramkan saat kesal. Tanpa melepas kacamata hitamnya, Baskara naik ke lantai 2.

Di belakangnya Rio mengikuti sambil mengulum senyum.

Keberadaan Baskara di rumah sakit untuk menjemput Lily tidak sepenuhnya karena dokter Dita yang memaksa bertemu. Sebelumnya Rio sempat datang namun gagal mendapat surat ijin membawa Lily pulang ke rumah Mira.

Alasan dokter Dita sangat masuk di akal dan sebetulnya Rio pun sepaham. Serumit apapun pernikahan Baskara dan Fanny, Lily tetaplah anak kandung Baskara. Akhirnya Rio setuju memenuhi permintaan dokter Dita untuk membawa Baskara ke rumah sakit.

Begitu sampai di ruang perawatan bayi, Baskara bertambah kesal karena seorang perawat memberitahu kalau dokter Dita mendadak diminta membantu persalinan.

Dalam perjalanan kemari Rio sudah menghubhngi dokter Dita dan memastikan kalau mereka akan sampai di rumah sakit tepat waktu.

Apa tidak bisa memberi kabar sebelum masuk kamar bersalin ?

“Biasanya tidak lama Pak, paling lambat 45 menit sudah kembali.” Perawat bernama Tari itu tersenyum, seolah-olah tidak melihat perubahan wajah Baskara.

Terlalu ! Bagaimana bisa 45 menit masuk kategori tidak lama ?

Kalau tidak ingat mereka sedang di rumah sakit dan perempuan yang berdiri di hadapannya adalah seorang perawat, sudah pasti Baskara akan memaki-maki Tari tapi yang bisa dilakukannya hanya melotot pada Rio.

“Saya antar melihat Lily sambil menunggu dokter Dita, Pak.” lanjut Tari dengan wajah polos.

Sebelum Baskara menjawab tidak, Rio yang sudah bisa menebak pikiran bossnya dengan sigap menjawab.

“Dengan senang hati Suster. Apa tidak masalah kami melihat Lily sebelum jam besuk ?”

Baskara berdecak sebal melihat tingkah Rio yang sok manis sambil mendekati Nrs Tari sambil senyum-senyum.

“Dokter Dita sudah menitipkan bapak-bapak pada saya,” sahut Tari tak kalah manisnya.

Sebelum kena pelototan Baskara, Rio cepat-cepat mengikuti Tari yang membuka pintu akses menuju ruang perawatan bayi.

Kali ini Baskara merasa dijebak oleh asistennya sendiri tapi tidak mungkin ia memaki Rio seperti biasa kalau berbuat salah. Terpaksa Baskara menyusul Rio dan Tari yang sudah lebih dulu masuk.

“Lily ada di sana.”

Kedua pria yang berada dalam posisi sejajar saling menoleh dan tatapan mereka seakan saling bertanya saat membaca tulisan RUANG LAKTASI ditempel di pintu.

“Kenapa Lily ada di situ suster ?” tanya Rio mewakili Baskara.

“Tentu saja sedang menyusu Pak.”

Baskara yang langsung menangkap maksud Tari buru-buru ia membuka pintu tanpa mengetuknya.

“Siapa kamu ?” Suara bariton yang bernada tinggi itu mengejutkan Andara.

Pandangan Baskara sempat melirik ranjang bayi kosong dengan tulisan nama Lily di bagian ujungnya sekarang tertuju pada Andara yang sedang duduk membelakangi pintu.

Saking kagetnya tubuh Andara seperti membeku, belum lagi suara Baskara membuat jantungnya berdebar-debar karena takut.

Apa yang dikhawatirkan Andara akhirnya terjadi dan dokter Dita tidak ada di tempat ini untuk membelanya.

“Siapa dia suster ?” Tidak sabar menunggu Andara menjawab, Baskara beralih pada Tari

Ditatap dengan tajam oleh Baskara, Tari sudah tidak bisa tersenyum lagi bahkan terlihat sangat gugup.

“Namanya Andara. Dia membantu merawat Lily sekaligus menjadi ibu susunya,” sahut Tari dengan suara terbata.

“Ibu susu ?” Tegas Baskara sambil melotot.

Kepala Tari mengangguk. “Sebaiknya bapak tanyakan langsung pada dokter Dita karena hanya beliau yang bisa menjelaskan masalah ini.”

Baskara menghela nafas, emosinya campur aduk. Daripada mengamuk di ruang bayi, Baskara memilih keluar. Rio buru-buru mengikuti, berjaga-jaga jangan sampai Baskara membanting pintu seperti kebiasaannya kalau sedang marah.

“Pak Baskara !”

Bisa-bisanya Baskara berpapasan dengan dokter Dita yang masih memakai scrub berwarna hijau.

