NovelToon NovelToon
Bintang Perak

Bintang Perak

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Contest / Light Novel / Tamat
Popularitas:227.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak semua bintang itu bersinar, seperti aku. Bintang Perak!
Aku jagoan---jagoan dengan hati yang lembut, selembut segala bulu---bulu landak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Duduk bersisian di sebuah bangku taman di belakang restoran, aku dan Gabe masih menikmati keadaan yang memaksa kami melakoni kisah yang tak seharusnya ini.

"Gue gak nyangka, cewek dollar yang dimaksud mustika itu elo."

Gabe terperanjat mendengar ujarku. "Cewek dollar? Maksud lo?"

Aku tersenyum, memandangnya lagi-lagi sekilas.

Anggap saja aku bergibah saat ini. Selanjutnya kuceritakan tentang siapa Mustika dan segala lakonnya, yang tentu saja menghasilkan aroma terkejut yang menyengat di sekitaran Gabe. Ia melongo wajah tak percaya.

"Ibu tiri lo sejahat itu?" Menatapku iba.

"Lo gak usah pasang mode kasian kayak gitu. Gue udah biasa dari kecil. Terkadang idup itu memang kudu banyak ditempa, biar kuat," kekehku receh.

"Ternyata rumor tentang kejamnya mak tiri itu bener, ya?" Gabe bergidik ngeri.

Aku terkekeh menanggapi. "Nggak kejem kok, cuma gatel duit aja."

"Duit ada kulit? Kok bisa gatel?" Ia bertanya oon.

Kali ini aku tergelak. "Iya, kulit Nyi Pelet. Kalo lo pegang, lo ketagihan. Ampe jadi gila."

"Gue sering megang duit, gak gila, tuh!" kilahnya.

"Haha... bodo, lah!" Aku menyerah. Lagipula ini bukan saatnya menjemur gigi. "Gue boleh pinjem hape lo?"

Sedikit heran. "Buat?"

"Open PO." Aku mendelik. "Ya, kali, Gabe. Gue mau hubungin pacar lo!"

"Jibril?"

"Emang pacar lu siapa aja?"

"Ya, cuma Jibril!" jawabnya lugas.

"Nah trus ngapa lo nanya, Saodah?!" seruku tak habis pikir. "Cakep-cakep kurang."

Lalu ....

"Aww!" Aku memekik. "Sakit, suek!" Seraya kuusap-usap punggung tanganku, kala satu cubitan tipis tapi bertenaga itu mendarat sebagai balasan.

"Makanya jaga mulut lo!"

"Iya, tar gua sewa pak Jaimin," balasku sekenanya. "Mana sini hapenya, gue pinjem."

....

"Nih!" Disodorkannya benda pipih bergambar apel tergigit itu ke tanganku. Berengut membingkai di wajah glowingnya.

"Makasih. Bentar, ya."

Aku mulai mempekerjakan jariku untuk mengetik beberapa kalimat dengan tujuan Jibril. Namun tiba-tiba ....

Goyang dombreeett ... 🎼

Goyang dombreeett ... 🎼

Mulanya aku terkejut, kenapa lagu itu tiba-tiba muncul menghalangi bait-bait kata yang baru saja kuketik. Namun berdetik kemudian aku sadar, bahwa itu adalah sebait nada dering panggilan.

"Hahaha." Tawaku meledak kemudian.

"Siniin." Gabe merebut paksa ponsel itu dari tanganku. "Ngapain lo ketawa?"

"Hahaha ...."

"Diem gak! Ini tu ringtone manis gue, khusus buat dia." Ia menendang engkel kakiku lalu melenggang menjauh untuk menjawab panggilannya.

"Ouh, jadi panggilan sayang lu sama Jibril sekarang berubah jadi dombret?" Aku kembali terbahak.

Gabe yang kini berdiri di dekat sebuah pohon mangga, mengacungkan jari tengahnya ke arahku. "Diem lo!"

Seperti itulah kira-kira bentuk gerak bibirnya.

Dan aku geleng-geleng, masih dengan sisa tawaku, seolah tak ada beban yang menumpu.

...✴️✴️✴️...

