Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Konferensi Pers Yang Berdarah
Blitz kamera dari ratusan wartawan media nasional membanjiri Grand Ballroom Hotel Mulia
pagi ini. Atmosfer terasa begitu panas. Di atas panggung megah, logo Narendra Cosmetics
bersinar keemasan. Ini adalah momen krusial yang akan menentukan arah jarum jam saham
Narendra Group.
Arkan Narendra berdiri di balik podium dengan setelan jas hitam *custom-tailored* yang
sempurna. Garis rahangnya tegas, bersih, dan memancarkan aura dominasi yang absolut—sama
sekali tidak menyisakan jejak peradangan kulit yang mengerikan dari malam sebelumnya. Di sisi
kanan panggung, Kiara Sabitha berdiri mendampingi sebagai Kepala Formulator Baru sekaligus
tunangan rahasia yang telah disetujui bersyarat oleh Madam Amalia.
"Hari ini, Narendra Cosmetics mempersembahkan 'Miracle Barrier Serum'. Produk yang
bukan sekadar kosmetik, melainkan sains penstabil sel kulit yang bekerja dalam hitungan
menit," suara Arkan yang berat dan bariton menguasai seluruh ruangan lewat mikrofon.
Tepat setelah Arkan menyelesaikan kalimatnya, pintu ballroom terbuka kasar di bagian
belakang. Langkah kaki yang tergesa-gesa memecah perhatian. Seorang wanita paruh baya
dengan pakaian glamor bermerek desainer ternama masuk, diikuti oleh dua orang pengacara
berpakaian necis. Dia adalah **Saraswati**, ibu tiri Kiara sekaligus pemilik PT Mega Estetika.
Para wartawan langsung memutar arah kamera mereka. Aroma skandal tercium tajam di
udara.
"Hentikan peluncuran produk palsu ini!" teriak Saraswati lantang, suaranya sengaja
dikeraskan agar tertangkap oleh mikrofon media live streaming. "Arkan Narendra, Anda telah
ditipu oleh gadis pembohong di sebelah Anda! Serum yang Anda klaim sebagai inovasi
Narendra Group itu adalah formula yang dicuri oleh Kiara dari laboratorium PT Mega
Estetika!"
Kasak-kusuk langsung pecah di barisan penonton. Layar besar di panggung yang
menampilkan grafik saham Narendra Group mendadak menunjukkan fluktuasi grafik yang
mulai memerah. Turun 0,8% dalam hitungan detik akibat kepanikan pasar.
Arkan menyipitkan matanya. Aura membunuhnya langsung keluar, tangannya
mencengkeram sisi podium dengan erat. Namun, sebelum Arkan melangkah maju untuk
menggunakan kekuasaannya guna mengusir wanita itu, Kiara menarik ujung lengan jas Arkan
secara halus. Gadis itu menatap Arkan dengan mata yang tenang, memberikan kode bahwa ini
adalah panggungnya. Kiara melangkah maju, tepat di depan lampu sorot utama. Ia mengambil alih mikrofon
portabel dengan gerakan yang sangat anggun.
"Nyonya Saraswati," suara Kiara menggema, jernih tanpa ada nada gemetar sedikit pun.
"Anda datang ke sini menuduh saya mencuri formula? Sungguh sebuah plot drama yang sangat
klise untuk menjatuhkan saingan bisnis."
"Jangan berlagak tidak bersalah, Kiara!" Saraswati maju mendekati panggung, wajahnya
yang penuh riasan tampak mengeras karena amarah. "Pengacara saya memegang dokumen
paten awal dari bahan aktif kosmetik yang kamu bawa ke Narendra Group. Sial bagi kamu,
nomor registrasi bahan kimia itu terdaftar atas nama PT Mega Estetika tiga tahun lalu!"
Mendengar kata 'paten', para wartawan semakin agresif merangsek ke depan panggung.
Jurnalis ekonomi mulai mengetik berita utama dengan judul bombastis.
Kiara tersenyum—senyuman tipis penuh kemenangan yang membuat bulu kuduk Saraswati
mendadak meremang. Tarik-ulur ini sudah Kiara perhitungkan sejak ia melangkah keluar dari
rumah terkutuk itu dua tahun lalu.
