Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28 – PERJALANAN
Campervan melaju dengan stabil menyusuri jalan raya yang kini dipenuhi bangkai kendaraan dan reruntuhan bangunan. Sesekali Mang Ujang harus membelokkan kendaraan untuk menghindari mobil-mobil yang saling bertumpuk di tengah jalan.
Meski dunia telah berubah menjadi neraka, suasana di dalam campervan justru terasa hangat.
Tawa kecil memenuhi ruangan.
"Hahaha! Kenzo enggak bakal bisa nangkep Luna!"
Luna berlari kecil mengelilingi campervan sambil memeluk Tiger, harimau putih kecil yang ikut bermain dengannya. Tiger sesekali melompat mengejar Kenzo, membuat bocah itu tertawa semakin keras.
"Heh! Tunggu dulu! Tiger curang, masa ngebantu Luna terus!"
Kenzo pura-pura kesal hingga membuat Sarah dan Mbok Surti tertawa melihat tingkah kedua anak itu.
"Pelan-pelan mainnya, nanti jatuh," tegur Mbok Surti sambil tersenyum hangat.
"Iya, Mbok!" jawab Kenzo dan Luna hampir bersamaan.
Di sisi lain campervan, Lily duduk santai di sofa favoritnya yang berada tepat di samping jendela.
Ia menyandarkan kepalanya sambil menikmati pemandangan di luar.
Pepohonan yang mulai tumbuh liar, jalanan yang dipenuhi kendaraan terbengkalai, serta beberapa zombie yang berkeliaran menjadi pemandangan yang terus berganti sepanjang perjalanan.
Meskipun suram, Lily merasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya.
Setidaknya...
Seluruh keluarganya masih berada di sisinya.
Saat sedang menikmati perjalanan, langkah kaki kecil terdengar mendekat.
"Kak Lily..."
Lily menoleh.
"Luna? Ada apa?"
Gadis kecil itu berdiri di depan Lily sambil memainkan ujung bajunya.
"Kak..."
Luna tampak ragu-ragu sebelum akhirnya bertanya.
"Kira-kira tempat yang kita tuju nanti aman enggak, ya?"
Lily tersenyum lembut.
"Pasti aman."
"Tapi..."
Luna kembali menundukkan kepala.
"Padahal Luna belum sempat lihat Pangkalan B."
"Baru juga mau tinggal di sana..."
"Eh... kita pergi lagi."
Nada suaranya terdengar sangat sedih.
Baginya, Pangkalan B adalah harapan akan rumah baru.
Namun harapan itu hancur bahkan sebelum sempat ia rasakan.
Melihat wajah murung Luna, hati Lily terasa sesak.
Ia tahu...
Luna dan Kenzo masih terlalu kecil untuk mengalami semua penderitaan ini.
Mereka kehilangan kedua orang tua mereka.
Dipaksa tumbuh di dunia yang dipenuhi zombie.
Hal seperti itu seharusnya tidak dialami oleh anak-anak seusia mereka.
Lily kemudian mengusap lembut kepala Luna.
"Hey..."
"Percaya sama Kak Lily."
"Tempat yang akan kita tuju jauh lebih aman."
"Di sana enggak akan ada orang yang mengganggu kita."
"Luna bisa bermain setiap hari."
"Bisa main sama Kenzo."
"Sama Tiger juga."
"Kalau mau lari-larian seharian juga enggak masalah."
Mata Luna sedikit berbinar.
"Benarkah?"
"Iya."
Lily mengangguk mantap.
Luna pun mulai tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
"Luna mau nanam bunga yang banyak."
Lily tersenyum.
"Bunga?"
"Iya."
"Biar nanti kupu-kupu datang."
"Sama seperti waktu Luna, Kak Kenzo, Mama, dan Papa pergi liburan."
Senyum kecil di wajah Luna perlahan menghilang.
Matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat kedua orang tuanya.
"Kangen Mama..."
"Kangen Papa..."
Suasana di dalam campervan mendadak menjadi hening.
Tak seorang pun sanggup mengucapkan sepatah kata.
Lily langsung menarik tubuh Luna ke dalam pelukannya.
"Hei..."
"Jangan sedih lagi."
"Memang Mama dan Papa Luna sudah enggak ada."
"Tapi sekarang Luna enggak sendirian."
