Kisah Vino Alvaro dan Aina Olivia yang hidup di rumah kontrakan mereka.
Kesederhanaan membuat mereka rukun dan damai, namun ternyata ada banyak badai dan cobaan di hidup pernikahan mereka, mampukah mereka melewati semua badai itu?
Mampukan Vino mewujudkan impiannya dan berdiri menantang badai itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agen Asuransi
Malam itu Vino pulang agak malam, Aina menunggu suaminya itu dengan perasaan cemas.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, namun Vino tidak kunjung ada kabar. Setiap di hubungi di ponselnya selalu tidak aktif.
Akhirnya Aina memberanikan diri untuk menelepon ke kantor Vino, namun lagi-lagi telepon tidak di angkat, dengan perasaan gelisah Aina menunggu suaminya itu di kursi ruang tamunya.
**********
Sementara Vino, dari sore dia sudah kehabisan baterai ponsel, dia juga harus meeting dengan direktur, setelah selesai lagi-lagi Bu Siska meminta Vino untuk mengantarnya pulang, sebagai bawahan, Vino tidak bisa menolak.
Setelah mengantar Bu Siska, motor yang di kendarai Vino pecah ban, sementara Vino tidak menemukan tukang tambal ban yang ada di daerah situ, akhirnya dengan terpaksa Vino menuntun motornya sampai dia menemukan bengkel motor.
Setelah menunggu sekian lamaa karena harus tambal ban, Vino baru bisa berjalan pulang ke rumah.
Ceklek...
Vino membuka pintu yang tidak terkunci itu, Aina nampak sedang tertidur di kursi ruang tamu dalam keadaan duduk.
Vino mendekati istrinya itu dan mengecup keningnya, Aina membuka matanya, wajahnya terkejut bercampur cemas.
"Vino...kau baru pulang?" Tanya Aina.
"Iya Ai....Maaf...ponselku lowbath dari sore, aku juga tadi harus meeting...lalu setelah itu...." Vino menghentikan perkataannya.
"Setelah itu apa Vin?" Aina makin penasaran.
"Aku...aku...Bu Siska memintaku mengantarnya pulang..." Jawab Vino gugup. Aina membulatkan matanya.
"Apa? Bu Siska minta di antar pulang olehmu? Bu Siska kan punya mobil...mana mau dia naik motor..." Aina nampak tak percaya.
"Nah...itu dia Ai...aku juga bingung...masa dia mau pulang naik motor sama aku..."
"Vin...waktu boncengan dia peluk pinggang kamu tidak?" Tanya Aina.
"Hmm....ya..."
"Vin...Bu Siska itu sudah jelas menyukaimu...tolong deh kamu jangan turuti lagi permintaannya..."
"Tapi...dia atasanku Ai..." Kilah Vino.
"Vin...mau sampai kapan akan seperti ini terus? Lama-lama juga aku tidak tahan Vin...tiap hari suamiku di goda oleh wanita lain...sedangkan aku sedang hamil..." Aina mulai menangis.
Vino mendekati istrinya itu dan membelai lembut rambutnya.
"Aina...waktu itu kan aku sudah pernah bilang, mau resign lagi dari kantor ini...tapi kamu melarangnya dengan alasan kita masih butuh uang untuk hidup kita dan calon anak kita..." Ucap Vino.
"Betul Vin...tapi sekarang....aku lebih takut kehilanganmu dari pada kehilangan uang...dan kalau kamu masih mau resign lagi...aku menyetujuinya...kita cari pekerjaan yang lain...atau buka usaha kecil-kecilan...." Sahut Aina.
"Baiklah Ai....Besok aku datang ke kantorku mengajukan pengunduran diri...aku akan membuat suratnya sekarang...."
"Kau sudah benar-benar yakin Vin?" Tanya Aina. Vino menganggukkan kepalanya.
Vino langsung bergegas masuk ke kamar dan mengambil laptopnya, kemudian dia mulai mengetik surat pengunduran diri.
"Vin...kamu lapar?" Tanya Aina.
"Iya Ai....APA ada makanan?"
"Ada...sebentar ya aku ambilkan..."
"Terima kasih sayang..."
Aina bergegas menuju ke dapur, dia mengambil sepiring nasi dan lauk untuk Vino. Dengan lahap Vino memakannya.
"Ini kamu yang masak Ai? Tumben enak..." Puji Vino.
"Itu karena kamu lapar Vin...sudah cepat makannya, setelah itu kau istirahat....katanya mau bangun pagi-pagi besok..." Kata Aina.
