Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geng Motor REIGN
“Perwakilan tim desain, silakan maju,” suara Bu Clara menggema di aula. “Keira Althea.”
Semua mata langsung menoleh ke arah Keira.
“Wah, gila! Kamu maju duluan, Kei!” bisik Livia sambil menepuk bahu Keira.
Nolan yang panik malah lebay. “Astaga, aku belum siap kehilangan kamu, bestie! Kalo kamu pingsan, bilang ya biar aku tangkep kayak di sinetron!”
Keira mengerling kesal. “Diam, Nol! Aku udah mau mati deg-degan nih.”
Dengan langkah setengah gemetar, Keira maju ke depan panggung.
Tumit sepatunya terdengar klik-klik di lantai kayu yang seolah memperjelas setiap getaran gugupnya.
Ethan berdiri tak jauh dari sana, menyilangkan tangan, menatapnya dengan tatapan penuh minat—bukan sekadar tatapan bos menilai karyawan, tapi tatapan seorang pria yang seolah sedang mempelajari setiap ekspresi wajah perempuan di depannya.
Keira berdehem, mencoba memulai. “Selamat pagi, Pak CEO dan rekan-rekan sekalian.”
Suaranya sedikit bergetar, tapi ia berusaha tetap tersenyum. “Perkenalkan, saya Keira Althea, bagian dari tim desain kendaraan listrik ‘Project Helion’. Desain ini berfokus pada aerodinamika dan efisiensi energi—”
Namun baru dua kalimat berjalan, Ethan memotong dengan nada datar tapi lembut, “Althea, ya?”
Keira langsung berhenti. “Ya, Pak?”
Ethan menatapnya tajam, tapi ada senyum samar di sudut bibirnya. “Nama yang bagus. Seperti seseorang yang… pernah kutemui sebelumnya.”
Beberapa karyawan langsung saling pandang, berbisik heboh.
“Ih, CEO-nya ramah banget ya!”
“Ramah dari Hongkong! Tatapan itu bukan tatapan bos ke bawahan, sis!”
“Fix, ada sesuatu di antara mereka.”
Keira merasakan pipinya panas. “Ah… mungkin orangnya mirip saya, Pak,” jawabnya cepat.
Ethan mengangkat alis tipis. “Mungkin. Tapi aku jarang lupa wajah.”
Tatapan mata abu-abu gelapnya menusuk langsung ke mata Keira.
Keira buru-buru menunduk, pura-pura melihat layar presentasinya. “Oke, baik… lanjut.”
Ia mulai menjelaskan desain mobilnya, menekan tombol pointer dengan tangan gemetar.
Namun saat mencoba menunjuk detail aerodinamika pada layar, pointer-nya malah mati.
Keira panik. “Ah—eh, sebentar ya, ini pointer-nya agak… nge-lag.”
Ethan menatap tenang. “Tenang saja. Ambil waktumu.”
Tapi dari cara suaranya terdengar, seperti sedang menahan tawa.
Keira mencoba lagi, tapi pointer tetap tak menyala. “Kenapa sih, nih barang?! Pointer-nya ngambek kayak mantan!” celetuk Keira tanpa sadar.
Seluruh ruangan langsung meledak tertawa kecil.
Bahkan Bu Clara sampai menutup mulutnya.
Ethan pun tak tahan—ia tertawa ringan. “Lucu. Kau sering bicara dengan pointer?” katanya, masih menahan senyum.
Keira langsung menepuk dahinya pelan. “Maaf, refleks, Pak. Saya memang suka ngomel kalau stress.”
Ethan menatapnya dengan pandangan yang sulit dibaca. “Sepertinya aku sudah lihat buktinya sendiri,” gumamnya pelan—cukup keras untuk didengar Keira, tapi tidak oleh yang lain.
Keira membeku. "Oh Tuhan, dia ingat lift pagi tadi…" batinnya gusar.
Ethan melanjutkan dengan nada formal. “Desainmu menarik. Tapi aku ingin tahu… kenapa kau memilih garis sayap di bagian bodi belakang mobil? Itu agak berani untuk konsep ramah lingkungan.”
Keira yang mulai nyaman, spontan menjawab, “Karena menurut saya, sayap bukan hanya simbol kebebasan, Pak… tapi juga keberanian untuk menembus batas.”
Ethan terdiam sejenak. Tatapannya lembut tapi dalam. Senyum tipis muncul di wajah tampannya. “Jawaban yang bagus.”
Suasana aula tiba-tiba hening. Semua orang merasakan ketegangan aneh antara mereka.
Nolan sampai menutup mulut dengan kertas biar nggak teriak. “Astaga, chemistry-nya nyata banget! Aku kayak nonton drama Korea live!”
Keira buru-buru menunduk, melanjutkan penjelasan dengan terbata.
Sampai akhirnya presentasi selesai, Ethan memberi tepuk tangan pelan.
“Kerja bagus. Ku harap kau tetap berani… menembus batas.”
Nada suaranya terdengar menggoda—halus, tapi jelas.
