Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ITALIA
Setelah makan malam selesai, Adrian dan Aleta meninggalkan restoran.
Alih-alih langsung pulang, Adrian mengajak Aleta berjalan-jalan sebentar ke sebuah taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari restoran. Taman itu cukup luas, tetapi malam itu suasananya relatif sepi. Lampu-lampu taman berjajar di sepanjang jalan setapak, menerangi pepohonan yang bergerak pelan diterpa angin malam.
Beberapa bangku kosong tersebar di bawah pohon. Di sisi lain, terdapat kolam kecil dengan air yang memantulkan cahaya lampu, membuat suasana terasa jauh lebih tenang daripada jalanan kota yang ramai.
Aleta berjalan di samping Adrian sambil sesekali memandangi sekitar.
"Tempatnya bagus."
Adrian meliriknya. "Makanya gue bawa lo ke sini."
"Bang!"
Adrian dan Aleta menoleh bersamaan begitu mendengar suara kecil dari arah belakang yang sepertinya memanggil Adrian.
Seorang bocah laki-laki berdiri beberapa meter dari mereka. Di tangannya ada sebuah buket bunga sederhana yang dibungkus kertas cokelat. Bocah itu berjalan mendekat dengan senyum polos.
"Bang, mau beli bunga nggak buat pacarnya?"
Adrian menatap bunga itu sebentar. "Pacar?"
"Iya." Bocah itu menunjuk Aleta. "Buat kakak cantik."
Adrian melirik Aleta sebentar. "Oh, berapa?"
"Dua puluh ribu, Bang."
Adrian mengeluarkan dompetnya tanpa banyak berpikir. Ia menyerahkan selembar uang seratus ribu kepada bocah itu.
"Nih. Kembaliannya ga perlu."
"Wahh! Makasih, Bang!" seru anak itu dengan mata berbinar. Ia menyerahkan buket tersebut kepada Adrian sebelum berlari kecil meninggalkan mereka.
Adrian kemudian berbalik menghadap Aleta. "Ini."
Aleta menerima buket itu dengan sedikit kebingungan.
"Buat gue?"
"Iya. Buat siapa lagi?"
Senyum kecil perlahan muncul di wajah Aleta saat menatap bunga di tangannya.
"Terima kasih."
Adrian hanya mengangguk.
Tanpa keduanya sadari, dari kejauhan seseorang berdiri di balik pepohonan sambil mengangkat ponselnya. Ia mengambil beberapa foto lalu menatap layar ponselnya sambil menyeringai. Terlihat Adrian dan Aleta berjalan berdampingan, dengan buket bunga di tangan Aleta. Senyum tipis terukir di wajah keduanya.
Ia menaruh ponselnya, lalu berbalik dan pergi meninggalkan taman tanpa suara.
...****************...
Pagi-pagi sekali, bel apartemen Aleta sudah berbunyi berkali-kali. Namun, penghuni di dalamnya sama sekali tidak bergeming.
Aleta masih terlelap di balik selimutnya. Bukannya bangun, ia justru semakin mengeratkan selimut hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya. Hingga akhirnya terdengar suara beberapa tombol ditekan dari luar.
Bip.
Pintu apartemen terbuka. Seorang gadis berkacamata hitam masuk dengan santai, seolah apartemen itu adalah rumahnya sendiri. Di belakangnya, seorang pria bertopi ikut melangkah masuk.
Gadis itu langsung menuju kamar Aleta. Tanpa membuang waktu, ia membuka lemari dan mulai memilih beberapa pakaian bagus milik Aleta. Satu demi satu pakaian dimasukkan ke dalam koper yang sudah ia siapkan. Setelah memastikan semuanya cukup, ia menutup koper itu.
Sementara itu, dua gadis lainnya sudah memasuki apartemen. Salah satunya langsung menuju kamar Aleta. Gadis berkacamata hitam tadi melihat jam tangannya lalu mulai menghitung mundur.
"3..." Ia berdiri di samping ranjang.
"2... 1..."
"ALETA!!!" teriak dua gadis itu.
Mereka bukan hanya berteriak, tetapi melompat ke atas ranjang, membuat kasur berguncang hebat.
"Kakak cantik..." Keira terkikik sambil menindih Aleta.
"Wake up, Queen." Viana ikut mencubit pipinya.
"Berisik..." desis Aleta dengan mata masih setengah terpejam.
"Let, bangun. Kita jadi ke Italia, kan?" tanya Aura yang baru saja memasuki kamar.
Perkataan Aura berhasil membuat Aleta langsung tersadar. Ia langsung duduk dengan mata yang terbuka lebar.
"Italia?"
Keira yang masih berada di atasnya ikut terlempar ke samping.
"Aduh!" pekik Keira yang untungnya berhasil menahan tubuhnya sebelum benar-benar jatuh ke lantai.
Aura berjalan menuju jendela dan membuka tirai lebar-lebar. Cahaya pagi langsung memenuhi kamar.
