NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

“Eh, jelek! Ngapain di sini? Nggak tahu diri banget, sih. Nggak tahu apa kalau misalkan dirinya tuh jelek? Mendingan nggak usah dandan deh, lu malah makin aneh. Tahu nggak?”

Semua orang bersorak terhadap Alia, dan pada saat itu juga Alia menangis karena tindakan teman-temannya yang keterlaluan kepadanya.

Sedangkan Arnold, yang dari jauh melihat ke arah Alia, merasa kasihan. Namun, saat Arnold mau melangkah lebih jauh, dirinya sadar kalau bukan siapa-siapa bagi Alia. Meskipun begitu, ia tetap kasihan melihat Alia sendirian dirundung seperti itu. Ia tahu, itu bukan tindakan yang baik untuk di sekolah.

Akhirnya, Arnold memberanikan diri untuk mendekati Alia sehingga teman-teman yang lain tidak berani merundungnya lagi.

“Semuanya berhenti, ya! Jangan pernah sakitin Alia lagi, karena dia ini cewek gue. Dan jangan pernah kalian mencoba merundung dia lagi. Kalau seandainya ketahuan gue, gue nggak akan tinggal diam. Gue pasti akan ngelaporin semuanya ke kepala sekolah!”

Semuanya bersorak, merasa kalau tingkah Arnold tidak seru dan tidak bisa dijadikan bahan bercandaan.

Alia melihat ke arah Arnold, tetapi Arnold tidak mau menatap balik. Alia bingung, ada apa dengan Arnold.

Tanpa sadar, ternyata Arnold mendekap Alia dengan erat. Hal itu membuat Alia jadi salah paham dengan tingkah Arnold. Arnold yang baru sadar sudah mendekap Alia terlalu lama akhirnya mencoba melepaskan, tetapi Alia tidak mau dilepaskan. Ia malah mendekap Arnold lebih erat lagi.

“Boleh nggak kita kayak begini dulu? Soalnya gue masih merasa takut dan bingung harus berbuat apa… Hanya lu doang yang ada di dekat gue. Maafin gue, ya, udah sering ngerepotin lu.”

Arnold hanya mengangguk dan menenangkan wanita yang sedang sedih karena dirundung semua orang di sekolah.

Arnold merasa, terkadang menjadi Alia memang tidak enak. Kadang diam saja bisa dirundung, apalagi kalau berulah. Tapi ia juga percaya, semua itu pasti ada balasan yang setimpal.

“Sudah, ayo masuk kelas. Mau sampai kapan di sini terus?”

“Okay.”

Alia terus menangis, lalu pergi ke kamar mandi. Setelah itu, ia menghapus makeup. Selesai, Alia keluar.

“Makasih ya, Arnold, udah mau bantu gue hapus makeup.”

“Ya, sama-sama. Ya udah, kalau gitu gue ke kelas dulu, ya. Bye. Sebenarnya gue udah telat ke kelas, cuma demi lu, gue lakuin. Lu hutang sama gue, traktir gue makan, ya.”

“Tenang aja, pasti akan gue traktir kok. Sekali lagi, makasih ya.”

Arnold hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Alia. Entah kenapa, Alia selalu salah paham arti senyum Arnold itu.

Arnold yang pergi dari hadapan Alia merasa jantungnya berdegup kencang ketika bisa tersenyum seperti itu kepada Alia.

Alia yang senang dengan sikap Arnold membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Seolah-olah, ia benar-benar lemah akan pesona Arnold.

---

Saat di kelas

Untuk pertama kalinya, Alia merasa tidak fokus belajar. Entah kenapa dirinya bisa melakukan hal bodoh seperti tadi. Padahal, dirinya dan Arnold beda kelas. Bagaimana kalau mereka sekelas?

Apa yang membuat Alia berpikir untuk menyukai Arnold? Padahal mereka beda kelas, beda tingkatan, dan bahkan kenapa Arnold mau menikah dengannya pun ia tak mengerti.

Arnold tidak merasa bersalah kalau memang harus menunggu Alia sambil berdiam diri dan bekerja. Ia menganggap menikah hanya sebagai status untuk kepentingan pribadi.

---

Selesai sekolah

Arnold menunggu Alia di depan kelas. Alia bingung mengapa Arnold menunggunya.

