Gabriel Arshaka, pria dengan sejuta pesona yang digilai banyak wanita. Tak ada satupun wanita yang memiliki tahta tinggi dihatinya selain kekasihnya.
Namun karena sebuah kesalahan, ia terpaksa menikahi Jingga, wanita yang menjadi sahabat adiknya dan juga sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Aku tidak akan berhenti mengejarmu, sebelum aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku kak" ~ Jingga Oceana.
"Berhentilah melakukan hal sia-sia, tidak ada dalam kamusku jatuh cinta pada bocah ingusan sepertimu" ~ Gabriel Arshaka.
Akankah cinta tumbuh di hati Gabriel untuk Jingga? Bagaimana caranya Jingga menaklukkan hati Gabriel yang selalu menganggapnya seperti anak kecil?
JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL LIKE, KOMEN, FAV DAN VOTENYA YA KAK. KARENA ITU SANGAT BERARTI BAGI AUTHOR.
*****
Sebuah Spin off dari novel MARRIAGE BY MISTAKE. Menceritakan putra kedua pasangan Bella dan Axel dengan putri dari pasangan Dio dan Karin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Jingga.
Eril berlari-lari kecil begitu mobilnya sampai di parkiran rumah sakit. Jantungnya sejak tadi berdetak kencang karena mendengar istrinya kecelakaan. Setelah mendapatkan informasi dimana ruangannya berada, Eril bergegas mempercepat langkahnya agar bisa secepatnya menemui istrinya.
"Jingga ..." panggil Eril menatap Jingga yang masih terduduk di ranjang rumah sakit.
"Kak Eril?" Jingga sedikit terkejut melihat suaminya sudah berada di sana.
"Bagaimana keadaanmu? Kenapa kau bisa seperti ini?" cerca Eril memandang tangan dan kepala istrinya yang diperban, di pipinya juga terdapat goresan kecil yang terlihat masih memerah.
"Aku tidak tahu, tadi ada mobil yang tiba-tiba menabrak ku," ucap Jingga tak terlalu mengingat jelas bagaimana kejadian tadi.
"Mobil?" Eril mengerutkan dahinya, ekspresi wajahnya tampak langsung mengeras karena bisa menebak siapa dalang dibalik kecelakaan istrinya ini.
"Ya, tapi aku baik-baik saja Kak. Tapi ..." Jingga menghela nafas panjang seraya menundukkan kepalanya lesu.
"Tapi apa?" tanya Eril semakin mengerutkan dahinya.
"Rain yang terluka parah, tadi dia menyelamatkanku," kata Jingga menyesal sekali, karena menyelamatkan dirinya, Rain malah rela menabrakkan dirinya.
"Rain?" Eril begitu terkejut ketika mendengar nama itu yang keluar dari mulut istrinya. Kenapa harus Rain?
"Kakak lihat di ruangan sebelah, sepertinya dia belum sadar," ucap Jingga lirih.
Eril hanya diam saja, ia hanya berpikir kenapa Jingga bisa bersama dengan Rain. Sebagai seorang pria, ia tahu kalau Rain ini pasti menaruh hati pada istrinya. Jika tidak, pria itu tidak akan mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan Jingga.
"Nanti saja, yang penting kau baik-baik saja, aku sudah lega," kata Eril menarik lembut Jingga ke dalam pelukannya.
"Aku sangat takut Kak, orang tadi sepertinya sengaja ingin menabrak ku," ucap Jingga menghela nafas pendek.
"Tidak apa-apa, aku pasti akan selalu menjagamu. Tenanglah," kata Eril seraya mengelus rambut istrinya.
"Kak Eril tahu darimana aku disini?" tanya Jingga mengurai pelukannya.
"Tadi pihak rumah sakit menghubungiku. Kau yakin sudah tidak apa-apa 'kan? Mana yang sakit?" tanya Eril menatap keseluruhan tubuh istrinya.
"Ini sakit Kak, aku tadi di suntik," kata Jingga merengek seraya menunjukan tangannya yang diperban.
Eril tersenyum, ia mengambil tangan Jingga yang terluka lalu menciumnya. "Biar cepat sembuh," kata Eril dengan senyum menawannya.
Jingga tersipu-sipu mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari suaminya. Dulu, ia tidak pernah membayangkan kalau akan mendapatkan sosok pria yang ia kagumi dalam diam ini. Tapi sekarang, semuanya terasa lebih indah karena Eril membalas perasaannya.
"Aku mau pulang Kak," ucap Jingga.
"Pulang? Yang benar saja, kau masih belum sembuh," ucap Eril menggeleng tak setuju.
"Aku nggak betah disini, baunya nggak enak. Lagian ini hanya luka kecil, Rain yang lebih parah dari aku," kata Jingga mengerucutkan bibirnya.