"Sekarang udah jam enam dan lo masih tidur? Pesawatnya berangkat jam delapan, Let!"
"Sorry, gue ketiduran! Tunggu gue satu jam!" Aleta melompat turun dari ranjang. Ia menyambar handuknya dan berlari menuju kamar mandi.
Brak!
Pintu kamar mandi tertutup dengan keras.
Keira dan Viana masih menganga melihat keberanian Aura yang memang tidak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang, hanya Aura yang berani memarahi Aleta tanpa takut kena semprot balik.
Tak sampai satu jam kemudian, Aleta sudah keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih sedikit basah, tetapi ia sama sekali tidak punya waktu untuk mengeringkannya dengan sempurna.
Di meja makan, omelette yang sudah disiapkan Aura menunggunya. Aleta langsung duduk dan menyantapnya dengan cepat.
"Pelan-pelan, nanti tersedak," tegur Aura.
"Hmm," Dehem Aleta karena mulutnya masih penuh. Keira hanya bisa menggeleng melihatnya.
"Kalau bukan karena kita bangunin, kayaknya dia masih tidur sampai pesawatnya mendarat di Italia."
...****************...
Pukul 07.00.
Mereka akhirnya meninggalkan apartemen.
Sebuah Toyota Alphard milik keluarga Ravian sudah menunggu di depan apartemen. Sopir pribadi Ravian duduk di kursi pengemudi, sementara bagasi mobil telah dipenuhi koper-koper mereka. Setelah memastikan semuanya sudah masuk, mereka pun berangkat menuju bandara.
Di saat yang lainnya sibuk dengan ponselnya masing-masing, Viana justru memperhatikan Aleta yang masih sibuk merapikan riasannya di depan cermin kecil.
"Sempat-sempatnya makeup," celetuk Viana sambil meliriknya.
"Daripada sampai Italia muka gue kelihatan kayak orang baru bangun."
"Lah kan emang baru bangun," celetuk Keira.
Aleta langsung menatapnya melalui pantulan cermin. "Mau gue lempar keluar?"
Keira langsung mengangkat ponselnya berpura-pura sedang bertelepon.
"Halo? Ah iya benar."
"Iya..." Keira pura-pura memutuskan sambungan teleponnya.
"Tugas lo gimana, Kei?" tanya Aleta tiba-tiba.
Keira yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya langsung mengangkat wajah.
"Sorry, Ta. Informasi yang gue dapat nggak sampai setengah. Keamanannya terlalu ketat dan sepertinya dia memang bukan orang biasa." Ia menghela napas kecil. "Gue cuma tahu nama anak itu, sekolahnya, sama tempat tinggalnya."
Anak yang Keira maksud adalah bocah laki-laki yang beberapa waktu lalu tersesat di sebuah pusat perbelanjaan. Bocah yang ternyata merupakan putra dari wanita yang sempat meremehkan Aura.
Bukan tanpa alasan Aleta meminta Keira mencari tahu tentangnya. Tetapi karena ketika Aleta melihat bocah itu untuk pertama kali, ada sesuatu yang terasa mengganjal di benaknya. Wajahnya terasa begitu familiar bagi Aleta. Dan Aleta tidak pernah mengabaikan firasat semacam itu.
"Katakan!" ucap Aleta tegas.
"Namanya Chris Ajeo Deverea. Dia masih SD. Dia sekolah di St. Alexander International Academy. Dan keluarganya tinggal di Deverea Grand Estate, kawasan elite di bagian utara kota."
Deg!
Tatapan Aleta seketika berubah saat mendengar marga Deverea.
'Gue harus pastiin semuanya benar,' batin Aleta.
...****************...
Disaat yang sama, sebuah jet pribadi milik Adrian akhirnya meninggalkan Indonesia menuju Italia. Di dalamnya, beberapa anggota Black Demon ikut serta untuk memastikan perjalanan anggota inti mereka tetap aman.
Suasana di dalam kabin cukup tenang. Sebagian anggota memilih beristirahat, sementara yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.
Adrian sendiri duduk di dekat jendela sambil memainkan ponselnya. Sebelum pesawat lepas landas, ia sempat mengirim pesan kepada Aleta untuk memberitahukan keberangkatannya.
Adrian: Gue berangkat ke Italia dulu, Let.
Pesan itu langsung menunjukkan dua centang. Adrian hanya tersenyum tipis sebelum memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tidak terlalu berharap Aleta membalas. Gadis itu memang bukan tipe orang yang selalu membalas pesan dengan cepat.
Namun, sesampainya di Italia keesokan harinya, entah kenapa Adrian kembali teringat pada pesan yang ia kirimkan pada Aleta. Saat memiliki waktu luang, ia mengambil ponselnya.
Dua centang abu-abu yang artinya pesan belum dibaca. Adrian mengernyit kecil. Mungkin Aleta sedang sibuk. Ia pun tidak terlalu memikirkannya dan mengetik pesan baru.
