NovelToon NovelToon
SEBUAH DOSA

SEBUAH DOSA

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Tamat
Popularitas:509.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Penelope Magdalene

Bagaimana bila ibumu tidak pernah mau menceritakan apapun tentang ayahmu yang tidak pernah kau temui?

Bagaimana bila sejak kecil kamu selalu diikuti sosok berdarah yang selalu berubah wujud mengerikan; kamu tidak tahu siapa sosok itu atau kenapa dia mengikutimu?

Bagaiman bila sampai ibumu meninggal dia tidak pernah membuka rahasia tentang ayahmu yang sangat ingin kamu ketahui?

Aku baru saja menguburkan ibuku dengan perasaan sedih dan menyesal yang begitu dalam. Rahasia besar tentang identitas ayahku di bawa almarhuma ibu sampai ke liang lahat.

Namun layar takdir akhirnya terkuak juga ketika aku menemukan buku harian ibu yang lama tersembunyi. Di buku harian itulah aku akhirnya menemukan jawaban tentang ayah dan kebenaran tentang sosok berdarah yang selalu mengikutiku.

Follow Akun IG @penelopemagdalene24

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penelope Magdalene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 34

Tangisan ibu Linda berhenti tatkala liang kubur pak Marten ditutup. Rombongan kami yang kembali dari kubur berbeda dengan yang tadi ketika kami baru datang; ada sesuatu rasa ringan dan santai setelah jenazah almarhum sudah dimakamkan, seakan beban berat yang menghantui kami sudah berakhir. Almarhum sudah tenang di alam sana, keluarganya disini sudah bisa melanjutkan hidup mereka untuk mengobati luka dan rasa rindu pada ayah dan suami.

Tante Marice mengajak kami untuk makan siang bersama di rumah duka tapi, kami menolak dan lebih memilih untuk kembali ke villa, untuk beristirahat. Tante Marice pun menyesalkan bahwa liburan kami harus dihiasi dengan dukacita seperti ini apalagi menurutnya malam ini, yang adalah malam perpisahan tahun seharusnya menjadi sangat ramai dan menyenangkan karena warga biasanya akan berkumpul di pinggir pantai (jika cuaca memungkinkan) dan makan-makan sambil membakar ikan sampai denting waktu tengah malam. Akan ada kembang api untuk tambah meramaikan acara. Namun, melihat kondisi desa ini yang salah seorang warganya baru saja berduka, tidak enak rasanya untuk mengadakan pesta tahun baru. Acaranya pun dibatalkan, sungguh disayangkan.

Aku dan Rosa pun mengikuti Adit yang sedang menggendong Nining dan perlahan menyebrangi batu melengkung yang tumben sekali agak mengering hari ini. Air sungai sangat rendah sehingga kami dengan mudah menyebrang.

Meski sedari pagi awan hitam menyelubungi langit di atas desa ini, dan sesekali hujan rintik-rintik turun namun, sewaktu sore langit tiba-tiba menjadi cerah, matahari bersinar dengan terik dan angin kering bertiup dari laut, menjanjikan langit malam yang cerah bertabur bintang.

Kami melewati malam perpisahan tahun yang sungguh sederhana, sangat berbeda dari biasanya. Malam ini kami berkumpul di ruang keluarga dan mendengarkan acara humor di radio. Nining mendapatkan izin dari kedua orang tuanya untuk begadang sampai jam 12 malam nanti. Karena senangnya, dia pun berlari dan bermain kegirangan mengitari ruangan.

Jam berdenting dua belas kali.

Selamat tahun baru 1990!

Suara letusan kembang api dan cahaya warna warninya terdengar, menerangi ruangan kami yang remang-remang. Sepertinya di kampung sebelah sangat ramai dengan perayaan tahun baru berbeda dengan kampung Kumel yang sunyi dirundung duka.

Kami pun segera melaksanakan ritual tahun baru kami dimana Adit dan Rosa memeluk dan mencium tanganku, meminta maaf kalau mereka ada salah sepanjang tahun kemarin. Aku juga ikut meminta maaf pada mereka.

