Menikah? Yeah!
Berumah tangga? Nanti dulu.
Begitulah kisah Inara Nuha (21 tahun) dan Rui Naru (25 tahun). Setelah malam pertama pernikahan mereka, kedatangan Soora Naomi mengguncang segalanya. Menghancurkan ketenangan dan kepercayaan di hati Nuha.
Amarah dan luka yang tak tertahankan membuat gadis itu mengalami amnesia selektif. Ia melupakan segalanya tentang Naru dan Naomi.
Nama, kenangan, bahkan rasa cinta yang dulu begitu kuat semuanya lenyap, tersapu bersama rasa sakit yang mendalam.
Kini, Nuha berjuang menata hidupnya kembali, mengejar studi dan impiannya. Sementara Naru, di sisi ia harus memperjuangkan cintanya kembali, ia harus bekerja keras membangun istana surga impikan meski sang ratu telah melupakan dirinya.
Mampukah cinta yang patah itu bertaut kembali?
Ataukah takdir justru membawa mereka ke arah yang tak pernah terbayangkan?
Ikuti kisah penuh romansa, luka, dan penuh intrik ini bersama-sama 🤗😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 Tak disangka
Tak disangka, Muha sudah berdiri di area parkiran. Dari jauh saja terlihat bagaimana ia menahan amarah, sampai-sampai kepalan tangannya menimbulkan bunyi seperti rekatan karet. Matanya langsung tertuju pada mobil Naru yang baru berhenti.
Begitu mobil terparkir sempurna, Nuha segera membuka pintu. “Naru, ayo cepat… Kakak udah nunggu di sana,” cemasnya.
“Iya, Nara. Sabar--”
“Nggak ada sabar!” Nuha langsung berlari seperti refleks panik. Ia tak menyadari dirinya sedang hamil, tak mengingat kebiasaan buruknya yang sering terjatuh jika berlari.
“Kakak! Ibu gimana--”
Muha yang melihatnya malah panik. “Astaga… Nuha!” Ia langsung bergerak menghampiri. “Jangan lari!” serunya hampir bersamaan dengan Naru. “Nara jangan lari!” Nada mereka mengandung ketakutan yang sama.
Muha mendekat, tapi Naru lebih dekat. Dengan cepat Naru meraih lengan istrinya sebelum tubuh itu kehilangan keseimbangan. “Nara, pelan… pelan. Kamu bisa jatuh, sayang.” Suaranya menahan cemas. "Tolong tenang ya, jangan panik..."
Muha menarik napas panjang, kadang ia geli melihat sifat adik iparnya itu yang terlampau lebay baginya. Tapi masih jelas sedang menahan sesuatu. “Kamu bisa lihat Ibu di ruangan X," katanya. "Tapi sebelum itu…” Tanpa aba-aba, Muha menarik kerah baju Naru dan...
PUNCH!
Sebuah pukulan mendarat telak di pipinya. Tubuh Naru terhuyung ke belakang, ia hampir jatuh tersungkur. Nuha langsung menjerit kecil.
“KAKAK! Apa yang kamu lakukan?!” Nuha memegang wajah Naru dengan tangan gemetar. Naru meringis, memberi tatapan tanpa melawan.
Muha menarik kerahnya sekali lagi, napasnya berat, penuh emosi yang sudah lama tertahan. “Kalau sampai terjadi sesuatu sama Ibu… kalau Ibu sampai kenapa-napa, itu karena kamu, Naru!” suaranya pecah, tercampur kecewa dan marah.
Nuha terpaku antara terkejut dan takut. Naru menutup mata sejenak, menerima semua itu. “Kak… aku nggak tahu apa yang sebenernya terjadi. Tapi, tolong jelasin dulu.”
"Iya!" Nuha ikut menatap penuh tekad.
Muha mengepalkan tangannya, "Wanita itu datang dan mengaku sebagai calon istrimu. Mengandung bayimu dan KAU!" Sekali lagi ia menghantam wajah Naru. "Kau menyembunyikan ini semua dari kami! Bocah brengsek!"
"Aku tidak melakukannya. Itu semua fitnah!"
"Kamu percaya itu Nuha?" Tatapan Muha beralih pada adiknya. "Naomi, kamu pun kenal dia. Dia mengaku telah hamil anak baj*ngan ini!"
Nuha menunduk. Naru takut dan cemas sekaligus. Berkali-kali ia membantah jika bayi yang dikandung Naomi bukanlah anaknya, tapi... Bahkan mengungkap kebenaran di hadapan istrinya pun tak sanggup. Pembelaan dirinya tidak akan diterima dengan semudah itu.
