NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBETULAN ATAU KESIALAN

Malam berjalan lambat bagi Waluyo, hingga akhirnya seorang perawat memanggilnya untuk bertemu dokter, di ruangan ber-AC dengan aroma harum, jauh berbeda dengan bau antiseptik di ruang pasien.

Senyum ramah terkembang di wajah dr. Aisha, Sp.A (dokter spesialis anak), lalu membuka berkas rekam medis Dara, dan kembali menatap Waluyo. “Selamat pagi, Pak Waluyo.”

“Pagi, Dokter,” jawab Waluyo singkat. Punggungnya tegak, tapi kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.

Dokter Aisha mengangguk. “Saya sampaikan hasil pemeriksaan semalam. Putri Bapak mengalami dehidrasi berat dan hipoglikemia akibat asupan makan dan minum yang sangat kurang, sepertinya lebih dari tiga hari ya, Pak. Secara fisik, kondisinya sudah kami stabilkan dengan pemberian cairan infus Ringer Laktat dan koreksi elektrolit.”

Dokter itu menghela napas, lalu menurunkan lagi nadanya bicaranya. Sementara Waluyo masih menunggu sambil berharap akan mendapatkan penjelasan dengan kalimat yang mudah ia pahami.

“Namun," lanjut Dokter Aisha. "Berdasarkan anamnesis dan observasi perilaku, saya menduga kuat putri Bapak mengalami guncangan emosional akut. Boleh saya tahu, apa yang terjadi sebelumnya, Pak?”

Waluyo menarik napas panjang. Ia menunduk, antara malu, lelah, dan canggung. “Sejak ibunya meninggal, Dokter. Sebulan yang lalu," jawabnya serak. “Sejak itu Dara mengurung diri di kamar. Tidak mau makan, mudah marah, dan sulit diajak bicara. Bahkan setiap kali ada dokter datang, ia langsung mengunci pintu dari dalam.”

Dokter Aisha mencatat, lalu menutup map-nya. “Saya memahami, Pak. Kehilangan figur lekat di usia delapan tahun memang sangat berat.” Ia menatap Waluyo dengan tenang. “Pemulihan fisik Dara akan segera membaik dengan penanganan dasar rumah sakit yang sedang kita berikan, seperti hidrasi, nutrisi melalui infus, lalu bertahap kita alihkan ke oral. Tapi yang tidak kalah penting adalah pemulihan emosionalnya.”

Waluyo mengangguk, dengan dahi berkerut, masih berusaha memahami kalimat sang dokter.

“Putri Bapak membutuhkan pendampingan yang konsisten. Bukan untuk menggantikan sosok ibu di hatinya, itu tidak akan pernah tergantikan. Namun Bapak perlu hadir. Lakukan pendekatan secara perlahan, tetap ajak ia berbicara, meskipun mungkin ia tak merespon. Libatkan juga dalam kegiatan rumah yang sederhana seperti, memilih menu, menyiram tanaman, atau melipat pakaian.”

Dokter Aisha kembali menjeda, lalu melanjutkan. “Jelaskan kepadanya tentang hidup dan mati dengan bahasa yang bisa ia pahami. Jujur, tetapi lembut. Katakan bahwa merasa rindu itu wajar, menangis itu wajar. Jangan memaksa ia untuk segera ikhlas. Biarkan ia berduka dengan caranya sendiri.”

Waluyo mengangguk-angguk seolah mengerti, meskipun isi kepalanya bertolak belakang.

Dokter Aisha tersenyum tipis. “Dengan dukungan keluarga dan terapi bermain yang akan dijadwalkan, saya yakin kondisi Dara akan segera membaik. Fisiknya sudah berada di jalur pemulihan. Sekarang tugas kita memulihkan hatinya, Pak.”

Waluyo mengangguk pelan. “Baik, Dokter. Terima kasih.”

Selesai dengan konsultasi pagi itu, ia kembali ke ruang rawat anak. Waluyo mendorong pintu kamar dengan hati-hati.

Raka dan Kirana duduk di sisi ranjang, sedangkan Dara tertidur pulas. Wajahnya masih sangat pucat, tetapi rautnya tenang.

