Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.
Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.
Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.
Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.
Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.
Ikuti kisahnya sampai akhir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan
Hubunganku dengan Mas Rezky menjadi semakin baik dan harmonis, tidak ada lagi kata-kata kasar dan penghinaan yang aku dengar darinya. Jika sedang marah, dia akan menghindar sebentar dan akan kembali saat sudah baikan.
Sekarang, akulah yang sering mengomel padanya. "Mas, ini tuh di taruh di kamar mandi, jangan di kursi!" Apalagi kalau bukan handuk yang tersebar seenak hati setelah dipakai.
"Iya, maaf. Aku kan lupa," cicitnya.
"Ckk! Lupa, kok, tiap hari. Aku gak mau, ya, kalau nanti anakku meniru sifatmu!" Ucapku seraya mengelus perutku karena berdasarkan hasil pemeriksaan beberapa hari lalu, aku dinyatakan tengah mengandung usia 4 minggu.
"Sifat apa, sayang?" Dia yang telah selesai menyisir rambutnya, lantas mendekat kepadaku. Meraih handuk basah yang ada di tanganku dan membawanya ke kamar mandi.
"Pokoknya, kalau anakku cowok jangan sampai dia suka naruh handuk seenak jidat, gak mau!" Omelku, meski saat ini handuk itu telah diletakkan di tempat yang semestinya oleh si empunya.
"Iya, gak lagi-lagi, deh. Maaf, dah jangan ngejan mulu, nanti bayinya keluar, bagaimana?"
"Hei! Apa katamu, Mas? Baby baru usia sebulan sudah doain keluar aja? Sembarangan!" Semburku marah.
Kulihat Mas Rezky meringis dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal, dia terlihat serba salah. Benar, memang sudah seharusnya aku saja yang benar.
"Yang, kamu benci aku atau gimana, sih? Kok, aku dimarahin mulu?" Tanya dia yang memeluk tubuhku dari belakang.
"Jangan sentuh, ah. Bau, ini bawaan anaknya deh, kayaknya. Gak suka sama bapaknya yang nyebelin," ujarku sepenuh hati.
Kuhempaskan tangannya dari tubuhku dengan sedikit kasar, memang suasana hatiku bisa berubah seketika saat melihat dia berbuat kesalahan meski pun kecil atau yang semula beruapa kesalahan yang tak kasat mata, menjadi besar di mataku.
"Astaghfirullah, Mas!" Pekikku.
"Apa lagi, Yang?" Saut Mas Rezky tekejut, dia segera bangkit dari posisi setengah berbaringnya dan turun dari ranjang.
"Kan aku sudah bilang, kamu tidur di sisi kanan. Aku kiri, aku yang sebelah kiri, ih!" Ujarku menggebuk tubuhnya dengan bantal.
"Astaghfirullahaladzim, ampuni hamba!"
"Gak usah ikut-ikutan nyebut!" Tukasku.
"Laillahaillallah muhammadar rasulullah, Gusti. Tolong kuatkan hamba menghadapi istri hamba yang super power ini, berilah kesabaran yang lebih,"
Beberapa hari sebelum memeriksakan diri ke dokter obgyn, suasana hatiku sangat buruk. Ada emosi yang berubah-ubah sangat cepat, cepat menangis, cemat marah, cepat bahagia, semua berlangsung serba cepat.
Seperti saat ini, tiba-tiba aku ingin menangis.
"Kenapa?"
"Kangen abah mama," ujarku yang tiba-tiba teringat abah dan mama.
Mas Rezky memang semakin baik padaku, kadang–dia berubah jadi seseorang yang aku harapkan, tetapi hanya kepadaku; tidak dengan keluargaku.
Dia masih bersikap sama jika dengan keluargaku; aku yang tidak boleh datang ke sana jika tidak ada urusan sepenting itu; tidak boleh berhubungan atau menelepon. Ya, masih sama. Entah, apa yang membuatnya bersikap seperti itu.
"Boleh aku berkunjung ke sana besok?" Izinku.
