Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"I-itu... apa dia benar-benar manusia?" bisik seorang murid sekte dengan suara bergetar. "Aku merasa jiwaku hampir terbang tadi. Bahkan legenda Putri Salju dari Kerajaan Merak Suci mungkin hanya setingkat itu."
"Putri Salju? Siapa itu?"
"Kau tidak tahu? Dia adalah wanita tercantik di benua ini, harta karun Kerajaan yang wajahnya konon tak sanggup dilukis oleh seniman mana pun di dunia karena keindahannya yang mustahil ditiru!"
"Tapi... apa dia bisa lebih cantik dari Nona Ratna tadi? Rasanya mustahil ada yang bisa menandingi kecantikan itu..."
Di tengah perdebatan itu, suasana di arena kembali menegang. Kecantikan mungkin telah memukau hati, namun pertarungan demi kehormatan tetap harus berlanjut.
"Aku harus memilikinya! Dia harus menjadi milikku!"
Dada para pewaris klan besar naik-turun, dipenuhi obsesi yang sama. Bagi mereka, wanita selama ini hanyalah pelengkap tahta. Namun melihat Ratna, mereka sadar bahwa memiliki wanita ini adalah puncak pencapaian hidup yang sebenarnya—jauh lebih berharga daripada gelar pemimpin sekte mana pun.
Arka bergumam pelan di tengah keriuhan, "Dia baru tujuh belas tahun... dan sudah sedahsyat ini." Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya. Gadis yang membuat seluruh negeri bertekuk lutut ini adalah istrinya yang sah. Namun ia sadar, jika rahasia ini terbongkar, ia akan menjadi musuh nomor satu seluruh pria di Benua Arcapura.
Ratna sendiri tidak pernah menganggap kecantikannya sebagai anugerah. Baginya, wajah itu justru sering menjadi beban. Jatuhnya kain penutup wajah tadi adalah kecelakaan yang tak ia inginkan, namun ia tetap tenang. Berbeda dengan Yoga. Pemuda yang biasanya setenang pedang itu kini tampak goyah. Napasnya kacau, dan ketenangan di matanya telah terkoyak oleh bayangan wajah Ratna.
Namun, insiden tadi juga menjadi peringatan bagi Ratna. Melawan Yoga, ia tidak bisa lagi bermain-main.
Ratna menarik pedang kristalnya. Dengan satu gerakan anggun, sebuah pita putih panjang tiba-tiba muncul dan menari di sekelilingnya. Pita itu berbahan satin halus namun berkilau bagai giok, memantulkan cahaya matahari dengan pendaran roh-roh es yang mistis.
"Itu... Pita Salju Phoenix Es!" seru seorang penua dengan suara bergetar. "Pusaka Tingkat Langit milik Padepokan Awan Beku! Konon, hanya mereka yang sudah mencapai Alam Langit yang bisa menjinakkan pita itu."
Tapi kejutan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Ratna menyentuh liontin giok di lehernya—Mutiara Penyamar Es—dan menariknya perlahan. Begitu liontin itu lepas, aura energi Ratna meledak drastis.
Dalam hitungan detik, tingkat energinya melesat. Dari tingkat delapan Alam Bumi, melonjak ke tingkat sembilan... sepuluh... lalu menembus batas! Tingkat satu Alam Jiwa... tingkat dua... dan akhirnya berhenti di tingkat ketiga Alam Jiwa!
Intensitas auranya kini setara dengan Yoga!
"A-apa?! Mustahil!" Satya, pemimpin Akademi Pusat Surya Kencana, langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya pucat pasi seolah melihat hantu di siang bolong.
"Ketua Satya, ada apa?" tanya Arka dan Larasati serentak.
"Ratna... dia berada di tingkat ketiga Alam Jiwa!" jawab Satya dengan suara serak.
Larasati dan Banu ternganga. Jika Yoga dianggap jenius karena mencapai level itu di usia dua puluh tahun, maka Ratna telah menghancurkan logika dunia. Di usia tujuh belas tahun, ia telah mencapai puncak yang belum pernah disentuh oleh siapa pun dalam sejarah Kerajaan Surya Kencana.
“Hmph, ternyata dia menyembunyikan kekuatannya selama ini,” suara Melati terngiang dingin di benak Arka.