"Tahun ini adalah tahun yang berat untuk keluarga kita tapi, aku senang kita bisa melaluinya bersama, kita tidak terpisahkan dan tetap kuat dalam kebersamaan kita," kata Adit dengan penuh kebahagiaan.

Rosa memeluk Adit dan bermanja dalam pelukannya. Nining memberikan masing-masing kami satu ciuman hangat darinya sebelum kami berpisah untuk pergi tidur.

Aku berputar-putat di atas tempat tidurku, menunggu Yohanes yang sangat ingin kupeluk dan kucium malam ini. Akhirnya, tepat jam 2 pagi dia mengetuk jendela kamarku dengan lembut.

Aku segera berlari keluar dan memuaskan diriku dalam pelukannya. Yohanes kemudian menuntunku menuju ke tempat dimana perahunya ditambatkan. Mendekati tebing paling ujung, aku merasa ketakutan mulai menyisip dalam diriku. Langkahku menjadi pelan seraya ingatan tentang gua gelap di tebing ini muncul dalam kepalaku.

"Aku tidak suka disini, Yoh," kataku pelan. Aku harap Yohanes mengerti bahwa aku takut.

"Tidak apa-apa, sayang. Aku akan menjagamu," Yohanes membantuku naik ke atas perahunya. "Kita tidak akan berlama-lama disini."

Yohanes dengan cepat membawa perahunya menjauh dari tepi. Aku terpaku menatap ujung tebing yang gelap, yang aku tahu adalah tempat gua tersebut. Memang sekarang tidak terlihat karena cahaya bulan sabit tidak kuat untuk menyinarinya. Tapi aku tahu lubang hitam itu ada disana, aku sedang melihatnya dan aku sungguh takut!

Perlahan tapi pasti kapal nelayan Yohanes melaju, meninggalkan tebing yang membuatku sungguh takut. Lama kelamaan tebing itu menghilang, menjadi titik hitam diujung pantai, perlahan ketakutanku pun mereda.

"Sayang," Yohanes berbisik. Lengannya yang keras, berurat memeluk pinggangku. Bibirnya yang lembut dan penuh mencium lembut leherku. "Selamat tahun baru."

Aku berpaling, menengadah ke bibirnya dan menciumnya. Dia menuntunku ke bagian buritan kapal, menidurkanku, membelai rambutku dan menciumku lagi dengan penuh hasrat.

Setelah puas berciuman, kami berpelukan dalam diam. Lantunan lagu mendawai dari gramophone yang diputarnya menyemarakkan kesunyian diantara kami. Tiba-tiba sebuah kotak kecil dihadapkan padaku. Yohanes mencium leherku lalu berbisik:

"Maukah kau menikah denganku, Ran?"

Aku berpaling memandang wajah berserinya. Di dalam kotak kecil itu ada sebuah cincin emas; modelnya seperti cincin kawin tapi diluarnya terdapat ukiran bunga kecil. Di dalamnya terukir nama kami 'Rani & Yohanes'.

"Oh, Yoh, ini indah sekali," seruku dengan senangnya. "Tentu saja aku mau menikahimu!"

Tangan Yohanes gemetaran ketika mengambil cincin itu dari dalam kotaknya. Dengan lembut dia membawa tangan kiriku mendekat ke bibirnya dan menciumnya. Perlahan dia memasukkan cincinnya, melingkari jari manisku tapi, pergerakannya terhenti di buku jariku; cincinnya terlalu kecil!

"Ya, Tuhan, sungguh memalukan! Sayang, maafkan aku. Aku sudah keliru mengambil ukuran cincinnya. Aku sungguh minta maaf! Padahal aku sudah membayangkan malam ini akan menjadi sempurna. Aku sungguh bodoh! Aku harus membawa cincin ini kembali ke Tahuna untuk diperbaiki."

