Tidak semua bintang itu bersinar, seperti aku. Bintang Perak!
Aku jagoan---jagoan dengan hati yang lembut, selembut segala bulu---bulu landak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Duduk bersisian di sebuah bangku taman di belakang restoran, aku dan Gabe masih menikmati keadaan yang memaksa kami melakoni kisah yang tak seharusnya ini.
"Gue gak nyangka, cewek dollar yang dimaksud mustika itu elo."
Gabe terperanjat mendengar ujarku. "Cewek dollar? Maksud lo?"
Aku tersenyum, memandangnya lagi-lagi sekilas.
Anggap saja aku bergibah saat ini. Selanjutnya kuceritakan tentang siapa Mustika dan segala lakonnya, yang tentu saja menghasilkan aroma terkejut yang menyengat di sekitaran Gabe. Ia melongo wajah tak percaya.
"Ibu tiri lo sejahat itu?" Menatapku iba.
"Lo gak usah pasang mode kasian kayak gitu. Gue udah biasa dari kecil. Terkadang idup itu memang kudu banyak ditempa, biar kuat," kekehku receh.
"Ternyata rumor tentang kejamnya mak tiri itu bener, ya?" Gabe bergidik ngeri.
Aku terkekeh menanggapi. "Nggak kejem kok, cuma gatel duit aja."
"Duit ada kulit? Kok bisa gatel?" Ia bertanya oon.
Kali ini aku tergelak. "Iya, kulit Nyi Pelet. Kalo lo pegang, lo ketagihan. Ampe jadi gila."
"Gue sering megang duit, gak gila, tuh!" kilahnya.
"Haha... bodo, lah!" Aku menyerah. Lagipula ini bukan saatnya menjemur gigi. "Gue boleh pinjem hape lo?"
Sedikit heran. "Buat?"
"Open PO." Aku mendelik. "Ya, kali, Gabe. Gue mau hubungin pacar lo!"
"Jibril?"
"Emang pacar lu siapa aja?"
"Ya, cuma Jibril!" jawabnya lugas.
"Nah trus ngapa lo nanya, Saodah?!" seruku tak habis pikir. "Cakep-cakep kurang."
Lalu ....
"Aww!" Aku memekik. "Sakit, suek!" Seraya kuusap-usap punggung tanganku, kala satu cubitan tipis tapi bertenaga itu mendarat sebagai balasan.
"Makanya jaga mulut lo!"
"Iya, tar gua sewa pak Jaimin," balasku sekenanya. "Mana sini hapenya, gue pinjem."
....
"Nih!" Disodorkannya benda pipih bergambar apel tergigit itu ke tanganku. Berengut membingkai di wajah glowingnya.
"Makasih. Bentar, ya."
Aku mulai mempekerjakan jariku untuk mengetik beberapa kalimat dengan tujuan Jibril. Namun tiba-tiba ....
Goyang dombreeett ... 🎼
Goyang dombreeett ... 🎼
Mulanya aku terkejut, kenapa lagu itu tiba-tiba muncul menghalangi bait-bait kata yang baru saja kuketik. Namun berdetik kemudian aku sadar, bahwa itu adalah sebait nada dering panggilan.
"Hahaha." Tawaku meledak kemudian.
"Siniin." Gabe merebut paksa ponsel itu dari tanganku. "Ngapain lo ketawa?"
"Hahaha ...."
"Diem gak! Ini tu ringtone manis gue, khusus buat dia." Ia menendang engkel kakiku lalu melenggang menjauh untuk menjawab panggilannya.
"Ouh, jadi panggilan sayang lu sama Jibril sekarang berubah jadi dombret?" Aku kembali terbahak.
Gabe yang kini berdiri di dekat sebuah pohon mangga, mengacungkan jari tengahnya ke arahku. "Diem lo!"
Seperti itulah kira-kira bentuk gerak bibirnya.
Dan aku geleng-geleng, masih dengan sisa tawaku, seolah tak ada beban yang menumpu.
...✴️✴️✴️...
"Udah puas ngobrolnya?" Mama Gabe bertanya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Udah, Ma--"
"Belum, Tante," pungkasku seraya mendudukkan tubuhku di kursi samping Mustika.
