Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kenangan Masa SMA
Sebelum mereka turun dari mobil mewah milik Sam, keheningan sempat mencengkeram kabin selama beberapa saat. Sam sengaja menahan jawabannya atas pertanyaan Vanya, sengaja membiarkan kalimat tersebut menggantung di udara demi melihat reaksi dari kursi belakang melalui kaca spion tengah.
Namun, di luar dugaan Sam, Mita justru menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Wajah wanita itu sama sekali tidak terusik, tidak ada gurat kekesalan, cemburu, ataupun sedih. Mita tetap menatap ke luar jendela dengan sorot mata yang teduh dan napas yang teratur. Sikapnya begitu damai, seolah-olah ia tidak mendengar sepatah kata pun dari pancingan Vanya, atau seakan-akan rumah mewah penuh kenangan itu sudah tidak memiliki arti lagi baginya. Ketenangan mutlak Mita itu justru membuat Sam merasakan kedutan aneh di dadanya—sebuah rasa kecewa yang samar karena pancingan istrinya gagal total.
Begitu mobil berhenti sempurna di pelataran parkir rumah utama keluarga Baskoro, ketiga sahabat itu segera turun dan langsung berjalan beriringan menuju lantai atas, menuju kamar pribadi Mita.
Bagi Rara dan Sari, rumah megah berarsitektur modern ini sebenarnya sudah tidak asing lagi. Sewaktu zaman SMA dulu, mereka berdua sangat sering datang dan bermain ke sini untuk belajar kelompok atau sekadar menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama Mita. Namun, ada satu hal yang membedakan kunjungan mereka malam ini: ini adalah untuk pertama kalinya mereka benar-benar menginap di rumah keluarga Baskoro. Biasanya, jika ada agenda menginap bersama, mereka selalu melakukannya di rumah Rara atau di rumah Sari.
"Wah, rasanya aneh ya, setelah sekian lama akhirnya kita bisa menginap di rumah ini," bisik Sari seraya memperhatikan koridor lantai dua yang bernuansa hangat.
"Iya, betul," sahut Rara pelan, mengiyakan ucapan Sari. "Dulu waktu SMA kita cuma main sampai sore saja. Lagipula, dulu kalau kita ke sini, kita jarang sekali bertemu dengan Papa Baskoro karena beliau masih aktif dan sibuk sekali menjabat sebagai CEO. Jangankan Papanya, Mas Sam pun dulu jarang kelihatan di rumah karena masih sibuk-sibuknya kuliah."
Mita tersenyum kecil mendengar kilas balik dari kedua sahabatnya itu. "Iya, dulu rumah ini memang sering sepi kalau siang. Makanya sekarang Papa Baskoro senang sekali kalau rumah ini jadi ramai."
Mita kemudian membuka pintu kamar pribadinya yang terletak di sudut lantai dua. Begitu pintu terbuka, Rara dan Sari langsung terpana. Kamar itu tetap bersih, rapi, dan terawat dengan sangat baik, seolah-olah siap menyambut kepulangan pemiliknya kapan saja. Ruangannya sangat luas dengan kasur berukuran besar yang lebih dari cukup untuk menampung mereka bertiga malam ini. Di dalam kamar yang nyaman inilah, ketiganya akhirnya bisa bernapas lega dan melepaskan seluruh penat serta ketegangan yang mereka tahan sepanjang malam.
Mita kemudian membuka pintu kamar pribadinya yang terletak di sudut lantai dua. Begitu pintu terbuka, Rara dan Sari langsung terpana. Kamar itu tetap bersih, rapi, dan terawat dengan sangat baik, seolah-olah siap menyambut kepulangan pemiliknya kapan saja. Ruangannya sangat luas dengan kasur berukuran besar yang lebih dari cukup untuk menampung mereka bertiga malam ini. Di dalam kamar yang nyaman inilah, ketiganya akhirnya bisa bernapas lega dan melepaskan seluruh penat serta ketegangan yang mereka tahan sepanjang malam.
Mita merebahkan dirinya di tengah kasur, diapit oleh Rara dan Sari. Sambil memandangi langit-langit kamar yang tinggi, ingatan mereka bertiga mendadak mundur ke masa-masa seragam putih-abu-abu dulu—masa di mana masalah terbesar mereka hanyalah tugas matematika atau berebut camilan. Kini, di balik kemewahan dinding rumah Baskoro, mereka tahu kehidupan telah berubah jauh lebih rumit, namun ikatan di antara mereka bertiga tetap sama dan tidak akan pernah berubah.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)