Keira menelan ludah. “Te… terima kasih, Pak.”
Beberapa jam kemudian.
Ethan duduk di ruang kerjanya, ruangan besar dengan jendela menghadap ke taman kota.
Rowan berdiri di depannya dengan tablet di tangan. “Gimana kesan pertama Anda kepada staf cabang, Pak?” tanya Rowan.
Ethan menatap ke luar jendela, lalu menjawab datar, “Menarik. Terutama satu orang.”
Rowan mengangguk kecil. “Bu Keira Althea?”
Ethan menatapnya. “Kau tahu terlalu banyak.”
Rowan tersenyum. “Sulit tidak tahu, Pak. Tatapan Anda kepada Bu Keira… cukup berbeda.”
Ethan tidak menanggapi, hanya memutar cincin di jarinya perlahan. “Selidiki dia,” katanya akhirnya. “Latar belakang, pendidikan, catatan kerja, semuanya. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya.”
Rowan mengangguk cepat. “Baik, Pak.”
"Pergilah."
Rowan segera membungkuk hormat kepada Ethan, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara Ethan menatap layar tablet di depannya, di mana foto Keira sedang presentasi terpampang jelas.
Suara dentingan logam berpadu dengan dengungan mesin memenuhi bengkel sederhana itu.
Aroma oli dan asap bensin menempel di udara, bercampur dengan musik rock pelan dari radio tua di pojok ruangan.
Di tengah kekacauan itu, Aiden Rhys-ketua geng motor REIGN duduk sendirian di sebuah meja kayu yang penuh dengan kertas, pensil, dan laptop butut.
Tangan kirinya menopang kepala, sementara tangan kanannya sibuk menggambar lekuk bodi mobil sport di atas kertas bergaris. Garis-garis itu tegas dan presisi — jauh dari kesan coretan asal.
Di dinding belakangnya tergantung papan nama buatan tangan:
REIGN GARAGE
Huruf-hurufnya nyaris pudar, tapi penuh makna bagi setiap anggota geng motor yang lahir dan besar di tempat itu.
Aiden tak banyak bicara.
Matanya tajam, fokus — seolah dunia di sekitarnya tak ada.
Suara obeng jatuh, tawa anak-anak bengkel, bahkan deru mesin yang baru diservis pun tak mengusik konsentrasinya.
Hingga sebuah suara nyolot memecah suasana.
“Gue heran liat lo, Bos.”
Aiden tak menoleh.
Ia tetap menggambar, hanya melirik sedikit dari balik poni hitamnya.
Ezra—cowok berambut pirang acak-acakan, tangan masih belepotan oli—baru saja selesai membetulkan knalpot motor. Ia berjalan mendekat, lalu menyandarkan tubuh ke meja kerja Aiden sambil membawa kaleng soda. “Suka motoran, tapi hobinya malah gambar mobil.”
Ezra menggeleng pelan. “Lo tuh aneh, Bos. Parah anehnya.”
Aiden menghela napas singkat tanpa mengangkat kepala. “Berisik.”
Ezra langsung ngakak, menepuk bahu Aiden. “Itu dia, kalimat kebanggaan ketua REIGN: berisik!.”
Beberapa anak bengkel lain ikut nimbrung, nyengir-nyengir.
“Udah, Za, jangan ganggu Bos. Nanti dia mogok ngomong seminggu kayak waktu lo ngidupin motor pake air mineral,” seru Nico sambil tertawa.
Ezra memasang muka tak terima. “Eh, itu eksperimen, tahu! Kalau berhasil, lo semua bisa jadi saksi sejarah!”
Aiden menatapnya datar. “Yang berhasil cuma bikin motor lo mati total.”
Satu bengkel langsung meledak ketawa.
Ezra melotot tapi tetap ngakak. “Yaelah, Bos, bisa nggak sih lo sekali aja nggak nyelekit?”
Aiden menaruh pensilnya, lalu berdiri perlahan. Tatapannya masih dingin, tapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya. “Nggak bisa. Udah bawaan lahir.”
Ezra menepuk jidat sendiri. “Gue yakin banget lo dulu waktu bayi keluar dari perut nyokap lo nggak nangis, tapi langsung ngomel ‘berisik’ ke bidan.”
Tawa anak-anak bengkel kembali pecah.
Beberapa saat kemudian, suasana mulai tenang lagi.
Aiden menatap hasil gambarnya — desain mobil dengan sayap pintu terbuka, seperti elang siap terbang.
Matanya menatap dalam, penuh arti.
Ezra melirik sebentar dan mendesah kagum. “Gokil sih. Tapi kenapa mobil, Bos? Kita kan hidup di atas motor.”
Aiden menjawab pelan tanpa menoleh, “Motor buat ngebut. Mobil buat terbang. Suatu hari nanti, gue pengen nyiptain kendaraan yang bisa ngelakuin dua-duanya.”
Ezra menatapnya bengong. “Bos, lo ngomong kayak penemu masa depan, sumpah.”
“Berisik.” jawab Aiden lagi, kali ini dengan senyum tipis.
