Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Pagi itu, kampus lebih ramai dari biasanya. Semua orang ingin melihat pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Irawan duduk di bangku depan kantin. Sendirian. Tidak ada geng-nya. Tidak ada tawa lebarnya. Hanya duduk diam, kedua tangannya di atas meja, matanya menatap kosong ke arah pintu masuk kampus. Menunggu.
Sejak pukul enam pagi ia sudah di sini. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia mandi. Bajunya kusut kaos oblong abu-abu yang mungkin sudah dipakai tiga hari berturut-turut. Rambutnya lepek. Matanya semakin cekung, lingkaran hitam di bawahnya semakin pekat.
Tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya satu: Lusi.
Setiap pagi, ia bangun dengan satu pikiran di kepalanya: Lusi. Setiap malam, ia tidur dengan satu harapan: besok bisa ketemu Lusi. Setiap menit yang ia habiskan tanpa melihat wajah Lusi terasa seperti siksaan. Setiap detik yang ia lewati tanpa mendengar suara Lusi terasa seperti neraka.
"Wan... lo nggak masuk kelas?"
Salah satu teman sekelasnya mahasiswa Manajemen bernama Fajar berhenti di dekat bangkunya. Tapi Irawan bahkan tidak menoleh.
"Nunggu Lusi."
"Lusi? Pacar lo yang baru? Yang lo kejar-kejar seminggu ini?"
"Dia bukan pacar baruku." Suara Irawan datar. "Dia pemilikku."
Fajar mengerutkan dahinya. "Pemilik? Maksud lo?"
Tapi Irawan tidak menjawab. Matanya tetap terpaku ke pintu masuk kampus. Dan ketika akhirnya sosok berjilbab hitam itu muncul di kejauhan, seluruh tubuhnya langsung menegang. Matanya berbinar. Senyumnya lesung pipi yang dulu membuat banyak cewek jatuh hati muncul dengan sendirinya.
"Lusi..."
Ia bangkit dari bangkunya. Berjalan cepat, hampir berlari, ke arah Lusi.
"Lusi! Selamat pagi! Udah sarapan? Lo mau gue ambilin sarapan? Roti? Nasi uduk? Kopi? Susu? Cokelat panas?"
Rentetan pertanyaan itu mengalir deras dari mulutnya. Matanya menatap Lusi dengan intensitas yang hampir tidak waras seperti seorang pecandu yang akhirnya menemukan narkobanya setelah berhari-hari sakau.
Lusi menatapnya dengan wajah datar. "Aku udah sarapan."
"Oh... oh, bagus. Syukur." Irawan mengangguk-angguk, lalu berdiri di samping Lusi dengan posisi sedikit di belakang seperti pengawal. "Mau ke kelas sekarang? Gue anterin."
"Kamu nggak ada kelas sendiri?"
"Ada. Tapi nggak apa-apa. Lebih penting anterin kamu."
"Kamu bisa bolos?"
"Buat kamu, apa aja."
Mahasiswa yang lewat memperhatikan mereka dengan bisik-bisik. Ada yang ngeri. Ada yang kasihan. Ada yang tertawa mengejek. Tapi Lusi tidak peduli. Dan Irawan... Irawan bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang ditonton.
Dunianya sudah menyempit. Hanya ada Lusi di dalamnya. Hanya Lusi. Hanya Lusi. Hanya Lusi.
Semua mata tertuju pada mereka, tapi tak satu pun yang berani bersuara keras. Hanya bisikan-bisikan.
"Lihat deh. Mereka lagi."
"Udah seminggu lebih kayak gitu. Nggak berubah-ubah."
"Irawan beneran jadi budak ya?"
"Kasian. Tapi... dia juga dulu jahat sih."
Lusi memilih meja di tengah kantin. Bukan di sudut seperti biasanya. Di tengah. Di tempat yang paling terlihat. Ia duduk dengan tenang, mengeluarkan ponselnya, dan mulai memainkan game seolah tidak peduli pada dunia sekitarnya.
Irawan berdiri di sampingnya. Tidak duduk sebelum disuruh.
"Wan," kata Lusi tanpa mendongak dari ponselnya.