Waluyo melirik cairan infus yang menetes teratur. Ada lega yang menjalari dadanya. Ia menepuk bahu Raka dan Kirana, “Jaga adik baik-baik. Ayah ke seberang sebentar, membeli air mineral.”

Dua anaknya menoleh dan mengangguk bersamaan.

"Titip roti atau semacamnya, Yah. Aku belum sempat makan, tadi." Kirana berbisik dengan satu tangan terangkat, seolah takut adiknya terusik.

..........

Satu kantong belanjaan ada di tangannya, Waluyo baru saja keluar dari minimarket, hendak menyeberang kembali ke rumah sakit.

Dari arah kanan terdengar suara lantang namun lembut, “Ayo anak-anak, berjalan di trotoar. Pegang pundak teman di depan ya.”

Sebaris anak TK, sekitar sepuluh orang, mengenakan topi dan syal kecil. Di barisan depan, seorang guru berjalan sambil membawa peluit. Waluyo spontan menepi dan berhenti, memberi jalan agar barisan itu lewat lebih dulu.

Ketika barisan paling akhir melintas, Seorang guru lain tersenyum ramah menatap ke arah Waluyo. "Terimaksih, Pak. Maaf langkah Anda sedikit terganggu."

Waluyo mengangguk. "Sama-sama, Mbak." Ia menjawab singkat.

Sekilas Waluyo meihat, rambut diikat cepol rapi, mengenakan jas putih. Langkahnya tertib, matanya mengawasi dan memastikan keselamatan satu per satu anak didiknya.

Tepat saat itu, ponsel di saku Waluyo berdering.

“Pak Waluyo, pelakunya sudah ketemu. Bapak harus segera ke kantor untuk melihat rekaman CCTV.”

Raut wajah Waluyo seketika berubah. Setelah berpamitan dengan Raka dan Kirana, Waluyo bergegas menuju ke kantornya.

Usahanya cukup besar, Waluyo adalah pemilik sebuah penggilingan padi yang sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun. Dengan 6 mesin pemecah kulit dan 2 mesin polisher, pabrik kecil itu mampu menggiling 4 ton gabah perhari. Hasilnya dipasok ke pedagang pasar dan warung beras di sekitarnya. Meski bukan perusahaan besar, penggilingan itu sudah menghidupi 12 karyawan dan menjadi langganan tetap para petani di tiga desa.

Ruangan tidak besar. Ada meja kerja, kipas angin, dan satu monitor besar di dinding.

Dua orang karyawan kepercayaannya sudah menunggu dengan wajah tegang.

Waluyo menekan tombol play. Layar menampilkan rekaman CCTV tanggal 5 malam.

Terlihat jelas seorang staf bagian keuangan. Ia masuk ke ruang kerja Waluyo menggunakan kunci duplikat. Membuka brankas, lalu mengambil beberapa amplop dan tiga batang emas. Kemudian duduk di depan laptop dan mengubah angka-angka dalam laporan keuangan. Gerakannya tenang dan terlatih.

Rahang Waluyo mengeras. “Panggil dia ke sini, sekarang juga!” perintahnya dengan suara rendah.

Beberapa menit kemudian pintu ruang kerjanya terbuka. Anjani dari bagian pencatatan stok masuk, diikuti Kuswara dengan wajah yang masih tampak tenang.

Waluyo berdiri. “Berapa uang yang sudah kau ambil?” tanyanya tanpa basa-basi.

Kuswara terperanjat, menatap gugup ke arah bosnya itu. “Maksudnya, Pak?”

“Aku mempercayaimu karena laporan keuangan darimu selalu rapi dan mudah dipahami. Ternyata serapi itu juga kau memanipulasinya.” Waluyo menunjuk layar. “Dan emas batangan di dalam brankas? Apa kau kira aku tidak memasang CCTV di ruanganku sendiri?”

Wajah Kuswara seketika menjadi pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia tidak menyangka perbuatannya terekam. 'Duh, habislah aku!' batinnya.

