Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xinyao dan Yao Yao bertemu kembali
Matahari telah condong ke barat, semburat jingga memenuhi langit, sementara bulan pucat mulai menampakkan diri di ufuk timur. Xinyao dan Qinglan masih berjalan santai di sepanjang trotoar, berbincang ringan tanpa beban.
Tawa mereka terdengar pelan.
“Hahaha…”
Beberapa pejalan kaki menoleh sekilas sebelum kembali pada urusan masing-masing.
Di tengah suasana santai itu
Bruk.
Seorang gadis berseragam SMA tiba-tiba menabrak Qinglan.
Tubuh Qinglan terhuyung ke belakang, namun Xinyao sigap menahan lengannya sebelum ia benar-benar jatuh.
“Maaf, Kak—” ucap gadis itu refleks.
Namun kalimatnya terputus.
Matanya membelalak lebar saat menatap Xinyao.
Seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Wajahnya memucat dalam sekejap. Napasnya memburu. Tubuhnya melemas begitu saja hingga ia terduduk kaku di atas trotoar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Air mata mengalir tanpa suara.
Ekspresinya… campuran antara takut dan sedih.
Seperti seseorang yang baru saja melihat bayangan dari mimpi buruk yang pernah ia alami.
“Hei!” Qinglan buru-buru berjongkok dan menggoyangkan bahu gadis itu pelan. “Kamu kenapa? Sakit?”
Tak ada jawaban.
Hanya tatapan kosong yang terpaku pada Xinyao.
“Gadis ini kenapa?” tanya Qinglan bingung, menoleh pada Xinyao berharap penjelasan.
Xinyao terdiam sejenak.
“Entahlah… aku juga tidak tahu,” ujarnya ringan.
Setengah bohong.
Ia memang tidak mengetahui secara pasti bahwa jiwa Yao Yao yang asli kini hidup sebagai gadis di hadapannya. Namun reaksi gadis itu… terlalu jelas untuk diabaikan.
Tatapan itu bukan sekadar takut.
Itu adalah ingatan.
Ingatan jiwa yang pernah menghuni tubuh ini.
Xinyao menyipitkan mata tipis.
Aura di sekitar gadis itu bergetar samar tidak kuat, tapi cukup untuk membuat seorang Taois seperti dirinya menyadari sesuatu.
Ah…
Jadi begitu rupanya.
Xinyao melangkah mendekat, berdiri tepat di depan gadis yang masih gemetar itu.
“Hei, gadis kecil,” ucapnya pelan, namun suaranya terdengar tajam di telinga sang gadis.
“Masih belum bisa mengatasi ketakutanmu pada masa lalu?”
Kalimat itu terdengar ringan hampir seperti ejekan.
Namun bagi Wei Cangli…
Itu seperti vonis yang membuka kembali luka yang belum sembuh.
Tiba-tiba gadis itu bereaksi.
“Enggak… a-aku sudah berdamai dengan masa lalu…” ucapnya terbata.
Air matanya terus mengalir meski ia berusaha keras menahannya. Tangannya mengepal di atas lutut, bahunya bergetar halus.
“Hais…” Xinyao menghela napas panjang.
“Qinglan, bisa tolong belikan air? Biar aku yang urus gadis ini,” ujarnya dengan nada setengah manja.
Qinglan menatapnya curiga sesaat, tapi akhirnya mengangguk. “Jangan aneh-aneh ya,” gumamnya sebelum berjalan menyeberang ke minimarket.
Begitu Qinglan menjauh
“Ayo, bangun.”
Xinyao membantu gadis itu berdiri dan memapahnya ke bangku kosong di pinggir trotoar.
“Duduk.”
Gadis itu menurut. Tangisnya belum sepenuhnya reda.
“Kamu… Yao Yao, kan?” tanya Xinyao tanpa basa-basi.
Pertanyaan itu membuat tangisan gadis itu tersendat.
Di sela sesenggukan, ia mengangguk.
Pengakuan tanpa kata.
“Oke…” Xinyao mengangguk kecil. “Jadi—”
“I-ya… maaf…” potong gadis itu cepat. “Maaf sudah membuatmu hidup sebagai diriku…”
Air matanya kembali jatuh. Rasa bersalah, trauma, dan kasihan bercampur jadi satu.
Xinyao terdiam beberapa detik, lalu terkekeh pelan.
“Tenang saja. Jangan salahkan dirimu,” katanya ringan. “Justru aku berterima kasih. Karena tubuh ini… aku bisa menikmati dunia yang wow banget.”
Ia mengangkat kedua tangan dramatis.
Gedung tinggi. Mall. Sushi. Milk tea. Internet.
Semua hal yang tidak pernah ada di kehidupan lamanya sebagai Taois.
“Tapi… mereka pasti menyulitkanmu,” bisik gadis itu pelan.
“Mereka?” Xinyao menyipitkan mata.
“Keluarga Zhang…”
Ah.
Xinyao menarik napas panjang.
“Ga ada apa-apanya,” ujarnya santai, bahkan sedikit menyombongkan diri. “Aku ini siapa coba? Taois hebat yang hidup dua kali. Masalah keluarga remeh begitu bukan apa-apa.”
Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Sudah, sudah. Jangan menangis lagi,” ujar Xinyao, nadanya kali ini lebih lembut. “Begini saja. Kita tukaran kontak. Nanti kita atur waktu buat ngobrol serius soal semuanya. Dunia ini ternyata sempit juga.”
Gadis itu mengangguk pelan. “Iya…”
Tak lama kemudian Qinglan terlihat berlari kecil menghampiri mereka sambil membawa beberapa botol air.