"Dokumen paten tiga tahun lalu?" Kiara menekan tombol pada remote di tangannya. Layar
raksasa di belakang panggung yang tadinya menampilkan produk, kini berubah menampilkan
dokumen digital bersetempel resmi dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
"Maksud Anda, dokumen nomor REG-2023-Aesthetics ini?"
Saraswati tertegun melihat dokumen miliknya terpampang jelas di layar.
"Benar! Itu buktinya—"
"Buka mata Anda dan baca lembar kedua, Nyonya Saraswati," potong Kiara dingin,
suaranya bagai pisau bedah yang menguliti kebohongan di depan publik. "Dokumen itu memang
terdaftar atas nama PT Mega Estetika, namun penemu asli dan pemegang hak royalti absolut
yang sah di dalamnya adalah mendiang ibu kandung saya, Dania Sabitha. Dan berdasarkan
hukum waris, hak itu jatuh sepenuhnya ke tangan saya sebagai anak kandung tunggal."
Ruangan kembali gempar. Kiara menatap tajam ke arah Saraswati yang mulai memucat.
"Lebih dari itu," Kiara melanjutkan dengan nada mematikan, "Formula yang digunakan
Narendra Cosmetics hari ini adalah versi modifikasi tingkat lanjut yang menggunakan ikatan
peptida bio-aktif baru yang sudah saya patenkan atas nama pribadi saya minggu lalu.
Sementara formula lama yang Anda curi dari ibu saya... adalah formula cacat yang jika tidak
distabilkan akan memicu inflamasi akut pada penggunanya. Sama seperti yang dialami putri
Anda, Rania, semalam." BUM! Tamparan muka (*face-slapping*) massal terjadi secara langsung di depan ratusan
kamera. Saraswati membeku, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Pengacaranya
saling berbisik panik setelah melihat dokumen tandingan Kiara di layar raksasa yang tidak
bercelah secara hukum.
Arkan melihat momen itu sebagai waktu yang tepat untuk mengeksekusi musuhnya. Ia
melangkah maju ke samping Kiara, lalu merangkul pinggang gadis itu dengan posesif di hadapan
semua kamera flash wartawan.
"Tim hukum Narendra Group hari ini resmi mengajukan tuntutan balik atas pencemaran
nama baik, sabotase industri, dan pelanggaran hak cipta masa lalu terhadap PT Mega Estetika
dengan tuntutan kerugian materiil sebesar lima ratus miliar rupiah," suara Arkan yang
menggelegar mengunci nasib Saraswati malam ini. "Keamanan! Seret wanita ini keluar dari
ballroom saya."
Saraswati dan pengacaranya diusir paksa oleh petugas keamanan diiringi jepretan kamera
wartawan yang tidak henti-hentinya mengambil gambar wajah frustrasi mereka. Skandal itu
justru berbalik menjadi kampanye pemasaran gratis yang luar biasa bagi Narendra Group.
Grafik saham di layar besar mendadak melesat naik tajam, menembus angka hijau pekat
plus 4,2% dalam waktu sepuluh menit. Pasar menyukai transparansi, keadilan, dan kekuatan
mutlak.
Setelah acara selesai dan ruang tunggu VIP kembali sepi, Arkan langsung mengunci pintu. Ia
berbalik menjebak Kiara di sofa mewah, menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat intens—
tatapan seorang pria penguasa yang kini benar-benar bertekuk lutut pada kecerdasan
wanitanya.
"Kamu sudah menyiapkan semua kartu truf ini sejak awal, bukan?" tanya Arkan,
menunduk begitu dekat hingga napas hangatnya menyapu kening Kiara. Tangannya masih
memegang pinggang Kiara, enggan melepaskannya meskipun sandiwara publik sudah usai.
Kiara mendongak, merasakan detak jantung Arkan yang berdegup kencang di dadanya.
Tarik-ulur di antara mereka kini bukan lagi sekadar kontrak bisnis, melainkan ketertarikan
emosional yang mulai membakar batas ego masing-masing.
"Saya sudah katakan sejak awal, Tuan Arkan... saya tidak pernah bermain untuk kalah,"
jawab Kiara dengan bisikan menantang, ujung jarinya menyentuh dasi Arkan secara perlahan.