"Udah puas ngobrolnya?" Mama Gabe bertanya dengan senyum mengembang di wajahnya.

"Udah, Ma--"

"Belum, Tante," pungkasku seraya mendudukkan tubuhku di kursi samping Mustika.

Dari ekspresinya aku tahu, dalam benak Mustika kini berjejal pertanyaan tentang apa yang aku lakukan dengan Gabe beberapa saat lalu. Bukan mengarah pada kegiatan syur, tetapi ... pemanfaatan jenis apa yang aku lakukan pada gadis itu?

Biarkan ia memikirkannya sendiri!

"Belum puas? Memang kalian bahas apa?" lanjut Mama Gabe lagi penasaran.

"Banyak hal, Tante."

"Oya? Tante seneng dengernya."

"Iya, Tan. Gabe asyik orangnya."

"Emang di tempat teater kalian gak pernah ngobrol?" Kali ini suara Mustika.

Aku menoleh ke arahnya. "Nggak, Ta--, eh Mama. Gabe punya dunianya sendiri di sana," kilahku sekenanya.

Para orang tua itu hanya manggut-manggut.

"Ya sudah, kalian makan malamlah dulu." Tuan Prasta Surya menyarankan.

"Nanti aja, deh, Om," sahutku. "Umm, Om ... ini, kan, baru jam delapan lewat dikit." Aku menatap ragu ke arah pria itu. " ... boleh gak, aku ajak Gabe nonton. Sebentaaar aja, Om."

Lagi-lagi si Gaby itu memasang wajah melongo. Padahal sudah kujelaskan beberapa hal yang seharusnya bisa disimpulkannya dengan mudah. Tapi ...

Partner kerjaku ini sedikit melewati garis lurusnya. Tanggapannya loading syekaleee ....

Aduh, Jie ... cewek lu ini cakep, tapi kadang-kadang palanya, keluhku dalam hati.

Dan aku masih menunggu putusan Prasta Surya, perihal izinku.

"Ya, sudah, Om izinkan."

Aku menghembus nafas lega. "Kalian mau nonton di mana? Biar diantar supir saja."

"Nggak usah, Pa," tolak Gabe. "Pake mobil aku aja. Pak supir biar pulang naik taksi. Bintang bisa nyetir, kan?" tanya gadis itu padaku.

Aku mengangguk. "Bisa, Gabe."

"Tuh, kan, Pa. Dia baik, kok. Pasti aku dianter pulang tepat waktu."

Pasutri itu saling melempar tatap.

"Izinin aja, Pa. Mama percaya, kok, sama Bintang."

Berbeda dengan Mustika. Ia terlihat mulai gusar. Telapak tangannya kini meraih ponsel di dalam tas jinjingnya secara diam-diam.

Dan aku tahu apa yang akan dilakukannya.

...***...

Kini aku sudah bertengger di balik kemudi mobil bernuansa girly milik Gabe. Sedangkan sang empunya, masih asyik dengan ponsel di tangannya di sampingku.

Di sela fokusku, mataku tiba-tiba teralih pada spion dalam yang menangkap bayangan sebuah mobil di belakang mobil yang kini ku kemudikan. Jeep itu terus meliuk mengikuti, seolah tak ingin tertinggal.

Baiklah!

Ku putar bingkai stir ini cepat hingga tubuh Gabe terhentak maju ke depan secara refleks. "Lo nyetir gimana, sih?!"

"Lo liat di belakang, noh! Mobil itu ngintilin kita!" jelasku sembari terus menancap pedal gasku.

Gabe menggerakkan tubuhnya melihat ke kebelakang. "Iya, Bin. Mereka siapa?"

CKIIIITTT ....

"Kenapa berenti di sini?" Gabe mulai bingung. Aku menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah jalan buntu yang sepi.

"Tunggu aja," kataku.

Gabe menatapku tak mengerti. "Mereka berbahaya, gak, Bin?" Ia mulai cemas.

Mobil Jeep itu juga turut berhenti beberapa belas meter di belakang kami.

"Gue gak tau," jawabku enteng. "Lo tetep di sini. Gue ke sana dulu."

"Eh! Mau ngapain?"