"Masih ada Kak Lily."
"Kak Lea."
"Mommy."
"Daddy."
"Kak Kenzo."
"Om, Tante."
"Dan semua yang ada di sini."
"Kami semua adalah keluarga Luna sekarang."
Luna membalas pelukan itu erat-erat.
"Iya..."
Suara kecilnya terdengar bergetar.
"Terima kasih, Kak Lily..."
Pemandangan itu membuat seluruh penghuni campervan ikut terdiam.
Mommy Grace mengusap sudut matanya yang mulai basah.
Tante Mauren menghela napas pelan.
Daddy Mike hanya tersenyum tipis sambil memandang kedua anak itu.
Mereka semua sadar...
Di usia Luna sekarang, seorang anak seharusnya masih bisa bermanja kepada kedua orang tuanya.
Bukan belajar bertahan hidup di tengah dunia yang telah hancur.
Beberapa menit kemudian, suasana kembali ceria.
Luna menghapus air matanya sebelum berlari menghampiri Kenzo.
"Ayo main lagi!"
"Hahaha! Siapa takut!"
Kenzo langsung mengejar Luna, sementara Tiger ikut berlari di belakang mereka sambil mengaum pelan.
Melihat tawa mereka kembali terdengar, Lily akhirnya bisa mengembuskan napas lega.
Setidaknya...
Untuk saat ini, kedua anak itu masih bisa tersenyum.
Tawa Kenzo dan Luna masih terdengar memenuhi campervan. Tiger ikut berlarian ke sana kemari mengejar kedua anak itu hingga membuat suasana yang sebelumnya muram berubah menjadi jauh lebih hidup.
Lily memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis.
Di tengah dunia yang telah hancur, tawa anak-anak seperti itu terasa sangat berharga.
Lea yang duduk di samping Lily tiba-tiba menyenggol lengan adiknya.
"Eh."
Lily menoleh.
"Hm? Kenapa?"
Lea menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Lo enggak ada niat nyari anggota baru lagi?"
Lily mengangkat sebelah alisnya.
"Maksud lo?"
"Gini."
Lea melirik ke arah Kenzo dan Luna yang sedang bermain.
"Gue bukannya pengin sembarang orang masuk ke kelompok kita."
"Apalagi orang-orang yang enggak jelas."
"Tapi... kasihan juga Kenzo sama Luna."
"Mereka enggak punya teman seumuran."
"Kalau nanti ketemu anak-anak yang baik, atau keluarga yang memang layak ditolong... enggak ada salahnya, kan?"
Lily terdiam beberapa saat.
Pandangannya beralih ke luar jendela.
Jalanan yang mereka lewati dipenuhi mobil-mobil terbengkalai. Di kejauhan, beberapa zombie tampak berkeliaran tanpa tujuan.
"Aku bukan enggak mau menambah anggota."
Lily akhirnya membuka suara.
"Tapi di zaman seperti sekarang..."
"Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat mahal."
Lea mendengarkan dengan saksama.
"Bahkan kejujuran pun hampir enggak ada lagi."
"Orang bisa saling membunuh hanya demi sebotol air."
"Hanya demi sebungkus mi instan."
"Bahkan..."
Lily menarik napas pelan.
"Anak kecil sekalipun bisa berubah menjadi penjahat kalau keadaan memaksa."
Ucapan itu membuat Lea ikut terdiam.
Ia tahu...
Apa yang dikatakan Lily bukanlah sesuatu yang berlebihan.
Di dunia seperti sekarang, manusia sering kali jauh lebih menakutkan daripada zombie.
Namun Lea tetap menggeleng pelan.
"Gue ngerti."
"Tapi..."
"Kalau suatu saat nanti kita ketemu orang yang benar-benar baik..."
"Kayak Kayla dulu."
"Atau anak-anak yang enggak punya siapa-siapa."
"Lo boleh bawa mereka."
"Gue yakin enggak bakal ada yang keberatan."
Lea menoleh ke arah anggota keluarga lainnya.
"Iya, kan?"
Daddy Mike mengangguk pelan.
Mommy Grace ikut tersenyum.
"Tentu saja."
"Kalau memang orang itu layak dipercaya, Mommy juga enggak keberatan."
Paman Damar menambahkan,
"Semakin banyak orang baik, semakin besar peluang kita bertahan hidup."