Tapi...
Tatapan Nuha tak lagi kabur oleh emosi. Ada keyakinan yang tajam muncul dari seseorang yang benar-benar mengenal suaminya. "Itu bukan bayi Naru," ucapnya.
"ITU BUKAN NARU YANG LAKUIN, KAK!" Nuha menatap dengan yakin ke arah kakaknya. Bantahannya kuat sampai cengkeraman Muha pada kerah Naru pun melemah, perlahan terlepas.
"Kamu selalu membelanya. Dan itu nggak pernah berubah, Nuha. Kakak geram dengan kisah cinta kalian." Muha mengusap kasar wajahnya.
Nuha meraih lengan suaminya. "Naru baik, kak. Dia nggak mungkin lakuin itu. Jangan sakitin dia. Aku hamil, aku butuh Naru buat lindungin aku."
"Kamu, hamil?"
"Um" Nuha mengangguk.
"Haah... dua wanita hamil sekaligus, hebat bener dia." nada itu lebih terdengar seperti sakit hati daripada tuduhan buta. "Kalo dia baik, dia harus bisa buktiin semuanya." Muha menarik Naru dan membawanya pergi. "Ikut denganku dan carikan aku bukti. Sekarang!"
"Kakak!"
"Kamu temuilah Ibu, Ibu baik-baik saja. Tapi," Dia menatap jengah ke Naru. "Kakak bawa bocahmu dulu. Dia harus membuktikan pembelaannya."
Akhirnya,
Nuha berjalan sendiri menuju ruang perawatan Ibu. Langkah kakinya berat. Sesampainya di depan pintu, ia terkejut melihat Kakek Darmawan dan Kanaya berdiri diam diluar.
"Kakek, Kanaya? Kok kalian bisa ada di sini?" tanya Nuha dengan nada bingung.
"Kami mau jenguk Ibu kamu, Nara," jawab Kanaya lirih. "Maaf… kami sampe nggak berani mengetuk. Soalnya kakek…" Kanaya melirik kakek yang sejak tadi menunduk, kedua tangannya gemetar, wajah sepuhnya seperti sedang menahan banjir kenangan.
"Hm?" Nuha mengernyit, tapi ia tak ingin bertanya lebih jauh. Ada banyak hal yang sudah terlalu menyesakkan untuk diurai. "Kalo gitu, masuk yuk sama aku."
Nuha mendorong pintu perlahan. Suara engselnya yang berderit seperti memanggil kembali kehidupan. Ibu sedang duduk bersandar, menatap keluar jendela. Rambutnya tergerai, wajahnya sendu, namun matanya tetap memiliki kehangatan yang dulu selalu menyambut Nuha pulang sekolah.
"Nuha sayang..." sapanya.
"Ibu," Nuha langsung memeluk. "Syukurlah Ibu baik-baik aja. Ibu harus sembuh, aku sangat menyayangi Ibu."
Saat suara langkahnya masuk, Kakek tak mampu menahan getaran di dadanya. Dada tuanya naik turun cepat. “Inaya…” suara itu berat, hampir tak keluar dari tenggorokan. “Inaya… putri….”
Seakan bumi berhenti berputar.
Ibu yang awalnya hanya menoleh sekilas, tiba-tiba kaku. Matanya berkaca. Tubuhnya menegang seperti dihantam sesuatu yang sudah lama tak terlihat.
“Ro-- Romo?” suaranya tercekat, seolah ia takut itu hanya halusinasi yang dibawa rasa sakit. “Tidak mungkin… Romo…?”
Nuha terpaku. Ia belum pernah melihat ibunya sekaget ini. Kanaya sudah menitikkan air mata tanpa suara, "Ibumu, putrinya kakek, Nara. Kita saudara, kamu adalah kakak sepupuku."
Kakek melangkah perlahan, seperti seorang ayah yang kembali menemukan anaknya setelah puluhan tahun hilang. “Inaya… maafkan Romo…” bisiknya. Air mata itu akhirnya jatuh, membasahi pipi keriput yang dulu begitu tegar.
Suasana penuh nostalgia itu menabrak ruang perawatan seperti badai. Perpisahan panjang, dendam, kerinduan yang membatu, dan luka yang belum pernah tersentuh. Semua pecah di detik itu. Isak tertahan dan kehangatan pertemuan terjadi lagi setelah bertahun-tahun lamanya.
DI RUANG BERSALIN
“Mama!!” Naomi menjerit sambil mencengkeram pinggir ranjang bersalin. Wajahnya memucat, rambutnya basah oleh keringat. “Aku butuh Naru! Panggil Naru untuk dampingin aku lahiran! Cepat, Ma!”