Eril mendengus kecil, ia tak suka dengan cara Jingga menyebut Rain seperti itu. "Baiklah, nanti aku akan bertanya pada Dokter, apakah kau boleh pulang atau tidak. Sekarang kau istirahat dulu, atau mau makan? Udah makan belum?" ujar Eril memandang Jingga dengan begitu lembut dan perhatian.
"Aku nggak laper, Kak Eril disini saja, nanti aku pasti cepat sembuh," kata Jingga mengambil tangan Eril agar menyentuh pipinya.
"Kau bisa saja," ucap Eril tertawa kecil mendengar gombalan Jingga.
Eril akhirnya menemani Jingga selama masih ada di rumah sakit. Kata Dokter ternyata Jingga sudah diizinkan pulang, jadi Eril langsung saja mengurus segala adminitrasi dan juga obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh Jingga nantinya.
"Kau yakin bisa berjalan sendiri? Kita pakai kursi roda saja," ucap Eril memandang Jingga cemas.
"Aku nggak apa-apa Kak, kita ke ruangan Rain dulu ya sebelum pulang," kata Jingga memandang suaminya penuh harap.
"Besok saja, kau harus butuh banyak istirahat," ujar Eril enggan sekali rasanya jika harus menemui saingannya.
"Aku cuma mau ngucapin terima kasih Kak," ucap Jingga tidak memiliki maksud apapun, ia juga tahu kalau Eril pasti tidak nyaman, tapi ia juga merasa berhutang budi pada pria itu.
Eril menghela nafas pendek, tak mungkin ia menolak dengan alasan yang kekanakan. "Baiklah, hanya sebentar saja tapi, kau juga masih sakit," ucap Eril mengangguk setuju.
Mereka berdua lalu mendatangi ruangan Rain yang tak jauh dari ruangan Jingga. Ternyata pria itu sedang makan disuapi oleh asistennya saat mereka datang.
"Rain, bagaimana keadaanmu?" tanya Jingga tak menyembunyikan nada cemasnya, ia memandang kondisi Rain yang terluka dimana-mana.
"Jingga?" Rain berseru kaget melihat kedatangan Jingga, ia mengulas senyum manisnya namun senyuman itu langsung pudar begitu melihat sosok Eril dibelakang Jingga.
"Kau tidak apa-apa? Pasti sakit sekali, maafkan aku ya Rain," ucap Jingga dengan tatapan bersalahnya.
"Aku tidak apa-apa Jingga, hanya luka kecil kok," sahut Rain tersenyum menenangkan.
"Baiklah, kalau kau sudah baik-baik saja, aku dan Jingga permisi dulu. Jingga harus beristirahat," tukas Eril langsung menyela begitu saja, ia sudah begitu cemburu hanya karena Jingga memberi perhatian lebih pada Rain.
"Kak?" Jingga membentak pelan, ia menggelengkan kepalanya tak setuju karena merasa Eril kurang sopan.
Rain hanya tersenyum kecut, Eril ternyata orang yang sangat posesif sekali. "Suamimu benar Jingga, kau juga harus banyak istirahat. Aku baik-baik saja," ucap Rain tak ingin posisi Jingga semakin sulit.
"Kau dengar itu Jingga? Lagipula dia hanya mengalami luka ringan, tidak sampai patah tulang juga," seloroh Eril sekenanya.
"Kak Eril!" Jingga kembali melototi suaminya karena berbicara sembarangan.
"Kenapa? Itu benar 'kan? Oh ya, aku sedikit curiga, kenapa kau berada di tempat tepat saat Jingga kecelakaan, ini tidak ada campur tanganmu 'kan?" tukas Eril menyipitkan matanya, memandang Rain penuh kecurigaan.
Jingga menatap Eril tak percaya, kenapa Eril malah mengatakan hal seperti itu. Jingga semakin tidak enak dengan Rain karena suaminya justru malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Apa tidak ada tuduhan yang lebih menyenangkan dari itu semua?" sahut Rain mendesis jengkel.
"Maybe, kita disini juga tidak ada yang tahu," kata Eril mengangkat bahunya.
"Cukup Kak, sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Jingga langsung menarik tangan Eril agar pergi meninggalkan ruangan Rain. Rasanya ia tidak punya muka untuk menunjukan wajahnya di depan Rain.
"Kakak benar-benar keterlaluan," omel Jingga kesal.
"Aku hanya berfikir klise Sayang, kita tidak bisa semudah itu percaya dengan orang hanya dengan perbuatan baiknya," sahut Eril merangkul bahu Jingga, menenangkan istrinya yang sedang kesal itu.
"Itu tidak benar Kak, meski aku baru mengenal Rain, dia tidak mungkin melakukan itu semua," kata Jingga menatap Eril tajam.
"Oh come on Jingga, jangan terlalu naif. Rain melakukan ini karena dia mencintaimu, apa kau tidak bisa melihatnya?" kata Eril lama-lama tak sabar juga.
"Tapi aku hanya mencintaimu 'kan Kak?" sahut Jingga sontak membuat Eril terdiam.
Happy Reading.
Tbc.