"Siap Bu Boss....!" Sahut Vino yang langsung menyantap makanannya dengan cepat.
**********
Tok....tok....tok...
Pagi-pagi benar sudah ada uang mengetuk pintu rumah Vino, padahal mereka masih tidur di kamar mereka.
"Siapa sih...masa jam 6 pagi ada yang bertamu?" Tanya Aina.
"Sudahlah Ai....bukakan saja pintunya....siapa tau penting...." Sahut Vino.
Lalu Aina segera beranjak turun dari tempat tidurnya dan masih memakai dasternya, kemudian bergegas menuju pintu depan untuk membukanya.
"Selamat Pagi Mbak Aina...." Senyum Desi mekar di depan pintu rumah Aina.
"Eh...Mbak Desi...ada apa ya pagi-pagi sudah nongol...apa ada hal hang penting?" Tanya Aina.
"Ini Mbak Ai....aku buat nasi uduk lho...silahkan icip-icip...." Jawab Desi sambil menyodorkan bungkusan yang berisi dua kotak nasi uduk.
"Oalaah Mbak Desi....kue bolu yang kemarin saja masih ada....ini kenapa tepot-repot bawain sarapan lagi....ah, saya jadi tidak enak belum ngasih apa-apa..." Ucap Aina sungkan.
"Tidak apa-apa lho Mbak....kita kan tetangga....oya,boleh masuk sebentar? Ada yang mau saya ceritakan lho...." Kata Desi.
"Eh...I...iya mbak...masuk yuk...tapi saya belum mandi lho..." Sahut Aina. Kemudian Desi segera masuk dan susuk di ruang tamu itu.
"Maaf mbak Ai....Mas Vinonya boleh sekalian mendengar...." Tanya Desi.
Belum sempat Aina menjawab Vino sudah muncul di hadapan mereka.
"Eh...Mas Vino...pagi Mas...." Sapa Desi.
"Pagi...ada apa nih pagi-pagi sudah bertamu?" Tanya Vino cuek.
"Vino....kok gitu tanyanya....Mbak Desi sudah membawakan kita sarapan lho..."
"Tidak apa-apa Mbak Ai....nih langsung saja saya mau cerita....saya baru dapat telepon lho dari nasabah saya...suaminya baru meninggal Minggu lalu...anaknya dua masih kecil-kecil...untung sebelum meninggal dia sudah membuat asuransi untuk seluruh keluarganya...jadi, nasabah saya berterimakasih sama saya karena asuransi memberikan santunan kematian yang cukup besar dan biaya pendidikan anak-anaknya pun di cover..." Jelas Desi.
"Masa sih Mbak....jadi kalau mereka tidak ikut asuransi...nasabah mbak Desi pasti kesusahan sekali ditinggal suami...dengan dua anak yang masih kecil..." Kata Aina.
"Mbak...memangnya berapa sih gaji seorang agen asuransi? Sampai mbak begitu ngototnya prospek kami, dari kemarin sampai sekarang...?" Tanya Vino tiba-tiba. Aina mencubit pinggang Vino yang asal bicara tanpa basa basi.
"Maaf ya Mbak Desi...suami saya memang suka ceplas-ceplos kalau bicara..." Kata Aina tak enak.
"Oh...tidak apa-apa mbak...biar makin penasaran suaminya...jadi bagaimana Mas...bisa segera saya buatkan ilustrasi asuransinya? Ingat lho pak....umur kita tidak ada yang bisa menjamin..." Tambah Desi.
"Mbak...sudah berapa banyak nasabahnya?" Tanya Vino.
"Oh...lumayan Mas...saya jadi agen asuransi sudah dua tahun...walaupun tidak harus setor muka ke kantor....tapi bisa menghasilkan uang dari nasabah saya...bahkan Kini saya sudah merasakan yang namanya pasif income..." Jawab Desi.
"Oke...aku tertarik..." Sahut Vino yang membuat Aina dan Desi membulatkan matanya.
"Wah...bagus Mas....nanti segera saya buatkan ilustrasinya..."
"Vin....kamu serius mau membuat asuransi? Yakin bisa bayar premi tidak?" Tanya Aina sambil menoleh ke arah Vino yang ada di sampingnya.
"Siapa yang bilang aku mau ikut asuransi??"
"Lho...jadi maksudmu apa Vin...??" Tanya Aina.
"Aku tertarik jadi agen asuransi....bukan tertarik ikut asuransi..." Jawab Vino cuek. Aina dan Desi saling berpandangan.
****************
cus kesini....
Ttp semangat, Thor!!!!!!
trima kasih thor cerita bagus👍👍
good