"Kalau gak penting, gak usah!" Jawabnya.
"Ini penting karena sedang rindu berat. Dan ini tentang kehamilanku, nanti aku akan menangis terus," alasanku.
"Ya," jawabnya singkat, padat. Jadi, aku tidak ingin bertanya lebih selagi kata 'ya' saja cukup dan berarti sudah mengiyakan.
"Sya, Daisya! Cepat kemari!" Suara mama mertua, pagi-pagi pasti mama akan memanggilku untuk cepat turun dan menyusulnya di dapur. Bergegas aku menemui beliau di tempat biasa.
"Iya, Ma?"
"Ini, cepat minum dulu susunya. Jangan sampai kelewat," ujar Mama yang tengah menyeduh susu khusu ibu hamil untukku.
"Habiskan," kata Mama, meski sebenarnya aku tidak suka aroma susunya.
Setelah habis, aku merasa mual karena aroma yang masih menguar di indera penciumanku. Lantas, menuju wastafel untuk mengeluarkannya.
"Hus, sudah? Memang biasanya gitu kalau hamil muda, gak papa," kata mama mertua seraya mengusap bibirku yang basah karena air basuhan.
Sekarang, bukan hanya suamiku yang berubah menjadi semakin baik, tetapi mertuaku juga lebih perhatian padaku.
"Hei, mau apa?" Tanya Mama menyentak saat aku memgambil cutting board dan akan memotong seledri.
"Ngiris ini, Ma," jawabku mengangkat seledri ke atas.
"Udah, gak usah. Sana nonton TV aja atau berjemur di teras mumpung masih pagi, jangan di sini nanti mual-mual. Sana, sana!" Usir mama padaku. Sebenarnya, beliau sedang memberikan perhatian padaku, tetapi memang nada bicaranya yang judes dan tidak mau terlihat rasa sayangnya.
Akhir-akhir ini, aku malah jarang mengerjakan pekerjaan rumah seperti dulu. Selalu ini dan itu mama larang, malah membawa ART lain untuk melalukan pekerjaan rumah. Sedangkan aku, boleh bersantai-santai ria dan hanya diminta fokus menjaga si jabang bayi dalam perutku.
Matahari pagi memang memghangatkan, tetapi terlalu lama berada di bawahnya juga mudah membuat aku berkeringat. Menyingkirlah aku ke tempat yang teduh.
"Sya?" Suara itu memanggilku. Suamiku yang sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat kerja.
"Mas? Sudah siap? Memang sudah sarapan?" Tanyaku mendekat ke padanya di dekat pintu.
"Nggak, nanti di kantor aja. Ini," jawabnya seraya memberikan ponselku padaku.
Sedikit aneh, kenapa dia membawa ponselku dari dalam kamar. "Oh, kenapa dibawa ke sini?"
Dia pun terlihat heran, "barangkali mau memotret awan," jawabnya.
Tentu itu bukan ide bagus karena aku tidak pandai memotret apapun. Setelah kepergian Mas Rezky, ponselku berdering, nama Nabilah tertera di layar.
"Halo, assalamualaikum, Buy. Ada apa?"
"Waalaikumsalam, mbak, mbak lagi ada masalah apa sama Mbak Nuri?" Tanya Nabilah tiba-tiba.
"Masalah apa, Buy? Gak ada, kok," ujarku. Mbak Nuri adalah kakakku.
"Katanya, tadi mbak marah-marah di chat masa Mbak Nuri pas dikasih tahu kabar kondisi Abah," kata Nabilah.
"Sya, kemari, Nak," panggil mama mertua dari dalam rumah.
"Buy, mbak tutup dulu ya teleponnya, ada perlu sama mama mertua," ucapku sebelum mengakhiri obrolan kami.
Sepanjang kaki melangkah, pikiranku terus bertanya-tanya, "kenapa Nabilah bilang lagi ada masalah sama Mbak Nuri? Aku tidak merasa chatting dengan Mbak Nuri, bahkan sejak lama."