Menikah adalah hal yang tak akan Aleeya Addhitama impikan. Dia tak ingin mengecewakan siapapun laki-laki yang bersedia menikahinya karena dia sudah menjadi wanita yang tak sempurna.
Untuk sekarang dan ke depannya dia hanya ingin menikmati karmanya. Menjauh dari keluarga karena dia tidak ingin mencoreng nama baik keluarga besarnya. Dia sudah melakukan sebuah kesalahan besar yang menurutnya tidak bisa ditolerir.
Ada trauma yang tidak bisa dengan mudah disembuhkan. Ada luka yang menganga yang begitu dalam. Itulah yang membuat Aleeya tidak berani untuk membuka hatinya. Walaupun ada pria yang mendekatinya, dia menekankan pada si pria itu untuk tidak mengharapkan balasan cinta darinya.
"Aku tak melarang kamu mencintaiku, tapi jangan berharap balasan cinta dariku."
Apakah Aleeya memilih melajang seumur hidup? Atau akan datang seorang pria lain yang tulus mencintainya dan bersedia meminangnya? Walaupun Aleeya sudah tak sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Sisi Terapuh
"Nak, ikutlah dengan Papa. Kita akan hidup bahagia dengan Ibu kamu. Kamu, Papa dan Mama."
Khairan tersenyum tipis ketika mendengar kalimat itu. Tatapannya begitu tajam dan tanpa kata permisi dia pergi dengan tangan yang tak pernah melepaskan tangan Aleeya.
Dewangga hanya bisa menatap punggung Khairan yang kini semakin menjauhinya. Hembusan napas berat keluar dari mulut Dewangga.
"Saya ayahmu, Khairan."
.
Baik Aleeya maupun Khairan sama sekali tak membuka percakapan selama di dalam mobil. Mereka menumpangi taksi menuju kediaman Khairan. Namun, sedari tadi tangan Khairan tak pernah sedetik pun melepaskan tangan Aleeya. Seakan dia membutuhkan seseorang untuk mendampinginya menghadapi masalah yang sedang dia hadapi.
Khairan melihat ke arah halaman depan ketika dia tiba di rumahnya. Tak ada mobil sang ayah dan itu menandakan jika ayahnya tidak pulang ke rumah tersebut.
Pintu kamar tamu Khairan buka. Dia membawa Aleeya masuk ke dalam kamar itu.
"Istirahatlah!"
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Khairan. Lelaki yang biasanya tak pernah berkata lembut kepada Aleeya kini seakan tak punya kekuatan untuk bersikap galak kepadanya. Khairan mengusap lembut ujung kepala Aleeya. Senyum yang biasa terukir di wajah Khairan pun kini menghilang. Lelaki itu membalikkan badan dan melangkah menuju pintu.
"Khai--"
"Gua ingin sendiri dulu, Al."
Tanpa menoleh sedikit pun Khairan membalas ucapan Aleeya. Lelaki itu sudah menutup pintu dan hati Aleeya terasa sangat sakit.
"Gua tahu lu rapuh, Khai."
Mata Aleeya tak bisa terpejam. Dia mencoba untuk mengirim pesan kepada Khairan, tapi hanya ceklis satu. Rasa khawatir mulai menguar. Aleeya takut jika terjadi apa-apa dengan Khairan.
Dia melihat ke arah jam dinding di mana jarum panjang menunjukkan pukul delapan malam. Aleeya mencoba untuk keluar dari kamarnya. Langkah pelannya membawa Aleeya mengelilingi rumah Khairan yang tidak semewah rumah orang tuanya. Tidak ada tanda-tanda jika Khairan ada di rumah itu. Hembusan napas kasar pun keluar dari mulutnya.
Ketika Aleeya hendak kembali ke kamar, dia mendengar suara Isakan yang begitu pelan. Namun, cukup jelas. Aleeya mencari suara tersebut dan tubuhnya menegang ketika dia melihat seorang lelaki yang sedang terduduk di depan sebuah kamar yang gelap. Punggungnya bergetar dan Isakan kecilnya terdengar begitu lirih.
Perlahan kaki Aleeya mendekati lelaki itu. Dia berdiri tepat di depan lelaki yang masih menunduk. Tersadar ada bayangan, lelaki itu mendongak dengan wajah yang basah. Lelaki itu mencoba untuk tersenyum dan mengusap wajahnya yang basah.
Aleeya tak berkata, dia ikut duduk di samping lelaki itu. Seketika tangis lelaki itupun pecah. Aleeya memeluk tubuh Khairan dan Khairan menumpahkan tangisnya di dalam pelukan Aleeya. Tak terasa air mata Aleeya pun ikut menetes.
"Gua akan selalu ada di samping lu sama seperti lu yang selalu ada di samping gua."
Begitulah janji seroang Aleeya Addhitama kepada Khairan Kharisma di dalam hatinya.
Cukup lama Khairan menangis, akhirnya lelaki itu memundurkan tubuhnya. Aleeya mengusap lembut wajah Khairan yang sangat basah.
"Apa sudah lega?" Khairan pun menjawabnya dengan sebuah senyuman. Apalagi wajah Aleeya kali ini begitu sejuk membuatnya merasa tenang.
"Makasih, ya."
"Untuk?"
"Mau menemani gua dalam kondisi seperti ini. Gak pergi ketika gua menunjukkan sisi terapuh gua." Mata Khairan tak bisa berdusta. Di balik sikapnya yang galak, judes ada hati yang begitu lembut yang mudah untuk tergores.
"Kenapa gua harus pergi? Bukankah semua orang memiliki sisi lemah. Itu hal lumrah, Khai. Itu manusiawi." Tangan Aleeya membenarkan rambut Khairan, dan senyumnya memberikan kehangatan untuk Khairan.
"Makin sayang deh sama lu." Aleeya hanya tertawa.
Nyamannya tubuh Aleeya membuat Khairan terus memeluk Aleeya. Dia pun menyandarkan kepalanya di bahu sempit miliki adik dari Aleena tersebut.
"Khai, apa lu percaya sama perkataan pria tadi?"
Perlahan Khairan menegakkan tubuhnya. Dia menatap Aleeya dengan tatapan tajam.
"Sorry kalau gua--"
"Gua bukan anak kecil, Al. Gua juga gak akan mencerna mentah-mentah apa yang Pak Dewangga katakan."
Aleeya menghela napas lega. Dia hanya takut Khairan akan membenci ayahnya tanpa mencari tahu kebenarannya seperti apa.
"Walaupun dia menjelekkan ayah sampai ke akar-akarnya, gua gak akan pernah membenci ayah. Selama gua hidup gua hanya mendapat kasih sayang dari ayah yang sekaligus ibu untuk gua."
...***To Be Continued***...
Komen dong ...
terjadi saat alm.kakak kandung saya meninggal... segalak (yg negatif) apapun dia ke saya ...tetap saya urus sd pemakaman sementara saudara yg lain lepas tangan.
lanjut baca ah..😊
ketika mendengar doa anak2 ny yg mustajab 😁😁😁