Adrian: Gue udah sampe, Let.
Kali ini hanya satu centang. Adrian menunggu beberapa saat, berharap tanda itu berubah menjadi dua centang seperti sebelumnya. Namun layar ponselnya tetap sama. Ia pun mencoba mengirim pesan lain.
Adrian: Hmm...
Masih satu centang. Adrian mulai merasa ada yang aneh. Beberapa detik kemudian, Adrian kembali mengetik tanpa banyak berpikir.
Adrian: Kangen.
Pesan itu terkirim, tetapi tetap hanya menunjukkan satu centang. Senyum tipis yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.
Adrian menatap layar ponselnya lebih lama dari sebelumnya. Biasanya Aleta tidak pernah mengabaikan pesannya.
"Lo kenapa, Dri?" tanya Gavin yang sejak tadi memperhatikannya.
"Aleta ga baca chat gue," ucap Adrian tanpa sadar, dengan nada khawatir.
Zion dan Ezra yang penasaran pun diam-diam melihat pesan Adrian dari belakang.
"Gimana, Zra?" tanya Gavin penasaran. Ia ingin ikut mengintip tapi tubuhnya tidak setinggi Ezra, dan itu membuatnya kesulitan.
"Dia chat kemarin, sampai sekarang ga di bales bales. Mana centang 1 lagi pas dia bilang kangen," ucap Ezra sedikit terkikik.
"Anggap aja itu karma lo, Dri. Biasanya kan lo yang di chat senin balasnya minggu," ujar Gavin.
"Diam," ucap Adrian dingin.
"Santai aja kali Dri. Siapa tau Aleta lagi dalam perjalanan ke sini. Dia kan pasti hadir nanti malam," ucap Ariana.
Mendengar ucapan Ariana, kekhawatiran Adrian mulai berkurang. Ia kembali mengirimkan pesan pada Aleta.
Adrian: Lo juga ke sini kan? Kabarin ya kalo udah sampe.
...****************...
Sementara Adrian masih dibuat gelisah oleh pesan Aleta yang tak kunjung terkirim, gadis itu justru sudah tiba lebih dulu di Italia dan sekarang berada di sebuah hotel bintang lima yang terkenal mewah di Italia.
Begitu memasuki kamar, kesan mewah semakin terasa. Interiornya didominasi warna-warna hangat, dengan lantai marmer yang mengilap, lampu gantung besar yang menghiasi langit-langit, serta berbagai fasilitas elegan yang membuat kamar tersebut terasa begitu nyaman dan eksklusif.
Mereka memesan tiga kamar besar. Aleta dan Aura berada di satu kamar, Viana dan Keira menempati kamar lainnya, sedangkan Ravian mendapatkan kamar sendiri.
Begitu semua koper dibuka, kamar mereka langsung berubah seperti medan perang kecil. Pakaian dikeluarkan satu per satu, kemudian digantung di dalam lemari agar tidak berantakan selama mereka berada di Italia.
Aleta menjadi orang pertama yang selesai. Ia menutup pintu lemari, kemudian melirik kopernya yang kini sudah kosong. Namun baru beberapa detik kemudian, dahinya berkerut. Tangannya meraba saku kecil di sisi koper. Ia lalu memeriksa meja yang sudah dipenuhi oleh alat rias untuk nanti malam. Ia pun membuka tasnya yang isinya hanya dompet.
"Hp gue mana?!" pekik Aleta tiba-tiba.
Aura yang sedang melipat pakaian langsung menutup kedua telinganya. Suara Aleta yang jarang sekali meninggi barusan benar-benar membuat telinganya berdenging sesaat.
"Ni anak nggak pernah teriak. Sekalinya teriak, kuping gue rasanya mau copot," gumam Aura sambil meringis.
Aleta yang tidak mendengarkan gumaman itu pun berlari keluar, mengetuk pintu kamar Viana dan Keira.
"Jangan bilang gue tinggalin di mobil..." gumamnya.
"Kenapa, Let?" tanya Viana yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu.
"Keira mana? Hp gue mana?" tanya Aleta sambil menerobos masuk.
"Hp?" bingung Viana.
"ASTAGAA!! Kayaknya masih di kamar lo deh," pekik Keira.
"Di apartemen?" tanya Aleta.
"I-iya."
"KEIIIIRAAAA!!!" teriak Aleta.
"So-sorry Let... Lagian lo juga salah karena ga kemasin barang sendiri," ucap Keira membela diri.
Tubuh Aleta serasa lemas, ia lalu merebahkan diri di ranjang Viana dan Keira.
"Gapapa kali Ta, kalo cuma ketinggalan. Kita di sini kan ga sampe lima hari," hibur Viana.
"Benar kata Viana. Lo juga ga punya pacar yang harus di kabari," ucap Keira yang langsung mendapat tatapan maut dari Aleta.
mana dipanggil honey lagi /Doge/