Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Cengkeraman Kevin akhirnya lepas, seiring dengan dirinya yang tersadar, Vivi terhuyung, jatuh berlutut, terbatuk keras sambil mencengkram lehernya yang memerah, napasnya tersengal-sengal, matanya melebar panik, tubuhnya gemetar hebat.
Ia berpikir hidupnya akan berakhir di tangan Kevin hari ini.
"Kamu gila Kevin! Kamu mau bunuh aku hah?!" jeritnya sesaat setelah menenangkan dirinya sendiri.
"Maaf Vi, aku benar-benar gak sadar." Kevin berusaha memegang bahu Vivi tapi di tepis kuat oleh Vivi.
"Apa maksud ucapan kamu soal Nuraa yang lebih memilih Aska?" tanya Kevin.
"Mereka berdua sudah resmi sebagai suami istri," lirih Vivi.
"Gak mungkin! Kamu sengaja bikin aku cemburu, kan? Gimana caranya mereka menikah, undangan aja belum di sebar dan kapan mereka menikah, kenapa aku gak tau," tampik Kevin.
"Itu karena mereka menikah siri dulu, mereka bahkan sudah tinggal serumah, sekamar lagi di rumah bunda," balas Vivi.
Dunia seakan berhenti berputar sesaat setelah kalimat itu meluncur dari bibir Vivi, kata-kata itu menghantam Kevin bagai palu godam.
Napasnya tercekat di tenggorokan, udara mendadak terasa tipis dan sulit di hirup. Matanya melebar, pupilnya membesar, terpaku pada Vivi seolah mencoba mencari tanda-tanda kebohongan.
Bahu Kevin merosot, darah berdesir dari wajahnya, menyisakan kulit yang memucat pasi, bibirnya sedikit terbuka namun tak mampu menghasilkan suara.
Detik berikutnya, kejutan itu merambat ke seluruh tubuhnya. Kevin berdiri, jemari yang tadi santai, kini mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Nuraa... ya Nuraa, aku harus tanyakan langsung soal ini," gumam Kevin.
Sedetik kemudian, Kevin melangkah pergi begitu saja, meninggal Vivi yang masih terduduk di lantai seorang diri.
"Dasar lelaki gak berguna! Bukannya nolongin malah di tinggal pergi gitu aja," gerutu Vivi.
Vivi berdiri perlahan dengan berpegangan di dinding.
Kevin sudah menghilang di balik pintu apartemennya. Lelaki itu benar-benar tidak berguna. Bukannya menolong Vivi yang baru saja dicekiknya, dia malah pergi begitu saja demi mencari Nuraa.
"Lihat saja, Nuraa! Kebahagiaanmu tidak akan bertahan lama!" geram Vivi, matanya menyala penuh dendam.
----------------
Deru mesin mobil Kevin memekakkan telinga. Pikirannya kalut, hanya ada satu tujuan: showroom Aska. Kata-kata Vivi berputar di benaknya, menghantam logikanya berulang kali.
"Menikah siri? Tinggal serumah? Sekamar lagi?"
Kevin mengemudi dengan kecepatan tinggi dan sembrono. Fokus internalnya adalah rasa sakit hati dan penolakan. Dia tidak percaya Nuraa sudah menikah siri. Dia merasa dikhianati dua kali—pertama oleh Vivi, kedua oleh Nuraa yang seolah meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan lengkap.
"Nuraa milikku! Nggak mungkin dia menikah dengan pria lain secepat ini. Vivi pasti berbohong. Aku harus memastikan sendiri."
Kevin membanting setir mobilnya ke arah kanan, memotong jalur kendaraan lain.
Kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam. Persetan dengan aturan lalu lintas. Hatinya sakit, harga dirinya hancur. Cuma Nuraa yang bisa menjelaskan semua ini.
🌹🌹🌹
Di showroom mobil mewah milik Aska, suasana tampak tenang dan elegan. Nuraa dan Aska sedang berdiri di samping sebuah mobil sport merah.
"Jadi, ini model terbaru yang paling laris, Sayang. Penjualannya lumayan bagus," terang Aska dengan senyum tipis, merangkul pinggang Nuraa posesif.
"Wah, keren banget, Mas! Pasti harganya selangit, ya?" jawab Nuraa ceria, mengabaikan tatapan iri dari beberapa staf wanita di sana.
Aska baru saja akan menjawab saat pintu kaca showroom terbuka kasar. Sesosok pria dengan wajah memerah dan napas memburu masuk tanpa menghiraukan resepsionis yang menyapanya.
"NURAA!"
Teriakan itu menggelegar di seluruh ruangan, membuat semua mata menoleh ke sumber suara. Nuraa dan Aska tersentak. Aska segera berdiri di depan Nuraa, secara refleks melindunginya dari Kevin yang berjalan cepat ke arah mereka.
"Keluar dari sini, Kevin. Ini tempat kerjaku," ucap Aska datar, suaranya mengandung ancaman tersembunyi.
Kevin mengibaskan tangannya, mengabaikan Aska sepenuhnya. Matanya lurus menatap Nuraa, penuh rasa sakit dan amarah.
"Aku nggak akan pergi sebelum kamu jelasin semuanya, Raa! Apa benar yang Vivi bilang? Apa benar kalian sudah menikah?!" tuntut Kevin, nadanya meninggi.
Nuraa menatap Kevin dingin. Ia melangkah maju, berdiri sejajar di samping Aska.
"Iya, benar. Memangnya kenapa?" jawab Nuraa, suaranya tenang tapi tajam.
