Tujuh tahun lalu, Prasetyo— seorang idola kampus—meninggalkan Indah Naraya Prameswari, gadis bertubuh 80 kilogram yang diam-diam menjadi kekasihnya. Dengan ucapan menyakitkan, ia bilang hubungan itu cuma main-main, lalu pergi ke luar negeri tanpa pamit seolah tak pernah ada apa-apa.
Kini takdir mempertemukan mereka lagi.
Indah sudah berubah total. Kini ia dikenal sebagai Nayara, wanita cantik nan langsing, ibu dari Clara prameswari, panggilan Lala, anak perempuan yang mengidap penyakit jantung bawaan. Ironisnya, dokter yang menangani putrinya ternyata adalah Dr. Prasetyo, dokter spesialis bedah jantung pindahan dari Amerika.
Prasetyo sama sekali tidak mengenali wanita di hadapannya. Sementara Nayara, terpaksa menahan luka lama dan berpura-pura tak kenal, demi keselamatan dan masa depan anaknya.
Sampai kapan rahasia ini bisa disembunyikan? Yuk ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DURI MENUSUK HATI
...🌻HAPPY READING🌻 ...
...***...
"Permisi... Saya mengantar pengiriman kepada atas nama Ibu Linda."
Seorang kurir berdiri di ambang pintu ruang kerja divisi desain sore itu. Di tangannya tergenggam sebuket bunga mawar merah yang cukup besar, indah, dan terlihat mahal. Aroma wangi bunga segera menyebar memenuhi ruangan begitu ia masuk.
Belum sempat petugas resepsionis memanggil, Direktur Linda sudah berlari keluar dari ruang kerjanya dengan wajah yang sumringah.
Senyum merekah lebar menghiasi wajahnya, sangat kontras dengan raut wajah bengis dan penuh kemarahan yang tadi ia tunjukkan saat memarahi Nayara.
"Sini, berikan padaku," seru Linda antusias.
Ia menyambut buket bunga itu seolah menerima harta karun paling berharga. Dengan langkah ringan dan bahagia, Linda kembali masuk ke ruangannya, memeluk bunga itu di dada, lalu berkali-kali menghirup wanginya dan mengecup kelopak bunganya dengan penuh cinta.
Di dalam hatinya, kebahagiaan itu meluap. Setiap sore selalu ada kiriman seperti ini dari laki-laki yang kini ia anggap sebagai calon suami. Setidaknya, itulah keyakinan yang ia bangun sendiri di benaknya.
Bisik-bisik pelan mulai terdengar di antara karyawan yang duduk berdekatan.
"Pacarnya Bu Linda emang so sweet ya? Tiap sore nggak pernah absen kirim bunga. Tau banget sih, kalau jam segini biasanya Bu Direktur lagi suka ngereog," celetuk Mila sambil terkekeh pelan, mendekatkan wajahnya ke arah Nayara agar tidak terdengar orang lain.
Tiba-tiba mata Mila terbelalak seolah teringat sesuatu yang penting. Ia langsung menyenggol lengan Nayara.
"Eh, Nay! Kemarin kan lo gantiin gue anterin makanan ke rumah sakit. Lo liat kan muka cowoknya itu? Dokter Prasetyo itu... beneran ganteng banget ya?"
Mila bertanya dengan antusias luar biasa, memaksa Nayara untuk mengingat kembali detail wajah laki-laki itu. Wajah tegas dengan hidung mancung, mata yang menyorot tajam namun bisa selembut beludru saat dihadapan pasien, serta garis rahang yang tidak terlalu tegas namun memancarkan aura maskulin yang kuat.
"Hm..." Nayara hanya berdehem pelan, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan debaran di dadanya yang belakangan ini makin sering hadir tak diundang.
"Ah, iri banget deh sama Bu Linda," ucap Mila lagi dengan nada mengagumi.
"Udah ganteng, perhatian banget lagi, mana tajir melintir pula. Lengkap banget pokoknya. Semua cewek di dunia ini pasti pengen punya pacar kayak dia."
Nayara hanya diam, pura-pura sibuk menggerakkan pena di atas layar tabletnya.
Jelas-jelas kemarin dia bilang Linda itu bukan siapa-siapanya, bukan pacarnya. Tapi kok rajin banget ya ngirim bunga? Mawar merah lagi. Norak banget...
Nayara berkomentar sinis di dalam hatinya, lalu segera ditepisnya sendiri.
Nayara, kamu ngomong apa sih? Itu bukan urusanmu. Biarkan saja, urusan mereka.
Tapi kok nyesek, ya.
"Hah! Sudahlah!"
Sementara itu di waktu yang hampir bersamaan, di sebuah rumah sakit kecil di pinggiran kota, suasana terasa lebih tegang dan mencekam.
Prasetyo berjalan tergesa, nyaris setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Kekacauan di kepalanya, rasa bersalah, dan rasa penasaran yang meledak membuatnya nekat datang ke tempat ini tanpa pikir panjang.
Ia mengetuk keras pintu ruangan bertuliskan Dokter Kandungan, lalu tanpa menunggu jawaban, ia langsung membuka pintu dan duduk di hadapan dokter yang terlihat sedang membereskan berkas-berkasnya, bersiap untuk pulang karena jam praktek sudah habis.
"Siapa Anda? Jam kerja saya sudah selesai. Ada keperluan apa?" tanya dokter wanita itu, tampak terganggu.
