Misi tak terpecahkan Lucius Malcom, si jaksa tampan yang jenius adalah mencari seorang wanita muda nan cantik bernama Edith. Sudah hampir tiga tahun Edith menghilang tanpa jejak. Lucius sudah mencarinya ke segala penjuru dunia, namun hasilnya selalu nihil.
Sampai pada suatu malam, seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa mayat wanita muda yang mengenakan cincin berlian hijau milik Edith telah ditemukan.
Dan di tengah-tengah kesibukannya bekerja dan menyelidiki kasus tersebut, Lucius mulai mencurigai keterlibatan Monica, istrinya dalam kasus yang diselidikinya. Hingga mengancam keutuhan rumah tangga yang sudah mereka bangun selama tiga tahun.
Apakah dengan menyelidiki kasus cincin berlian hijau Edith, Lucius Malcom dapat menyelesaikan misinya?
Sebenarnya rahasia apa yang dipendam Edith hingga ia lenyap ditelan bumi?
Dan apakah pada akhirnya Lucius dan Monica berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka berdua?
Penuh ketegangan dan intrik, ikuti misteri yang ada di dalam cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - HTHC
Aku membaca dengan teliti data-data yang berhasil dikumpulkan oleh kepolisian.
"Nomor mesin dan rangka mobil sudah berhasil teridentifikasi, tapi mobil ini tidak terdaftar memiliki STNK dan BPKB. Seperti mobil hantu saja. Mobilnya nyata ada tapi tidak memiliki identitas. Kasus ini jadi makin sulit dipecahkan," geramku kesal.
"Huh... Sebenarnya mobil itu milik salah satu korban atau mobil sewaan sih? Atau ada orang yang meretas data kantor SAMSAT pusat (tempat yang menyimpan data identitas pemilik mobil) dan sengaja menghapus data pemilik mobil itu? Hingga pihak kepolisian mengalami kesulitan untuk memecahkan kasus ini?" gumamku.
Tiba-tiba saja sebuah pemikiran negatif meluncur di kepalaku.
Meretas data dan menghapus data, apakah Monica yang melakukannya? Bukankah kasus ini memiliki persamaan seperti kasus Orlene, jadi mungkin saja Monica terlibat dalam kasus ini. Aduh kenapa setiap ada peretasan dokumen membuatku berpikir bahwa Monicalah dalang semua ini, batinku.
Kriet...
Andrew masuk ke dalam ruangan, duduk di sofa kembali akan menekuni pekerjaannya. Membuat pikiran negatifku teralihkan.
"Andrew," panggilku.
"Ya, ada apa, Pak?" jawab Andrew sambil berdiri lalu berjalan tegap mendekatiku.
"Jika ada sebuah pembunuhan yang ingin disamarkan menjadi sebuah kecelakaan mobil, bukankah pelaku akan menutupi jejaknya dengan membuang pelat nomornya atau menggantinya dengan pelat nomor palsu dan membiarkannya terbakar kan?" tanyaku pada Andrew yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Tapi kenapa kasus kecelakaan tiga orang wanita ini malah memunculkan pelat nomor palsu yang tidak terbakar? Seperti wallpaper ponsel di kasus Orlene bukan? Untuk apa ada ponsel baru mahal hanya untuk menunjukkan bahwa foto mayat Orlene pukul 17.00," ucapku sambil membuka foto pelat nomor mobil di laptopku.
"Delapan belas dua puluh," gumamku.
"Tujuh belas, delapan belas, dua puluh," ucapku sambil mencoret-coret kertas hvs putih di hadapanku.
"Angka apa ini?" tanya Andrew yang sudah berada di sampingku dan memperhatikan angka-angka yang aku tulis.
"Entahlah. Apakah ini nomor urut tujuh belas, delapan belas, sembilan belas dan dua puluh?" gumamku.
"Mungkin saja, Pak. Karena angka-angka ini tidak menunjukkan pola atau apapun yang berarti. Jadi untuk saat ini dapat kita simpulkan bahwa ini adalah deretan angka biasa seperti nomor urut dari tujuh belas sampai dua puluh. Hmm... Lebih baik kita lihat lagi foto wall paper ponsel bergambar mayat Orlene, mungkin ada petunjuk yang kita lewatkan, Pak," ucap Andrew.
"Ya, ayo kita cermati lagi," jawabku.
Aku lalu membuka foto wall paper ponsel bergambar mayat Orlene. Kami berdua segera mengamati foto wall paper ponsel. Tapi kami berdua tidak menemukan petunjuk baru yang berarti.
"Apakah bapak punya foto ponselnya? Ponsel mahal yang dibuang begitu saja di taman kota," tanya Andrew yang penasaran ingin mengetahui type ponsel yang ada di taman kota, TKP penemuan mayat Orlene.
"Punya, ini," jawabku sambil menunjukkan foto ponsel yang dibuang di taman kota.
"Sebuah ponsel dengan warna hijau tosca yang mencolok," ucapku lagi sambil terus memandangi foto ponsel itu.
"Wow, ini ponsel keluaran terbaru milik Hope Corporation. Ponsel ini sedang gencar dipromosikan, Pak. Banyak orang yang menyukai fitur baru yang dihadirkan dalam ponsel itu dan harganya juga masih ramah di kantong, sekitar 2 juta rupiah. Sehingga dalam sekejab, ponsel itu sudah sold out di beberapa outlet milik Hope Corporation. Dengar-dengar memang limited edition juga sih. Sementara ini, belum dijual dalam jumlah besar dahulu. Jika marketnya bagus, maka akan ada second production," jelas Andrew.
