Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekasih Sejak Kecil
Pagi-pagi sekali, Yura sudah bangun dan segera berkutat di area dapur. Sejak kondisi nenek semakin melemah, dirinya yang perlahan mengambil tugas penting itu_Memasak.
Dengan cekatan, tangannya bergerak bebas seolah pekerjaan itu sudah menjadi bagian permanen dari dirinya.
Suara kran air yang dinyalakan, atau pun suara pisau yang menyentuh talenan sama sekali tidak membuat sosok pria yang tidur disofa itu merasa terganggu.
Liam, ia memilih dirumah Yura alih-alih pulang kerumahnya yang berjarak hanya beberapa meter saja.
Dan setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu jam, Yura pun menyelesaikan sentuhan terakhirnya yaitu menyiapkan air hangat untuk mandi sang nenek.
Setelah semua nya siap, ia pun bergegas menuju kamar ke nenek. Disana nenek Lea sudah bersiap untuk meninggalkan tempat tidurnya.
"Ops, nenek sudah bangun rupanya,,, "
Yura sangat senang saat mendapati sang nenek yang bangun cepat pagi ini. Biasanya, nenek nya itu baru akan bangkit jika dirinya sudah datang untuk membangunkannya.
"Nek, apa nenek mimpi indah semalam? Tumben sekali bangun cepat hari ini... " ucap Yura sambil menggandeng tangan sang nenek menuju ke luar kamar.
"Ia, nenek bermimpi kalau Liam datang berkunjung. Kau tahu, selama kamu tidak sadarkan diri, ia selalu menghibur dan menemani nenek kalau Winter sudah pulang. "
"Jadi nenek sangat merindukan nya... "
Yura sangat tahu bagaimana kedekatan keduanya. Masakan enak nenek lah yang menjadi penyebab awal mula hubungan kekeluargaan ini.
"Ooow, dia benar ada disini. Nenek tidak mimpi... "
Suara bahagia nenek membuat pria itu terbangun dari tidur lelapnya. Dengan segera ia ditarik oleh nenek kedalam pelukannya.
"Kau disini rupanya. Aku sangat merindukanmu Liam... "
Yura dapat melihat rona kebahagiaan mulai muncul diwajah sang nenek. Ia sungguh tidak menyangka jika nenek nya itu akan menunjukkan perubahan besar itu pagi ini.
Ketiga nya mulai melakukan sarapan bersama setelah nenek menyelesaikan mandinya. Senyum diwajahnya pun sudah terbit sejak tadi pagi.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka pun melakukan jalan pagi yang menyehatkan dengan berkeliling menyusuri pantai sensei.
Diam-diam Yura menatap kagum pada Liam yang mampu membuat sang nenek tertawa lepas lagi. Seketika dirinya menjadi malu sendiri saat mata Liam tanpa sengaja bertatapan dengannya.
Saat mereka tiba dipantai, Kedua anak muda itu mencari kerang untuk dibawa pulang. Sedangkan nenek memilih untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari tempat keduanya mencari kerang.
Langit di desa sensei begitu bersih, menandakan musim kemarau akan dimulai. Namun walaupun begitu, cuaca dingin di desa ini tidak akan pernah berubah.
Yura menyingsing lengan jaket tebal nya saat air sudah hampir menyentuh disana. Namun kini bukan hanya tangannya yang terkena air laut. Wajah cantiknya terkena cipratan air yang sengaja dilakukan oleh Liam.
Alhasil, kedua nya pun kejar-kejaran ditengah sepi nya suasana pantai dipagi itu. Nenek yang menonton mereka mulai menyadari jika dirinya sudah mulai menyukai kedekatan keduanya.
Suara tawa Yura mulai muncul saat Liam melakukan berbagai hal konyol lainnya. Perlahan-lahan, sifat dingin yang selalu melekat diwajah gadis itu seolah berganti menjadi hangat.
Namun, yang namanya kehidupan. Tidak selalu tentang duka maupun bahagia sesaat. Seperti halnya pagi ini, kedua insan itu masih berlarian dengan kaki telanjang diatas pasir hingga sosok pria tenang itu muncul.