“Maaf saya….”

“Jangan coba-coba…”

“‘Maaf Pak Bas, sebaiknya kita cari tempat untuk bicara,” cegah Rio sambil memberi isyarat kalau di sekeliling mereka banyak orang yang berseliweran.

“Saya akan menjelaskan semuanya di ruangan sana.” Dokter Dita menunjuk pintu yang bertuliskan RUANG KONSULTASI.

Baskara tidak menggubris, ia hanya menepi sedikit supaya tidak menganggu jalan orang yang rmelints.

“Tidak ada yang perlu dibahas lagi ! Kalau memang anda tidak mengijinkan asisten saya mengurus kepulangan anak itu maka silakan anda yang bertanggungjawab atas hidupnya.”

Dita malah tersenyum sinis, tidak merasa terintimidasi dengan sikap Baskara.

“Anda mungkin bisa membereskan segala sesuatu dengan uang tapi sayangnya kekayaan yang anda miliki tidak pernah bisa membuat anda bahagia.”

Baskara ikut tertawa sinis. “Tidak usah memberi petuah pada saya !”

Tidak ingin memperpanjang pembicaraan dengan Dita yang membuat hatinya makin mendidih, Baskara pergi tanpa pamit tapi sayangnya ia masih harus menunggu pintu lift terbuka.

Dita tidak menyerah, ia bergegas menghampiri Baskara. Untung saja tidak ada orang lain dekat situ.

“Sama seperti anda, Fanny juga korban !”

Baskara tidak menjawab, wajahnya yang dingin dan kaku menatap lurus ke depan.

“Anda benar-benar manusia egois Pak Baskara ! Pembunuh berdarah dingjn ! Setelah istri anda jadi korban, sekarang anda berniat membuat Lily mati pelan-pelan !”

Spontan Baskara menoleh dengan mata melotot dan kedua tangan terkepal karena suara Dita bisa didengar banyak orang.

Tapi Dita tidak peduli. Sambil bertolak pinggang dan kedua matanya juga melotot, ia berdiri di hadapan Baskara dengan sikap menantang.

Pintu lift terbuka. Dita malah tersenyum sinis lalu meninggalkan Baskara yang tampak kesal karena merasa sudah dipermalukan.

*****

Dua hari kemudian sekitar jam 10 pagi Rio kembali ke rumah sakit tanpa Baskara tapi ada Mira yang sudah menunggu di lantai 2.

Akhirnya Dita menyerah, membiarkan Lily dibawa pulang oleh Mira setelah Rio membereskan masalah administrasinya.

“Bossmu benar-benar egois ! Keras kepala ! Manusia kejam !” omel Dita pada Rio.

Keduanya berdiri di dekat ruang bayi, menunggu Lily yang sedang dipersiapkan untuk pulang.

Rio terkekeh, tidak membela Baskara tapi tidak juga mengiyakan ucapan Lily.

“Kamu kok betah kerja sama manusia batu kayak gitu ? Pantas saja mas Dani begitu khawatir, belum bisa melepaskan Fanny dan ternyata ketakutannya terbukti.”

Rio sangat terkejut sampai-sampai ia berpindah posisi berdiri ke hadapan Dita.

“Darimana dokter tahu soal pak Dani ? Apa dia pernah datang kemari menemui ibu Fanny ?”

Dita tersenyum sinis. “Mas Dani terlambat datang jadi dia hanya menjenguk Lily.”

“Apa pak Dani menceritakan sesuatu ?”

“Soal apa ? Perselingkuhannya dengan Fanny ? Jadi pak Bas tetap yakin kalau istrinya tidak setia karena masih kontak dan kadang-kadang bertemu mantan kekasihnya ?”

“Bukan itu yang saya maksud.”

Dita berdecih sambil tersenyum sinis. “Bilang sama pak Bas, dia boleh membenci Fanny tapi jangan telantarkan anak-anaknya. Biar bagaimana Daisy dan Lily benihnya juga.”

Pintu ruang rawat terbuka. Wajah Mira tampak sumringah saat menggendong Lily. Di belakangnya Andara berdiri sambil membawakan tas bayi yang langsung diserahkan pada Rio.

Setelah berpamitan pada Dita dan Andara, Mira yang menggendong Lily pergi ditemani Rio.

“Jangan sedih,” ledek Dita sambil menyenggol lengan Andara.

Buru-buru Andara menyeka kedua sudut matanya yang basah sambil memalingkan wajah.

“Tunggu dua atau tiga hari lagi. Bu Mira pasti mencari kamu untuk jadi pengasuhnya Lily.”

Untuk pertama kalinya Andara bisa tertawa meski pelan, membuat Dita tersenyum melihatnya.

“Dokter terlalu berlebihan.”

“Mau taruhan ?”

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!