Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bonus Bab
ℭ𝔦𝔫𝔠𝔦𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔨𝔢𝔪𝔟𝔞𝔩𝔦 𝔅𝔢𝔯𝔪𝔞𝔨𝔫𝔞💍
Enam bulan telah berlalu sejak Vincent kembali menghirup udara bebas.
Kabar tentang mantan bos mafia yang kini mengabdikan hidupnya untuk panti asuhan dan toko bunga perlahan menghapus citra kelam yang selama bertahun-tahun melekat pada namanya. Masyarakat tidak lagi melihat Vincent Lawson sebagai pria yang menakutkan, melainkan sebagai seseorang yang telah menebus kesalahannya dan memilih menjalani hidup dengan penuh makna.
Sementara itu, Rhea Azlyn Florist semakin ramai didatangi pelanggan. Tidak hanya karena bunga-bunganya yang indah, tetapi juga karena semua orang menyukai cerita sederhana di balik toko kecil itu. Tak ada yang benar-benar mengetahui kisah mereka secara utuh. Hanya segelintir orang yang tahu bahwa tempat itu pernah menjadi awal dari penyamaran, pengkhianatan, dan akhirnya... rumah.
Suatu pagi, Zhava dibuat bingung.
Sejak bangun tidur, Vincent terus menghilang setiap kali ia datang mendekat. Damian pun berkali-kali datang membawa kotak besar, bunga, dan berbagai dekorasi tanpa mau menjelaskan apa pun.
Setiap kali Zhava bertanya, mereka hanya saling tersenyum.
Menjelang sore, Damian akhirnya meminta Zhava datang ke halaman belakang panti asuhan.
Begitu tiba, langkah Zhava langsung terhenti.
Halaman yang biasanya dipenuhi permainan anak-anak kini berubah menjadi taman kecil yang dihiasi ribuan mawar putih. Lampu-lampu gantung berkilauan di antara pepohonan, sementara lorong kayu dipenuhi kelopak bunga yang tertiup angin sore.
Di ujung lorong berdiri Vincent.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam sederhana yang membuatnya tampak sama seperti malam pertunangan mereka bertahun-tahun lalu.
Bedanya...
Kali ini tidak ada pistol yang tersimpan di balik jasnya.
Tidak ada polisi yang bersembunyi di antara para tamu.
Dan tidak ada kebohongan yang memisahkan mereka.
Zhava merasakan matanya mulai memanas.
Perlahan ia berjalan menyusuri lorong bunga.
Di kanan dan kiri, anak-anak panti tersenyum sambil membawa sekeranjang kecil berisi kelopak mawar putih.
Damian berdiri di samping Vincent sebagai pendampingnya.
Saat Zhava berhenti tepat di hadapan Vincent, pria itu mengeluarkan sebuah kotak beludru tua.
Kotak yang pernah menjadi awal dari semua luka mereka.
Namun hari ini...
Kotak itu akan menjadi awal dari kebahagiaan yang sesungguhnya.
Vincent membuka kotak tersebut.
Di dalamnya tersimpan cincin yang sama.
Cincin yang pernah menjadi saksi pengkhianatan.
Kini kembali bersinar sebagai lambang kesempatan kedua.
Dengan perlahan, Vincent berlutut di hadapan Zhava.
Matanya berkaca-kaca.
Tak ada pidato panjang.
Tak ada kata-kata berlebihan.
Ia hanya menatap wanita yang telah menjadi rumah bagi seluruh hidupnya.
Dengan suara yang bergetar, ia mengucapkan janji yang dulu tidak sempat mereka selesaikan.
"Dulu... aku kehilanganmu di hari pertunangan kita."
"Hari ini... izinkan aku memulai semuanya dari awal."
"Bukan sebagai mafia."
"Bukan sebagai narapidana."
"Hanya sebagai Vincent... pria yang akan mencintaimu sampai akhir hidupnya."
Air mata Zhava jatuh tanpa bisa ditahan.
Tanpa ragu sedikit pun, ia mengulurkan tangan kirinya.
Cincin itu kembali melingkar di jari manisnya.
Kali ini...
Tak ada borgol yang menggantikannya.
Tak ada sirene yang memecah keheningan.
Yang terdengar hanyalah tepuk tangan meriah dari semua orang yang hadir.
Beberapa saat kemudian, penghulu memimpin akad sederhana yang hanya dihadiri keluarga panti asuhan, Damian, beberapa sahabat lama, dan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Dengan satu tarikan napas, Vincent mengucapkan ijab kabul dengan lantang.
Sah.
Untuk pertama kalinya, Zhava benar-benar menjadi istrinya.
Bukan dalam penyamaran.
Bukan sebagai bagian dari misi.
Melainkan atas pilihan hati mereka sendiri.
Saat keduanya berdiri berdampingan sebagai suami istri, salah seorang anak kecil tiba-tiba berteriak dengan suara lantang,
"CIUM! CIUM! CIUM!"
Semua orang langsung tertawa.
Anak-anak panti yang lain ikut bersorak.
"CIUM! CIUM! CIUM!"
"CIUM! CIUM! CIUM!"
Damian bahkan ikut bertepuk tangan sambil tertawa paling keras.
"Wah, masa pengantinnya malu?"
Zhava langsung menutupi wajahnya yang memerah.
Ia menunduk karena terlalu malu melihat semua orang menyoraki mereka.
Vincent tak bisa menahan tawanya.
Dengan sangat lembut, ia menggenggam kedua tangan Zhava, lalu mengangkat dagunya perlahan.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat, dunia seolah kembali sunyi.
Vincent kemudian mengecup lembut kening Zhava.
Sorakan semakin riuh.
"WOOOO!"
"Itu bukan ciuman!"
"Lagi! Lagi!"
Zhava tertawa sambil memukul pelan lengan Vincent karena malu.
Vincent ikut tertawa, lalu dengan wajah yang sedikit memerah, ia mengecup singkat bibir Zhava.
"YEAAAAAAAH!"
"AKHIRNYA!"
Anak-anak panti melompat kegirangan sambil melemparkan kelopak mawar putih ke udara.
Damian sampai mengusap sudut matanya sendiri.
"Bodoh... akhirnya kalian benar-benar menikah."
Di bawah langit sore yang dihiasi semburat jingga, Vincent memeluk Zhava erat.
Tidak ada lagi rasa takut kehilangan.
Tidak ada lagi penyamaran.
Tidak ada lagi pengkhianatan.
Hanya ada dua hati yang telah melewati badai paling besar dalam hidup mereka... dan memilih untuk tetap saling mencintai.
Kelopak-kelopak mawar putih terus berjatuhan, seolah langit sendiri sedang merayakan kebahagiaan yang selama bertahun-tahun tertunda.
Dan untuk pertama kalinya sejak kisah itu dimulai...
Cincin itu tidak lagi menjadi lambang pengkhianatan.
Melainkan janji bahwa cinta yang bertahan melewati luka, pada akhirnya akan selalu menemukan jalan pulang. 🖤🌹
________________________
📝Pesan Penulis
Terima kasih telah menemani perjalanan Vincent Lawson dan Zhava Vianzya hingga halaman terakhir.
Semoga kisah ini mengajarkan bahwa cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna, melainkan tentang memilih bertahan, memaafkan, dan memperjuangkan kebenaran meski harus melewati luka yang paling dalam.
Terima kasih atas setiap air mata, tawa, dan waktu yang telah kalian berikan untuk Cincin Pengkhianatan.
Sampai bertemu di kisah berikutnya.
With love,
— Adeva Syalwa H. 🖤