Di cintai dengan tulus oleh pasangan merupakan impian bagi seseorang yang menjalin hubungan.
Mengisahkan perjuangan cinta anak sekolah antara Nasya dan Aditya. Aditya beberapa kali menyatakan perasaannya, namun di buat menunggu oleh keputusan Nasya untuk tidak menjalin hubungan dekat sampai mereka lulus SMA. Walau begitu, Aditya setia menunggu jawaban Nasya setelah nantinya lulus SMA.
Mereka berdua menjalin persahabatan sejak pertama kali mereka bertemu. Selama bersekolah mereka sangat bahagia dan nyaman satu sama lain sebelum datang wanita yang mengaku kekasih Aditya yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Bagaimana kisahnya? Apakah hubungan mereka berjalan dengan mulus atau tidak?
Selamat Membaca 💫
Dukung karya ini dengan ➡️ Like, Subscribe, vote, dan komentar terbaikmu. Terima kasih.
Salam hangat dari Author💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vincar:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 35 Kehadiran Arman
Selang beberapa detik, akhirnya Agnes mengingat bahwa Arman adalah sepupunya. Sewaktu kecil mereka sering bermain dan kejar-kejaran di sekitar area perkebunan jeruk ini.
Tetapi saat Agnes menginjak usia 5 tahun, ayahnya Agnes mendapat pekerjaan di Jakarta dan mereka terpaksa membawa Agnes bersama mereka. Sekitar 11 tahun mereka tidak bertemu dan akhirnya Agnes bisa bertemu lagi dengan sepupunya Arman.
"Si Arman makin ganteng aja," celutuk Agnes.
"Hehehe kamu juga Nes, makin cantik." Arman dan Agnes saling bersenda gurau seraya melepas rindu.
"Oh ya, Arman. Ini teman-temanku dari Jakarta. Mereka datang ke sini untuk mengantarku," ungkap Agnes yang memperkenalkan teman-temannya.
"Ha-hai," ucap Mira dan Priskila hampir bersamaan.
Priskila dan Mira pun terpesona dengan ketampanan yang di miliki oleh Arman. Kulit bersih dengan alis tebal memberi kesan wajah maskulin dan tegas. Di tambah dengan postur tubuh yang tinggi dan berisi membuat teman-teman wanita Agnes terpesona.
Rafael yang melihat Priskila menatap Arman dengan mata tak berkedip membuatnya berdecak kesal. Lalu Rafael pun menarik tangan Priskila yang melihat Arman dengan tatapan yang berbeda.
"Ish ... apaan sih narik narik." Priskila berdecak kesal ketika Rafael menarik paksa tangannya.
"Wow ... sempurna," ucap Nasya dan Mira yang hampir bersamaan dengan suara kecil namun masih di dengar oleh Aditya.
"Ehem ... hem." Suara Aditya yang berdehem ke arah Nasya.
Mendengar suara aneh dari sampingnya, Nasya langsung menoleh ke arah Aditya. "Kenapa, Adi? Apakah kamu batuk?"
"Jangan melihat Arman seperti begitu," bisik Aditya.
"Emangnya kenapa?" tanya Nasya.
"Aku takut kamu terpesona dengan sepupunya Agnes," tutur Aditya seraya memutar kedua bola matanya.
Lalu Nasya sedikit tertawa dengan apa yang di katakan oleh Aditya. "Oh, kamu cemburu ya."
"Perkenalkan nama saya Arman. Saya seumuran dengan sepupu saya Agnes dan saya duduk di bangku SMA kelas 11." Perkenalan singkat dari Arman.
Mereka pun saling memperkenalkan diri dan bersalaman kecuali Aditya dan Rafael yang merasa tersaingi dengan kehadiran Arman.
"Ayo, Nek. Kita cari jeruk yang matang, jangan lama-lama di sini," kata Rafael yang cemburu melihat Priskila yang tidak bergeming sama sekali.
"Benar kata Rafael, nanti kalau lama kita kesorean pulang ke rumah," ucap Aditya yang mendukung Rafael.
"Apakah saya bisa bantu mencarinya," ujar Arman yang menawarkan bantuan.
"Boleh dong," sahut Agnes.
Mereka pun berpencar untuk mencari jeruk yang sudah matang.
Setelah mereka berpencar, Aditya mendekati Nasya dan mengatakan sesuatu. "Kamu gak tertarik kan sama Arman sepupunya Agnes?" tanya Aditya yang penasaran.
"Kalau tertarik emang kenapa?" Ledek Nasya seraya memetik jeruk di depannya.
Mendengar jawaban dari Nasya, Aditya hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa.
Di sisi lain, Rafael yang cemburu langsung menarik tangannya Priskila agar tidak memetik jeruk bersama dengan Arman. Arman sedikit kebingungan dengan tingkah teman-temannya Agnes.
"Lihat tuh, kalau sudah punya pasangan kita langsung di cuekin," ucap Mira yang memetik jeruk bersama dengan Agnes.
"Mungkin mereka cemburu sama Arman," ungkap Agnes sambil tersenyum.
Setelah memetik beberapa jeruk yang sudah matang, mereka pun beristirahat di bawah pohon sambil mencicipi jeruk yang sudah mereka petik.
