Hanya cerita fiksi
Tidak terkait dengan agama manapun
maaf jika ada yang kurang berkenan 🙏
Bella Amanda awalnya adalah gadis cantik yang begitu periang. Tapi sikapnya lambat laun berubah ketika orang-orang membandingkan dirinya dengan adiknya sendiri yang katanya lebih cantik, lebih pintar dan lebih segala-galanya.
Bukan hanya itu Bella juga harus menelan pil pahit saat suaminya dengan tega bermain belakang dengan Belinda, adiknya sendiri dan diharuskan menikah.
Sanggupkah Bella tetap bertahan dengan pernikahannya atau memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan
Bella dan Ruhi berkunjung ke pabrik sepatu milik Sean untuk mengecek pesanan sepatu yang sudah mereka pesan.
Biasanya Sean tidak pernah ambil bagian dalam mengantar customer karena dia sudah memiliki bagian pemasaran. Tapi karena ini Bella, Sean dengan sengaja meluangkan waktunya untuk bisa berbincang dengan Bella.
Bella dan Sean terlihat berbincang dengan akrab di depan sedangkan Ruhi mengekori di belakang mereka.
"Kenapa kalau dengan Bu Bella, Bapak ini baik banget ya? Apa memang dengan orang yang di kenal dia baik?" batin Ruhi. Inginnya dia bertanya dengan Bella tapi dia tidak berani. Apalagi biasanya janda sensitifkan bila ditanyakan tentang pria baru? Begitulah isi hati Ruhi.
Sean mengambil salah satu heels yang menjadi request agency. Heels dengan warna coklat berisikan ornamen crystal di depannya. Sangat elegant bisa di gunakan untuk fashion show.
Sepatu itu adalah rancangan designer ternama asal Canada.
"Bagaimana menurutmu yang ini?" tanya Sean pada Bella.
Bella mengambil sepatu itu dari tangan Sean.
"Ini dulu aku request sendiri design dan temanya dan ternyata ini yang paling laku di pasaran" jelas Sean.
Ada nama Bellazo di bawah Brand Emerla pada heels tersebut.
"Bellazo?" tanya Bella sembari membaca tulisan kecil di sepatu tersebut.
Wajah Sean menegang sesaat kemudian dengan cepat mengembalikannya seperti semula. Tapi sepintar-pintarnya tupai melompat pasti sesekali jatuh juga. Walau dengan cepat Sean bisa mengambalikan raut wajahnya tapi Ruhi sudah menangkap perubahan wajah itu di ingatannya.
"Setiap jenis sepatu memiliki tipenya. Yang ada crystalnya kami beri nama Bellazo" jelas Sean.
Bella pun menganggukkan kepala paham.
"Kalau aku mau pesan sepatu custome bisa nggak kak? Yang isi nama aku" ucap Bella dengan tersenyum.
Sean pun membalas senyuman Bella.
"Tentu saja, kamu bisa pilih design yang kamu suka atau kamu punya design sendiri juga bisa" jawab Sean kemudian.
Pikiran Ruhi semakin menebak kesana kemari ketika melihat senyum Sean.
"Kalau dengan Bu Bella aja senyumnya keluar" ucap Ruhi dalam hati. Entah kenapa Ruhi merasa kalau Sean menaruh hati pada Bella.
...
"Bu, Ibu nyadar gak sih? Kalau sama Ibu Pak Ronald itu baik banget. Tapi waktu saya kesana pertama kali itu Ya Tuhan...galaknya minta ampun" ucap Ruhi saat mereka dalam perjalanan kembali ke hotel.
Bella hanya terkekeh.
"Perasaan kamu saja, Kak Sean dari dulu itu baik banget. Mungkin saat itu dia lagi banyak kerjaan" ucap Bella membela Sean berdasarkan apa yang dia ketahui.
"Nggak bu, memang karakternya begitu kok" protes Ruhi tak terima.
Lagi-lagi Bella hanya tertawa saja. Menurut Bella, Ruhi hanya belum mengenal Sean dengan baik saja.
"Coba dari awal saya tahu kalau Ibu kenal dengan Pak Ronald kan saya tidak perlu melihat kegalakan beliau" ucap Ruhi yang masih saja terus mengingat ingat kenangan jeleknya bersama Sean.
"Yang penting kan sekarang sudah clear urusannya, 3 hari lagi juga acara sudah digelar, sepatu juga sudah 65 persen jadi. Sampai hari H pasti sudah selesai semua" ucap Bella yang tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang Sean.
"Pak Ronald sudah menikah ya bu?" tanya Ruhi penasaran.
"Kenapa? Kamu naksir?" goda Bella seketika.
Ruhi memutar bola matanya malas.
"Bu, Saya ini sudah menikah bu. Suami saya marah nanti bila saya naksir pria lain" ucap Ruhi sambil mencebikkan bibirnya.
Melihat itu Bella kembali tertawa.
"Lalu kenapa kamu menanyakan Kak Sean sudah menikah apa belum?" tanya Bella pula.
"Soalnya usianya sepertinya sudah mapan. Tapi di jarinya belum isi cincin" jawab Ruhi mengemukakan isi hatinya.
"Dulu di kampus kak Sean banyak penggemarnya, tapi Aku belum pernah mendengar dia berpacaran. Tapi Pria mapan memang biasanya menikah di usia 30 tahun ke atas. Kak Sean baru 29 tahun" terang Bella.
"Bu...jangan-jangan Pak Ronald itu gay" ucap Ruhi mengedikkan bahu ngeri.
Mendengar itu Bella kembali tertawa.
"Ya Tuhan...ada-aja saja kamu Ruhi. Gak mungkin lah..Aku yakin Kak Sean Pria normal. Hanya saja mungkin belum ketemu jodohnya. Masih mendingkan terlambat daripada seperti ku?" ucap Bella yang membandingkan dirinya dengan Sean. Dulu setiap membahas perceraian Bella akan bersedih,tapi sekarang dia sudah bisa ikhlas menerimanya.
"Maaf ya bu, pembahasan kita jadi kemana-mana" ucap Ruhi penuh sesal"
"Sing ken ken , Tu (Tidak apa-apa , Putu)" ucap Bella menirukan bahasa yang biasanya Putu Ruhi gunakan.
Mendengar logat bicara Bella yang tidak cocok sama sekali menggunakan bahasa Bali membuat tawa Ruhi pecah seketika.
"Tinggal lebih lama di Bali pasti Ibu bakalan bisa pakai logat Bali. Bule aja banyak kok yang logatnya sudah merakyat" ucap Ruhi sambil terkekeh geli.
Bersambung...