NovelToon NovelToon
INGRID: Crisantemo Blu

INGRID: Crisantemo Blu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: I. D. R. Wardan

INGRID: Crisantemo Blu💙

Di balik nama Constanzo, Ingrid menyimpan luka dan rahasia yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami. Dikhianati, dibenci, dan hampir dilenyapkan, ia datang ke jantung kegelapan-bukan untuk bertahan, tapi untuk menghancurkan. Namun, di dunia yang penuh bayangan, siapa yang benar-benar kawan, dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari bayang-bayang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I. D. R. Wardan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Terrore

Laki-laki itu terjatuh ke dinginnya lantai ketika Marcello datang dan tanpa aba-aba menghantam bogeman mentah padanya.

Tanpa mengucap sepatah katapun, Marcello langsung menarik tangan Ingrid kaluar dari ruangan itu, meninggalkan laki-laki itu terduduk seraya menyeringai puas.

Ingrid hanya bisa diam mengikuti kemana Marcello menariknya, otaknya masih memproses apa yang baru saja terjadi. Pada saat menuruni tangga, Marcello menghentikan langkahnya, ia berbalik kemudian melihat Ingrid yang berdiri satu anak tangga di atasnya.

"Dengarkan aku baik-baik Ingrid, jangan pernah mendekati laki-laki tadi lagi. Camkan kata-kataku ini."

Sebelum Ingrid sempat merespon, Marcello kembali menarik tangannya agar kembali berjalan.

Beberapa saat mereka berjalan, mereka berhenti di mana mobil Navarro terparkir.

Marcello menggedor dengan keras kaca mobil Navarro, tampak sekali bagaimana emosi telah menguasainya. Navarro yang duduk di dalam, menoleh dengan ekspresi terkejut sebelum akhirnya keluar.

"Ada apa ini?" tanyanya heran.

"Cepat bawa dia pulang," perintah Marcello tegas.

"Tapi—"

"Sekarang!" Nada bicara Marcello terdengar semakin meninggi.

"Y-ya baiklah," jawabnya dengan enggan. Ia tahu lebih baik tidak berdebat saat Marcello sedang marah.

"Ingrid, masuk kedalam mobil! MASUK!" Ingrid menurut masuk ke dalam mobil.

"Setidaknya, bisakah kau memberitahuku yang sebenarnya terjadi."

Marcello mengusap wajahnya dengan frustasi. "Inilah sebabnya aku keberatan dengan keputusanmu membawanya kemari. Pergilah, kita akan bicarakan ini nanti malam."

Navarro mengangguk, lalu masuk ke mobil dan melaju pergi.

Terdengar suara tawa kecil dan langkah kaki mendekat dari arah belakang Marcello. Marcello pun tau benar siapa orang itu, ia berbalik dengan wajah tak bersahabat.

"Ow, lihat wajah permusuhan itu. Sikap yang sangat buruk, saudaraku." laki-laki itu kembali tertawa.

"Menjauhlah darinya, Frenzzio. Dia tidak ada hubungannya dengan kita."

Laki-laki bernama Frenzzio itu tersenyum meremehkan. "Ada hubungannya, dan kau paling tau tentang itu," Frenzzio berjalan dengan santai melewati Marcello manuju mobilnya yang terparkir rapi.

"Segeralah pulang saudara kembarku, atau ibu akan mulai mengomel nanti." Frenzzio tertawa puas sambil masuk kedalam mobil miliknya, kemudian menancap gas pergi meninggalkan Marcello yang terlihat Frustasi.

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

"Kau mau menceritakan apa yang terjadi?"

"Bisakah aku ceritakan nanti, aku ... sedikit lelah."

Navarro mengangguk pelan. "Baiklah."

Ingrid segera menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sementara Navarro memilih mengistirahatkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang keluarga.

"Apa aku membuat kesalahan dengan membawanya kemari?" monolog Navarro dengan lirih.