“Kenapa lu tungguin gue?”

“Eh, nggak sopan! Panggil gue kakak.”

“Apaan, sih? Aneh banget gue harus panggil lu kakak.”

“Terus, lu mau panggil gue apa? Suami? Kan belum sah. Nikah dulu lah, baru panggil suami. Gimana, sih?”

Semua orang memandangi mereka. Perasaan malu membuat Alia akhirnya pergi dari hadapan Arnold.

Arnold mengejar Alia sampai dapat. Setelah itu, Arnold menarik tangan Alia masuk ke ruang lab yang sudah tidak digunakan lagi.

Alia takut dengan tempat gelap dan sepi seperti itu. Arnold mulai berpikir, apakah sikapnya barusan terlalu kasar. Ia pun mencoba menenangkan Alia.

“Maaf, kamu takut sama sikap aku yang kurang ajar, ya? Sekali lagi, aku minta maaf sama kamu. Aku janji nggak bakal ngulangin kesalahan yang sama.”

Alia tetap diam dan tidak membalas perkataan Arnold. Apakah ia benar-benar marah?

Arnold mencoba mencari cara untuk berbicara, sampai akhirnya Alia tidak tahan dan menatap Arnold.

“Boleh nggak kita keluar? Maksud gue, jangan bicara di sini.”

Arnold paham, mungkin Alia bukan marah padanya, tetapi takut dengan tempat gelap dan sepi itu.

Akhirnya, Arnold dan Alia keluar dari sana. Alia langsung menarik napas panjang dengan ritme yang tidak beraturan.

Awalnya Arnold berpikir Alia bercanda, tidak mau berdua dengannya. Ternyata ia salah. Sebenarnya, Alia memang tidak bisa berada di tempat gelap karena membuatnya kehabisan oksigen.

Saat Arnold mencoba mendekat lagi, Alia pingsan di pelukannya. Arnold panik dan langsung membawanya ke ruang UKS.

Tidak lama, Alia masih dalam keadaan tidur, sedangkan Arnold bingung harus berbuat apa.

“Dokter, Alia nggak kenapa-kenapa, kan?”

Dokter hanya diam, lalu menjawab, “Alia cuma pingsan biasa, mungkin karena dia ada traumatik. Tapi kita nggak tahu traumatik apa. Kamu tadi ngapain sama dia?”

“Maksud dokter?”

“Ya, sebelum kamu bawa dia ke UKS, kamu ngapain aja sama Alia? Maksud saya baik, sih, cuma kalau kamu mau cerita, nggak apa-apa.”

“Tadi saya cuma bicara sama Alia, cuma kayaknya tempatnya nggak memungkinkan, Dok. Soalnya tadi agak kosong, nggak ada orang.”

Dokter yang mendengar itu langsung menggeleng kepala.

“Mungkin itu traumanya, dia nggak bisa ke tempat yang sepi, nggak ada udara. Kayak tadi kamu ajak dia ke sana.”

“Maaf, Dok. Saya nggak tahu kalau Alia nggak bisa ke tempat seperti itu.”

“Kenapa kamu minta maaf sama saya? Harusnya minta maaf sama Alia, kan salahnya sama dia, bukan sama saya.”

Arnold merasa tidak enak kepada Alia. Seharusnya ia menanyai dulu, agar semuanya tidak terjadi seperti ini.

“Ya sudah, kamu nggak usah sedih. Sebagai gantinya, kamu jagain Alia sampai dia sadar. Kalau dia sudah sadar, kasih tahu saya. Kayaknya dia butuh pemeriksaan lanjut, biar lebih jelas.”

“Baik, Dok. Makasih, ya.”

Dokter pergi meninggalkan mereka. Arnold melihat ke arah Alia sambil mencoba menggenggam tangannya.

“Maafin gue, ya. Harusnya gue tahu kalau lu punya trauma seperti itu, dan nggak seharusnya gue maksa lu cuma buat bicara. Gue benar-benar menyesal udah bikin lu kayak gini. Gue harap lu bangun. Please… kasih gue kesempatan buat minta maaf sama lu.”

Arnold pergi sebentar untuk menenangkan dirinya, karena ia takut jika harus menangis di depan Alia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!