Ziudith Clementine, seorang pelajar di sekolah internasional Lavante Internasional High School yang baru berusia 17 tahun meregang nyawa secara mengenaskan.
Bukan dibunuh, melainkan bunuh diri. Dia ditemukan tak bernyawa di dalam kamar asramanya.
Namun kisah Ziudith tak selesai sampai di sini.
Sebuah buku usang yang tak sengaja ditemukan Megan Alexa, teman satu kamar Ziudith berubah menjadi teror yang mengerikan dan mengungkap kenapa Ziudith memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di ujung gelap
Suara mesin rumah sakit berdetak pelan. Setiap bunyi bip seolah memanggil kembali sisa-sisa kesadaran yang tersesat di antara dua dunia. Arkana terbaring diam di ranjang putih, wajahnya pucat, selang infus menempel di tangannya.
Cahaya pagi menembus tirai, membentuk garis samar di dinding. Sudah empat hari sejak tubuhnya ditemukan tak sadarkan diri di toilet Lavente, dan Arkana belum juga sadar hingga saat ini. Tidak ada luka parah, tapi dokter menyebutnya koma yang terjadi pada Arkana disebabkan oleh tekanan psikologis yang sangat berat. Ditambah dengan kelelahan yang luar biasa, membuat Arkana masih enggan membuka mata.
Namun, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik diamnya tubuh itu. Di tempat lain, di ruang yang tak tersentuh logika manusia, Arkana sedang berdiri di batas antara hidup dan mati. Sunyi. Dingin. Arkana tidak merasakan apa-apa selain kehampaan. Sensasi itu berbeda dengan tidur. Tidak ada mimpi, tidak ada bayangan, hanya kesunyian yang memeluknya.
Lalu, perlahan, ia merasakan sesuatu. Sebuah tekanan di dadanya, suara berisik yang memekakkan telinga di sekitarnya. Ia mencoba membuka mata, tapi kelopak matanya terasa berat. Samar-samar, ia menangkap cahaya putih yang menyilaukan. Ia membuka mata perlahan. Pandangannya kabur, tapi ia bisa melihat sekelilingnya. Dinding putih, tirai yang bergoyang pelan, dan mesin-mesin yang berkedip-kedip. Ia berada di rumah sakit.
Sudah berapa lama ia di sini? Apa yang sebenarnya terjadi?Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, tapi ia terlalu lemah untuk berpikir jernih. Ia hanya bisa terbaring tak berdaya, menunggu kesadarannya pulih sepenuhnya.
Namun, di tengah kebingungan itu, sebuah kehangatan tiba-tiba menyelimutinya. Bukan kehangatan fisik, melainkan perasaan damai dan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Seolah ada seseorang yang hadir di dekatnya, memberikan kekuatan dan harapan. Dan kemudian, ia melihatnya.. Megan! Gadis itu ada di depannya, mengenakan seragam sekolah Lavente.
Bukan sosok Megan yang pucat, ketakutan dan berderai air mata seperti yang ia lihat terakhir kali. Megan yang ini bersinar, wajahnya dipenuhi kedamaian dan cinta. Ia berdiri di ujung ranjang, tersenyum lembut pada Arkana.
"Ar, maafkan aku karena sudah membuat mu jadi seperti ini." bisik Megan, suaranya bagai angin sepoi-sepoi yang menenangkan.
Arkana berusaha berbicara, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap Megan dengan tatapan penuh kerinduan dan kebingungan.
"Megan... apa ini nyata?" tanya Arkana dalam hati, berharap Megan bisa mendengarnya.
Megan mengangguk. "Ini adalah tempat di antara hidup dan mati, Arkana. Tempat di mana jiwa bisa beristirahat sebelum kembali ke dunia."
"Apa yang terjadi denganku? Apa aku... mati? Kau bisa mengerti apa yang aku ucapkan padahal aku tidak berbicara sama sekali?" tentu saja Arkana kebingungan. Dia diam, hatinya yang bicara tapi Megan bisa tahu semuanya.