"Hope Corporation?" tanyaku kaget karena mendengar kata Hope Corporation sekali lagi.
Andrew mengangguk dan tiba-tiba wajahnya juga berubah kaget.
"Luna, Love, Orlene diangkat anak oleh Hope Corporation. Lalu ponsel yang ditemukan di TKP kasus Orlene juga keluaran Hope Corporation. Apakah ini sebuah kebetulan atau kesengajaan?" tanya Andrew sedikit cemas.
"Apakah Luna alias Ibu Monica terlibat di dalamnya, Pak?" tanya Andrew lagi dengan nada cemas dan gelisah.
"Entahlah, Andrew. Kepalaku jadi pusing dan hatiku sesak jika muncul prasangka buruk pada istriku sendiri," ucapku sambil menghela napas panjang.
Andrew juga menghela napas panjang. Aku tahu pasti Andrew cemas dan gelisah karena dia juga tidak mau Monica menjadi tersangka pembunuhan Orlene.
"Sekarang, mari kita lihat pelat nomor mobil ini," pintaku pada Andrew untuk mengalihkan kesesakan hati kami berdua.
"H 1820 THC," ucap Andrew.
"THC apakah ini mengacu pada HC Hope Corporation?" tanyaku pada diriku sendiri.
"Lalu bagaimana dengan T di depannya huruf HC?" tanya Andrew.
"Entahlah, aku hanya menebaknya saja," jawabku masih menerka-nerka maksud simbol HTHC.
"Tunggu sebentar, Andrew. Sepertinya baru-baru ini aku pernah melihat sebuah simbol bertulis huruf HTHC," ucapku cepat-cepat keluar dari ruang kerjaku.
Aku segera masuk ke dalam kamar tidurku, mencari brosur-brosur klinik kandungan yang akan didatangi kami berdua minggu depan. Monica mengatakan bahwa ada terapi suntik di klinik kandungan yang dapat membantu pasangan yang kesulitan memiliki buah hati untuk segera menimang buah hati.
Aku ingat Monica mengatakan bahwa brosur dan surat persetujuan untuk ikut terapi suntik itu ada di kamar tidur. Jadi aku segera mencarinya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur. Dan aku menemukan sebuah amplop warna putih dengan simbol bulat warna hijau di kiri atas. Empat huruf besar tertulis di tengahnya, HTHC.
"Got it!" pekikku senang karena berhasil mengartikan arti huruf yang ada di pelat nomor mobil yang menewaskan tiga orang wanita.
Aku segera membawa amplop putih itu kembali ke ruang kerjaku.
"HTHC artinya Hope To be Health Corporation, Andrew. Lihatlah simbol ini!" perintahku pada Andrew.
Andrew langsung berjalan cepat mendekatiku, memperhatikan simbol yang ada di amplop putih.
"Iya, Pak. Benar sekali. Bagaimana bapak bisa tahu secepat ini kalau simbol HTHC ada di amplop putih ini?" tanya Andrew dengan mata membulat kaget.
Dan aku tersentak kaget mendengar pertanyaan Andrew. Jantungku langsung berdetak kencang.
Monica, dialah yang membawa amplop putih ini ke kamar tidur. Memintaku membacanya sebelum menanda tangani surat persetujuan terapi suntik. Apakah Monica benar-benar terlibat dalam kasus ini? batinku.
Kecurigaanku pada Monica tiba-tiba membuncah lagi makin membesar. Aku benar-benar tak menyangka kenapa setiap aku menemukan petunjuk-petunjuk baru kasus Orlene dan kasus tiga wanita itu, selalu saja melibatkan Monica. Sungguh aneh sekali. Monica, sebenarnya siapakah dirimu? Kenapa kau terlibat dalam kasus pembunuhan? Kau adalah istriku, aku memilihmu menjadi istriku karena kau cantik, polos dan pandai memasak. Kenapa sekarang kau menjadi seorang wanita yang jauh dari penilaianku sebelum ini? Menjadi misterius dan sangat mengerikan seperti ini? batinku.
"Pak, kenapa wajah bapak pucat sekali?" tanya Andrew sambil menggoyang-goyangkan kedua lengan atas tanganku.
"Maaf, aku melamun tadi," ucapku segera duduk di sofa yang ada di tengah ruang kerja.
Kutenangkan detak jantungku sambil mengelus dadaku perlahan-lahan.
"Tenang, tenang," gumamku sambil meminum teh pahit yang ada di dalam gelas untuk meredakan rasa kaget yang baru saja menyerangku.
Andrew langsung berjalan dan duduk di sampingku.
"Pak, apakah ada masalah besar yang terjadi? Tak biasanya wajah bapak pucat seperti ini," tanya Andrew yang jelas-jelas sangat khawatir dengan kondisiku saat ini.
"Sepertinya Monica memang terlibat dalam kasus Orlene dan kecelakaan tiga wanita itu, Andrew," ucapku setelah menghembuskan nafas panjang.
Mata Andrew yang bulat besar terbelalak kaget tak dapat disembunyikan lagi. Dia hanya dapat menutup mulutnya yang menganga besar agar tidak kemasukan lalat.
Aku kembali menghela nafas panjang.
tapi kenapa peminatnya dikit ya🤔
Mampir ya ke Ibu Tunggal
Terima kasih 🙏