"Iya, Lus? Ada yang bisa gue lakuin? Lo mau minum? Makan? Gue beliin sekarang juga. Lo mau mie ayam? Bakso? Nasgor? Atau jajanan pasar? Di depan ada yang jual klepon. Enak kayaknya. Gue beliin ya? Gue…"
"Di lantai."
Irawan berhenti bicara. "Apa, Lus?"
"Di lantai. Ada noda. Itu." Lusi menunjuk ke lantai dekat kaki kirinya. Hanya setitik noda kecap, mungkin sisa dari pengunjung sebelumnya. Hampir tidak terlihat.
Tapi Irawan langsung berlutut.
"Biar gue bersihin."
Sebelum Lusi sempat mengatakan apa-apa, Irawan sudah merogoh sakunya, mengeluarkan selembar tisu, dan mulai menggosok lantai dengan kedua tangannya. Posisinya sekarang sedang berlutut di samping meja di depan semua orang.
"Wan, itu cuma noda kecap. Bisa dilap pake tisu biasa." Suara Lusi datar.
"Tapi gue harus mastiin bersih. Lo kan duduk di sini. Lantainya harus bersih. Nanti lo nggak nyaman."
Ia terus menggosok. Bahkan ketika tisunya sudah kotor, ia mengeluarkan tisu baru dan melanjutkan. Matanya fokus pada noda itu.
Mahasiswa di meja sebelah mulai mengambil video diam-diam.
"Anjir, Irawan lagi ngepel lantai pake tisu?"
"Dia beneran gila sekarang."
"Lusi tuh ngapain sih sama dia?"
Lusi akhirnya mendongak dari ponselnya. Ia menatap Irawan yang masih berlutut. "Udah, Wan. Bersih."
Irawan mendongak, tersenyum lebar. Lesung pipinya muncul. "Beneran? Alhamdulillah. Gue nggak mau lo duduk di tempat kotor."
"Sekarang, aku haus."
"Haus? Gue beliin minum! Lo mau es teh? Es jeruk? Jus alpukat? Atau susu kedelai? Tapi susu kedelai langganan lo adanya di depan gang. Kalau lo mau, gue bisa lari ke sana sekarang. Cuma sepuluh menit. Gue lari cepet. Lo tunggu aja di sini."
"Es teh manis. Di kantin ini aja."
"Oke! Es teh manis! Sebentar!"
Irawan bangkit, bergegas ke stan minuman. Ia menyerobot antrean tanpa peduli pada orang-orang yang memelototinya. "Permisi! Maaf! Ini penting! Pacar gue haus! Maaf ya!"
Beberapa mahasiswa menggerutu, tapi tidak ada yang berani melawan. Semua sudah tahu bahwa Irawan sudah bukan Irawan yang dulu.
Sementara itu, Dimas yang berdiri di kejauhan hanya bisa menatap dengan campuran ngeri dan bingung. Ia belum sepenuhnya terikat seperti Irawan, tapi ia sudah merasakan tarikannya. Sudah merasakan dorongan aneh untuk melakukan apa pun yang Lusi minta. Dan pemandangan Irawan yang berlutut membersihkan lantai itu... membuatnya ketakutan sekaligus penasaran.
Itukah masa depanku?
Lusi."
Suara baru. Bukan Irawan.
Lusi menoleh. Dimas berdiri di samping meja. Wajahnya sama pucatnya dengan Irawan bahkan mungkin lebih. Tapi tidak seperti Irawan yang tenang, Dimas terlihat... gelisah. Matanya bergerak-gerak, tidak bisa fokus. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya.
"Dimas," Irawan menyapanya dengan nada dingin. "Ngapain lo di sini?"
"Gue... gue cuma mau ngomong sama Lusi."
"Ngapain?"
"Biarin, Wan." Lusi mengangkat tangannya, menghentikan Irawan yang sudah setengah berdiri. "Duduk, Kak Dimas."
Dimas duduk di kursi kosong di samping Irawan. Ia tidak berani menatap mata Lusi langsung. Pandangannya terus bergerak ke mana-mana ke meja, ke lantai, ke langit-langit seperti mencari tempat berlindung yang tidak ada.
"Aku... gue nggak bisa tidur seminggu ini, Lus."
"Kenapa?"
