Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan kedua Lila
"Tuan Vincent?"
"Di mana ponselmu?"
Serina langsung terdiam. "Ba-baterainya habis, Tuan."
Belum sempat Vincent menjawab, terdengar suara dari dalam rumah.
"Hyaaa!" Suara tawa Viren menyusul.
Serina menoleh. Kustiono sedang berjalan seperti kuda dengan Viren di atas punggungnya. Namun begitu melihat ayahnya berdiri di depan pintu, Viren langsung turun. "A-Ayah!"
Kustiono ikut menghentikan langkah. Ia segera berdiri tegap dan merapikan pakaiannya. "Tuan Vincent, selamat datang." Kustiono tersenyum ramah. "Silakan masuk."
Vincent mengangguk sopan. Ia kemudian masuk ke ruang tamu. Serina mengikuti dari belakang dengan langkah pelan. Sejujurnya, sejak membuka pintu tadi, ia sudah bersiap menerima kemarahan Vincent.
Ia tahu dirinya salah. Membawa Viren pergi tanpa memberi kabar bukanlah hal sepele. Ditambah lagi, ponselnya mati dan Vincent baru mengetahui keberadaan mereka setelah berjam-jam.
Serina bahkan sudah membayangkan Vincent akan menegurnya di depan Ayah dan Ibu. Namun ternyata... Vincent tidak mengatakan apa-apa. Pria itu justru duduk dengan tenang di sofa, lalu menyapa Kustiono dan Yeni dengan sopan.
Serina sempat terdiam. Dia tidak marah? Ia menatap Vincent diam-diam. Pria itu hanya melirik kepadanya sekilas. Tatapan mereka bertemu. Serina langsung mengalihkan pandangan.
Aneh. Justru karena Vincent tidak memarahinya, Serina menjadi semakin gugup. Ia tadinya sudah menyiapkan berbagai alasan untuk membela diri.
Tapi sekarang...semuanya terasa tidak perlu.
Yeni mengambil beberapa makanan ringan yang sebelumnya sudah disiapkan untuk Serina dan Viren, lalu meletakkannya di atas meja. "Silakan dicoba. Ini tadi baru saja kami siapkan."
Vincent mengangguk. Tak lama kemudian, seorang pembantu datang membawa minuman hangat dan meletakkannya di hadapan Vincent.
"Terima kasih." Vincent mengambil salah satu makanan ringan di atas meja.
Sementara itu, Viren duduk lebih tenang di samping Serina. Kustiono dan Yeni sesekali mengajaknya berbicara, tetapi Viren beberapa kali melirik kepada ayahnya.
Beberapa menit berlalu. Vincent melihat ke luar jendela. Langit sudah mulai gelap. Ia berdiri.
"Hari semakin gelap." Tatapannya beralih kepada Serina dan Viren. "Saatnya pulang."
Serina dan Viren menjawab hampir bersamaan.
"Baik."
Kustiono dan Yeni saling berpandangan, lalu tersenyum kecil.
Sore yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai kunjungan singkat Serina akhirnya mempertemukan dua keluarga untuk pertama kalinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam mobil, suasana terasa canggung. Viren duduk di kursi belakang. Anak itu sudah lebih banyak diam sejak meninggalkan rumah Kustiono.
Serina duduk di samping Vincent. Beberapa kali ia melirik pria itu, tetapi Vincent hanya menatap lurus ke depan.
Akhirnya Serina memberanikan diri. "Maafkan aku, Tuan Vincent..."
Vincent tetap diam. Tatapannya lurus ke depan, kedua tangannya masih tenang memegang kemudi.
Serina menunggu beberapa detik. Tidak ada jawaban. Ia melirik Vincent sebentar, lalu kembali menundukkan wajah. "Maaf..."
Tetap tidak ada reaksi. Serina semakin gelisah. Ia mengira Vincent masih marah karena dirinya membawa Viren tanpa memberi kabar.
"Maafkan aku sekali lagi, Tuan. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu khawatir."
Vincent masih diam. Serina menggenggam jemarinya sendiri. "Aku terlalu senang bertemu Ayah dan Ibu sampai lupa waktu. Lalu ponselku juga mati. Seharusnya aku meminjam ponsel mereka untuk mengabarimu."
Beberapa detik berlalu. Barulah Vincent bersuara.
"Apa tidak ada kata lain dari mulutmu selain maaf?"
Serina terdiam. Vincent meliriknya sekilas. "Sejak masuk mobil, kau hanya meminta maaf."
"Aku..."
"Kalau memang sudah mengerti kesalahanmu, tidak perlu mengulanginya terus."
Serina langsung kembali diam. "Aku..."
"Sejak tadi kau terlihat seperti sedang menunggu aku memarahimu."
Serina menundukkan wajah. "Karena aku memang salah. Aku membawa Viren tanpa memberitahumu."
Vincent meliriknya sekilas. "Ya. Kau salah." Serina semakin diam. "Tapi aku tidak datang ke rumah keluargamu untuk mempermalukanmu."
Serina perlahan mengangkat wajah. Vincent kembali menatap jalan. "Aku hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja."
Kalimat itu membuat Serina terdiam lebih lama.
