Zahra dan Arya dipertemukan saat masih kecil. Mereka berjanji untuk bertemu lagi 13 tahun kemudian. Saat dewasa mereka bertemu dan bekerja bersama, namun mereka tak menyadarinya. Hingga menjelang pertemuan mereka, Zahra harus mengalami kecelakaan demi menolong Arya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fasya Al Hafizh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terabaikan lagi
Pagi - pagi sekali Zahra sudah bangun, setelah sholat shubuh Zahra membuka jendela kamarnya yang langsung menghadap ke arah pantai. Zahra menunggu matahari naik dari tengah lautan.
" Subhanallah...Sungguh indah ciptaanMu ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sempurna, Pencipta seluruh alam semesta dan isinya..."
" Aku juga mengagumi ciptaan Allah yang satu ini, begitu cantik dan menawan..." ucap Arya di belakang Zahra.
" Astaghfirullah, Mas Arya... ngagetin aja sih. Ngapain pagi - pagi disini..?" tanya Zahra.
" Hmmm...ngapain pagi - pagi udah ngelamun..?"
" Zahra sedang menunggu matahari terbit, mumpung cuacanya cerah.."
" Ayo ikut aku..."
" Kemana..?"
" Ikut aja..." Arya menarik tangan Zahra menuju pantai.
" Dari sini akan terlihat lebih indah..." ucap Arya.
" Iya, sangat indah... Subhanallah...".
Mereka berdua berdiri di atas karang dengan hembusan angin yang menusuk sampai ke dalam tubuh mereka.
" Mas Arya, dingin... Zahra lupa bawa jaket.."
" Hmmm...nih pake punyaku..." Arya memakaikan jaket ke tubuh Zahra.
" Terimakasih Boss..." Zahra tertawa bahagia.
" Aku tak menyangka masih ada gadis seperti kamu Za, sederhana dan baik hati. Kamu tak pernah menilai orang dari derajat dan pangkatnya. Kamu bisa bahagia dengan cara yang sangat sederhana..." batin Arya.
" Mas Arya kok ngelamun, entar kesambet putri duyung baru tahu rasa..."
" Kalau putri duyungnya cantik, aku rela mengabdi selamanya padanya..." gurau Arya.
" Ihhh...amit - amit..." cibir Zahra.
" Za, lihat... mataharinya udah mulai nampak. Kita foto dulu yuk.." ajak Arya.
" Ayo, pake ponsel mas Arya aja gambarnya lebih bagus..." saut Zahra.
Mereka mengabadikan momen ini dengan mengambil banyak foto mereka berdua.
" Mas Arya, kirim ke ponsel Zahra ya fotonya.."
" Iya, nanti aku kirim..."
Setelah matahari mulai terang mereka memutuskan untuk pulang.
" Za, sebelum pulang kita sarapan dulu ya...?" ajak Arya.
" Boleh Mas, Zahra juga laper..."
" Eh sebentar Za, ada telfon dari klien aku angkat dulu..."
" Ok..."
Setelah menerima telfon Arya menghampiri Zahra lagi.
" Za, setelah sarapan aku harus pergi ketemu klien. Dia di kota ini juga lagi liburan jadi aku selesaikan sekarang aja meetingnya..."
" Memangnya Mas Arya bawa berkasnya..?"
" Semuanya ada di laptop, kamu mau ikut apa disini sama yang lain..?"
" Zahra disini aja ya Mas, capek pengen istirahat. Mas Arya ajak Mas Rey kan..?"
" Nggak usah, biarin dia menikmati masa liburannya. Jarang sekali dia libur bahkan weekend sekalipun.."
" Apa Zahra temenin Mas Arya aja...?"
" Nggak usah, ini bukan hari kerja. Nikmati liburanmu.." Arya tersenyum menatap Zahra.
Setelah sarapan mereka kembali ke Villa. Arya bersiap - siap untuk pergi bertemu klien. Sementara yang lain belum ada yang keluar kamar.
Jam delapan semua penghuni kamar bawah sudah rapi siap - siap keluar dari Villa untuk sarapan dan jalan - jalan ke pantai.
" Sinta, Zahra mana...? kok belum keluar kamar..?" tanya Reyhan.
" Nggak tahu Mas, kita belum ke kamar Zahra..." jawab Sinta.
" Kalian bangunin dulu, kita sarapan bareng. Sekalian bangunin Arya biasanya jam segini masih tidur tuh orang.." saut Ferdi.
Sinta dan Maya naik ke lantai atas mengetuk pintu kamar Zahra.
" Za, udah bangun belum...?" teriak Sinta di susul ocehan Maya.
" Kalian berisik banget ada apa sih..?" ucap Zahra setelah membuka pintu.
" Mau ikut sarapan nggak..? terus kita main di pantai...?" ajak Maya.