"Nggak tahu. Setiap gue merem, lo muncul. Setiap gue bangun, gue kangen sama lo. Gue... gue nggak ngerti. Ini aneh. Aneh banget."
"Aneh gimana, Kak?"
"Lo... lo kan..." Dimas akhirnya memberanikan diri menatap Lusi. "Lo kan korban kita. Lo seharusnya... benci sama gue. Kenapa gue malah... kenapa gue malah kangen sama lo?!"
Suaranya meninggi di akhir kalimat. Beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh.
Lusi menatapnya dengan tenang. "Mungkin Kakak cuma ngerasa bersalah."
"Bersalah?!" Dimas tertawa getir. "Gue nggak pernah ngerasa bersalah, Lus! Itu masalahnya! Sejak malam itu, gue nggak ngerasa apa-apa! Tapi sekarang... sekarang tiba-tiba lo muncul di kepala gue dan gue nggak bisa ngilangin! Gue kayak... gue kayak..."
"Kayak apa, Kak?"
Dimas menunduk. Bahunya bergetar. "Gue kayak... jatuh cinta."
Keheningan.
Irawan menatap Dimas dengan tatapan tajam. Ada api di matanya cemburu. "Lo jatuh cinta sama Lusi?"
"Gue nggak mau! Gue nggak pengen! Ini... ini di luar kendali gue!"
"Lusi itu pacar gue, Mas. Lo jangan macem-macem."
"Gue tahu! Gue tahu, anjir! Gue nggak mau ganggu! Gue cuma... gue cuma butuh ngomong..." Dimas menatap Lusi dengan mata yang basah. "Lus... tolong... lepasin gue. Lepasin apa pun yang lo pasang ke gue. Gue mohon..."
Lusi memandangi dua laki-laki di hadapannya. Irawan, yang cemburu buta. Dimas, yang putus asa. Dua dari empat orang yang dulu menghancurkannya. Sekarang, mereka berdua ada di depannya satu sudah sepenuhnya jadi budak, satunya sedang dalam proses.
Dan ia... ia tidak merasakan apa-apa.
"Aku nggak masang apa-apa, Kak," katanya akhirnya. "Mungkin... ini emang takdir Kakak."
"Takdir apaan?!"
"Takdir untuk ngerasain apa yang aku rasain dulu." Lusi berdiri, mengambil tasnya. "Aku dulu juga nggak bisa tidur, Kak. Nggak bisa makan. Setiap merem, yang muncul muka Kakak. Muka Irawan. Muka Rendy. Muka Bayu. Bedanya, yang aku rasain dulu... bukan kangen."
Dimas menatapnya dengan ngeri. "Terus... apa?"
Lusi tersenyum senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Jijik. Takut. Benci. Pengen mati."
Dan ia berjalan pergi. Irawan langsung bangkit, mengikutinya seperti bayangan. Meninggalkan Dimas yang duduk sendirian di meja kantin, dengan kepala tertunduk dan air mata yang akhirnya jatuh.
Lapangan basket.
Setelah makan siang, Lusi berjalan ke lapangan basket. Ada beberapa mahasiswa yang sedang bermain, tapi mereka langsung berhenti begitu melihat Lusi datang dengan pengikutnya.
"Lusi... lo mau main basket?"
"Nggak. Cuma lewat."
Ia berjalan ke tengah lapangan. Matahari siang cukup terik, membuat aspal lapangan terasa panas. Lusi berhenti di tengah lingkaran tengah. Ia menatap Irawan.
"Wan, sepatuku kotor."
Irawan langsung melihat ke bawah. Sepatu Lusi sepatu converse putih yang sama dengan yang dulu pernah ia bersihkan dari ludah Ratih memang ada sedikit debu di ujungnya. Tapi hanya sedikit. Hampir tidak terlihat.
"Biar gue bersihin."
Ia berlutut lagi. Kali ini di tengah lapangan basket. Di depan semua pemain yang sedang beristirahat. Ia mengeluarkan tisu selalu ada tisu di sakunya sekarang, persediaan khusus untuk membersihkan apa pun yang kotor di sekitar Lusi dan mulai menyeka sepatu itu.
Tapi Lusi menarik kakinya.
"Jangan pake tisu."
Irawan mendongak, bingung. "Terus pake apa, Lus?"
