Tinggal di kota besar yang padat penduduk, membuat kelima orang anak manusia ini menjalin persahabatan sejak kecil, walau keadaan status sosial dan suku berbeda, tapi mereka tetap bersama.
Kelucuan, kepolosan, dan kebahagiaan persahabatan mereka mulai memudar seiring usia yang beranjak remaja. Benih benih cinta muncul di antara persahabatn mereka.
Perbedaan di mulai, ketika mereka duduk di bangku SMA.
Bagaimana akhir persahabatan kelima anak manusia ini? Bagaimana kisah cinta mereka? akankah cita-cita kecil mereka menjadi kenyataan?
baca sampai end ya guys
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
End - Alhamdulillah
Lena dan Nisa sampai di rumah sakit. Mereka menghampiri Kokom yang tengah berbaring.
“Kom, ada Nisa dan Lena nih.” Ucap Ibunya Kokom yang berada di sampingnya.
“Iya, Bu.” Kokom mencoba untuk bangkit.
Kami membantu Kokom untuk menyandarkan tubuhnya pada dinding tempat tidur itu.
“Kalau pusing ngga usah bangun, Kom.” Kata Nisa.
“Ngga apa, gue kuat kok.” Jawab Kokom lirih.
Tiba-tiba Kokom membulatkan matanya.
“Nis, Lo bawa siapa?” Tanya Kokom yang melihat membelalakkan matanya ke arah belakang tubuh Nisa dan Lena yang sedang berdiri.
Lena dan Nisa pun bingung. Mereka ikut menengok ke belakang.
“Siapa, Kom?’ Tanya Nisa yang tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.
Lena pun memegang lengannya dan bersidekap.
“Kok gue jadi merinding sih, Nis.” Ucap Lena berbisik.
“di belakang lo ada orang gede banget, Nis. Len. Serem banget lagi.” Ucap Kokom lagi.
“Udah, Kom jangan ngomong yang enggak-enggak.” Kata Ibunya Kokom, sambil menggiring wajah Kokom untuk melihat ke arahnya.
“Istighfar, Kom.” Kata Nisa.
“Iya, banyak sebut nama Allah.” Sahut Lena.
Namun, Kokom kembali terdiam, tiba-tiba pandangannya kosong. Hingga ibunya Kokom kembali menepuk kedua pipi Kokom.
“Hei, Istighfar.” Kata ibu Kokom lirih.
“Ayo ikuti ibu, As.. tagh.. fi.. rulloh..hal .. adzim.”
Lalu Kokom pun mengikutinya. Berulang kali, Ibu Kokom berkata dengan perkataan yang sama dan Kokom pun mengikutinya dengan terbata-bata, kadang ia tidak mengikuti.
Nisa dan Lena menangis melihat keadaan sahabatnya itu.
“Ya Allah, Kokom.” Kata Lena sambil memeluk tubuh Nisa di sampingnya.
“Sumpah gue ga tega lihat Kokom seperti ini.” Kata Lena lagi.
Nisa pun menangis. Ia teringat Angga. Memang manusia tidak bisa menebak setiap takdir yang telah di tetapkanNya.
****
Selang satu minggu kemudian.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu.” Nisa menengok kepalanya ke kanan, lalu mengucap yang sama dan menengok ke arah kiri.
“Alhamdulillah.” Nisa mengusap wajahnya, setelah selesai sholat subuh.
Tiba-tiba terdengar suara dari speaker masjid.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke rahmatulloh anak dari bapak Sugiman yang bernama Kokom Sulastri usia dua puluh dua tahun, yang beralamat di jalan xxx.”
“Innalillahi, Kokom.” Nisa histeris dan membuka mukenanya.
Dhira yang masih tidur pun langsung terkejut.
“Ada apaan sih, Nis. Teriakan lo ngagetin tau ngga.” Kata Dhira sambil mengucek kedua matanya.
“Kokom, Kak. Kokom meninggal.” Kata Nisa sambil menangis.
“Innalillahi.” Ucap Dhira yang kemudian bangkit dari tempat tidurnya.
Nisa berlari ke kamar Ummi.
“Ummi, kokom.” Nisa memeluk tubuh sang ibu yang juga tengah duduk di atas sajadahnya.
“Iya, Ummi dengar.”
“Ummi.” Nisa menangis di pangkuan sang ibu.
“Kenapa Dhira selalu protes kalau Ummi suka lama ketika sholat?” Tanya Ummi yang membuat Nisa menggelengkan kepalanya.
“Karena Ummi selalu mendoakan kebaikan untuk semua anak ummi, untuk Hafidz, Dhira, dan kamu. Ummi selalu mendoakan agar anak-anak ummi selalu di beri jalan yang lurus.”
“Ummi.” Nisa semakin menangis kencang.
“Nisa sayang Ummi, Nisa sayang Ayah. terima aksih Ummi.”
Ummi pun menangis.
