Evina adalah wanita biasa yang hidupnya penuh dengan luka. ketika kecil dia pernah dilecehkan oleh orang dekatnya. Ia juga harus menerima segala sakit fisik maupun mental karena keluarganya yang berantakan. Dan Fahri sang pujaan hatinya yang dia kira akan menyelamatkan hidupnya. Nyatanya justru menjadi puncak dari segala dukanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuisakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. FAHRI JANGAN!
Meski dalam pelukan Fahri, Evina tak merasa tenang. Ia tahu, kata kata Fahri hanya berusaha untuk menenangkannya. Ia tahu Fahri tak mampu berbuat apa pun. Usia mereka masih muda, upaya apa yang bisa dilakukan anak umur 17 tahun.
Fahri melepas pelukannya dari Evina. Ia melempar senyuman manis untuk kekasihnya itu. Evina membalasnya dengan seyumnya yang gamang.
"Kamu sayang sama aku kan , Vi?" tanya Fahri sambil menatap Evina. Namun Evina menundukkan wajahnya. Ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Rasanya bibirnya tak mampu berkata kata.
"Kog ngga jawab?" tanya Fahri lagi dengan lembut.
"Fahri..." ucap Evina lirih.
"Hemmh" jawab Fahri.
"Kamu yakin bisa meyakinkan orangtuamu,"ucap Evina.
Kali ini Fahri tak mampu menjawab pertanyaan Evina. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia juga tak berpikir bagaimana caranya ia mengatakan pada orangtuanya.
"Tak bisa kan?" ujar Evina.
Fahri buru buru memeluk Evina. Ia tak ingin membuat Evina terluka atau bersedih. Tapi ia juga tak tahu bagaimana menanggapi suara lirih itu.
"Bukankah sebaiknya kita menyerah saja?" ujar Evina diiringi tetesan air mata di pipinya.
Fahri tak mampu mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Evina. Ia mendekap Evina lebih erat lagi.
"Please, jangan ngomong begitu! Aku ngga bisa, Vi. Aku ngga bisa ngelepasin kamu. Aku akan pikirkan bagaimana cara yang terbaik. Aku ngga bisa tanpa kamu , Vi," ujar Fahri meracau.
"Kamu bisa apa, Ri?" tanya Evina.
"Jangan bicara lagi. Please, Vi! Aku ngga mau," mata Fahri terlihat memerah menahan perasaannya yang tiba tiba saja sakit.
"Fahri, aku sayang sama kamu. Tapi jika kamu terpaksa harus memilih. Tolong pilihlah keputusan orangtuamu. Aku akan menerima keputusanmu," ujar Evina dengan suara parau.
"Engga, engga. Kita akan baik baik saja. Aku janji, aku akan bicara baik baik ke orangtuamu. Tapi saat ini, aku akan diam dulu. Mereka belum tau tentang kita. Kamu jangan khawatit. Please jangan ngomong begitu," ujar Fahri.
Evina melepas pelukan Fahri.Ditatapnya laki - laki yang ia sayangi itu. Perlahan ia mengelus rambutnya. Tubuh Fahri yang sangat tinggi membuatnya kesulitan untuk menatap intens ke arah Fahri.
Perlahan Fahri menundukkan badannya agar Evina tidak kesulitan membelainya. Evina meraih kedua pipi Fahri, lalu mencium keningnya.
"Bagiku, pernah dicintai pria baik sepertimu sudah membuatku sangat bahagia, Ri. Dan itu cukup buatku. Aku sadar kamu terlalu baik untukku. Aku ngerti kita banyak perbedaan. Dan itu....." Evina tak dapat menyelesaikan kata katanya karena Fahri sudah menepelkan bibirnya ke bibir Evina.
Dengan penuh kemarahan, Fahri mencium Evina dengan sangat menggelora. Evina yang tak siap dengan itu hanya bisa mengikuti gerakan bibir Fahri. Kali ini sepertinya Fahri sedang tak ingin ditolak.
Evina berusah menyudahi ciuman itu, namun Fahri seperti memaksanya untuk tidak menyelesaikannya.
"Mmm, Fa..ri.." Evina tak mampu lagi mengikuti ritme Fahri yang napasnya terdengar mulai memburu.
Evina berusaha melepas, dekapan Fahri. Namun Fahri seperti kesetanan. Ia mendorong tubuh Evina ke tembok. Tangannya mulai nakal bergerilya ke sana ke mari. Evina pun akhirnya pasrah menerima perlakuan Fahri.
Fahri mulai mengangkat kaos yang pakai Evina. Ia menciumi leher Evina hingga turun ke bawah. Membuat Evina tak bisa berkata kata. Nafas Evina pun mulai tak beraturan.
Fahri segera merebahkan tubuh Evina di atas lantai. Pikirannya entah kemana. Cintanya yang begitu dalam kepada Evina membuat ia lupa diri. Lupa pada akidah yang ia miliki.
Dengan sangat membara Fahri mencium setiap bagian tubuh Evina. Sampai sampai Evina hanya bisa mejamkan matanya. Tangan Fahri mulai menyentuh bagian dada Evina. Sejenak ia terdiam lalu menatap Evina.