Anjani yang berdiri di sisi Kuswara hanya bisa menunduk.

"Kembalikan semua yang kau curi, atau kubiarkan polisi yang mengurusmu!" bentak Waluyo.

Seketika Kuswara berlutut di lantai dengan kedua tangan terkatup di dada, memohon. "Ampun, Pak. Saya khilaf. Saya terpaksa."

"Tidak ada gunanya mengaku khilaf setelah ketahuan! Kuberikan kau waktu seminggu, kembalikan semua uang yang sudah kau curi!" bentak Waluyo.

Udara di dalam ruangan terasa berat. Hanya terdengar suara kipas angin dan napas Kuswara yang mulai tidak teratur.

Waluyo masih berdiri di depan meja. Matanya menatap layar monitor yang memutar ulang rekaman CCTV untuk kedua kalinya. Gerakan tangan Kuswara saat membuka brankas dan mengubah angka di laptop terekam jelas.

“Berapa totalnya?” tanya Waluyo datar, tapi terasa dingin.

Kuswara menelan ludah, masih berlutut dengan gemetar. “Sa... saya...”

“Berapa?” ulang Waluyo, lebih tegas. "Kau mengaku atau aku yang harus membacakan selisih dari laporan keuangan yang kau buat dan yang aku buat sendiri?!"

“Dua ratus tujuh puluh juta, Pak. Termasuk tiga batang emas,” jawab Kuswara akhirnya dengan suara hampir tidak terdengar.

Waluyo memejamkan mata sebentar. Kecewa marah dan letih campur aduk di kepalanya. Ia berjalan ke kursi kerjanya, lalu duduk. Jemarinya mengetuk meja pelan. “Aku kecewa, Kuswara,” kata Waluyo pelan. “Selama tiga tahun ini laporan keuangan darimu selalu rapi. Mudah aku pahami. Karena itu aku percaya penuh padamu.”

Kuswara menunduk. Ada sesuatu yang membuatnya tak sanggup menatap.

“Aku juga tahu, yang merekomendasikanmu bekerja di tempat ini adalah Pak Hadi. Teman lamaku. Karena nama baik beliau, aku menerimamu tanpa banyak bertanya.”

Waluyo menarik napas panjang lalu melanjutkan. “Seharusnya, hari ini juga aku menyerahkan semua bukti ini ke polisi dengan tuduhan penggelapan dan pencurian.”

Tubuh Kuswara sedikit bergetar.

“Tapi...” Waluyo menatap lurus pada Kuswara. “Aku akan memberimu satu kesempatan.”

Kuswara mendongak, terkejut.

“Aku beri waktu satu minggu. Tujuh hari terhitung mulai hari ini. Kembalikan semua uang dan emas itu, seluruhnya. Tidak kurang satu rupiah pun." Dengan berat Waluyo harus menahan amarahnya.

“Jika dalam satu minggu uang itu tidak kau kembalikan, maka dengan berat hati aku akan melaporkan perbuatanmu ke pihak kepolisian. Dan aku tidak akan bisa menolongmu lagi," ucapnya rendah namun tatapan mata itu seolah siap menghunuskan senjata tajam.

Kuswara mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya... saya akan kembalikan. Saya janji, Pak.”

Waluyo berdiri. Ia mengambil map berisi print out laporan dan flashdisk berisi rekaman CCTV, lalu menyerahkannya kepada Anjani.

“Simpan ini baik-baik. Dan awasi semua transaksi mulai hari ini.”

Anjani mengangguk sigap. “Siap, Pak.”

Waluyo kemudian menatap Kuswara untuk terakhir kali.“Keluar. Dan pikirkan baik-baik apa yang harus kau lakukan dalam tujuh hari ke depan.”

Kuswara berjalan lunglai menyusuri halaman luas pabrik kecil yang saat itu sedang digunakan untuk menjemur gabah. "Benar kata mereka! Semua nasib sial ini karena Mbak Tami! Dia harus ikut bertanggungjawab!" gumamnya dengan rahang gemeretak.

...****************...

Bersambung...

Gimana? Masuk ya?🥴

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!