Navarro memejamkan matanya, tapi baru saja sebentar, ada suara bel pintu yang berbunyi. Navarro melihat ke sekitar, tidak ada orang di sekitarnya, jadi daripada lebih terganggu ia memilih membuka pintu itu.

Ternyata ada seorang kurir yang menghantarkan sebuah kotak paket untuk Ingrid. Navarro menerimanya, ia segera membawa paket itu untuk diserahkan kepada Ingrid.

Navarro mengetuk pintu kamar Ingrid. Pintu terbuka. "Ada kiriman paket untukmu." Navarro menyerahkan kotak itu ke tangan Ingrid.

"Paket? Tapi aku tidak memesan apapun."

"Benarkah? Tapi aku sudah mengecek nama dan alamatnya tadi, ini benar untukmu."

"Bagaimana—" Ingrid terdiam sejenak seperti menyadari sesuatu. "Oh ya, aku ingat, aku memang memesan sesuatu. Terima kasih, Navarro."

Ingrid dengan cepat menutup pintu, hingga Navarro pun agak terkejut bingung dibuatnya.

"Ada-ada saja." Navarro menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berlalu untuk kembali melanjutkan acara tidur siangnya yang terdunda. padahal dia masih memakai seragamnya, tapi ia tidak perduli, yang terpenting sekarang adalah tidur.

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

Ingrid mendudukkan dirinya di kasur dengan gelisah. ia membuka kotak itu. "Tidak mungkin dia, bukan? Mustahil dia tahu aku di sini."

Kotak itu terbuka, di dalam kotak itu terdapat satu kotak lagi yang berukuran sedikit lebih kecil berwarna merah maroon bergliter dengan hiasan pita berwarna biru.

Mata ingrid terbelalak. "Bagaimana mungkin?"

Dengan tangan gemetaran Ingrid mengambil kotak marun itu, kemudian membukanya.

Setangkai bunga krisan merah.

Sepucuk surat bercak darah.

Wangi anyir khas darah tercium menusuk indra penciuman Ingrid. Dia memberanikan diri membaca isi suratnya.

'Kau tidak bisa pergi dariku. Bahkan sekarang, kita semakin dekat.'

Ingrid buru-buru menutup kembali kotak itu, ia benar-benar tak habis pikir pada pengirim teror ini. Padahal ia sudah pindah jauh dari rumahnya sebelumnya, tapi kenapa si pengiriman teror itu bisa menemukannya.

"Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Ingrid frustasi.

Teror kotak ini sudah lama terjadi sejak sekitar dua tahun yang lalu. Setiap tiga hari sekali, kotak dan isi yang sama terus-menerus ia dapatkan dari orang tak dikenal. Surat-surat berisi kata-kata cinta dan obsesi, disertai darah dan bunga krisan merah yang selalu ada, membuatnya takut. Beberapa kali ia coba mencari tahu siapa pengirim Kotak-kotak ini, namun nihil ia tidak menemukan apapun.

Ia sudah lelah dengan semua ini, ia ingin memberitahu orang terdekatnya, tapi ia tak punya keberanian. Ia takut orang lain justru terkena imbasnya, sama halnya seperti ... Ayahnya.

Saat itu Ingrid mengadukan tentang teror yang ia alami pada sang ayah. Ayahnya saat itu melaporkan hal ini pada pihak berwajib. Namun entah apa yang terjadi, beberapa hari kemudian ayahnya terlihat sangat panik dan mengajaknya untuk segera pindah dari rumah dan kota yang ia tinggali.

Akan tetapi, satu malam, sebelum mereka pindah, terjadi sebuah peristiwa kelam yang seketika mengubah kehidupan Ingrid dalam sekejab.

Entah orang ini terlibat atau tidak, Ingrid tak tahu pasti.

Ingrid menghela nafas berat, dia membuang kotak itu ketempat sampah, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Ia butuh waktu menenangkan diri.

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

Ingrid dan Bibi Nora tengah bersantai di ruang keluarga dengan menonton film sambil menikmati kue.