"Kau terluka parah, Arkana. Tapi kau belum mati. Kau masih memiliki kesempatan untuk kembali. Dan.. Ya, aku bisa membaca isi hati mu, Ar."
"The Book... Buku itu, apa sudah dikalahkan?"
Megan tersenyum. "Ya, Ar. Kau berhasil. Kau mengorbankan dirimu untuk menghentikannya. The Book sudah hancur. Lavente aman. Kau pahlawan untuk semua orang, aku bangga padamu."
Keheningan menggantung.
Megan menatapnya lama, ada sesuatu di matanya, semacam cahaya yang lembut, seperti api kecil yang menyala di tengah kegelapan. Lalu cahaya mulai menyelimuti tubuh Megan. Wajahnya memudar, tapi senyum itu tetap ada.
"Terima kasih, Ar. Karena kau, aku dan yang lain bisa pergi tanpa rasa marah, tanpa penyesalan. Pengorbanan mu tidak lah sia-sia."
Arkana ingin meraih tangannya, tapi udara di antara mereka bergetar.
Megan mundur satu langkah, lalu berbisik pelan, "Berjanjilah satu hal padaku."
Mata Megan sudah berkaca-kaca.
"Apa?" Arkana tidak bisa melakukan apapun. Bahkan sekedar menahan kepergian Megan saja tidak bisa dia lakukan.
"Jangan biarkan dunia ini lupa pada arti empati. Lavente harus berubah. Dan kamu bisa melakukannya."
Kemudian suaranya semakin jauh, melebur dalam cahaya. "Selamat tinggal, Ar…"
Arkana memanggil nama Megan beberapa kali, tapi suaranya tenggelam bersama cahaya yang mengiringi kepergian Megan.
Beberapa waktu kemudian, Arkana merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah tarikan yang kuat menariknya kembali ke dunia nyata. Ia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, tapi ia tidak menyerah. Ia terus berjuang, berusaha membuka matanya. Perlahan, kesadarannya kembali. Ia membuka mata dan melihat sekelilingnya. Ia masih berada di rumah sakit, dikelilingi mesin-mesin yang berkedip-kedip.
Suara bip kembali terdengar. Lampu rumah sakit menyilaukan matanya begitu ia membuka mata. Nafasnya berat, tapi stabil. Langit-langit putih di atasnya terasa nyata.
"Dokter! Pasien telah sadar! Tuan Arkana sadar!" seru seorang perawat yang ada di samping Arkana.
Seorang dokter dan beberapa perawat menghampirinya dengan wajah lega. Mereka memeriksa kondisinya dengan cermat. Suara langkah cepat mendekat.
Ibu Arkana menubruknya dalam pelukan, menangis sesenggukan dengan penuh rasa syukur dan haru.
"Luar biasa… dia merespons sempurna. Kondisi otaknya sempat turun drastis, tapi tiba-tiba aktivitas gelombang alfa-nya meningkat, seolah tubuhnya memutuskan untuk hidup kembali."
Dokter itu juga menjelaskan bahwa proses pemulihan Arkana akan memakan waktu yang cukup lama. Ia harus menjalani terapi fisik dan psikologis untuk memulihkan kondisi tubuh dan pikirannya.
Arkana mengangguk mengerti. Ia tahu bahwa perjalanan yang harus ia tempuh masih panjang. Tapi ia tidak takut. Ia memiliki tujuan yang jelas dan semangat yang tak tergoyahkan sekarang.
Hari-hari setelah itu berjalan lambat tapi penuh arti. Arkana menjalani terapi fisik, mendengarkan cerita tentang bagaimana Gerry akhirnya selamat dari teman-teman yang silih berganti menjenguknya, bagaimana polisi menemukannya di toilet dengan kondisi tak sadarkan diri, dan bagaimana Lavente kini dipenuhi perasaan bersalah kolektif.