"Hei, cincin tidaklah penting. Kalau kamu mau memperbaikinya, terserah kamu. Buatku, aku bisa mengalungkan cincin ini," aku menunjukkan kalung yang diberikan Yohanes yang tidak pernah kulepas.

"Tidak sayang, aku ingin melihat cincin ini dijarimu," Yohanes kembali mencium tanganku.

"Tentu saja, Yoh. Cincin itu hanyalah sebuah simbol, yang terpenting buatku adalah aku mau menikahimu ada atau tidaknya cincin ini. Oh, Yoh, kamu tidak tahu betapa bahagianya aku malam ini dan cincin yang kekecilan ini tidak mengurangi rasa itu," Aku menangkup wajah Yohanes dan menciumnya lagi.

Dia membalas ciumanku. Aku merasakan sebuah hasrat yang tidak dapat lagi kutahan. Yohanes pun sepertinya demikian, karena seperti biasa ketika hasrat itu mulai tak terbendung, dia akan berhenti menciumku.

"Yoh," bisikku pelan, menahannya agar tidak berguling disampingku dan menyudahi rasa ini. Aku menatap matanya dalam, berharap dia tahu maksudku.

"Apa kau yakin, sayang?" bisiknya sambil membelai pipiku.

"Aku mencintaimu, Yoh," bisikku sembari menahan hasrat yang besar ketika tangan Yohanes perlahan mulai membuka kancing bajuku satu per satu.

Yohanes menatapku dengan penuh gairah, memandangiku seakan dia ingin menyimpan gambar diriku saat ini dalam pikirannya. Aku tersipu malu, sadar saat ini tidak ada lagi yang menutupiku. Seperti bunga yang perlahan mekar, menampilkan putiknya, aku pun membuka diriku,  mengundangnya masuk dan memenuhiku.

Yohanes menjalankan ujung jarinya di permukaan kulitku. Belaian halus tangannya membuatku mendesau panas, bulu kudukku meremang seraya jari-jarinya menjelajahi bagian tubuhku yang belum pernah dijamah. Lembut bibirnya terasa di permukaan kulitku, mencium setiap jengkal tubuhku. Ciumannya membangkitkan suatu sensasi, suatu rasa yang tidak pernah kualami sebelumnya - seakan sesuatu dalam diriku terbangun, menyala dan berpendar, menjadi hidup.

Yohanes membawa lagi ciumannya dari ujung kakiku sampai ke bibirku. Dia mendekapku dengan erat, seakan ingin melindungiku dari rasa sakit dan perih yang tidak lama kemudian kurasakan. Rasa perih itu kemudian berganti kenikmatan yang tiada taranya. Semakin lama semakin nikmat rasanya, aku merasa jiwaku seakan terbang, semakin tinggi ke langit yang berbintang seraya kepuasan mulai berdetak awalnya terasa jauh, mulai mendekat semakin kuatnya Yohanes bergerak, mendorong gairahnya kedalam tubuhku.

Sesuatu terjadi dalam tubuhku, berdetak dibagian yang selama ini kupikir kaku dan tidak hidup. Dinginnya angin malam menusuk kulitku tapi, dalam diri ini api gairah membakar, memuncak dan perlahan menurun, menarikku kembali ke bumi, mengembalikkan kesadaranku akan keadaanku yang sekarang; telentang, puas dan terengah-engah.

Lantunan lagu Erni Djohan - Senja di Batas Kota menyambutku kembali. Aku tersenyum puas, menyadari setetes darah mengalir ke pahaku, menandakan aku telah sepenuhnya menjadi milik Yohanes. Aku telah memberikan segala yang kupunya untuknya dan aku bahagia...

"Aku sungguh mencintaimu, Ran," Yohanes mendekapku dengan erat dan mencium kepalaku.

Kulit kami saling bersentuhan, hangat terasa. Detak jantung Yohanes terdengar jelas tatkala aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Kalau aku bisa nemutar kembali waktu hidupku dan memilih momen apa yang ingin aku hidupkan kembali, itu adalah momen ini, detik ini bersama Yohanes.