"Itu. Sapu tangan kamu."
"Oh, iya! Maaf. Kenapa gue nggak kepikiran." Irawan merogoh sakunya lagi, mengeluarkan sapu tangan kain sapu tangan mahal pemberian ibunya dan mulai menyeka sepatu Lusi dengan hati-hati. Seperti seorang pelayan yang membersihkan sepatu majikannya.
Para pemain basket menonton dengan mulut ternganga.
"Wan... lo nggak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka teman satu timnya.
"Apa-apa kenapa?" Irawan bahkan tidak mendongak. Tangannya terus bekerja.
"Lo... lo lagi ngebersihin sepatu cewek di tengah lapangan."
"Terus kenapa? Pacar gue. Sepatunya kotor. Gue bersihin. Ada masalah?"
Tidak ada yang berani menjawab.
Tapi Lusi belum selesai.
"Wan."
"Iya, Lus?"
"Bersihinnya... jangan pake sapu tangan."
Irawan berhenti. "Terus pake apa?"
Lusi menatapnya dengan wajah datar. "Jilat."
Keheningan. Suara angin berhenti. Bahkan para pemain basket yang tadinya berbisik-bisik langsung diam. Semua mata tertuju pada Irawan. Menunggu reaksinya. Menunggu apakah ia akan menurut atau menolak.
Irawan menatap sepatu Lusi. Lalu menatap wajah Lusi. Ada keraguan di matanya sedikit. Sangat sedikit. Sisa-sisa kesadaran yang masih bertahan, berteriak dari dalam: Ini gila! Ini memalukan! Jangan lakuin!
Tapi suara itu langsung ditenggelamkan oleh suara lain. Suara yang lebih kuat. Suara Semar Mesem.
"Lo... lo serius, Lus?"
"Kamu nggak mau?"
"Bukan! Mau! Gue mau! Gue cuma... gue cuma nggak tahu lo serius apa nggak. Tapi kalau lo serius... gue lakuin."
"Aku serius."
Irawan menelan ludah. Lalu, perlahan sangat perlahan ia membungkukkan kepalanya ke arah sepatu Lusi. Lidahnya menjulur. Dan ia menjilat ujung sepatu itu.
"Huuuu!"
"ASTAGFIRULLAH! IRAWAN NGAPAIN?!"
"GILA! DIA BENERAN GILA!"
Jeritan dan tawa meledak di lapangan basket. Semua pemain, semua penonton yang lewat, semua orang yang melihat mereka semua bereaksi dengan cara yang sama: syok, ngeri, tidak percaya.
Tapi Irawan terus menjilat sepatu Lusi. Dari ujung ke sisi. Membersihkan debu dengan lidahnya sendiri. Seperti anjing yang membersihkan kaki tuannya.
Lusi menatapnya tanpa ekspresi.
Di dalam hatinya, ia menunggu. Menunggu rasa puas itu datang. Menunggu rasa senang itu muncul. Tapi yang datang hanyalah kehampaan. Hanya kekosongan. Hanya lubang yang semakin besar.
Kenapa aku nggak ngerasa apa-apa?
Kenapa aku nggak puas?
Dia udah menjilat sepatuku di depan umum. Dia udah kehilangan semua harga dirinya. Tapi kenapa aku masih kosong?
Ia tidak tahu jawabannya. Mungkin karena balas dendam memang tidak pernah memberikan kepuasan. Mungkin karena melukai orang lain bagaimanapun orang itu pernah melukaimu tidak akan pernah menyembuhkan lukamu sendiri.
"Udah, Wan."
Irawan berhenti. Ia mendongak, tersenyum. Ada sisa debu di sudut bibirnya. "Udah bersih, Lus. Maaf kalo kurang rapi. Lain kali gue jilat lagi. Lebih lama. Lebih bersih."
Lusi berbalik dan berjalan pergi. Irawan langsung bangkit, mengikutinya.
Di belakang mereka, lapangan basket tetap sunyi. Para pemain tidak lagi bermain. Mereka hanya menatap punggung Irawan yang semakin menjauh sosok yang dulu mereka kagumi, sekarang menjadi bayangan dari dirinya sendiri.
\[BERSAMBUNG…\]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