“Hidup itu hanya sekali, Nis. Pergunakan waktu di dunia dengan sebaiknya, karena semua kebaikan yang kita lakukan bukan untuk orang lain, bukan juga untuk RabbMu, tapi untuk dirimu sendiri. Begitu pun sebaliknya. Seperti hadis kudsi ini, walau seluruh umat di bumi semua menyembahku, maka itu tidak akan mengurangi kekuasaanku, walau semua umat di bumi tidak menyembahku, itu pun tidak akan mengurangi sedikitpun kekuasaanku. Begitulah bahwa sebenarnya manusia yang membutuhkan Dia sang pencipta, bukan Dia yang membutuhkan kita.”
Nisa mengangguk.
****
Setahun berlalu lagi. Nisa sudah bekerja di perusahaan swasta sebagai bagian keuangan. Budi pun sudah kembali ke rumahnya di sini.
Beberapa kali Nisa dan Budi bertemu dan berbincang, karena saat ini Budi dan Nisa tengah mencoba untuk mengikuti tes CPNS, walau keduanya sudah sama-sama bekerja di perusahaan swasta.
“Nis, aku di terima.” Ucap Budi yang tiba-tiba datang ke rumah Nisa membawa surat kabar.
“Kamu udah lihat belom namamu di sini?” Tanya Budi.
Nisa menggeleng. “Belum Bud, takut. Takut namaku ngga ada di sini.”
“Ya, tapi tetap harus di lihat donk, Nis.” Lalu, Budi menyerahkan surat kabar itu pada Nisa.
“Ah, lama banget. Sini aku yang cari. Aku inget kok nomor ujian kamu.” Budi kembali emngambil surat kabar itu.
Lama Budi mencari nomor Nisa perlahan di sana.
“Tuh kan ngga ada namaku. Udahlah Bud, lagian aku cuma coba-coba aja kok. Ngga di terima juga ngga apa-apa.”
Budi menutup surat kabar itu. “iya, Nis. Nomor ujian kamu ngga tertera di sini.”
Budi terlihat lemas.
“Udah sih, Bud. Ngga apa kali, emang rezekiku bukan di situ. Rezeki aku di sini. aku yakin kok apa yang Allah kasih ke aku itu adalah yang terbaik. So, enjoy ajalah.”
Budi tersenyum. “Hebat kamu, Nis.”
Akhirnya, Budi akan kembali pergi dari daerah ini. setelah ia di terima menjadi Pegawai Negeri Sipil, ternyata ia di tugaskan di luar Jakarta, tepatnya di Riau. Sebelum itu, Nisa, Lena, dan Budi janjian untuk mengunjungi makan Angga dan Kokom.
Hari ini, Lena, Nisa, dan Budi berdiri di makam Angga. Mereka mendoakan salah satu sahabatnya di sana. selanjutnya, mereka beralih ke makam Kokom. Mereka pun mendoakan satu lagi sahabatnya yang telah berpulang lebih dulu.
Mereka bertiga berdiri di sini, mengingat segala hal yang pernah merka lalui bersama berlima. Teman satu sekolah, satu lingkungan rumah, dan satu tempat mencari ilmu agama itu, kini tinggal bertiga.
“Angga, Kokom, kalian memberi kami pelajaran hidup yang sangat berharga.” Kata Budi.
“Kalian selalu berada di sini.” Kata Lena yang menepuk dadanya.
“Semoga Allah mengampuni dosa kalian dan di tempatkan di tempat yang paling baik di sisiNya.” Kata Nisa.
“Aamiin.” Jawab lena dan Budi bersamaan.
Nisa, Lena, dan Budi pun menjalani hidupnya masing-masing dan tinggal di kota masing-masing.
****
Satu tahun berlalu lagi.
“Nis, mau ya mba kenalin sama teman suami mba?” Tanya salah satu senior di kantor Nisa.
“Apa sih mba? Semangat banget sih mau kenalin aku.” Jawab Nisa tersenyum dengan mata yang tetap tertuju pada monitor komputer kantornya.
Di kantor, Nisa memang dekat dengan seniornya yang bernama Kinan.
“Eh, usiamu sudah cukup untuk menikah loh, kebetulan teman suamiku orangnya sepertimu, ngga mau pacaran dan emang niat mencari istri.”
“Mba, aku lagi males taaruf dulu. Kemarin aku udah sering di kenalin sama teman aku yang ini, yang itu, tapi ngga ada yang cocok.” Jawab Nisa lirih.
Ya, ia memang sudah taaruf dengan beberapa pria, tapi tidak ada yang cocok di hatinya. Entah mengapa? Padahal ia pun sudah ingin menikah.
“Emang kritertamu seperti apa? Tanya Kinan.
“Yang soleh aja cukup. Tapi kalau ganteng dan tajir, alhamdulillah.” Jawab Nisa dengan cengiran.
“Beuh, itu mah sama aja milih.” Kinan ngeluyur melewati temapt duduk Nisa.
Nisa pun tertawa.
“Mba kinan.” Panggil Nisa lagi.
Kinan pun menoleh ke arah Nisa.