Ia tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. "Terima kasih," ucapnya pelan.
Vincent menghela napas. "Itu baru kata lain."
Serina menatapnya bingung.
Viren yang sejak tadi duduk tenang di kursi belakang akhirnya angkat bicara. "Ayah."
Vincent melirik melalui kaca spion. "Apa?"
Viren menatap Serina beberapa saat. "Tante sudah minta maaf tiga kali."
Serina langsung menoleh. "Viren..."
Anak itu mengabaikannya. "Lalu Ayah bilang tidak marah."
Vincent mengangkat alis tipis. "Aku tidak bilang begitu."
Viren berpikir sejenak. "Tapi Ayah juga tidak memarahinya."
Serina terdiam. Vincent tidak menjawab. Viren kembali bersandar di kursinya. "Berarti Ayah bingung mau bilang apa."
Serina hampir tersedak. Vincent menatap kaca spion dengan tatapan dingin. "Viren."
"Iya, Ayah?"
"Diam."
Viren mengangguk patuh. "Baik."
Beberapa detik kemudian, terdengar gumaman kecil dari kursi belakang. "Tapi aku benar."
Serina buru-buru menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Mobil berhenti di depan mansion. Serina menoleh ke kursi belakang. Viren sudah tertidur pulas.
Vincent turun lebih dulu, kemudian membuka pintu belakang. Tanpa membangunkan putranya, ia membungkuk dan menggendong Viren keluar dari mobil.
Serina segera mengambil tas sekolah dan sepatu Viren, lalu mengikuti Vincent masuk ke mansion.
Sesampainya di kamar, Vincent membaringkan Viren perlahan di atas tempat tidur. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuh anak itu. Serina meletakkan tas dan sepatu di tempatnya.
Vincent berdiri. "Matikan lampunya."
Serina mengangguk. "Baik." Ia berjalan menuju sakelar. Namun sebelum tangannya menyentuh dinding, terdengar suara kecil dari tempat tidur.
"Kakek..." Langkah Serina terhenti.
Viren bergerak dalam tidurnya. "Nenek..."
Vincent menoleh. Serina ikut memandang ke arah tempat tidur. Viren kembali diam, masih terlelap.
Beberapa detik mereka hanya berdiri dalam keheningan. Serina tersenyum kecil. "Sepertinya dia masih mengingat Ayah dan Ibu."
Vincent tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju kepada putranya. "Matikan lampunya."
Serina menekan sakelar. Ruangan menjadi gelap, hanya menyisakan cahaya lampu tidur.
Vincent berjalan keluar lebih dulu. Serina mengikuti dan menutup pintu kamar perlahan..
Serina berjalan beberapa langkah di belakang Vincent. Mereka melewati lorong dalam diam.
Serina sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi pria di depannya terlihat sama sekali tidak ingin berbicara.
Akhirnya ia memberanikan diri. "Tuan Vincent."
Vincent berhenti. "Apa?"
Serina ikut berhenti. "Tadi di rumah Ayah dan Ibu..."
Vincent menoleh. "Apa?"
"Terima kasih."
"Untuk apa ?"
Serina sedikit salah tingkah. "Sudah datang menjemput kami."
Vincent menatapnya datar. "Kau pikir aku datang untuk apa?"
Serina terdiam. "Entahlah."
"Kalau begitu jangan berterima kasih."
Serina mengerutkan kening. "Kenapa?"
Vincent kembali berjalan. "Karena aku tidak melakukan sesuatu yang istimewa."
Serina memandang punggungnya. Pria itu memang selalu seperti itu. Tidak pernah menjelaskan perasaannya. Tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya dipikirkannya.
Serina mempercepat langkah agar bisa berjalan sejajar. "Tapi tetap saja..."
Vincent tiba-tiba berhenti. Serina hampir menabraknya. Vincent menoleh. "Dan satu lagi."
"Apa?"
"Jangan biasakan memanggilku dengan nada seperti tadi."
Serina bingung. "Nada apa?"
"Seperti orang yang takut dimarahi."
Serina terdiam. Vincent menatapnya beberapa detik. "Aku bukan monster." Lalu ia kembali berjalan meninggalkan Serina yang masih berdiri di tempat.
Serina menatap punggungnya. "Kadang-kadang lebih mirip monster daripada bukan..." gumamnya pelan.
Langkah Vincent tiba-tiba berhenti. Serina membeku. Pria itu menoleh perlahan. "Apa kau mengatakan sesuatu?"
Serina langsung tersenyum kaku. "Tidak, Tuan."
Vincent menatapnya beberapa detik. Lalu kembali berjalan. Serina mengembuskan napas lega. Ia sadar...mungkin tinggal bersama Vincent tidak akan seseram yang ia bayangkan.
Pagi belum terlalu ramai ketika sebuah mobil berhenti di depan mansion Timoty.
Seorang wanita turun dengan membawa sebuah kotak hadiah. Kali ini, Lila tidak datang untuk meminta Vincent mengizinkannya tinggal. Ia datang untuk menemui seseorang yang jauh lebih mudah dijadikan alasan untuk kembali ke mansion itu.
Viren.