"Bolehkan?" bisik Fahri kepada Evina.
Sambil terengah engah Evina menganggukan kepalanya. Entah apa yang akan terjadi. Ia hanya pasrah mengikuti kemauan Fahri.
Fahri pun tak menyia nyiakan kesempatan itu. Ia menyentuh bagian yang seharusnya tak pernah dijamahnya. Dengan napas yang memburu Fahri menikmatinya. Seolah olah itu miliknya.
Tak sampai di situ saja, Fahri mulai melepas celana pendek Evina. Tangannya pun mulai meraba raba yang tak semestinya.
Evina sudah terlanjur menikmati apa yang Fahri lakukan padanya. Ia hanya berusaha menahan batinnya yang sebenarnya meronta.
Fahri berusaha melepaskan celananya, dan berusaha membuka relseting celananya. Disaat itulah Evina mulai ketakutan. Apa yang akan Fahri lakukan. Fahri mulai menindih badan Evina. Namun kenikmatan Evina tiba tiba berubah menjadi ketakutan.
"Fahri jangan!" kata Evina yang sudah tak bisa bergerak karena Fahri sudah berada di atas tubunya. Ia tidak seperti Fahri yang dikenalnya.
"Aku sayang kamu Vi!" ucap Fahri seraya membekap bibir Evina dengan ciuman.
Evina mulai meronta berusaha agar Fahri melepaskannya. Namun tubuh Fahri jauh lebih kuat.
"Fahri please jangan!" ujar Evina setengah berteriak.
"Aku mau sama kamu, Vi. Aku ngga mau kehilangan kamu," Fahri sudah tak bisa diredam lagi.
Tetesan air mata keluar dari pipi Evina yang masih dihujami ciuman dahsyat dari Fahri. Ia tak menyangka Fahri akan senekat ini. Ia tak ingin mencari jalan keluar dengan cara seperti ini.
Isak tangisnya mulai menjadi, membuat Fahri menghentikan aktivitasnya. Seketika ia tersadar dengan kekhilafannya. Fahri segera membenarkan celananya. Lalu menutupi tubuh Evina yang setengah terbuka itu dengan jaket.
"Ma ma maafin aku," ujar Fahri gugup. Namun Evina hanya terisak dalam tangisnya. Ia tak tahu mengapa ia bisa terlena.
"Jangan nangis, please, Vi! Aku akan tanggung jawab," ujar Fahri seraya menghapus air mata Evina.
"Maaf, aku tak sengaja," ujar Fahri.
"Kamu kenapa?" tanya Evina yang terisak.
"Maafin aku.." ujar Fahri yang tak mampu menyelesaikan kata katanya.
"Pakai bajumu lagi," ujar Fahri lagi.
Evina segera memakai bajunya lagi. Ia memilih duduk jauh dari Fahri. Tubuhnya bergetar hebat. Ia benar benar takut, ia merasa sangat menyesal.
Fahri menangis menyesali perbuatannya. Ia sampai tak berani menatap Evina. Apa yang sudah dilakukannya. Mengapa ia mengambil resiko yang terlalu besar. Ia tak menyadari perbuatannya membangkitkan trauma masa lalu Evina yang perlahan mulai terkubur.
"Kamu bilang akan melindungiku?" ujar Evina dengan tatapan kosong. Air matanya sudah tak keluar. Hanya menyisakan isakan karna ia juga ketakutan.
"Maaf," jawab Fahri lirih.
"Kamu bilang akan menjagaku?" ujar Evina lagi.
"Maaf.." balas Fahri.
"Kenapa kamu ngelakuin itu ke aku?" ujar Evina yang mulai menangis lagi.
"Maaf.. maaf..maaf..," Fahri pun juga menangis.
"Sekarang aku harus gimana Ri? Aku udah kayak gini. Bagaimana aku harus terus maju? Apa yang akan terjadi lagi kedepannya denganku?" Evina sudah tak mampu lagi berfikir.
"Jangan bilang begitu. Aku pasti akan bertanggung jawab, Vi," ujar Fahri seraya mendekat ke Evina.
"Gimana caranya kamu tanggung jawab. Kita masih muda. Apa yang bisa kamu lakuin. Bahkan orangtuamu saja tidak tahu keberadaanku. Kamu saja tak diijinkan mengenal wanita. Apa yang bisa kamu pertanggungjawabkan?" ujar Evina dengan marah.
Terimakasih kepada para readers yang setia dengan novel TAKDIRKU. Mohon maaf sekali, jika bab kali ini agak sensitive ya. Saya hanya mencoba menceritakan kisah ini lebih detil, meski masih tetap banyak kekurngannya. Saya nulis bab ini jujur aja sambil nangis. Tapi yah begitulah yang bisa saya utarakan di cerita ini. Jangan lupa vote like koment dan ratenya. Semoga pembaca menikmati kisah ini..... Terimakasih telah mendukung novel saya..😭😭😭😭
mampir juga di karyaku My Kids My Hero
mampir juga di karyaku
Kangen fahri evina,,