"Dokter, saya Prasetyo Hanggoro, Dokter Bedah Jantung di Sentra Medica," jawabnya cepat, memperkenalkan diri.
Wajah dokter itu sedikit berubah, mengenal nama besar itu. "Baik. Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya sangat mendesak, sampai anda mengabaikan prosedur."
"Begini, Dok. Enam atau tujuh tahun yang lalu... apa ada seorang pasien wanita bernama Indah? Usianya sekitar 22 tahun waktu itu, badannya agak gemuk. Dia datang ke sini dalam kondisi pendarahan hebat, lalu melahirkan. Saat itu Dokter Dini yang menanganinya. Anda masih ingat, kan, Dok?" tanya Prasetyo menatap lekat-lekat wajah dokter itu, berharap ada kilatan ingatan di sana.
Dokter Dini mengerutkan kening, wajahnya langsung berubah dingin dan waspada.
"Dokter Prasetyo, meskipun ini rumah sakit kecil, kami tetap memegang teguh kerahasiaan medis. Kami tidak akan pernah membocorkan data riwayat pasien kepada siapa pun, bahkan kepada rekan sejawat sekalipun. Anda seharusnya paling paham aturan ini."
Ketegasan itu justru membuat Prasetyo semakin gelisah. Tanpa berpikir panjang, ia mengeluarkan sebuah kartu debit dari saku jasnya, meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Dokter Dini.
"Di sini ada seratus juta rupiah. Saya ingin mengambil data dan rekam medis lengkap milik Indah. Saya butuh tahu sebuah kebenaran, Dok," ucap Prasetyo dengan nada mendesak, tidak peduli lagi pada etika.
Wajah Dokter Dini memerah padam karena tersinggung. Ia mendorong kembali kartu itu dengan kasar.
"Ambil kembali uang Anda! Saya bukan dokter yang bisa dibeli dengan uang! Anda salah orang, Dokter. Lagipula itu sudah kejadian lama. Ada ratusan pasien bernama Indah yang pernah berobat ke sini. Saya tidak ingat semuanya."
Prasetyo tertegun. Kekecewaan dan amarah perlahan menguasai dirinya.
Kalau dokter ini tidak mau membocorkan karena kode etik, bukan berarti tidak ada orang lain di tempat ini yang mau.
Tanpa pamit lagi, Prasetyo berbalik badan dan keluar dari ruangan itu.
"Dasar orang aneh!" terdengar gerutuan Dokter Dini dari dalam ruangan, namun Prasetyo pura-pura tidak mendengarnya.
Namun, di balik pintu yang tertutup itu, Dokter Dini diam-diam mengintip lewat celah kaca. Ia melihat Prasetyo berjalan menuju ruang arsip dan data pasien. Di sana, Prasetyo berbincang cukup lama dengan petugas yang sedang berjaga. Dokter Dini melihat dengan jelas, Prasetyo kembali menyerahkan kartu yang sama kepada petugas yang menggunakan masker medis itu.
Tak lama kemudian, petugas itu keluar membawa sebuah map berwarna merah muda. Prasetyo segera menyambarnya, membuka halaman demi halaman dengan tangan yang gemetar hebat. Kakinya terasa lemas seketika, hingga ia terpaksa terduduk di bangku panjang ruang tunggu di depan ruang arsip.
Melihat pemandangan itu, Dokter Dini kembali masuk ke ruangannya, lalu segera mengangkat telepon genggamnya. Jarinya bergetar sedikit saat menekan nomor yang sudah sangat dikenalnya.
"Halo, Nay..." suaranya terdengar lirih namun tegas. "Hari ini ada orang datang ke sini. Namanya Dokter Prasetyo. Dia menyelidiki semuanya. Dia menanyakan kejadian pendarahan dan persalinan pasien bernama Indah enam tahun lalu..."
Di seberang sana hanya ada keheningan panjang.
"Tante... terima kasih sudah memberi tahu. Tidak apa-apa, jawab saja sesuai kesepakatan kita," jawab suara wanita itu pelan.
"Iya, Nay. Kamu baik-baik, kan di sana?"
"Iya Tante. Aku baik."
"Syukurlah kalau begitu."
Panggilan pun diputus.
Sementara itu, Prasetyo masih terduduk diam di bangku itu. Angin sore yang masuk lewat jendela koridor terasa dingin menusuk tulang. Di tangannya, map merah muda itu tergenggam erat, berisi bukti nyata dari masa lalu yang selama ini tersembunyi.
"Indah..." gumamnya parau, matanya memerah menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Kenapa? Kenapa dulu kamu tidak pernah menghubungiku sedikit pun? Kenapa kamu memendam semua ini sendirian?"
Dadanya sesak, napasnya berat. Rasa penyesalan mulai menjalar ke seluruh urat nadinya.
"Dan aku... kenapa aku merasa seperti ini? Dulu aku jelas-jelas tidak pernah menyukaimu. Aku menganggap mu sekadar pelarian, sekadar teman saat sepi. Tapi kenapa sekarang... bayanganmu, kenanganmu, dan rasa kehilangan ini terasa seperti duri tajam yang terus menusuk hatiku tanpa henti?"
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...BERSAMBUNG...
**Adakah yang mengira ini titik temu mereka. Belum sayang! Masih lama.
Staytune aja ya. Like komentar vote dan beri hadiah buat authornya.
Maaciww 🥰🥰