" Kalian duluan aja, aku udah sarapan tadi.."
" Sarapan...? kamu mimpi kali Za..?" ucap Sinta.
" Beneran tadi aku udah keluar buat sarapan, nunggu kalian bangun keburu pingsan.." saut Zahra.
" Ehh...Za, bangunin pak Arya dong. Itu udah di tungguin di bawah sama yang lain..."
" Telat, pak Boss udah pergi meeting sama klien. Udah kalian pergi sana, aku ngantuk mau tidur sebentar. Nanti Zahra nyusul ke pantai..."
Keduanya kembali ke bawah dengan wajah kecewa.
" Kalian kenapa...? Zahra dan Arya mana..?" tanya Ferdi.
" Zahra katanya udah sarapan tadi, sekarang mau tidur katanya. Kalau pak Arya sudah berangkat meeting kata Zahra.." jawab Sinta.
" Kok si boss nggak bilang ada meeting disini.." gumam Arya.
Mereka berempat keluar Villa mencari tempat sarapan lalu pergi ke pantai.
Dua jam kemudian Zahra menyusul ke pantai. Zahra melihat mereka sedang asyik bermain air laut. Zahra datang menghampiri mereka.
"Za, udah puas tidurnya...?" tanya Ferdi.
" Iya Mas, kita ke karang itu yuk Mas bagus tempatnya.."
" Gimana ya, Maya ngajakin ke tepi pantai sebelah sana. Tuh orangnya udah nungguin..bye adekku sayang.." Ferdi mengacak - acak rambut Zahra.
Sementara Reyhan sedang asyik bermain pasir dengan Sinta. Walaupun Rey melihat ada Zahra tapi Rey tetap asyik berduaan dengan Sinta.
" Hmmm...membosankan, aku ngajak mereka buat nemenin aku disini. Eh malah pada asyik sendiri. Udah kayak biro jodoh aja aku.." gerutu Zahra.
Akhirnya Zahra duduk di bawah pohon di pinggir pantai sendirian.
" Jadi nyesel nggak ikut Mas Arya tadi, disini juga nggak ada temennya.." gumam Zahra.
Setelah lelah duduk di pinggir pantai Zahra beranjak pergi menuju jalan raya. Zahra ingin berkeliling kota di Bali.
" Udah kayak anak ilang aja sih aku... nggak ada yang peduli sama aku..." gumam Zahra sambil menunggu ada taksi lewat.
Setelah dapat taksi Zahra memutuskan untuk jalan - jalan di pusat oleh - oleh khas Bali. Saat sedang berjalan - jalan Zahra melihat seseorang yang di kenalnya bersama seorang gadis.
" Mas Arya, jadi ini yang dia bilang sedang meeting.."
Zahra merasa sakit di hatinya. Zahra tak menyangka Arya bisa berbohong padanya.
" Kenapa hatiku sesakit ini, padahal Mas Arya hanya atasanku saja. Ini tidak benar Zahra. Kamu tidak menyimpan perasaan itu pada Arya. Ingat kau tak sepadan dengannya..." batin Zahra, airmatanya perlahan membasahi pipinya. Zahra segera beranjak dari tempat itu, agar tak bertemu dengan Arya.
Zahra terus berjalan tanpa arah, tak punya tujuan yang pasti. Pikirannya tidak bisa fokus sampai tiba - tiba dia menabrak seseorang.
" Maaf..." ucap Zahra sambil menunduk mencari ponselnya yang jatuh.
" Ini ponsel kamu..." seseorang yang dia tabrak menyodorkan ponsel Zahra yang jatuh di bawah kakinya.
" Terimakasih...Ehh..Anda pak Panji kan..?" tanya Zahra pada seorang lelaki dan perempuan yang dia tabrak.
" Zahra, kamu ada disini...sama siapa..?" tanya Panji.
" Zahra sendiri, maaf sekali lagi saya permisi dulu.." ucap Zahra.
" Tunggu Za..." Panji memberikan sejumlah uang pada gadis di sampingnya lalu menyuruhnya pergi.
" Kenapa Anda menyuruhnya pergi..?" tanya Zahra.
" Dia bukan siapa - siapa. Cuma temen jalan aja..."
" Maksudnya dia temen kencan pak Panji..?"
" Begitulah...tapi nggak apa - apa. Kan ada kamu sekarang.." Panji tersenyum menatap Zahra.
" Hhhh...Zahra tidak kerja sampingan disini.."
"Jangan berpikiran buruk tentang saya Za, jangan melihat seseorang dari luarnya aja..."
" Maaf pak, saya harus pergi.."
" Za, apa kamu nggak butuh temen...?"
" Saya sudah terbiasa sendiri pak.."