“Nih! Eh… udah baikan?” tanyanya sambil menyerahkan satu botol pada gadis itu.
“Terima kasih, Kak…” ucap gadis itu sopan.
Ia berdiri, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit.
“Maaf sudah merepotkan. Aku sudah terlambat… nanti orang tuaku khawatir.”
'Orang tua.'
Kata itu membuat Xinyao terdiam sepersekian detik.
Jadi sekarang… Yao Yao punya keluarga yang benar-benar peduli.
Gadis itu meneguk beberapa teguk air, lalu melangkah mundur perlahan.
Sebelum pergi, ia menatap Xinyao sekali lagi.
Tatapan itu bukan lagi penuh ketakutan.
Melainkan… kelegaan.
Dan sedikit harapan.
Setelah sosoknya menghilang di ujung trotoar, Qinglan menoleh curiga pada Xinyao.
“Jadi… sebenarnya apa yang barusan terjadi?”
Xinyao tersenyum tipis.
“Cuma urusan masa lalu,” jawabnya ringan.
Namun dalam hatinya, ia tahu
Takdir mulai bergerak.
Dua jiwa.
Satu kehidupan yang saling bersinggungan kembali.
Dan kali ini… tidak akan sesederhana pertemuan di trotoar.
______
Rumah Keluarga Wei
Seorang maid berlari kecil saat melihat sosok Cangli berdiri di depan pintu utama.
“Nona muda! Dari mana saja? Mengapa baru kembali? Nyonya besar sangat khawatir,” ucapnya cemas.
Cangli tersenyum ceria, mencoba menenangkan.
“Sejak aku dirawat di rumah sakit banyak pelajaran yang tertinggal, jadi tadi aku—”
“Cangli!”
Suara itu memotong ucapannya.
Semua orang menoleh ke arah tangga utama.
Bruk.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah elegan berlari dan langsung memeluk Cangli erat.
“Mama pikir terjadi sesuatu padamu! Ke mana handphone-mu? Kenapa tidak bisa dihubungi? Mama khawatir sekali, Cangli…” Wanita itu Xueyin mencecarnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Cangli tersenyum lembut dalam pelukan hangat itu.
“Maaf, Ma… handphone-ku lowbat,” jawabnya sambil menunjukkan ponsel yang benar-benar mati.
“Ah…” Xueyin mengembuskan napas lega. “Jangan begitu lagi. Mama bisa sakit jantung dibuatnya.”
Cangli tertawa kecil.
“Ayo, kamu mandi dulu. Setelah itu kita makan. Adikmu sudah menunggu di ruang makan. Hari ini Gege-mu juga pulang. Dia ingin bertemu denganmu,” lanjut Xueyin.
Mata Cangli langsung berbinar.
Gege.
Sejak ia terlahir kembali sebagai Wei Cangli, ia belum pernah benar-benar berbicara hangat dengan kakak laki-lakinya.
“Hari ini kesempatan bagus…” gumamnya pelan. “Aku harap dia tidak seperti…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Bayangan keluarga Zhang sempat terlintas di benaknya, namun segera ia buang jauh-jauh.
Cangli berlari kecil menuju lantai dua, masuk ke kamarnya, mandi cepat, lalu berganti pakaian.
Di ruang makan, keluarga Wei sudah duduk rapi menunggu.
Ayahnya, Wei Junhao, duduk di kursi utama. Wajahnya tegas namun hangat. Di sisi lain duduk Wei Chen, kakaknya, dengan ekspresi santai.
Suara langkah kaki terdengar mendekat.
Cangli muncul dengan rambut masih sedikit lembap, berjalan cepat menuju meja makan.
Suara kursi tergeser pelan saat ia duduk di sebelah adiknya.
“Gege…” ucapnya pelan, mencoba memberanikan diri.
Wei Chen tidak langsung menjawab.
“Chen,” tegur Xueyin lembut.
“Iya, Ma… gitu aja marah,” sahut Chen santai, lalu tersenyum lebar pada Cangli.
Ia mengeluarkan sebuah tote bag dari samping kursinya.
“Nih. Hadiah.”
Cangli terkejut. “Untukku?”
Chen mengangguk. “Terima kasih sudah bertahan.”
Kalimat itu sederhana, tapi sarat makna.
Cangli membuka isi tote bag tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan elegan dengan desain minimalis.
“Wah… bagus sekali!” serunya senang.
Tanpa ragu ia langsung mengenakannya di pergelangan tangan.
Xueyin tersenyum haru melihat pemandangan itu.
“Sudah, sudah. Ayo makan,” suara bariton Wei Junhao terdengar lembut namun tetap tegas.
“Baik, Ayah,” jawab ketiga anak Wei hampir bersamaan.
Makan malam itu berlangsung hangat. Tawa kecil, obrolan ringan, dan perhatian tulus mengisi meja makan.
Bagi Cangli—yang dulu hidup sebagai Yao Yao momen itu terasa seperti sesuatu yang sangat asing… sekaligus sangat berharga.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan makan malam keluarga tanpa kepura-puraan.
Setelah selesai makan, Cangli kembali ke kamarnya. Ia berniat mengejar pelajaran yang tertinggal.
Namun
Ting.
Sebuah pesan masuk.
💬 Besok jam dua sore kalau ada waktu, mainlah ke apartemenku.
Di bawahnya tertera share location dan nomor unit apartemen.
Cangli tersenyum tipis.
“Jam dua… kan?” gumamnya pelan.
Matanya menatap jam tangan baru di pergelangan tangannya.
“Aku akan datang.”
Bonus ilustrasi tapi bukan visual
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...