Blurb:
Jenie dan Juno adalah siswa yang mengalami perjodohan semenjak lahir tanpa mereka ketahui. Namun, kenyataannya mereka selalu saja bertengkar.
Pada sebuah malam, Jenie ketiduran di dalam kamar Juno tanpa sengaja. Saat menyadari ada lelaki tidur di dekatnya, tanpa sadar Jenie berteriak hingga membuat warga yang ronda menghapiri mereka.
Mereka berdua tampak dalam satu kamar, membuat warga yang ronda itu murka. Maka, terjadi lah pernikahan meskipun mereka dalam usia sekolah. Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka? Apakah kisah perjodohan yang menjadikan mereka jodoh beneran akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
36. Ikut Suami
Namun, Jenie tidak bisa menanggapi ucapan pria itu. "Ekhem, jadi ... Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Jenie kembali.
"Ya, tentu." Pria itu menguarkan sesuatu dari dalam jas nya. Ia menaruh sebuah lipatan origami berbentuk angsa bewarna merah muda.
Mata Jenie terbelalak besar melihat lipatan itu. Dengan cepat ia menarik angsa kertas itu, dan menyimpannya.
"Kamu bisa membacanya dan aku akan menunggu jawabannya secepatnya." Pria itu beranjak dan meninggalkan Jenie yang menggenggam angsa kertas tersebut dan menatap punggung pria yang sudah sangat lama tak ia jumpa.
Jenie membuka lipatan demi lipatan angsa tersebut. Di sana, tertulis kata-kata indah yang membuat Jenie terduduk menutup mulut. Jenie segera memasuki pintu yang ada di belakangnya.
"Nia, tolong bantu gantikan aku sejenak. Aku harus keluar saat ini juga." Jenie buru-buru keluar kembali.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nia lagi.
Namun, Jenis sudah menghilang. Ia lewat pintu samping mencari sosok yang baru saja memberikan sebuah surat cinta yang sudah sangat lama tidak ia dapatkan lagi. Setelah melihat laki-laki itu, Jenie berlari sekencang yang ia bisa dan langsung masuk ke dalam pelukannya.
"Akhirnya ... Akhirnya kamu kembali juga?" isaknya dalam dada pria tampan itu.
"Kamu j4hat, setelah lima tahun kamu, baru kembali lagi." Jenie melepaskan pelukannya mengusap air mata.
"Kamu tahu, apa yang kamu lakukan padaku selama ini? Kamu sungguh kej4m."
Laki-laki yang tak lain adalah Juno, suami yang lima tahun lalu meninggalkannya tanpa alasan yang pasti. Meskipun ia selalu menelepon Jenie, tentu saja semua berbeda setelah kepergiannya yang tidak jelas itu. Juno menarik kembali gadis yang telah diikat dalam tali pernikahannya.
"Hari ini, aku sengaja menjemputmu. Ayooo, kamu harus ikut aku ke sana! Aku sudah memiliki pekerjaan yang mapan di sana. Kali ini, aku akan memamerkan istriku kepada mereka yang selalu meledekku saat mengatakan bahwa aku ini sudah menikah."
Jenie membenamkam dirinya kembali dalam pelukan itu. Pelukan yang sangat nyaman baginya. Pelukan yang ia rindukan, terlebih lagi ketika Juno tak pernah pulang, dan langsung menuju Harvard saat menamatkan sekolahnya.
"Kenapa kamu jauh banget? Kamu sengaja menjauh dariku ya?" isak Jenie lagi.
Juno menarik dagu Jenie, ia mengusap air mata itu. "Yaaa, karena aku tidak mau mencoreng namamu di mata orang lain. Aku tidak ingin orang menganggap pernikahan kita karena acident, kamu hamil duluan. Setidaknya, sekarang tidak ada lagi yang berani meremehkan istriku ini." Juno mengecup kening sang istri.