Lily memandang satu per satu wajah keluarganya.
Senyum tipis akhirnya muncul di bibirnya.
"Baiklah."
"Kalau nanti aku bertemu orang yang benar-benar pantas dipercaya..."
"Aku akan mengajak mereka bergabung."
Lea langsung tersenyum lebar.
"Nah, gitu dong."
"Tapi kalau orangnya nyebelin..."
"Gue tendang keluar."
Semua orang langsung tertawa mendengar ucapan Lea.
Suasana yang sempat serius kembali menjadi hangat.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Campervan terus melaju membelah jalan raya yang gelap.
Matahari telah lama tenggelam.
Langit malam dipenuhi bintang, sementara bulan sabit menggantung tinggi di antara awan tipis.
Jarum jam digital di dalam campervan menunjukkan pukul 01.23 dini hari.
Mang Ujang memperlambat laju kendaraan.
"Den Alex."
"Di depan ada tempat lumayan luas."
"Kayaknya aman buat istirahat."
Alex melihat ke depan.
Di sisi jalan terdapat sebuah lahan kosong yang dikelilingi pepohonan.
"Baik, Mang."
"Parkir di situ saja."
Campervan kemudian berhenti perlahan.
Mesin dimatikan.
Suasana langsung berubah sunyi.
Hanya suara jangkrik dan embusan angin malam yang terdengar dari luar.
Daddy Mike berdiri sambil melihat seluruh anggota keluarga.
"Baik."
"Kita istirahat beberapa jam."
"Yang lain boleh makan atau tidur."
"Tapi tetap harus ada yang berjaga."
Semua orang mengangguk setuju.
Daddy Mike kembali berkata,
"Malam ini yang berjaga..."
"Daddy."
"Paman Damar."
Pria itu kemudian melihat sekeliling.
"Kita butuh satu orang lagi."
"Kalau bisa laki-laki."
Baru saja Lily hendak mengangkat tangan...
"Enggak boleh."
Mommy Grace langsung memotong sebelum Lily sempat berbicara.
Lily mengedip bingung.
"Lho?"
"Kamu baru sadar dari pingsan."
"Belum benar-benar pulih."
"Jadi enggak boleh ikut jaga malam."
Nada suara Mommy Grace begitu tegas hingga tidak memberi kesempatan untuk membantah.
"Tapi, Mom..."
"Enggak ada tapi."
"Istirahat."
"Itu perintah."
Lily langsung mengempiskan pipinya.
"Iya deh..."
Melihat ekspresi Lily yang cemberut, Lea langsung menahan tawa.
"Hahaha..."
"Rasain."
"Disuruh istirahat malah pengin kerja."
Lily hanya mendengus pelan.
Meski mengangguk menurut, dalam hati ia sudah menyusun rencana lain.
Kalau nanti enggak bisa tidur... diam-diam keluar sebentar juga enggak apa-apa.
Sementara itu, Athar mengangkat tangan.
"Kalau begitu..."
"Biar aku yang berjaga."
Daddy Mike mengangguk puas.
"Baik."
"Berarti malam ini yang berjaga adalah Daddy, Paman Damar, dan Athar."
"Yang lain segera masuk."
"Istirahat yang cukup."
"Besok perjalanan kita masih panjang."
Semua orang mulai kembali ke dalam campervan.
Satu per satu memilih tempat tidur masing-masing.
Di luar...
Angin malam bertiup semakin dingin.
Sementara di kejauhan...
Raungan pelan zombie mulai terdengar terbawa angin.
Perjalanan menuju Kota A masih panjang.
Dan mereka tidak tahu bahaya apa yang sedang menunggu di depan.
Di dalam campervan Satu per satu anggota keluarga mulai beristirahat di dalam campervan.
Suasana perlahan berubah tenang.
Hanya suara napas pelan dan embusan angin malam yang terdengar dari luar.
Lily baru saja membaringkan tubuhnya ketika seseorang menarik pelan ujung bajunya.
"Kak Lily..."
Lily menoleh sambil tersenyum.
"Hm? Ada apa, Luna?"
Luna berdiri di samping tempat tidur dengan kedua tangan saling menggenggam.
Pipinya sedikit memerah karena malu.
"Emm..."
"Boleh enggak..."
Luna menundukkan kepalanya.