“Boleh deh, kalau mau kenalan dulu. Kebetulan sabtu besok aku mau ke toko buku di daerah Matraman. Kalau mau ketemuan, sekalian di sana. Dia datang ngga datang, aku emang ada perlu mau cari buku di sana.” Ucap Nisa,
”Sombong.” Kinan mencibir Nisa dan Nisa pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
****
Hari sabtu pun tiba. Nisa tengah bersiap untuk pergi ke toko buku. Nisa berpamitan pada kedua orang tuanya. ia pun bergumam dalam hati.
“Ya Robb, jika pria yang akan bertemu denganku hari ini adalah jodohku, maka permudahkan. Jika bukan, maka jauhkan kami.. Aamiin.” Nisa mengusap wajahnya, lalu berjalan menuju skuter matik yang baru enam bulan di belinya dengan cara mencicil.
Sesampainya di toko buku itu, Nisa berjalan menyusuri beberapa rak buku yang berjejer di sana. ia memilah-milah dan mempertimbangkan buku yang akan di beli. Sesekali ia pun melihat jam di tangannya, sudah lebih dari satu jam tapi Kinan belum menampakkan diri.
“Ah, mba Kinan pasti ga jadi dateng. Dasar PHP aja. Untung aku belum merasa di PHP in.” Gumam Nisa.
Lalu, ia menemukan buku yang di cari dan membayarnya. Ia pun segera melangkahkan kakinya keluar toko buku itu.
“Itu Nisa.” Suara Kinan dari kejauhan.
“Nisa.” Panggil Kinan dan Nisa pun langsung menoleh.
“Nis, maaf ya lama. Tadi ban motor suamiku pecah, padahal Hanan udah nunggu dari tadi.”
Nisa menoleh ke wajah yang di tunjukkan Kinan.
“Assalamualaikum, apa kabar?” tanya Hanan pada Nisa.
“Kamu?” Nisa menunjuk ke arah Hanan sambil menganga tak percaya.
Pasalnya, Hanan adalah pria di kampus yang pernah ia mintai tolong untuk menitipkan absen pada semester pendek dengan mata kuliah pajak.
“Iya, ini aku. Terakhir kita bertemu di masjid kampus, kamu tidak pernah tanya siapa namaku.” Kata Hanan.
“Maaf, aku juga belum sempat mengucapkan terima kasih, karena kamu sudah mengabsenkan aku yang sedang bolos. Malam itu.”
Hanan menggeleng.
"Tidak masalah, walau pun sebenarnya itu tidak benar, karena aku harus berbohong mengabsenkan orang yang tidak hadir.”
Nisa mengangguk. “Maaf.”
Hanan tersenyum Pria itu tak henti-hentinya mengulas senyum.
“Wah ternyata kalian emang udah kenal?” tanya Kinan.
Hanan mengangguk.
"Kami satu kampus, bedanya Nisa anak mahasiswa reguler yang niatnya mencari ilmu, kalau aku anak mahasiswa malam yang niatnya mencari ijazah." Imbuh Hanan.
"Tapi sekalian nyari istri juga." Ledek Kinan.
"Ngga juga sih, bedanya lagi di kampus hampir semua orang kenal Nisa. Kalau aku, hampir semua orang ngga kenal aku."
Kinan dan suaminya tertawa, begitu pun aku.
Hanan memang berbanding terbalik dengan Angga, walau dia memiliki paras yang tak kalah tampan dari Angga. Hanya saja, Hanan terlihat lebih culun dan tak banyak teman. Satu-satunya teman yang Hanan miliki hanyalah suami Kinan.
“Wah ternyata emang lo udah ngincer Nisa.” Suami Kinan menyenggol lengan Hanan.
Hanan pun mengangguk malu, dengan tetap mengulas senyum.
Ternyata, Hanan sudah merencanakan taaruf ini sejak lama, sejak ia melihat di sosial media milik temannya yang di sana ada tag dari sang istri dengan teman-teman kantornya. Lalu, Hanan melihat sosok Nisa pada salah satu teman kantor istri temannya di dalam foto itu.
Semakin mengenal Hanan, Nisa pun semakin menyukainya. Satu hal lagi yang membuat Nisa yakin menerima pinangan Hanan, dia mencintai dirinya sendiri, itu terbukti dari caranya memilih teman, memilih mana yang terbaik untuk dirinya, dan membangun masa depannya dengan kuliah sambil bekerja. Karena Nisa yakin ketika seseorang itu bisa mencintai dirinya sendiri, dia pun akan bisa mencintai orang lain.
Hanan tidak butuh waktu lama untuk meminta Nisa pada orang tuanya. Niat Hanan pun di terima baik oleh ayah Nisa, dan keluarga besarnya. Hingga tiga bulan kemudian Nisa dan Hanan melangsungkan pernikahan.
T A M A T
Sujudku... pun tak kan puaskan inginku tuk haturkan sembah sedalam kalbu
Adapun ku sembahkan syukur padamu ya Allah
Untuk nama, harta, dan keluarga yang mencinta
Dan perjalanan yang sejauh ini tertempa
Alhamdulillah, pilihan dan kesempatan
Yang membuat hamba mengerti lebih baik tentang makna kehidupan
Semua lebih berarti, apabila di hayati
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulilah..
(Puisi akhir lagu Too Phat Feat Dian Sastro, Alhamdulillah)