Dari ekspresinya aku tahu, dalam benak Mustika kini berjejal pertanyaan tentang apa yang aku lakukan dengan Gabe beberapa saat lalu. Bukan mengarah pada kegiatan syur, tetapi ... pemanfaatan jenis apa yang aku lakukan pada gadis itu?
Biarkan ia memikirkannya sendiri!
"Belum puas? Memang kalian bahas apa?" lanjut Mama Gabe lagi penasaran.
"Banyak hal, Tante."
"Oya? Tante seneng dengernya."
"Iya, Tan. Gabe asyik orangnya."
"Emang di tempat teater kalian gak pernah ngobrol?" Kali ini suara Mustika.
Aku menoleh ke arahnya. "Nggak, Ta--, eh Mama. Gabe punya dunianya sendiri di sana," kilahku sekenanya.
Para orang tua itu hanya manggut-manggut.
"Ya sudah, kalian makan malamlah dulu." Tuan Prasta Surya menyarankan.
"Nanti aja, deh, Om," sahutku. "Umm, Om ... ini, kan, baru jam delapan lewat dikit." Aku menatap ragu ke arah pria itu. " ... boleh gak, aku ajak Gabe nonton. Sebentaaar aja, Om."
Lagi-lagi si Gaby itu memasang wajah melongo. Padahal sudah kujelaskan beberapa hal yang seharusnya bisa disimpulkannya dengan mudah. Tapi ...
Partner kerjaku ini sedikit melewati garis lurusnya. Tanggapannya loading syekaleee ....
Aduh, Jie ... cewek lu ini cakep, tapi kadang-kadang palanya, keluhku dalam hati.
Dan aku masih menunggu putusan Prasta Surya, perihal izinku.
"Ya, sudah, Om izinkan."
Aku menghembus nafas lega. "Kalian mau nonton di mana? Biar diantar supir saja."
"Nggak usah, Pa," tolak Gabe. "Pake mobil aku aja. Pak supir biar pulang naik taksi. Bintang bisa nyetir, kan?" tanya gadis itu padaku.
Aku mengangguk. "Bisa, Gabe."
"Tuh, kan, Pa. Dia baik, kok. Pasti aku dianter pulang tepat waktu."
Pasutri itu saling melempar tatap.
"Izinin aja, Pa. Mama percaya, kok, sama Bintang."
Berbeda dengan Mustika. Ia terlihat mulai gusar. Telapak tangannya kini meraih ponsel di dalam tas jinjingnya secara diam-diam.
Dan aku tahu apa yang akan dilakukannya.
...***...
Kini aku sudah bertengger di balik kemudi mobil bernuansa girly milik Gabe. Sedangkan sang empunya, masih asyik dengan ponsel di tangannya di sampingku.
Di sela fokusku, mataku tiba-tiba teralih pada spion dalam yang menangkap bayangan sebuah mobil di belakang mobil yang kini ku kemudikan. Jeep itu terus meliuk mengikuti, seolah tak ingin tertinggal.
Baiklah!
Ku putar bingkai stir ini cepat hingga tubuh Gabe terhentak maju ke depan secara refleks. "Lo nyetir gimana, sih?!"
"Lo liat di belakang, noh! Mobil itu ngintilin kita!" jelasku sembari terus menancap pedal gasku.
Gabe menggerakkan tubuhnya melihat ke kebelakang. "Iya, Bin. Mereka siapa?"
CKIIIITTT ....
"Kenapa berenti di sini?" Gabe mulai bingung. Aku menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah jalan buntu yang sepi.
"Tunggu aja," kataku.
Gabe menatapku tak mengerti. "Mereka berbahaya, gak, Bin?" Ia mulai cemas.
Mobil Jeep itu juga turut berhenti beberapa belas meter di belakang kami.
"Gue gak tau," jawabku enteng. "Lo tetep di sini. Gue ke sana dulu."
"Eh! Mau ngapain?"
"Ngasih pelajaran mereka." Seraya ku tutup pintu mobil ini dari luar.