"Luna dipuk-puk sama Kak Lily..."
Mendengar permintaan polos itu, hati Lily langsung melunak.
"Tentu boleh."
Lily menggeser tubuhnya.
"Sini."
"Tidur di sebelah Kakak."
Wajah Luna langsung berbinar.
"Iya!"
Gadis kecil itu segera naik ke tempat tidur lalu berbaring di samping Lily.
Lily tersenyum hangat.
Tangannya perlahan mengusap rambut Luna sebelum menepuk-nepuk punggung gadis kecil itu dengan lembut.
"Pejamkan matanya."
"Iya..."
Tidak butuh waktu lama.
Napas Luna mulai terdengar teratur.
Wajahnya yang semula masih menyimpan kesedihan kini berubah damai.
Lily tersenyum kecil.
"Selamat tidur, Luna."
Setelah memastikan Luna benar-benar terlelap, Lily bangkit secara perlahan agar tidak membangunkannya.
Ia melangkah pelan keluar dari campervan.
Di luar...
Udara malam terasa jauh lebih dingin.
Langit dipenuhi ribuan bintang yang berkelap-kelip menghiasi kegelapan.
Di dekat api unggun kecil...
Daddy Mike, Paman Damar, dan Athar sedang berbincang santai sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Mendengar langkah kaki, ketiganya langsung menoleh.
"Lily?"
Paman Damar tersenyum tipis.
"Kenapa keluar?"
"Enggak bisa tidur?"
Lily terkekeh pelan.
"Hehehe..."
"Kan Lily tadi sudah menawarkan diri buat jaga malam."
"Tapi enggak dibolehin."
Paman Damar tertawa kecil.
"Bukan enggak boleh."
"Kami cuma khawatir."
"Kamu baru sadar dari pingsan."
"Kalau dipaksa berjaga, nanti tubuhmu malah drop lagi."
Daddy Mike ikut mengangguk.
"Mommy-mu hanya mengkhawatirkanmu."
"Itu saja."
Lily menghela napas kecil.
"Iya sih..."
Daddy Mike lalu menunjuk ke arah campervan.
"Kalau begitu masuk lagi."
"Udara malam dingin."
"Nanti kamu masuk angin."
Lily justru menggeleng sambil tersenyum jahil.
"Enggak ah."
"Lily mau duduk di sini aja."
Kemudian ia menatap ketiga pria itu bergantian.
"Ngomong-ngomong..."
"Ada yang mau minum kopi?"
Athar langsung menoleh.
"Memangnya kamu bawa kopi?"
Lily tersenyum penuh percaya diri.
"Tentu saja."
Ia mengangkat tangan kanannya.
Kilatan cahaya putih muncul sesaat.
Wusss...
Seketika sebuah kompor portable, panci kecil, galon air, empat gelas, gula, sendok, dan satu renteng kopi instan muncul di atas tanah.
Athar membelalakkan mata.
"Kemampuan ruang dimensi itu benar-benar enak."
Lily terkekeh.
"Makanya."
"Nah."
Lily menunjuk semua peralatan itu.
"Mas Athar."
"Tolong masakin air."
Athar langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Hah?"
"Aku?"
"Iya."
"Kan Mas Athar paling muda di sini."
Athar memandang Daddy Mike dan Paman Damar, berharap ada yang membantunya.
Namun...
Kedua pria itu malah menahan tawa.
"Silakan."
"Anggap saja latihan jadi suami."
celetuk Paman Damar.
"Waduh..."
Athar hanya bisa menghela napas pasrah.
"Baiklah."
Dengan pasrah ia mulai menyalakan kompor.
Tak lama kemudian air mendidih.
Athar menuangkan air panas ke dalam gelas satu per satu sebelum menyeduhkan kopi.
Aroma kopi hangat langsung memenuhi udara malam.
"Hmm..."
Daddy Mike menarik napas panjang.
"Sudah lama Daddy enggak menikmati kopi setenang ini."
Paman Damar mengangguk setuju.
"Benar."
"Rasanya seperti kembali ke masa sebelum kiamat."
Keempatnya menikmati kopi sambil memandangi langit malam.
Suasana terasa begitu damai.
Beberapa menit kemudian...
Daddy Mike menoleh kepada putrinya.
"Ngomong-ngomong, Lily."
"Hm?"