Setelah keluar dari rumah sakit, Arkana kembali ke Lavente. Tapi ia bukan lagi Arkana yang dulu. Ia telah berubah. Ia menjadi lebih aware, lebih berani, dan lebih peduli terhadap orang lain. Dengan berani, dia mengusulkan untuk membuat komunitas anti bullying di sekolahnya. Dan usulannya mendapat apresiasi yang baik dari siswa lain juga para staf pengajar Lavente.
Arkana mulai melawan perundungan yang masih marak terjadi di Lavente. Ia membela teman-temannya yang lemah dan memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan. Ia juga berusaha mengubah cara pandang Lavente yang dulunya salah kaprah. Ia ingin menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan toleran, di mana semua orang bisa merasa aman dan diterima.
Hari ini di sekolah bertaraf internasional itu, Arkana diundang untuk memberikan pidato di acara peringatan hari jadi Lavente. Ia naik ke atas podium dengan percaya diri dan menatap seluruh siswa yang hadir.Tatapannya tenang, namun di matanya masih ada bekas luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ia menarik napas panjang, lalu mulai berbicara.
"Aku pernah berpikir jika diam itu aman," katanya, suaranya menggema lembut di aula yang hening.
"Tapi ternyata, diam justru bisa membunuh seseorang, ketidak pedulian kita adalah belati paling mematikan bagi seseorang yang butuh pertolongan. Aku belajar bahwa keberanian bukan soal melawan dengan kekerasan, tapi melindungi dengan kebaikan."
Ia berhenti sejenak, menatap wajah-wajah di depannya beberapa menunduk, ada juga yang menahan air mata.
"Kita semua pernah salah. Tapi Lavente tidak akan sembuh kalau kita terus berpura-pura tidak melihat luka dan penderitaan orang lain. Jadi mulai hari ini, jangan biarkan siapa pun berjalan sendirian dalam ketakutan. Jadilah suara untuk mereka yang kehilangan suaranya." suara Arkana sedikit bergetar. Tepuk tangan bergema panjang.
Bahkan kepala sekolah menunduk, terisak diam-diam. Mengingat semua kejadian mengerikan di Lavente beberapa waktu yang lalu. Momen ini menjadi titik balik. Lavente, sekolah yang dulu dibangun di atas ambisi dan keangkuhan, kini berdiri di atas harapan baru. Tidak ada lagi yang dibedakan, antara siswa dari jalur beasiswa dan dari kalangan kaya raya. Jika mereka sudah memasuki gerbang Lavente, semua sama!
Namun, saat ia melangkah keluar dari aula, sesuatu mengusik ketenangan hatinya. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, meskipun matahari bersinar terik di luar. Ia menoleh ke atas dan melihat sesuatu yang membuatnya membeku.
Di atas atap Lavente, ia melihat kabut hitam tipis menari-nari dengan lincahnya. Kabut itu bergerak seolah memiliki kesadaran sendiri, meliuk-liuk di antara cerobong asap dan menara jam. Kemudian, kabut itu menyelinap masuk melalui celah-celah jendela ruang kelas, menghilang di balik dinding.
Tiba-tiba, Arkana mendengar bisikan lembut di telinganya. Bisikan itu terasa familiar, seperti suara yang pernah ia dengar dalam mimpi buruknya.
"Ada yang memanggilnya kembali..." bisik suara itu. "The Book tidak bisa benar-benar mati. Dia kembali..."
Arkana terdiam membeku. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu apa arti bisikan itu. Kegelapan belum sepenuhnya lenyap dari Lavente. Ancaman yang lebih besar akan segera datang.
(TAMAT)
terimakasih Thor sudah bikin kami dag-dig-dug bacanya..
sukses trs utk karya lainnya✊
apa ini 😨
Arkana selamat apa ikut menyusul Meghan juga??
Never end to The Book yaa