"Aku tidak sabar lagi ingin menikahimu. Rasanya aku ingin pergi ke gereja malam ini dan meminta pendeta Roki untuk mentahbiskan pernikahan kita. Setelah itu...," Yohanes membelai lembut pipiku. "Oh, setelah itu terserah kita, Ran! Aku ingin keliling dunia bersamamu, memulai hidup baru jauh dari desa ini, jauh dari kehidupanku sekarang ini."

Kami pun menghabiskan malam bermimpi tentang kehidupan pernikahan kami, aspirasi dan rencana kami kedepannya. Yohanes ingin kami pindah setelah menikah, membangun hidup di pulau dewata, Bali. Kami berbincang tentang villa kecil yang akan kami bangun di Kuta, tentang berapa banyak anak yang ingin kami miliki meski aku tahu, waktuku tidak banyak dalam hal itu, aku tidak muda lagi. Dalam beberapa tahun kedepan aku tidak akan bisa lagi memberikan anak pada Yohanes dan itulah yang membuat semangatku sedikit memudar.

Yohanes memelukku erat dan meyakinkanku bahwa apapun yang akan terjadi, ada anak atau tidak, dia akan selalu mencintaiku karena dalam dunianya, akulah yang paling utama.

Rasa cintaku makin membesar pada Yohanes. Ya Tuhan, aku sungguh berterima kasih karena telah dipertemukan dengan cinta sejatiku.

Malam ini aku tertidur dengan sejuta mimpi akan masa depan yang indah bersama Yohanes...aku adalah miliknya dan dia adalah milikku.

1
Evan Dirga
aku merasa terombang ambing antara keyakinan bahwa cerita ini lebih ke arah penyakit jiwa, tapi di sisi lain aku juga mempertimbangkan mengenai kebenaran adanya kutukan pemuja iblis.

terima kasih banyak atas karyanya yang luar biasa.
Evan Dirga
apakah Laura akan menjadi opo nedaha selanjutnya ?
Evan Dirga
jangan jangan Yohannes dan Effendi Panji tidak benar benar dieksekusi ?
Evan Dirga
dan sekarang Rani malah mengabaikan tanda tanda sakit jiwa yang diderita oleh anaknya, Laura.
Evan Dirga
kenapa tidak dibawa saja keponakannya ? malah menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain.
Evan Dirga
wah kacau sekali keluarga Subroto.
Evan Dirga
bukankah celah itu seharusnya cukup besar untuk keluar masuk dua orang dewasa ? 🤔
Evan Dirga
tapi kejahatan sesungguhnya dilakukan oleh manusia.
Evan Dirga
Pak Yusuf dan Yohannes masuk ke Villa lewat mana ?
Evan Dirga
apakah di jaman ini belum ada perahu motor ya ?
Evan Dirga
cinta memang buta.
Evan Dirga
bukan karena tante Nona alias Nela yang tidak mewarisi iblisnya, tapi mungkin karena dia tidak mewarisi penyakit mental pendahulunya, atau bisa juga karena kakek Paulus dengan cepat mengambil tindakan untuk memulihkan kondisi kejiwaan Nela ke psikolog.
Evan Dirga
kalau di klinik ada ruang rawat inapnya, bukankah rosa sebaiknya dirawat di sana ? selain akan dapat perawatan lebih intensif, juga untuk mengamankan kondisi psikologisnya.
Evan Dirga
tidak terpikirkan untuk diawetkan dengan dibuat ikan asap atau ikan asin ?
Evan Dirga
baru sadarkah ?
Evan Dirga
yang jadi masalah, jika rosa dibiarkan ketakutan terus menerus, bisa berakibat fatal bagi kehamilannya.
Evan Dirga
apa tidak lebih baik dibawa ke klinik saja supaya mendapatkan penanganan intensif ?
Evan Dirga
rosa hamil. pendarahan karena syok.
Evan Dirga
atau jangan jangan, rosa sedang hamil muda.
Evan Dirga
akhirnya .. Rani memilih menyerah pada gairah cinta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!