Kevin terhenyak. Dia berharap Nuraa menyangkalnya, mengatakan itu hanya salah paham. Tapi jawaban Nuraa yang lugas itu menghantamnya keras.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa? Kita baru saja mau menikah, Raa! Persiapan sudah 90 persen rampung, dan sekarang kamu bilang kamu nikah sama dia?!" Kevin menunjuk Aska dengan jari gemetar.
"Itu karena kamu sudah berkhianat duluan, Kevin!" Nuraa membalas cepat.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk kamu pura-pura amnesia, kamu gak bodoh, kan! Kamu paham maksud aku, kan?!"
"Lagian kamu udah telat banget. Aku udah menikah dengan Aska. Nggak ada lagi Kevin untuk Nuraa. Dan nggak ada lagi Nuraa untuk Kevin!"
Kevin semakin marah. Dia merasa dipermalukan di tempat umum. Dia mencoba meraih lengan Nuraa.
"Dengar dulu penjelasanku, Raa! Aku dijebak!"
Belum sempat tangan Kevin menyentuh Nuraa, Aska sudah menepisnya kasar
"Jangan sentuh istri saya!" bentak Aska, matanya memancarkan amarah yang selama ini terpendam.
Kevin tersulut emosi, dia mendorong dada Aska. Aska terhuyung sedikit.
"CUKUP!"
Kali ini, suara Nuraa yang nyaring menghentikan pertikaian fisik yang hampir terjadi. Dia berdiri di antara dua pria itu, menatap Kevin dengan tatapan yang membuat Kevin membeku.
"Kevin, aku udah lelah dengan semua drama ini. Aku nggak peduli kamu dijebak atau apa. Kenyataannya, kamu sudah menghamili Vivi, sahabatku sendiri—atau setidaknya, itu yang aku tahu pada awalnya," Nuraa menjeda, mengatur napasnya.
"Sekarang aku sudah menikah dengan Aska. Kami adalah suami istri yang sah di mata agama. Aku minta kamu menghormati pernikahan kami. Tolong, pergi sekarang."
Kevin menatap Nuraa tak percaya. Ini bukan Nuraa yang dikenalnya. Nuraa yang lemah lembut dan penuh cinta itu telah hilang, digantikan oleh wanita kuat dan berwibawa yang berdiri di depannya sekarang.
Pandangan mata Nuraa yang dingin dan tegas itu membuat Kevin sadar. Semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi harapan.
Dengan bahu merosot, Kevin mundur perlahan. Tanpa kata-kata lagi, dia berbalik dan melangkah keluar dari showroom dengan perasaan hancur dan malu yang luar biasa.
Nuraa menghela napas lega saat punggung Kevin menghilang di balik pintu kaca. Suasana showroom masih hening, semua mata tertuju padanya.
Aska menatap Nuraa dengan rasa bangga dan kagum. Dia merangkul bahu istrinya lembut.
"Kamu hebat, Sayang," bisik Aska, mengecup kening Nuraa singkat.
Nuraa tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Semua sudah selesai."
🌹🌹🌹🌹
Kevin membanting pintu mobilnya dengan keras. Pikirannya kosong, kecuali satu target pelampiasan: Vivi. Dia mengemudi kembali ke apartemen Vivi dengan kecepatan tinggi, kali ini bukan untuk mencari penjelasan, melainkan untuk melampiaskan rasa sakitnya.
Sesampainya di apartemen, Kevin mendapati Vivi masih duduk di sofa, mengolesi lehernya yang memerah.
"Dasar perempuan sialan!" bentak Kevin, menendang meja kaca kecil di depan sofa hingga vas bunga di atasnya jatuh pecah berantakan.
Vivi tersentak kaget. "Kamu kenapa lagi, sih?! Udah gila?!"
"Kamu yang gila! Kamu yang bikin aku malu!" raung Kevin, mencengkeram bahu Vivi kuat-kuat.
"Tadi aku ke showroom Aska. Nuraa bilang mereka sudah menikah! Nuraa beneran ninggalin aku! Ini semua gara-gara kamu dan kebohongan soal kehamilan itu!"
"Lepasin aku!" Vivi mencoba melepaskan diri.
"Kan tadi aku udah bilang soal Nuraa yang udah nikah! Aku udah kasih tau kamu tadi!"
"Kenapa kamu jadi lampiaskan emosi kamu ke aku!"
"Aku nggak peduli! Kamu yang bikin semua berantakan!" Kevin mendorong Vivi hingga kembali terduduk di sofa.
Vivi menatap Kevin, otaknya berputar cepat mencari jalan keluar. Amarah Kevin bisa berbahaya, tapi juga bisa dimanfaatkan. Dia melihat secercah peluang di mata Kevin yang penuh keputusasaan dan dendam.
"Oke, oke, tenang, Vin." Vivi melembutkan suaranya, mulai memainkan peran manipulatif nya.
"Aku tahu kamu sakit hati."
Aku juga sakit hati melihat Aska dimiliki Nuraa," bathin nya.
Vivi mendekat, menyentuh lengan Kevin lembut. Kevin menepisnya, jijik.
"Dengar," bisik Vivi, mengabaikan penolakan Kevin, "kita berdua ini korban, Vin. Nuraa selalu beruntung, dia selalu dapat yang terbaik."
Kevin terdiam, amarahnya sedikit mereda, digantikan oleh rasa dendam membara terhadap Aska dan ambisinya ingin merebut kembali Nuraa.
"Aku punya ide," lanjut Vivi. "Sebuah ide yang bakalan bikin Nuraa dan Aska nggak tenang."
Kevin menatap Vivi, curiga. "Ide apa?"
Bersambung...