"Tapi, apakah sekarang sudah boleh memiliki anak denganmu? Aku sudah tidak tahan lagi melepaskannya, aku ingin membalas semua waktu kita yang telah hilang." Juno menarik tangan Jenie yang memasang mode kalem.
Namun, Jenie menahan tubuhnya hingga membuat Juno tak mampu membuatnya bergerak. "Mau ke mana? Kamu tak melihat aq sedang bekerja?"
"Sudah lah, kamu tidak usah bekerja lagi di sini. Karena setelah ini, aku akan membawamu pergi ke Cambridge," ucap Juno kembali menarik sang istri.
"Ke mana?" tanya Jenie lagi.
"Amerika! Aku bosan LDR-an terus. Sebulan lalu aku sudah resmi bekerja di sana. Karena gaji pertama sudah aku terima, itu artinya aku harus membawa istriku turut bersamaku."
"A-Amerika? Kenapa jauh sekali? Kenapa tidak di sini saja? Papamu memiliki perusahaan properti yang siap sikelola olehmu. Kenapa harus ke sana?" tanya Jenie tak percaya.
"Karena, aku sedang membuat pengalaman pekerjaan yang bagus. Ini tujuannya agar kinerjaku nanti tidak diragukan lagi oleh orang lain. Jadi, aku bukan hanya sebagai pewaris bod*h menerima segala dari orang lain aja. Akan tetapi, juga sebagai orang yang berkopetensi, yang memiliki pengalaman bekerja di sebuah perusahaan besar di Amerika."
Jenie melepaskan diri dari genggaman Juno. "Apakah kamu akan selamanya berada di sana? Bagaimana dengan kita?"
Juno kembali menggenggam tangan istrinya. "Hei, kamu tidak mendengarku semenjak tadi? Aku kan sudah bilang, mulai sekarang, kamu ikut aku. Aku sudah cukup mapan memulai semuanya dari awal denganmu."
"Lalu, haruskah aku meninggalkan keluargaku di sini? Ayah Bunda semakin tua. Aku ingin menemani masa tua mereka."
"Kamu tidak perlu khawatir. Ini hanya sementara. Paling lama, lima tahun aja. Setelah itu, kita kembali ke sini." terang Juno.
Jenie membelakangi suaminya bersidekap dada. Ia mulai memikirkan semuanya.
*
*
*
"Jadi, Juno sengaja pulang untuk menjemputmu?" tanya Bunda tak percaya. "Kamu kan baru mulai berkarier di tempat kerjamu saat ini. Kalau ikut dia tentu kamu akan menyiakan masa depanmu nanti—"
"Ekhem." Ayah menyela istrinya yang masih ikut campur dengan urusan rumah tangga sang anak.
"Ayah rasa, kali ini sudah saatnya dia mulai mengikuti suaminya. Karena, kodrat istri memang begitu," ucap Ayah bersahaja.
"Jenie bilang kan, Juno menyuruhnya untuk berhenti?" Ayah melirik sang istri yang terlihat mengerutkan wajah karena suaminya mulai memperlihatkan tanda-tanda membela putri sulung mereka.
"Karena, memang demikian kodrat seorang istri. Ia mesti menemani Juno. Harusnya sedari dulu. Akan tetapi, dulu mereka terlalu muda untuk disatukan. Saat ini, mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Mereka sama-sama sudah sarjana. Biarkan mereka memikirkan sendiri bagaimana biduk rumah tangga mereka."
Bunda menggelengkan kepala. "Tapi, Jenie kan sudah kita kuliahkan tinggi-tinggi. Setidaknya dia bisa mencari uang sendiri nantinya. Jangan main tinggalkan pekerjaan yang sudah didapat begitu aja! Mencari pekerjaan itu sulit lho?"
Jenie bangkit dan menuju kamar lalu menutup pintunya. Ia merasa kesal kepada ibunya itu. "Dulu, Bunda juga begini? Melarang aku terlalu dekat dengan suamiku. Namun, kenapa sekarang masih sama? Sesungguhnya Bunda restuin aku menikah dengan Juno nggak sih?" decaknya kesal.