"Ngasih pelajaran mereka." Seraya ku tutup pintu mobil ini dari luar.

Aku melangkah tegas menuju arah di mana mobil anak buah Mustika itu terparkir. Tak peduli dengan teriakkan Gabe, yang terus menyeru namaku.

Sedekatnya ....

Aku berdiri tepat di depan kepala mobil itu. "Turun kalian!" seruku menantang.

Dalam kaca yang gelap, aku masih bisa menangkap, orang-orang itu saling melempar pandang menimang keputusan.

"Keluar!" Aku mulai berteriak.

Tak lama, pintu-pintu mobil itu mulai terbuka. Lima orang lelaki beragam postur keluar dari dalamnya. Kusapukan mata menatap mereka satu persatu.

"Mau apa lu?" tanya salah satu dari mereka.

"Gue ...." Sejenak ku gantung kalimatku. "Gue mau lo semua, berenti ngikutin gue!"

"Kalo gue bilang gak mau, lo mau apa, anak kecil?"

Aku tersenyum kecut, kedua telapak tanganku sudah terselip masing-masing di kiri dan kanan saku celanaku. "Jangan panggil aku anak kecil, Paman!" seruku menirukan salah satu serial kartun asal negeri acha-acha.

"Trus lo mau gue panggil apa? Tuyul? ... hahaha." Mereka terbahak bersamaan.

Aku ikut terkekeh. "Gue tuyul yang serebu derajat paling tampan di dunia. Gue bisa bikin anak. Gue jago nggaet cewek cakep. Dan yang paling penting ... gue bisa abisin lo semua."

Tawa mereka terhenti seketika. "Jangan sombong lu bocah! Sebelum lu abisin kita, gua duluan yang bakal abisin lu!"

Dan tanpa babibe, pria bertubuh ceking itu mulai maju mendekat ke arahku berbekal telapak tangan yang sudah terkepal.

Namun ....

Teeeettt ...

Langkahnya tertarik mundur.

"Eh, eh," kicaunya terkejut.

Seorang pria gempal menarik kerah baju yang dikenakannya dari belakang. "Jangan matiin. Nanti kita gak dapet duit dari Boss Mus."

Ppffttt ....

BUG

Satu tinju diarahkan si ceking itu pada si Gempal.

"Ngapa lu mukul gua?" tanyanya seraya memegangi pipinya yang mungkin saja sesaat lagi akan berubah memar.

"Lu gangguin gua. Tangan gua uda gatel pen hajar bocah songong itu!" Telunjuknya mengarah padaku.

Ketiga rekannya hanya bersidekap tangan, bersender ria ke badan mobil.

"#&$z#qx!!!"

"...."

"...."

"Malah berantem." Aku mendelik malas. "Jadi ... gak ada yang mau hajar gue, nih?"

"Gue!" seru salah satu dari ketiga manusia yang sedari tadi menjadi penonton. Ia menggulung lengan bajunya seraya melangkah mendekat ke arahku. Dua lainnya mulai tegak terpancing.

Dan ....

ZAP

Tangkisan lenganku menggagalkan satu tendangannya. Gerak pukul berbelit mulai terjadi di antara kami.

Baku hantam kini benar-benar terjadi. Lima lawan satu. Semua sudah maju mengeroyokku.

BAGBIGBUG

Gerakku semakin sibuk menghadapi kelimanya. Tak ada celah bahkan untuk sekedar mengambil nafas.

Hingga ....

"Aarrggghhh!!"

Kegiatan konyol ini terjeda sesaat. Mata kami tertuju pada satu orang dari kelima orang itu yang berteriak mengerang kesakitan. Cucuran darah segar di kepalanya itu ....

Bukan aku yang melakukannya!

"Lu kenapa gak bilang gue, ada acara beginian?"

Aku tercengang menatap manusia yang sudah berdiri siaga di sampingku. "Gabe ... elu ...."

"Ayo lanjutin!" serunya bersemangat.

Telapak tangannya sudah terkepal, juga kuda-kuda yang meski hanya baru setengah, tapi aku tau, itu bukan gerak antisipasi sembarangan. "Elu taekwondo?"

Ia menolehku dengan senyuman, juga alis yang digerakannya naik turun.

