Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. HANYA KERABAT
Langkah kaki Irene lebar, hatinya berbunga bisa bertemu Murat disini.
" Kakak, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini!" wanita itu tersenyum lebar.
" Kamu bersama siapa?" Pria itu heran bisa bertemu dengan Irene disini, pasalnya rumah wanita itu cukup jauh dari sini.
"Aku ada reuni dengan teman SMA ku kak, acaranya baru saja selesai" Pria itu hanya menganggukan kepalanya.
" Wah tampan sekali ini anak kakak kah?" untuk pertama kalinya Irene bisa bertemu dengan putra dari pria itu.
" Halo sayang, kamu tampan sekali". Irene berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Keanu. Namun bocah itu bersembunyi dibelakang Ayahnya.
" Jangan takut nak, tante ini teman papah dikantor. Ayo abang salaman dulu sama tante!" meskipun ragu, akhirnya Keanu mau bersalaman dengan Irene.
" Halo sayang, kenalkan aku tante Irene, anak ganteng ini siapa namanya?" Suara Irene dibuat selembut mungkin, agar Murat terkesan.
" Abang Keanu" suara Keanu sangat pelan, bocah itu baru pertama kalinya bertemu dengan teman kerja Ayahnya, jadi dia merasa malu.
" Halo abang Keanu, nanti kapan kapan tante ajak main mau?". Keanu menggeleng merasa tidak terlalu kenal dengan teman ayahnya.
Irene tertawa canggung, dia berdiri lagi. Tetapi dia baru menyadari ada seorang wanita cantik yang membawa stroller bayi sedang berdiri di belakang Murat. Hati wanita itu ketar ketir.
" Dia siapa kak?" wajah Irene sudah tidak bersahabat.
Hanna sudah tersenyum ramah, dia yakin bahwa Irene yang menghubungi suaminya saat itu, adalah wanita ini. Tiba tiba Kepercayaan dirinya turun.
" Dia.....ehmmm kerabat mendiang istriku, Zahra". Murat agak ragu mengatakannya. Pria itu terpaksa menyembunyikan status pernikahannya, dia belum siap mengakui Hanna didepan teman kerjanya termasuk Irene.
DUAR.
Hati Hanna bagai di remas. Tidak percaya dengan pengakuan Murat tentang status mereka. Apakah dia seburuk itu hingga suaminya malu mengakuinya.
" Oh, aku pikir siapa" Irene merasa lega, tadinya dia pikir wanita itu adalah istri barunya Murat karena kalau dilihat sekilas mereka seperti sepasang suami istri.
" kenalkan aku Irene Wijaya, teman kerja Kak Murat sekaligus Putri tunggal dari perusahaan tempat kak Murat bekerja saat ini" Irene mengulurkan tangan dengan bangga.
Hanna menerima jabatan tangan Irene. " Ternyata anak pemilik perusahaan". Wajah wanita itu sudah mendung, perasaannya sudah tidak nyaman. Tetapi demi menjaga harga diri suaminya dia menahan diri.
" Aku Hanna, aku kerabat jauh dari mendiang istri kak Murat". Suara Hanna sedikit bergetar menahan kesedihannya.
Murat mengepalkan tangannya. Dia tahu Hanna menahan sesak di hatinya. Hatinya pun sakit tetapi dia benar benar belum siap mengakui Hanna sebagai istrinya.
Irene mengangguk, tetapi dia penasaran dengan bayi yang ada didalam stroller.
" Bayi ini anak mbak?".
Hanna mengangguk, wajahnya memerah karena menahan air mata.
" Suami mbak kemana?" Irene penasaran, apa wanita ini janda dan sedang mendekati Pria idamannya.
" Dia sedang pergi, a..aku,..." Hanna menahan sesaknya, dia memejamkan mata untuk sekedar menetralisirkan perasaannya saat ini.
"A...ku tidak tahu" Akhirnya hanya kata itu yang bisa Hanna ucapkan. Murat memalingkan wajahnya. Pria itu menarik napasnya mencoba menahan perasaannya.
" Irene maaf, kami harus pergi" tanpa menunggu jawaban, Pria itu berlalu melewatinya, begitupun Hanna yang mengikuti Murat.