Ezra cuma geleng kepala sambil nyengir. “Yah, tetap aja keren sih. Ketua gue emang dingin tapi visioner.”
Aiden meletakkan gambar itu, menatap ke luar bengkel di mana matahari mulai condong ke barat.
Cahaya oranye menerpa motor-motor berderet dengan lambang REIGN di bodinya. Bagi orang luar, itu cuma sekumpulan anak jalanan tukang balap.
Tapi bagi mereka, bengkel ini rumah — tempat di mana mereka bebas bermimpi, tanpa takut gagal.
Ezra duduk di kursi besi, meneguk soda. “Bos, lo ikut balapan minggu ini, kan? Katanya geng Blacksteel nantang langsung.”
Aiden memasang sarung tangannya, lalu menjawab datar, “Kalau mereka berani datang, gue yang jemput.”
Ezra bersiul panjang. “Oke. Mode ‘dingin tapi ngancam’ aktif lagi.”
Semua anak bengkel serempak tertawa, sementara Aiden hanya menatap mereka dengan mata yang diam tapi hangat.
Senyum samar terselip di wajahnya — senyum seorang pemimpin muda yang tak tahu kalau darah yang mengalir di tubuhnya membawa takdir yang lebih besar dari sekadar jalanan dan mesin.
...----------------...
Sore turun perlahan di pelataran parkir kantor cabang AdlerTech Industries.
Lampu-lampu jalan mulai menyala, menambah nuansa lembut di antara deretan mobil karyawan yang bersiap pulang.
Keira berjalan di antara dua sahabatnya — Livia dan Nolan, yang sudah seperti saudara sendiri. Tasnya disampirkan sembarangan di bahu, langkahnya ringan seolah menikmati hari yang indah.
“Eh sumpah, libur nanti kita wajib ke salon bareng, ya!” seru Livia sambil menggandeng lengan Keira. “Kamu tuh cantik, Kei, tapi rambutmu udah kayak sarang burung. Kasian banget, menjerit minta treatment.”
Keira tertawa kecil, mengibaskan rambutnya yang memang sedikit acak-acakan. “Iya deh, iya. Minggu depan, aku ikut. Tapi kalian yang booking, aku traktir masker rambut.”
Belum sempat Livia menimpali, Nolan langsung nyeletuk dengan gaya centil sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. “Uh sayang, jangan masker doang. Sekalian facial, manicure, pedicure, dan healing bath! Badan aku ini udah kayak gorengan kebanyakan minyak. Lihat tuh pori-poriku teriak minta ampun.”
Keira dan Livia langsung ngakak.
“Ya Tuhan, Nol!” Keira menahan tawa. “Kamu kayak iklan spa keliling!”
Nolan mendengus sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Please, honey, kita harus tampil cetar kalau mau dapet bos tajir! Jangan kayak kamu tuh, masuk kantor rambut kayak abis kejar angkot!”
Keira mencubit lengannya pelan. “Mulutmu, Nol! Aku telat karena macet, tau!”
Livia menepuk bahu Keira, menahan tawa. “Ya ampun, kalian berdua dari pagi kayak Tom & Jerry. Tapi aku nggak bisa hidup tanpa kalian.”
Mereka bertiga terus bercanda sambil berjalan menuju area parkir. Suasana sore berubah ringan, tawa Keira terdengar paling nyaring dan tulus di antara keduanya — membuat matanya menyipit indah.
Dari kejauhan, dua pria berdiri di samping sedan hitam berpelat istimewa.
Ethan menatap diam-diam, bersandar di pintu mobil, sedangkan Rowan, asistennya, sibuk memeriksa ponsel dan berkas di tangan.
Rowan sempat melirik ke arah Keira yang tertawa lepas bersama kedua temannya. Cahaya senja memantul di wajah Keira, membuat kulitnya berkilau lembut — seperti bidikan kamera dengan filter alami.
Rowan menghela napas kecil. “Bu Keira cantik banget, Pak. Asli, kayak bidadari turun shift sore.”
Tatapan Ethan langsung berpaling ke arah Rowan. “Rowan…” suaranya rendah dan dingin. “Kau sudah bosan hidup?”
Rowan langsung pucat, nyaris menjatuhkan map. “Eh—bukan gitu, Pak! Maksud saya… eh… kita ada meeting sama Pak Chandra di Moonveil Hotel satu jam lagi! Saya cuma… eh… memuji dedikasi Bu Keira aja!”
Ethan tidak merespons.
Ia kembali menatap ke arah Keira yang kini sedang tertawa lepas — sesuatu di dalam dirinya bergetar pelan.
Tawa itu… persis sama seperti yang ia dengar tujuh belas tahun lalu, di malam penuh cahaya lampu dan musik keras di klub “Eclipse.”
Ethan mengembuskan napas pelan, senyum nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
Sementara Rowan menatap bosnya dengan wajah bingung — tak tahu apakah yang barusan ia saksikan adalah senyum lembut, atau tanda bahaya yang segera datang.
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