"Yura...? "
Suara nya yang menenangkan mampu membuat tubuh Yura terpaku. Seketika Ingatan nya kembali berputar ke lima belas jam sebelumnya.
"Kak Steven..? "
Ia dengan spontan melepas pasir yang masih melekat didalam genggamannya. Niat nya ingin membalas lemparan pasir yang dilakukan oleh Liam sebelumnya.
Kini pria itu sama terkejutnya, ia tahu wajah pria itu dari foto yang diam-diam ia lihat waktu itu. Wajahnya tak beda jauh dengan yang difoto.
Perlahan-lahan, ia mundur dan memilih untuk mendekati sang nenek yang juga menaruh atensi penuh pada kehadiran pria asing itu.
Yura terpaku saat pria itu memeluknya dengan erat bahkan mengusap kepalanya seperti yang biasa ia lakukan dulu.
Yura tidak balas memeluk, namun tetap diam ditempat seolah memberi waktu pada kekasih nya itu.
"Kakak kembali ra,,, " ucapnya dengan wajah bahagia.
Tangannya sibuk menyentuh kepala Yura seolah menggantikan waktu yang telah lama hilang. Sedangkan Yura masih diam seribu bahasa.
Dikepalanya tersusun banyak pertanyaan, namun tak bisa ia keluarkan melalui mulutnya. Ia takut pertanyaannya mungkin akan merusak suasana bahagia ini.
Walau mungkin terlihat dengan jelas jika Steven lah yang terlampau bahagia. Dirinya masih sibuk mencoba untuk melupakan kejadian saat dirinya berlarian dengan gembira bersama Liam.
"Kak, aku minta maaf karena tidak cerita soal kepindahanku... "
Jika dulu Yura selalu berharap Steven muncul saat dirinya menangis pilu, kini harapan itu seolah menguap begitu saja.
Ada Liam yang selalu memeluknya saat dirinya berada dititik paling hancur. Lantas salahkah hatinya yang kini mulai kehilangan tujuan awal?
"Tidak, aku juga banyak menyimpan rahasia darimu. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Dan itu harus secara langsung... "
Jujur saja, ada rasa tidak rela saat pikiran buruk Yura mulai bekerja. Berbagai prasangka buruk hingga ketidak ikhlas-an mulai datang menghampiri.
Sejenak keraguan itu muncul, seolah membuat pertahanan nya mulai terkikis. Akankah waktu yang mereka habiskan bersama selama sepuluh tahun ini akan menjadi kenangan yang sulit untuk dilupakan?
Namun mengingat kembali foto itu membuat sedikit amarah mulai muncul dihatinya. Ia mulai egois ingin mendapat penjelasan tentang semua itu.
"Orang tuaku akhirnya setuju aku pulang, tapi dengan satu syarat... "
Yura jelas tahu apa syarat yang dimaksud oleh Steven. Matanya menatap nanar kesegala arah. Ia tidak berani menatap wajah pria itu, karena sekali saja ia menatap nya, maka air matanya akan jatuh tanpa bisa dicegah.
"Kak, kita bicarakan nanti saja ya, Nenek ku ada disitu... "
"Astaga, aku hampir lupa... " ucap Steven dengan menepuk jidatnya.
Pria itu segera berlari mendekati sang nenek, sedangkan Yura berjalan lambat dibelakangnya. Gadis itu masih tak menyangka jika Steven akan muncul dalam waktu yang secepat itu.
Ia menjadi iba saat membayangkan perjalan yang dilakukan oleh pria itu. Mengingat dirinya adalah putra dari salah satu orang kaya di kota Par.
"Mengapa jadi ribet begini? "
Mengapa saat dirinya seolah sudah mulai nyaman dengan keadaan nya saat ini, pria itu malah muncul dengan sendirinya?
"Kau tidak pernah cerita soal kekasih mu ini pada nenek,,, " tanya nenek memastikan setelah menerima perkenalan singkat Steven.
Yura hanya tersenyum kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mana mungkin ia cerita soal asmaranya saat dirinya masih se muda ini?
"Sebenarnya kita sudah dekat sejak kecil nek. Rumah kita tetangga an. Jadi hubungan kita berjalan begitu saja... " jelas Steven.
.
.
Bersambung...