Keluarga kecil itu memasuki salah satu restoran yang ada disana. Murat sejak tadi memperhatikan Hanna, wanita itu hanya menunduk tanpa melihatnya sama sekali.
Tiba tiba rasa sakit di perutnya mencuat, Hanna meremas genggaman stroller sangat kuat. " Aku mohon jangan sekarang". Wanita itu memejamkan mata untuk menahan rasa sakitnya.
Begitupun rasa mual yang tiba tiba muncul. " Aku ke toilet dulu" Hanna pergi tanpa melihat suaminya. Wanita itu berjalan tertatih dia mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
Murat memandang punggung Hanna yang menjauh. Perasaan iba dan rasa bersalah menyeruak dihatinya.
Uek...uek...
Hanya cairan kuning yang keluar dari tenggorokannya. Hanna membiarkan air mata membasahi pipinya. Dia duduk bersandar dilantai toilet. Wanita itu memejamkan matanya untuk menetralisir rasa sakitnya, tetapi rasanya lebih sakit dari sebelumnya, entah karena kejadian tadi. Butuh waktu lama baginya untuk kembali membaik.
Untungnya toilet dalam keadaan kosong, perasaannya sedikit lega.Hanna berjalan perlahan mendekati cermin. Dia menatap dirinya di cermin. Penampilannya sangat kacau wajahnya pucat dengan mata yang merah habis menangis.
" Tidak boleh kamu tidak boleh terlihat lemah". Kemudian dia membasuh wajahnya dan merapikan penampilannya yang sedikit berantakan.
Hanna berjalan kembali menuju mejanya tadi, tetapi langkahnya berhenti.
Deg
Ternyata sudah ada Irene disana duduk manis disebelah suaminya. Wanita itu menarik napasnya. Murat yang melihat istrinya datang spontan berdiri, dia salah tingkah dengan adanya Irene.
Irene heran melihat Murat yang sepertinya gugup. Wajah pria itu pun seolah penuh penyesalan. " Ada hubungan apa mereka?"
Tetapi wajah Hanna datar, seolah tidak terganggu dengan kehadiran Irene. dengan tetap tenang wanita itu duduk disebelah stroller putrinya.
" Maaf aku membuat pesanan untukmu, aku tidak tahu apa yang kamu suka". Semangkuk Ramen pedas. Hanna baru ingat suaminya bahkan tidak tahu apa yang dia suka. " Kenapa tidak bertanya dulu"
Salah satu makanan yang harus dihindarinya, tersaji didepan matanya. Apa dia harus memakannya , Halil sudah mengingatkannya untuk tidak memakan makanan sejenis itu.
" Maaf tapi aku tidak suka ini". Pria itu merasa bersalah lagi, dia pikir semua wanita menyukai makanan pedas.
" Baiklah aku akan pesankan lagi yang lain" Suara Murat benar benar terdengar gugup
" Tidak perlu kak aku tidak lapar". Hanna menatap suaminya dengan dingin. Tatapan dengan penuh penolakan.
Baru kali ini pria itu merasa takut , dengan tatapan istrinya. Pria itu menurut dia mulai menyantap makanannya dengan kurang selera. Rasa makanannya pun terasa hambar di lidahnya.
" Tante aku mau disuapin". Wajah polos Keanu membuat suasana hati Hanna membaik, wanita itu mengangguk, dia mengambil sendok untuk menyuapi anak sambungnya.
Tetapi Sreeek... Sendok yang dipegang Hanna terlepas, kini sendoknya sudah berpindah ke tangan Irene.
" Ayo sama tante saja, tante bisa kok suapin kamu" Hanna sampai terkejut dengan sikap kasar wanita ini, bertolak belakang dengan penampilannya yang anggun.
Keanu menggeleng, anak itu memundurkan wajahnya, bahkan menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.
" Ayo sayang a...". Wanita itu terus saja memaksa Keanu.
" IRENE CUKUP, KAU MENAKUTI ANAKKU". Murat sungguh kesal, wanita ini benar benar pemaksa. Belum lagi hatinya merasa bersalah kepada istrinya yang membuat Murat tidak bisa mengontrol emosinya di tempat umum.