"Kenapa gak bilang dari tadi?!"

"Elu gak nanya!"

KAMPRET!!

1
Cut Ria Maulidia Azhar
sorry baru mampir dan ini novel pertamamu yg sa baca, first impression nya terlalu banyak diksi, jujur cape bacanya, ga to the point. mgkn kedepannya bisa sedikit d perbanyak dialog nya, jgn menolak kritikan para pembaca, novelmu bisa serame ini krna pembaca so jgn mengikuti egomu ya untuk mau menerima kritikan
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Isoke, Kak.
I accept with pleasure.

Ini buku kedua aku, rilis 2021 dan saat itu aku masih dalam tahap pembelajaran mengenai banyak hal tentang dunia kepenulisan.
aku akui dan sadar jelas, buku ini masih banyak kekurangan, termasuk diksi berlebihan seperti yg kakak sebutkan itu, juga typo yg berserakan.
Semua butuh proses dan itu gk mudah.
Sampai di tahun ini aku masih terus belajar dan masih senang menulis.
Meski belum bisa dikatakan bagus, tapi aku cukup percaya diri "tulisan di buku baruku nggak sekacau di buku ini😀

Thanks krisannya, Kak.😇
total 1 replies
Eka Awa
gelatik kek pangeran wowok ja tinggal di alas roban🤭
Eka Awa
cover nya kek jichangwook ya thor😅
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Aku kurang tau, Kak. itu buatan Noveltoon.
tapi sepertinya bukan .... 🧐
Idungnya agak lancip ini🤣
total 1 replies
Suderajat Jajat
ok
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😛😀💪👍👍
Hades Riyadi
Lumayan bikin ngakak...😛😀🤣💪👍👍
Anonim
jd novi udah ditalak apa krn ga ada restu ortu jd ga sah...
Batsa Pamungkas Surya: mantaap
total 2 replies
Anonim
Astaghfirullah...part ini menamparku...betapa diriku pongah dg mengklaim capaian ini krn usahaku...
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Alhamdulillah.
semoga tamparannya nggak terlalu keras ya, Kak😆
total 1 replies
Anonim
hp kenma perlu di disinfektan kayanya niy...
Sriza Juniarti
ceritanya bagus banget..ayo like yg banyak 👍👍🥰
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Olala ...
maksih banyak, Kakak💚
total 1 replies
panca
prasaan baca dari awal isinya konflik mulu 🤔🤣🤣
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Iyakah?

Iyayak!

nghaha.

Maklum, syutingnya di Palestina, Kak.
total 1 replies
Linar Asri
kenman umur brpa y thor...
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Aslinya kelahiran 94, Kak. cuma di novel ini digambarkan lebih muda, sekitar 22😁
total 1 replies
dyz_be
😂😂😂😂😂
Azhar Desky
kgiv kc
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Maksud, Kak?
total 1 replies
Cahpati Pati
sebenarny ceritany bagus tp sayang kebayakan kata2 kiasan jadiy kayak baca surat bukan baca novel
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hay, Kakak yg keren.😅
maksih buat pujian campur kritiknya.
Yg Kakak bilang kiasan, itu diksi namanya, Kak. Aku rasa setiap penulis punya caranya masing2 buat menyampaikan pesan dari apa yang ditulisnya.
dan aku ... aku gak terlalu suka nulis dengan gaya full dialog, atau narasi deskripsi seadanya. gitu.

jadi ... kalau Kakak gk berkenan, gak ada yg maksa Kkak untuk tinggal.🙏
maksih uda mampir, Kak😆
total 1 replies
Rikko Nur Bakti
ikutan ketawa.... ha...ha...ha...
Rikko Nur Bakti
setiap pertemuan itu gak ada yang kebetulan......( setuju...)
Rikko Nur Bakti
alasan klasik...pembenaran ketidakmampuan...
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Jangan ikutin yak, Kak🤣
total 1 replies
ZaZa
udah baca 3 kali tapi masih ngakak🤣
ZaZa: kangen aja🤣
total 2 replies
Aini
Liz Nadia itu nama yg gak asing deh. kayanya gue kenal Liz Nadia duluan sblm magisna.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!