Mamiya merapikan rambutnya sendiri dengan kesal, bukan rambut putrinya. “Sudahlah, Naomi. Berapa kali Mama bilang? Sebanyak apa pun kamu memohon, pria itu nggak akan datang. Kamu fokus saja melahirkan!”
“Tapi, Ma! Ini sakit, sakit banget!” Naomi menjerit lagi, tubuhnya melengkung menahan kontraksi berikutnya. “Nyawaku kayak mau tercabut! Anak ini… menyiksa jalan lahirku!”
Suster berusaha menenangkan. “Nona Naomi, tarik napas... Pelan-pelan--”
“Aku nggak mau tarik napas, aku mau Naru!” teriak Naomi, lebih histeris lagi.
Mamiya memutar bola mata, lalu menoleh kepada dokter. “Dokter, tolong… operasi caesar saja!”
Naomi terperanjat. “Apa?!” Suaranya pecah. “Aku udah ngerasain sakit mau lahiran, masa ditambah operasi?! Aku nggak mau, Ma!”
“Diam, anak manja!” bentak Mamiya, wajahnya merah menahan amarah. “Jangan banyak drama! Mama nggak mau denger kamu tersiksa cuma karena ngotot lahiran normal!” Naomi menangis, tak ada yang mau memanjakannya saat itu.
DI RUANG TUNGGU
Rudi mondar-mandir gelisah, “Aku berharap cucuku lahir dengan selamat…” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Mamiya keluar dengan langkah terburu, langsung menggeleyot manja di lengan pria itu. “Itu pasti, sayang. Kamu harus siapin pesta megah untuk cucu kita nanti,” ujarnya penuh manuver licik.
Rudi mengangguk, meski matanya tetap gelisah. “Tentu saja. Asal…” Ia menatap Mamiya dari sudut mata. “Kau juga harus cek DNA bayi itu.”
Mamiya terpaku. “Apa?!”
“Kau harus memberiku keyakinan bahwa bayi itu sungguh dari putraku.” Suara Rudi rendah namun tegas, nyaris seperti ancaman yang dibungkus formalitas. Ia mengeluarkan sebuah plastik kecil berisi helaian rambut.
“Setelah bayi itu lahir, kau harus segera cek DNA-nya.” Ia menatap tajam. Ternyata ia sudah mempersiapkan ini dari awal.
Tenggorokan Mamiya terasa mengering seketika, seolah udara di ruang tunggu itu mendadak hilang.
Rudi… ternyata jauh lebih curiga dari yang ia duga. Apa yang harus dia lakukan…?
Beberapa hari kemudian, Naomi sudah dipindahkan ke ruang pemulihan, Mamiya duduk di sisi ranjang putrinya. Matanya menatap bayi laki-laki itu, tapi bukan dengan bangga, melainkan penuh keraguan.
“Kamu yakin bayi itu putranya Naru?” Nada suaranya rendah, dingin. “Jawab yang jujur, Naomi." Ia menggigit bibir, tak mampu menyelesaikan kalimatnya. “…Mama cuma nggak lihat ada kemiripan.”
Naomi melotot, tak percaya. “Tentu saja, Ma! Aku berjuang mati-matian mempertahankan bayi ini supaya Naru mengakuinya!!”
Mamiya menyeringai getir. “Dasar anak bodoh!”
“Mama!” Naomi memekik tak terima. “Kenapa malah nyalahin aku? Anak ini jelas-jelas--”
“Lihat ini!” Mamiya mengeluarkan satu lembar kertas. Tangannya gemetar, entah karena marah atau takut. Ia mencampakkan selebaran itu ke pangkuan Naomi.
Naomi melihat ke bawah.
Hasil tes DNA.
Antara bayi itu… dan Rui Naru.
“Ma…” suaranya pecah. “Ini… ini nggak mungkin…”
Mamiya memalingkan wajah, tidak sanggup menahan rasa malu dan panik yang membara.
“Rudi sudah menunggu hasil itu. Dan kalau dia melihat ini, Naomi…” Ia menelan ludah. “Kita selesai.”
.
.
.
. ~Bersambung...
Itu teknik grounding real-world. Super accurate 🥰❤❤❤
bumil beneran ngalamin mental fatigue kayak gini, huhu syedih 🤧🤧🤧
Tetangga: “Dek sehat? Rumornya…”
Padahal sambil mata ngintipin realita kayak CCTV 😒😒😒 Mereka tuh kayak “concern” tapi sebenarnya update timeline duluan 😩
I just need my comfort place pls 🥺