Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pria bernama Ilham dan juga wanitanya yang berjalan di ujung koridor sontak memperlambat langkahnya, memandang lekat wajah Aqilla seraya menggenggam erat telapak tangan wanita itu. Wanita berambut pendek tersebut seketika menoleh dan menatap wajah Ilham dengan bingung.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya.
Ilham sontak menahan langkahnya tidak jauh dari tempat di mana Aqilla berdiri. "Ada mantan istriku, Dona," jawabnya seraya tersenyum menyeringai.
"Hah? Mana?" tanya Dona, kembali menatap ke arah depan, memandang wajah Aqilla dengan kening dikerutkan. "Itu mantan istri kamu? Lagi ngapain dia di sini?"
"Entahlah," jawab Ilham, melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan, lalu menghentikan kedua kakinya tepat di depan Aqilla, hal yang sama pun dilakukan oleh Dona.
Aqilla menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk bersikap tenang, menatap wajah Ilham dan Dona secara bergantian. Kedua matanya seketika terfokus kepada perut wanita itu yang sudah sedikit membulat menandakan bahwa wanita itu sedang berbadan dua. Tubuh Aqilla seketika gemetar, kedua telapak tangannya bahkan mulai berkeringat dingin, kembali mengingat pengorbanan yang telah ia lakukan dan rasa sakit yang ia rasakan selama ini. Rasanya tidak terima, ia yang berjuang menemui suaminya, dari yang tidak punya apa-apa hingga memiliki segalanya, tapi mengapa harus wanita lain yang menikmati hasilnya? Batin Aqilla, rasa dendam semakin menggila, ingin rasanya ia cabik-cabik kedua orang yang berada di hadapannya itu.
"Lagi ngapain kamu di sini?" tanya Ilham dengan datar.
Aqilla menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan mencoba untuk mengendalikan emosi yang terasa menyesakan dada. "Seharusnya aku yang tanya sama kamu, Mas Ilham. Lagi ngapain kamu di sini? Kita belum lama bercerai, tapi wanita jalang ini udah hamil aja. Hmm ... kamu emang jago bikin anak," jawabnya, mencoba untuk menyembunyikan ketakutan. "Anakmu lagi sakit, jangan mentang-mentang mau punya anak dari wanita lain, kamu melupakan darah daging kamu."
Ilham tersenyum menyeringai. "Siapa yang sakit? Kaila? Keano? Kenapa mereka bisa sakit? Kamu emang gak becus ngurus anak-anak. Kalau kayak gini, saya bisa aja mengambil hak asuh mereka dari kamu, ya."
Aqilla hanya terdiam seraya mengepalkan kedua tangan, memandang tajam wajah mantan suaminya penuh rasa dendam.
"Ya nggak bisa gitu dong, Sayang. Aku 'kan lagi hamil, mana bisa aku mengurus kedua anak kamu," rengek Dona dengan suara manja, terdengar menjijikkan di telinga Aqilla.
"Kamu tenang aja, Sayang. Saya 'kan punya banyak uang sekarang, kita bisa sewa baby sister buat menjaga mereka," jawab Ilham, menoleh dan memandang wajah Dona dengan senyum ringan.
Aqilla menggigit bibir bawahnya keras dengan mata terpejam lalu kembali menatap wajah Ilham, masih dengan tatapan yang sama. "Aku, Mas. Aku yang menemani kamu dari nol dan setelah kamu sukses, kamu melupakan pengorbananku dan selingkuh sama wanita sialan ini, tapi it's oke. Tuhan tidak tidur, Mas. Aku yakin karma sedang menanti kamu di depan."
"Saya gak akan selingkuh kalau kamu pandai merawat diri, Aqilla. Suami mana yang tahan sama istri yang setiap hari pake baju lusuh, rambut berantakan, badan bau apek. Nggak akan ada yang tahan, Aqilla," jawab Ilham, tersenyum mengejek seraya memandang Aqilla dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Ngomong-ngomong, dari mana kamu dapet pakaian ini? Kamu nggak mencuri, 'kan?"
"Dasar brengsek!" umpat Aqilla, telapak tangannya seketika melayang ke udara dan hendak mendarat di wajah mantan suaminya.
Akan tetapi, pria itu segera menahan pergelangan tangan Aqilla dengan keras, sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya ke belakang hingga wanita itu terjatuh ke lantai.
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotor kamu, Aqilla. Kesalahan terbesar saya adalah menikahi kamu!" bentak Ilham seraya menunjuk wajah Aqilla menggunakan jari telunjuknya sendiri.
Sementara Dona nampak tersenyum lebar, merasa senang karena berhasil menyingkirkan istri sah. Berharap nasibnya mujur dan hidup makmur seperti Mulan Jameela dan hubungannya dengan Ilham langgeng hingga maut memisahkan.
Pintu ruangan VVIP tempat di mana Keano dirawat tiba-tiba dibuka dari dalam, Radit seketika terkejut saat melihat Aqilla tengah duduk di lantai seraya menahan isakan. Pria itu segera melangkah menghampiri lalu membantunya berdiri tegak.
"Astaga, Aqilla, kamu baik-baik aja?" tanyanya dengan khawatir, seraya membersihkan dress yang dikenakan oleh wanita itu, menyingkirkan debu yang menempel di sana.
"Aku baik-baik aja, Pak Radit," jawab Aqilla, dengan senyum canggung.
Radit menoleh dan memandang wajah Ilham, menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut lalu mengalihkan pandangan mata kepada wanita yang berdiri disampingnya.
"Apa dia mantan suami kamu?" tanyanya, kembali menatap wajah Aqilla dan hanya dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.
Ilham mengerutkan kening, balas menatap wajah Radit. "Siapa laki-laki ini, Aqilla?"
Radit tersenyum sinis, mengulurkan telapak tangan untuk bersalaman dan memperkenalkan diri. "Perkenalkan, saya Raditya, calon suaminya Aqilla."
"Calon suami?" decak Ilham seraya tersenyum menyeringai, hatinya tiba-tiba panas terbakar, rasanya tidak terima jika mantan istrinya itu mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya, ia bahkan mengabaikan uluran tangan pria itu. "Oh ... jadi gara-gara ini anak-anak sakit, hah! Kamu enak-enakan pacaran dan anak-anak, kamu terlantarkan?"
"Apa tidak kebalik?" decak Radit, sementara Aqilla hanya terdiam dengan kepala menunduk. "Siapa yang menelantarkan siapa? Hey, Bung, kalau ngomong itu ngaca dulu, bukannya yang sibuk pacaran itu Anda, ya?"
"Dasar brengsek!" decak Ilham, kedua tangannya seketika mengepal.
"Kamu belum ke bagian administrasi, Sayang?" tanya Radit, kembali menoleh dan memandang wajah Aqilla dan hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh wanita itu. "Hmm ... baiklah, urusan administrasi nanti saja kalau begitu, kayaknya kamu butuh istirahat. Kita masuk aja, anak-anak udah tidur ko."
Aqilla menganggukkan kepala dan hendak melangkah menuju pintu kamar. Namun, langkahnya seketika terhenti saat pintu tersebut tiba-tiba dibuka dari dalam. Kaila berdiri di belakang pintu, menatap wajah Ilham dengan terkejut dan kedua mata berkaca-kaca.
"A-Ayah?" gumamnya, lalu berlari dan memeluk tubuh sang ayah. "Apa Ayah ke sini mau ngejenguk Keano? Kenapa Ayah baru dateng sekarang? Aku kangen banget sama Ayah. Keano sakit, Yah. Huaaaa!"
Bersambung ....