"Emm ... manis sekali," ucap Nasya yang memuji rasa jeruk.
"Jeruk ini namanya jeruk Valencia," ucap nenek Wati.
Jeruk di kenal dengan cita rasa yang manis dengan kulit cenderung tipis, hanya memiliki beberapa biji, dan memiliki kandungan air yang banyak.
Keluarga Agnes menyerahkan sepenuhnya urusan perkebunan kepada nenek Wati. Terkadang nenek Wati membagikannya kepada tetangga. Agar tetangga juga menikmati hasil perkebunan jeruk miliknya.
****
Hari sudah mulai malam dan waktu sudah menunjukkan pukul 18:00. Kemudian mereka pun merapikan diri dan bergegas untuk segera pulang ke rumah.
Mereka pun kembali berjalan dan menyusuri sungai yang tadi dan jalanan yang masih becek dan berlumpur.
Nenek Wati mengajak Arman untuk pergi bersama mereka ke rumah. Awalnya Arman menolak, tapi Agnes meminta untuk tinggal semalaman bersama mereka dan teman-temannya.
Sepanjang perjalanan, Aditya terus berjalan di samping Nasya untuk memastikan agar tidak terpeleset dan jatuh.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah Agnes. Dan mereka segera membersihkan diri.
"Aduh ... dingin sekali airnya," ujar Rafael yang merasa kedinginan sehabis mandi.
"Idih, manja sekali nih anak," ledek Agnes seraya melirik Priskila.
Mereka menunggu giliran untuk membersihkan di kamar mandi. Karena kamar mandi di rumah Agnes hanya ada dua. Yang satu khusus laki-laki dan satunya lagi khusus perempuan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08:30, seluruh keluarga Agnes dan teman-temannya berkumpul di ruang tamu sambil bersenda gurau dan menonton televisi.
Mereka seling melempar candaan satu sama lain seraya menikmati jus jeruk yang sudah mereka petik di perkebunan.
Ruang tamu di rumah Agnes cukup luas untuk mereka yang akan menginap.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan Aditya tidak bisa tidur. Aditya pun pergi keluar untuk sekedar melihat pemandangan malam di luar rumah.
Tiba-tiba dari arah belakang Aditya, terlihat Arman yang menghampirinya.
"Kenapa tidak tidur, ini sudah malam?" tanya Arman seraya membawa secangkir teh panas.
"Saya tidak bisa tidur."
"Kamu mau teh?" tanya Arman sambil menyodorkan secangkir teh panas kepada Aditya.
"Tidak, terima kasih."
"Baiklah. Ngomong-ngomong gadis yang berbaju merah tadi, pacar kamu?" tanya Arman sambil meminum teh hangat.
Aditya seketika terdiam dan langsung menoleh ke arah Arman.
"Iya ... emang kenapa?" tanya balik Aditya yang berpura-pura sambil menyilang kan tangan di depan dada.
"Dia gadis yang cantik," ucap Arman yang memuji kecantikan Nasya.
"Ya, dia memang cantik!" tegas Aditya dengan nada sedikit cemburu.
"Kamu beruntung memilikinya. Selain cantik, orangnya juga ramah dan sopan," puji Arman yang masih dengan Nasya.
Mendengar pujian dari Arman mengenai Nasya, membuatnya Aditya semakin berdecak kesal. "Terus, kamu suka?"
"Siapa yang gak suka dengan gadis cantik, apalagi orangnya ramah dan sopan," ungkap Arman.
"Ngomong-ngomong pacar kamu namanya siapa?" tanya Arman.
"Maaf saya tidak bisa jawab. Saya ngantuk dan ingin masuk dulu. Besok aja kita lanjutkan," sahut Aditya yang berdecak kesal sambil meninggalkan Arman di teras.
Arman hanya terlihat kebingungan seraya memandang Aditya yang sudah masuk ke dalam rumah. "Dia kenapa?" tanya Arman dalam hati.
Aditya merasa cemburu dengan pujian yang di berikan Arman kepada Nasya. Lalu Aditya pun segera membaringkan tubuhnya di samping Rafael dan berusaha untuk tidur.
Malam ini terasa panjang bagi Aditya yang sedang di landa api cemburu. Dia ingin cepat-cepat pagi agar bisa pergi dari rumah Agnes dan tidak bertemu lagi dengan Arman.
"Besok aku harus mengajaknya cepat-cepat pulang," gerutu Aditya yang kesal dengan Arman yang menyukai Nasya.
"Adi, kamu kok gelisah banget? Lagi mikirin apa sih?" tanya Rafael yang sedang menyelimutinya dengan selimut.
"Itu si Arman sepupunya Agnes, dia suka sama Nasya," bisik Aditya.
"What! Wajar sih. Nasya itu kan cantik," ledek Rafael pada Aditya.
"Ish ... kamu ini."
"Oke, maaf. Jadi apa rencanamu besok?" tanya Rafael yang penasaran.
Bersambung.
Semoga harimu menyenangkan 💫
Aku masih pegang Adit Nasya nih. Tapi kalau Arman lebih gentle keknya bisa kali 😏😏😏
Coba Rafa jadi alim dikit
Berasa nyewa di sini