Di arena, suasana berubah total. Yoga yang semula mendominasi kini merasa terancam. Ratna bukan lagi sekadar gadis cantik yang harus ia kasihani; dia adalah lawan yang setara, atau mungkin lebih tinggi.
"Tuan Yoga, terima kasih atas keringanan tanganmu tadi. Sekarang, aku akan mengerahkan segalanya," ucap Ratna. Suaranya lembut bak musik surgawi, membuat Yoga sempat terpaku sesaat.
"Yoga, fokus!" teriakan Luhur Pangestu lewat transmisi batin menyentakkan Yoga.
Yoga segera mengatur napas, membuang semua gangguan dari pikirannya. Ia mengangkat Pedang Yuan Langit. Seketika, udara di sekitarnya terdistorsi. Energi pedangnya meluap sepuluh kali lebih dahsyat dari sebelumnya.
Yoga melesat. Sosoknya menghilang, menyisakan riak ruang yang teriris oleh tajamnya pedang. Namun, indera Ratna kini jauh lebih tajam. Ia tidak lagi mengandalkan mata. Tubuhnya bergerak sedikit, dan Pita Salju Phoenix Es beraksi.
Pita putih itu menari bagai ular cerdas, membelit mata pedang Yoga secepat kilat. Detik berikutnya, ledakan hawa dingin yang sanggup membekukan ruang pun meletus hebat di tengah arena!
Pita Salju Phoenix Es adalah pusaka yang sangat ganjil. Bentuknya menyerupai selendang sutra, namun sifatnya lebih mematikan daripada cambuk mana pun. Sepanjang kariernya, Yoga telah memenangkan puluhan duel, tetapi ini adalah kali pertama ia menghadapi senjata jenis "Pita" seperti ini. Meski ia tahu "melilit" adalah serangan inti senjata itu, Yoga sama sekali tidak menyangka kecepatan lilitannya begitu mustahil untuk diikuti.
Sebuah sentakan energi dahsyat yang hampir tak tertahankan menyambar pergelangan tangannya. Dalam sekejap mata, Pedang Yuan Langit miliknya tertelan dan terjerat erat di dalam lilitan pita putih tersebut.
Yoga tersentak, namun ia tidak kehilangan akal. Ia mundur secepat kilat untuk menghindari serangan susulan, lalu menghentakkan telapak tangannya yang dialiri niat pedang murni. Pedang Yuan Langit yang terjerat itu bergetar hebat, meronta di dalam lilitan pita sebelum akhirnya berhasil melesat lepas dan terbang kembali ke genggamannya.
"Guntur Langit Pemungkas!"
Yoga mengayunkan pedangnya. Dentuman guntur yang memekakkan telinga menggelegar di angkasa, dibarengi lebih dari seratus sinar pedang yang menyerbu ke arah Ratna, bagaikan kilatan petir yang menyilaukan mata. Pita Salju Phoenix Es milik Ratna segera berubah peran dari menyerang menjadi bertahan. Benda itu berputar di sekeliling tubuh Ratna dengan kecepatan tinggi, menciptakan perisai putih yang menangkis hujan cahaya pedang tersebut.
Namun, serangan Yoga belum berakhir. Di balik riuh guntur itu, sebuah sinar pedang tersembunyi menembus celah udara, mengincar titik lemah di tengah tarian pita Ratna. Menghadapi ancaman ini, ujung pita yang lincah bak ular itu mendadak melesat ke depan dan beradu langsung dengan ujung Pedang Yuan Langit.
Klang!
Bunyi logam bertemu baja terdengar nyaring. Pita yang awalnya selembut sutra itu mendadak mengeras menjadi baja tak tertembus, menahan seluruh bobot serangan Yoga.
DUARR!!
Sebuah ledakan bunga es terjadi di titik benturan, melempar keduanya ke arah berlawanan. Ratna mendarat dengan anggun bagai helai bulu, sementara Yoga harus terseret beberapa langkah. Saat kakinya menyentuh tanah, kedua lengan Yoga telah tertutup lapisan es tebal. Dengan satu hentakan tenaga, ia menghancurkan es tersebut. Pandangannya kini tertuju pada pita putih di tangan Ratna dengan rasa takjub yang mendalam.