"Kenapa dulu kamu membangun tempat perlindungan di atas Gunung Domo?"
"Kenapa bukan di bawah saja?"
Lily hampir tersedak.
Untung saja ia segera menguasai ekspresinya.
"Hehehe..."
"Sebenarnya..."
"Dulu cuma iseng."
"Mikirnya kalau suatu saat dunia kacau..."
"Pasti gunung lebih aman."
"Eh..."
"Enggak nyangka sekarang benar-benar kepakai."
Daddy Mike mengangguk pelan.
"Kalau dipikir-pikir memang masuk akal."
"Daerah pegunungan jauh lebih sepi."
"Semoga pilihanmu memang yang terbaik."
Lily hanya tersenyum sambil mengangguk.
Dalam hati ia merasa sedikit bersalah.
Maaf, Dad...
Aku belum bisa menceritakan semuanya.
Percakapan mereka terus berlanjut.
Sesekali terdengar tawa kecil.
Sesekali hanya keheningan yang menemani.
Tanpa disadari...
Rasa kantuk kembali menyerang Lily.
Kelopak matanya semakin berat.
Hingga akhirnya...
Ia tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu Daddy Mike.
Daddy Mike menoleh.
Melihat putrinya sudah terlelap, senyum lembut terukir di wajahnya.
Ia mengusap perlahan rambut Lily.
"Selamat tidur, Putri kecil Daddy..."
Suara pria itu begitu pelan.
"Mimpi yang indah."
"Dan..."
"Jangan buat Daddy ketakutan lagi."
Daddy Mike kemudian mengecup lembut kening Lily.
Tak lama kemudian ia mengangkat tubuh putrinya agar posisi tidurnya lebih nyaman.
Keesokan paginya.
Mentari mulai muncul dari balik pegunungan.
Mommy Grace dan Tante Mauren menjadi orang pertama yang bangun.
Keduanya turun dari campervan untuk menyiapkan sarapan.
Namun...
Baru beberapa langkah berjalan...
Mommy Grace langsung menghentikan langkahnya.
"Astaga..."
Ia memijat pelipisnya.
Lily ternyata masih tertidur di luar bersama Daddy Mike.
"Dasar anak ini."
"Sudah dibilang tidur di dalam."
"Malah tidur di luar."
"Enggak pernah mau dengar omongan orang tua."
Tante Mauren terkekeh pelan.
"Sudahlah, Mbak."
"Namanya juga anak muda."
"Kadang memang susah diatur."
Mommy Grace menghela napas panjang.
"Huft..."
"Terserah deh."
Meski terdengar kesal, sebenarnya ia hanya khawatir putrinya masuk angin.
Tak lama kemudian...
Kedua wanita itu mulai memasak sarapan.
Hari ini menu mereka masih sama.
Nasi goreng.
Untungnya persediaan bahan makanan milik Lily masih sangat banyak.
Aroma bawang putih yang ditumis langsung membangunkan penghuni campervan satu per satu.
"Hoaaam..."
Lea keluar sambil mengucek matanya.
"Masak apa, Mom?"
"Nasi goreng."
"Cuci muka dulu."
"Habis itu bangunin adikmu."
"Oke."
Beberapa menit kemudian semua anggota keluarga berkumpul.
Mereka menikmati sarapan sederhana sambil bercanda ringan.
Setelah selesai makan...
Lily menoleh kepada Aurora.
"Rora."
"Menurut perkiraanmu..."
"Berapa lama lagi kita sampai di Gunung Domo?"
Aurora membuka peta yang berada di pangkuannya.
Ia menghitung jarak yang telah mereka tempuh.
"Kalau perjalanan tetap lancar..."
"Kurang lebih tiga hari lagi kita akan sampai di Kota A."
"Lalu setelah itu tinggal mendaki menuju Gunung Domo."
Semua orang mengangguk pelan.
Perjalanan mereka masih panjang.
Namun...
Harapan baru sudah menunggu di depan sana.
Setelah membereskan seluruh peralatan, semua orang kembali naik ke dalam campervan.
Mesin kembali dinyalakan.
Brrmmm...
Campervan perlahan bergerak meninggalkan tempat mereka beristirahat.
see you next chapter guysss ☺️ ☺️
Ini chapter terpanjang yang aku buat semoga suka yaaa