Aku melangkah tegas menuju arah di mana mobil anak buah Mustika itu terparkir. Tak peduli dengan teriakkan Gabe, yang terus menyeru namaku.
Sedekatnya ....
Aku berdiri tepat di depan kepala mobil itu. "Turun kalian!" seruku menantang.
Dalam kaca yang gelap, aku masih bisa menangkap, orang-orang itu saling melempar pandang menimang keputusan.
"Keluar!" Aku mulai berteriak.
Tak lama, pintu-pintu mobil itu mulai terbuka. Lima orang lelaki beragam postur keluar dari dalamnya. Kusapukan mata menatap mereka satu persatu.
"Mau apa lu?" tanya salah satu dari mereka.
"Gue ...." Sejenak ku gantung kalimatku. "Gue mau lo semua, berenti ngikutin gue!"
"Kalo gue bilang gak mau, lo mau apa, anak kecil?"
Aku tersenyum kecut, kedua telapak tanganku sudah terselip masing-masing di kiri dan kanan saku celanaku. "Jangan panggil aku anak kecil, Paman!" seruku menirukan salah satu serial kartun asal negeri acha-acha.
"Trus lo mau gue panggil apa? Tuyul? ... hahaha." Mereka terbahak bersamaan.
Aku ikut terkekeh. "Gue tuyul yang serebu derajat paling tampan di dunia. Gue bisa bikin anak. Gue jago nggaet cewek cakep. Dan yang paling penting ... gue bisa abisin lo semua."
Tawa mereka terhenti seketika. "Jangan sombong lu bocah! Sebelum lu abisin kita, gua duluan yang bakal abisin lu!"
Dan tanpa babibe, pria bertubuh ceking itu mulai maju mendekat ke arahku berbekal telapak tangan yang sudah terkepal.
Namun ....
Teeeettt ...
Langkahnya tertarik mundur.
"Eh, eh," kicaunya terkejut.
Seorang pria gempal menarik kerah baju yang dikenakannya dari belakang. "Jangan matiin. Nanti kita gak dapet duit dari Boss Mus."
Ppffttt ....
BUG
Satu tinju diarahkan si ceking itu pada si Gempal.
"Ngapa lu mukul gua?" tanyanya seraya memegangi pipinya yang mungkin saja sesaat lagi akan berubah memar.
"Lu gangguin gua. Tangan gua uda gatel pen hajar bocah songong itu!" Telunjuknya mengarah padaku.
Ketiga rekannya hanya bersidekap tangan, bersender ria ke badan mobil.
"#&$z#qx!!!"
"...."
"...."
"Malah berantem." Aku mendelik malas. "Jadi ... gak ada yang mau hajar gue, nih?"
"Gue!" seru salah satu dari ketiga manusia yang sedari tadi menjadi penonton. Ia menggulung lengan bajunya seraya melangkah mendekat ke arahku. Dua lainnya mulai tegak terpancing.
Dan ....
ZAP
Tangkisan lenganku menggagalkan satu tendangannya. Gerak pukul berbelit mulai terjadi di antara kami.
Baku hantam kini benar-benar terjadi. Lima lawan satu. Semua sudah maju mengeroyokku.
BAGBIGBUG
Gerakku semakin sibuk menghadapi kelimanya. Tak ada celah bahkan untuk sekedar mengambil nafas.
Hingga ....
"Aarrggghhh!!"
Kegiatan konyol ini terjeda sesaat. Mata kami tertuju pada satu orang dari kelima orang itu yang berteriak mengerang kesakitan. Cucuran darah segar di kepalanya itu ....
Bukan aku yang melakukannya!
"Lu kenapa gak bilang gue, ada acara beginian?"
Aku tercengang menatap manusia yang sudah berdiri siaga di sampingku. "Gabe ... elu ...."
"Ayo lanjutin!" serunya bersemangat.
Telapak tangannya sudah terkepal, juga kuda-kuda yang meski hanya baru setengah, tapi aku tau, itu bukan gerak antisipasi sembarangan. "Elu taekwondo?"
Ia menolehku dengan senyuman, juga alis yang digerakannya naik turun.
"Kenapa gak bilang dari tadi?!"
"Elu gak nanya!"
KAMPRET!!