" Jangan bicara terlalu formal di luar pekerjaan Za.."
" Terus, Zahra harus panggil apa...?"
" Terserah kamu yang penting jangan panggil seperti itu, aku belum tua...hehehee..."
" Baiklah, kita berteman sekarang. Tapi awas aja kalau berani macam - macam, saya tidak akan pernah memaafkan Anda.."
" Hahahaaa... Zahra. Aku bisa membedakan mana gadis baik - baik dan wanita m***han. Jadi kamu tenang aja, aku akan jadi teman yang baik buat kamu. Promise..." Panji mengangkat satu tangannya.
Akhirnya Zahra ditemani Panji sepanjang hari hingga menjelang sore.
Sementara di Villa semua kalang kabut panik mencari Zahra. Setelah semua puas main di pantai, mereka makan dan kembali ke Villa. Mereka baru sadar jika Zahra dari tadi tak ada bersama mereka.
" Fer, lho lihat Zahra nggak tadi di pantai..." tanya Rey.
" Tadi gue lihat dia duduk di pinggir pantai di bawah pohon, terus gue nggak merhatiin lagi.." jawab Ferdi.
" Kemana sih lho dek, ponsel kamu nggak aktif lagi.." gumam Ferdi.
" Astaghfirullah.." ucap Ferdi.
" Kenapa Fer...?" tanya Reyhan.
" Mungkin kita telah mengabaikan dia tadi. Kita terlalu asyik maen sendiri.." sesal Ferdi. Dia ingat janjinya sebelum berangkat, kalau dia tidak akan mengabaikan Zahra seperti di puncak dulu.
" Lho bener, harusnya gue jagain Zahra. Gue nyesel sekarang, pasti Zahra sangat sedih.." ucap Reyhan.
" Mas, kita harus cari Zahra. Hari udah mulai gelap.." ucap Sinta.
" Ada apa sih pada ribut sore - sore..?" Arya datang bersama dengan Lucky.
" Ehh, udah pulang Ar...?" jawab Ferdi gugup.
" Kenapa kalian terlihat panik, ada apa..?" tanya Lucky.
Semua diam, tak ada yang berani menjawab.
" Zahra dimana..? kok tidak bersama kalian disini..?.." tanya Arya.
" Mmmm...itu Ar, Zahra...Zahra pergi dari siang belum kembali.." jawab Rey terbata - bata.
" Apaaa...!!!"
" Kalian ngapain aja sampai Zahra bisa menghilang.." teriak Arya marah.
" Maaf Ar, kami lalai menjaga Zahra..." ucap Ferdi merasa bersalah.
Arya langsung naik ke lantai atas menuju kamar Zahra. Semua barang - barang Zahra masih ada.
" Kamu kemana Za, kenapa pergi tanpa pamit..?" gumam Arya.
Rey, Lucky dan Ferdi menyusul Arya di kamar Zahra.
" Maaf Ar, kami mengabaikan Zahra lagi. Mungkin dia kecewa karena kami asyik bermain di pantai sehingga dia merasa terabaikan.." ucap Rey menyesal.
" Gue pergi dulu.." Arya beranjak keluar Villa.
" Gue ikut Ar.." ucap Lucky di susul Rey dan Ferdi.
Sementara di tempat lain Panji membujuk Zahra supaya mau di antar pulang.
" Za, kamu nggak pulang...? kamu kesini dengan temen - temen kamu, pasti mereka khawatir nyariin kamu.." bujuk Panji.
" Saya harus bagaimana menghadapi mereka..?"
" Tenangkan dirimu, bilang saja kamu tersesat nggak tahu jalan pulang. Jangan perlihatkan rasa kecewamu pada mereka. Aku tahu kamu gadis yang kuat. Jangan sampai mereka tahu kelemahanmu. Sekarang aku antar kamu pulang ya.."
" Iya Mas, Zahra akan pulang. Tapi Mas Panji temani Zahra sampai ke Villa ya...?" pinta Zahra.
" Baiklah, tapi Arya dan teman - temannya tidak akan menyukai ini.."
" Tidak apa - apa, mungkin itu lebih baik untukku.." jawab Zahra.
Akhirnya Panji mengantar Zahra sampai di Villa. Disana ada Arya, Reyhan, Ferdi dan Lucky berada di luar menunggu jika sewaktu - waktu Zahra pulang.
Zahra turun dari mobil yang dikendarai Panji. Zahra masuk bersama dengan Panji dengan berbagai alasan yang sudah dipersiapkannya.
" Assalamu'alaikum...."
.
.
TBC
🌙️🌙️🌙️
Jangan terlalu banyak berprasangka
Lihatlah dengan hati
Apa yang kau lihat
Tak seperti apa yang terjadi
🌙️🌙️🌙️
semangat
sukses,mksh