Bibi Nora mempunyai sebuah butik, butik miliknya itu menjadi salah satu butik terkenal dikota ini. Sementara ayah Navarro atau suami dari bibi Nora yaitu paman Riso, bekerja sebagai pilot yang sekarang tengah dalam masa kerja.

"Ibu, aku akan keluar."

"Jangan pulang terlalu malam, Navarro!"

"Aku akan pulang pukul dua."

"Kau!!!"

Navarro terkekeh. "Tidak, aku bercanda. Adik kecil, Berhati-hatilah medusa itu akan menyerangmu." Navarro berlari pergi.

"Apa!! dasar anak nakal!" Nora melemparkan sandal rumahnya pada Navarro, tapi Navarro berhasil menghindar.

Ingrid tersenyum menyaksikan kelakuan kedua ibu dan anak ini.

"Astaga, bagaimana aku bisa melahirkan anak sepertinya, dia selalu membuatku mengalami tekanan darah tinggi," keluh Nora.

"Melihat bibi seperti ini, aku tidak heran melihat kelakuan Navarro."

"Apa? Seenaknya saja, Varro itu mendapat sifat itu dari ayahnya, bukan bibi. Kau akan lebih terkejut ketika melihat pamanmu itu. Ayah dan anak itu selalu membuatku rasanya terkena serangan jantung."

"Sayang, tidak sopan membicarakan orang di depannya langsung."

Ingrid dan bibi Nora menoleh ke arah datangnya suara seorang pria itu. Bibi Nora seketika tersenyum, ia bangkit dan segera memeluk suaminya yang sudah beberapa waktu tidak pulang karena pekerjaannya.

Mereka meluapkan kerinduan yang selama ini tertahan, hingga melupakan Ingrid yang juga masih berada diruangan yang sama dengan mereka.

"Ow, maaf. Halo Ingrid."

"Halo, paman," Ingrid tertawa kecil," lanjutkan saja, paman. Aku baru saja akan pergi."

"Kau mau kemana malam hari seperti ini, Ingrid?" tanya Bibi Nora.

"Ada yang harus kubeli di swalayan."

"Paman akan mengantarmu, ayo!"

"Tidak, paman. Aku tidak masalah pergi sendirian, swalayannya tidak terlalu jauh, lagi pula paman pasti lelah."

Ingrid beserta paman dan bibinya sempat berdebat cukup panjang namun pada akhirnya mereka mengizinkan Ingrid untuk pergi sendirian.

Dan di sinilah Ingrid sekarang, berjalan sendirian di tengah jalanan yang sepi untuk menuju ke swalayan. Semuanya baik-baik saja hingga Ingrid merasa ada yang mengawasi serta membututinya.

Ingrid menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke belakang, tidak ada siapapun. Ia kembali melihat ke depan dan berjalan lagi. Beberapa saat kemudian, Ingrid kembali menghentikan kakinya untuk melangkah. Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya ke arah belakang tapi tetap tak ada siapapun.

Ingrid pun merasa heran sekaligus tak tenang, perasaan was-was dan takut mulai merasuki pikirannya. Ia melihat ke sekitar dengan seksama tetap tak ada satu orang pun.

Akhirnya Ingrid mencoba mengenyahkan segala pemikiran buruknya dan segera kembali melanjutkan jalannya.

Suara pijakan sepatu, perlahan tapi pasti, merebak di telinga Ingrid. Meskipun suara langkah kaki sangat selaras dengannya tapi kali ini benar-benar yakin merasakan seseorang di belakangnya.

"Ciao, amore."

1
minato
Terhibur banget!
I. D. R. Wardan: makasih udah mampir, semoga gak bosan ya🥹💙
total 1 replies
Yuno
Keren banget thor, aku jadi ngerasa jadi bagian dari ceritanya.
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹
total 1 replies
Yoh Asakura
Menggugah perasaan
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹 author jadi makin semangat nulisnya 💙
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!